Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 95


__ADS_3

"Tapi Tuan!", Sisil masih bersikeras dengan usahanya supaya bisa menggoda tamu-tamu itu.


Ben tak berucap namun matanya menajam tak menerima penolakan.


"Heh, Ana! Trik apa yang kau gunakan, hah! Apakah kau menggunakan tubuhmu untuk menggoda tuan-tuan itu?!", Sarah melampiaskan kekesalannya dengan menghardik Ana sesuka hatinya.


Semua orang di sana menggeram marah atas ucapan Sisil. Mereka semua mengeratkan rahang mereka tak sabar untuk menyumpal mulut wanita yang kurang ajar itu.


"Sisil", bentak Manajer Toni dan Sarah bersamaan.


Manajer Toni makin tak enak hati pada Ana dan juga tamu-tamu penting yang dapat membahayakan nyawa dan kehidupannya itu. Sungguh bodoh kelakuan Sisil pikirnya.


"Kau akan menyesal!", bisik Sarah penuh peringatan. Pasalnya orang-orang yang berada di hadapan mereka bukan orang sembarangan. Dan lagi, dua pria itu sama-sama memiliki perasaan terhadap Ana.


"Tamatlah riwayat mu!", gumam Sarah dalam hati sambil menatap Sisil.


Ana bangkit dari duduknya, dengan tenang ia melangkah mendekat ke arah Sisil dan Sarah. Ia mengambil gelas yang tadi akan diberikan kepada Ben. Ia memaku tubuhnya setelah berbalik lantaran Ben maupun Ken sedang menatapnya begitu tajam.


"*Apa kau akan membiarkannya begitu saja, dasar bodoh!", ucap Ben kesal dalam hati.


"Untuk apa meladeni otak udang seperti dia ini! Aku tak ingin menguras energiku!" sahut Ana dalam hatinya seolah tau apa yang Ben katakan*.


"Cekk!", Ken berdecak kesal dengan sikap Ana yang hanya membiarkannya begitu saja.


Ana menoleh ke arah Ken seraya melempar senyuman penuh arti.


"Aku ingin kau yang melakukannya!", batin Ana seraya mengedipkan matanya ke arah Ken.


Ken memutar bola matanya seakan paham apa yang Ana katakan dalam batinnya.


Ana mendekat ke meja bermaksud untuk meletakkan gelasnya di hadapan Ben. Namun ia sengaja mendekatkan dirinya di sisi kekasihnya. Ken menahan tangan Ana di udara, meletakkan gelas itu perlahan kemudian menariknya hingga Ana jatuh di pangkuannya. Ana memukul pelan dada Ken yang memilih cara yang lumayan frontal.


"Dia milikku!", kecam Ken seraya menatap Ben tajam.


"Cihh! Aku tak menyangka tuan, ternyata selera mu begitu rendah!", cibir Sisil tanpa ada rasa takut.


"Sisil hentikan! Jika kau belum bosan untuk hidup!", peringatan terakhir Sarah ucapkan dengan geraman.


"Kenapa?! Apa kau iri padanya? Pada teman cupumu itu, heh!", sahut Sisil arogan.


Sarah menggeleng kehabisan kata-kata untuk memperingatkan wanita tak tau diri ini. Bukan salahnya tak mengingatkan jika nanti terjadi sesuatu pada dirinya.

__ADS_1


"Jadi menurutmu, bagaimana selera yang tinggi itu?", ucap Ben tiba-tiba dengan wajah suramnya.


"Ya seperti diriku ini!", jawab Sisil dengan tidak tau malu.


"Baiklah, bisakah kau mendekat agar aku bisa melihat dirimu dengan lebih seksama!", ucap Ben perlahan dengan penekanan. Seringai liciknya telah menguar di bibirnya.


Sisil berjalan mendekat ke arah Ben. Ia tak menyadari aura pembunuh telah melingkupi diri pria yang tengah ia dekati.


Ben bangkit dan mensejajarkan dirinya di hadapan Sisil. Perlahan tangannya mengusap lembut pipi Sisil kemudian ke bibirnya. Ben mengusap ibu jarinya di sana.


"Plakk", suara yang begitu nyaring terdengar hampir keluar ruangan. Suara itu memekik telinga semua orang yang hadir di ruangan itu.


Ben melayangkan tamparannya begitu kuat hingga Sisil jatuh tersungkur ke lantai. Pipinya begitu merah bahkan bengkak, dan di ujung bibirnya sampai mengeluarkan darah. Bisa terbayangkan seberapa besar kekuatan Ben saat menampar Sisil barusan.


Sisil memegangi pipinya yang terasa nyeri. Ia mengusap ujung bibirnya yang terluka dan air matanya meleleh saat melihat ada darah di ujung jarinya.


"Mengapa Tuan?", Sisil menatap Ben tak percaya.


"Aku menghukum bibirmu yang kurang ajar dan tidak tau malu karena telah mengolok-olok adikku!", ucap Ben acuh seraya mendudukkan dirinya kembali.


"Adik?!", Sisil mengulanginya dengan suara tersekat. Kemudian ia menoleh ke arah Ana yang masih santai duduk di pangkuan Ken. Bahkan Ken melingkarkan tangannya di pinggang Ana dengan begitu posesif.


"Sayang, harusnya kau menjelaskan siapa dirimu!", ucap Ken yang tangannya sibuk melepas kacamata Ana. Ia membuka ikatan rambut Ana hingga rambutnya tergerai indah juga mencabut tahi lalat buatan di pipi Ana.


"Dia adalah Nona Ana. Wanita yang sering kau ejek dan kau bully adalah Nona Keana Winata, putri dari pemilik tempat dimana kau bekerja sekarang ini!", tutur Manajer Toni tenang.


"Kaget?!", Sarah melemparkan senyum mengejek kepada Sisil yang masih terduduk di lantai.


"Bukankah aku sudah memperingatkan dirimu?!", tambah Sarah dingin.


Sisil masih memegangi pipinya dan terus menatap Ben, Ken maupun Ana secara bergantian. Ia masih berusaha mencerna kalimat dan kenyataan yang ada di hadapannya kini.


"Ya, dia sangat cantik!", gumam Sisil dalam hatinya.


"Dia memang cantik!", seru Ken yang menyadari arah pandangan Sisil kepada wanitanya.


"Sayang jangan begitu, aku malu!", ucap Ana manja memukul pelan bahu Ken.


Sisil tersentak, punggungnya menegang. Lagi-lagi ia menatap ketiga orang itu bergantian.


"Tuan ini merupakan Presdir Ken, Keanu Wiratdmaja dari Glory Coorporation. Dan merupakan kekasih dari Nona Ana!", jelas Manajer Toni.

__ADS_1


"Calon suami!", Ken meralatnya dengan penuh penekanan.


"Maaf, Tuan! Baiklah calon suami Nona kami", ucap Manajer Toni lagi memperbaiki kalimatnya.


"Dan Tuan yang menamparmu adalah Tuan Benny Callary, seorang pemimpin dari geng mafia Harimau Putih", jelas Manajer Toni lagi.


"Harimau Putih?! Bukankah itu geng mafia terbesar di negara ini?! Habislah aku!", batin Sisil menyesal.


"Dan Ana sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Maka...", Ben bangkit mendekat ke arah Sisil. Ia berdiri di hadapannya dengan wajah suram nan menyeramkan.


"Siapa pun yang menyakiti Ana, maka dia akan mendapatkan balasannya dari ku", ucap Ben penuh penekanan seraya memandang ke bawah.


Ia memandang Sisil dengan tatapan merendahkan. Menekan keberanian Sisil hingga ia menggigil ketakutan. Kemudian ia melemparkan tatapan penuh peringatan pada Ken yang juga melemparkan tatapan tajam padanya. Kata-kata yang ia lontarkan berlaku bagi siapapun termasuk Ken, begitu arti tatapan itu.


"Aku tidak memandang genre, baik kau pria ataupun wanita. Saat ini, jika aku mau mungkin kau telah kehilangan nyawamu!", Ben kembali duduk seraya mengeluarkan sebuah pistol dari saku jas miliknya. Ia meletakkan pistol itu hati-hati ke atas meja sambil menatap Sisil dengan tatapan pembunuh.


"Maaf Tuan, maafkan aku! Maaf Tuan, maaf!", Sisil merangkak mendekat ke arah Ben. Ia bersimpuh pada kaki Ben, memohon untuk diampuni kesalahan fatal yang telah ia perbuat.


"Bukan aku, tapi Ana! Jika Ana memaafkanmu, maka aku akan mengampunimu!", Ben kembali menyandarkan punggungnya seraya memejamkan mata.


Sisil kembali merangkak ke arah Ana dan Ken. Ia bersimpuh di dekat kaki Ken dan Ana.


"Maafkan aku, Ana! Emmhh, Nona Ana! Tolong maafkanlah aku! Ampuni aku Nona. Kumohon maafkan lah aku!", Sisil mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah memelas.


Ana akan bangkit dari pangkuan Ken, namun pria itu tak mengizinkannya. Ken makin posesif dengan pegangannya. Ana membelai lembut pipi Ken, ia mengangguk sembari mengulas senyum manisnya. Meminta persetujuan dari kekasihnya. Pegangan itu pun melonggar, Ana segera berdiri tepat di atas Sisil yang bersimpuh di sana.


"Bangunlah!", Ana membantu Sisil berdiri. Kemudian ia menatap Sisil dengan ekspresi yang tak dapat terbaca. Ana masih membantu Sisil mengusap pipinya yang penuh deraian air mata. Kemudian ia kembali menatap tajam ke arah Sisil.


"Bangunlah dari mimpimu, Sisil! Bukankah sudah kukatakan bahwa kau akan menyesal jika aku cantik!", ucap Ana datar namun emosi yang melingkupi dirinya tak terhindari.


"Gunakan mulut dan tubuhmu untuk hal yang berguna! Dan berhenti menjadi orang rendahan!", Ana akan duduk di pinggiran sofa, namun Ken kembali menariknya ke dalam pangkuannya.


Ana hanya bermaksud untuk memberi Sisil pelajaran bahwa tak seharusnya ia menilai seseorang hanya dari tampilannya saja. Dan terlebih lagi sebagai wanita, tak seharusnya ia merendahkan dirinya kepada seorang pria.


"Dan siapa yang kau anggap memiliki selera rendah?!", tiba-tiba Ken berucap dengan aura dinginnya.


"Maaf, Tuan! Maaf!", suara Sisil makin melemah hingga hampir tak terdengar. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan Ken yang seolah hendak mengoyaknya.


"Pergi!", perintah Ben dengan suara pelan namun mematikan. Matanya masih terpejam, ia muak melihat keseluruhan adegan ini. Karena menurutnya masalah akan cepat terselesaikan jika ia telah melubangi kepala wanita itu dengan pistolnya.


"Ayo pergi!", Sarah menarik tangan Sisil yang masih tak bergeming.

__ADS_1


Sisil merasakan kakinya kaku tak mau mengikuti isi pikirannya saat ini untuk cepat kabur sejauh mungkin. Ia menyeret kakinya untuk mengikuti langkah Sarah yang telah mendahuluinya. Sedangkan Manajer Toni mengekori di belakang mereka. Setelah sebelumnya ia membungkukkan badannya memberi hormat sebelum pergi dari ruangan itu.


__ADS_2