Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 72


__ADS_3

Masih dengan wajah seramnya, Ken bangkit dan menyambut uluran tangan Louis. Mereka berjabat tangan dengan ekspresi yang berbeda. Louis yang tentu saja sedang tersenyum ramah, namun Ken memasang wajah datarnya.


"Tapi mulai saat ini, kau tidak diizinkan menyentuh wanitaku. Walau seujung rambut pun!", ucap Ken penuh penekanan seraya menyipitkan matanya. Ia menatap Louis dengan aura penuh peringatan.


Louis terkekeh seraya melepas jabatan tangan mereka. Ia tak habis pikir pada Ken yang sangat posesif pada Ana. Tiba-tiba matanya berubah sendu, nama wanita yang dicintainya mendadak hadir dalam benaknya.


"Oke, baiklah! Aku tidak akan menyentuh Ana lagi walau seujung rambut pun, begitu bukan?!", Louis menggoda Ken dengan mengulang kembali peringatan yang Ken berikan padanya sambil terkekeh ringan.


Ken tak menjawab, namun ia mengeraskan rahangnya. Isyarat bahwa dirinya sudah mulai tidak sabar menanggapi sikap Louis.


"Santai, kawan! Tenang saja, aku berjanji!", ucap Louis masih sambil terkekeh.


"Kau juga dilarang menyentuh wanitaku!", tiba-tiba Sam menyerobot tangan Louis dan menjabat tangannya dengan paksa.


"Aku Samuel Wiratmadja! Bos dari Glory Entertainment", ucap Sam angkuh.


Louis terkekeh sebelum mengucapkan kalimatnya.


"Aku tau! Kau itu bosnya wanitaku! Hehe, baiklah sampai jumpa tuan-tuan!", Louis pun berlalu pergi begitu saja meninggalkan Sam yang menahan kesal. Sedangkan Ken melangkah mendekat ke arah Ana.


Ken menarik tangan Ana dan mendekapnya erat.


"Maafkan aku!", ucap Ken sambil menghirup aroma manis dari pucuk kepala Ana.


"Aku yang seharusnya minta maaf, karena tidak mendengarkan mu, Ken", ucap Ana dalam pelukannya.


"Cukup! Jangan mengatakan apa pun lagi! Aku tidak ingin kau bersedih lagi. Aku tak sanggup Ana, aku tak sanggup melihat air matamu", Ken mengendurkan pelukannya untuk berbicara sambil menatap wajah Ana dengan wajah seriusnya.


"Emmh,, emmh", Ana mengangguk. Ia menahan haru akibat perlakuan Ken yanh begitu mencintainya. Mereka saling bertatapan dengan mata sendu.


"Tapi kau tidak boleh lagi berdekatan dengan temanmu itu!", ucap Ken yang sudah memasang wajah serius lagi.


"Astaga sayang! Dia hanya temanku. Lagipula di matanya hanya ada satu wanita, yaitu Krystal. Yang lainnya ia anggap tidak ada!", ucap Ana diiringi tawa kecil.

__ADS_1


"Tetap saja tidak boleh!", ucap Ken tegas.


"Ya, ya, baiklah Tuan", Ana tertawa kecil lagi. Mereka kembali berpelukan dengan mesranya, melupakan dua orang yang masih setia menjadi penonton mereka.


"Anggap saja kami tidak ada, Tuan!", ucap Sarah kesal seraya berjalan ke arah Sam.


Ana dan Ken otomatis melepaskan pelukan mereka dan terkekeh bersamaan. Kemudian Ken merangkul pundak Ana agar kekasihnya tetap dekat dengannya. Dan Ana pun membalasnya dengan merangkul pinggang Ken dengan satu tangannya.


"Kemarilah! Apakah kau mau aku peluk?!", ucap Sam dengan polosnya sambil merentangkan tangannya ke arah Sarah yang sedang berjalan mendekat.


"Huh!", Sarah memalingkan wajah dengan congkaknya. Menolak dengan keras apa yang Sam tawarkan padanya. Tapi entah kesadaran darimana, ia malah mendudukkan diri tepat di sebelah pria gilanya.


Sam mempraktekkan hal yang sama dengan kakaknya pada Sarah meskipun mereka dalam posisi duduk. Ia merangkul dan setengah menarik Sarah agar mendekat padanya.


Dengan cepat Sarah menepis tangan Sam yang bertengger di pundaknya. Dan secepat itu pula tangan Sam kembali lagi ke pundaknya.


"Heh!", Sarah lelah meladeni tingkah Sam. Akhirnya ia hanya memalingkan wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Sam tersenyum penuh kemenangan ke arah Ken dan Ana. Kedua orang itu dengan kompaknya tertawa bersamaan. Mereka menertawai sepasang pria dan wanita yang sudah seperti kucing dan anjing, kemana pun pergi selalu bertengkar.


***


"Baik, Tuan!", Han menjawab seraya melirik ke arah ruangan dimana Risa terbaring di sana.


"Aku akan memerintahkan beberapa pelayan di rumahku untuk mengurus Risa", ucap Ken yang bisa menangkap rasa khawatir di mata Han.


"Terima kasih Tuan", dengan sopan ia membungkuk hormat pada bosnya yang selalu baik padanya itu. Han pun melangkah pergi dari ruangan Ken yang diliputi aura dingin.


Pria tampan itu tengah mengepulkan asap rokoknya sambil menduduki dirinya di samping jendela kaca besar. Tatapannya datar, auranya suram namun dari ekspresinya, terlihat Ken tengah mempersiapkan bom waktu untuk adik dari Tuan Danu itu. Ia akan melepaskan bom itu secepatnya. Dan membiarkan bom itu meledak hingga tak tersisa.


Sakit dan derita yang wanitanya rasakan akan Ken balas kepada mereka yang memberikannya. Malahan ia berharap agar bisa membalasnya dengan hal yang sepadan. Tidak, akan sangat mudah hidupnya jika Ken membalasnya dengan luka di badan. Orang serakah seperti mereka harus ia kuliti secara perlahan.


Ken mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia menekan-nekan tombol dan melakukan panggilan.

__ADS_1


"Sayang, kau masih di rumah sakit? Apa ada yang ingin ku bawakan?", ucap Ken setelah panggilan itu tersambung.


"Iya sayang, aku masih di rumah sakit. Aku tidak ingin apa-apa, Ken! Aku hanya menginginkan dirimu!", Ana tertawa ringan setelah meluncurkan rayuannya.


"Cekk! Kau sudah pintar ya rupanya?!", Ken pun melakukan hal yang sama dengan Ana. Ia ikut tertawa ringan.


"Ken!", Ana menyebutkan namanya dengan lembut untuk menghentikan tawanya.


"Iya sayang, baiklah aku akan ke sana sekarang. Tunggu aku, oke!", ucap Ken lembut.


"Oke, hati-hati ya! Mmmuuaahh!", Ana segera menutup teleponnya.


Ken menjauhkan ponselnya untuk memastikan bahwa Ana memang mematikan saluran telepon itu secara sepihak dengan cara yang begitu menggemaskan, menurut Ken. Ia memandangi ponselnya agak lama sambil tersenyum manis. Ia memandangi wallpaper ponselnya yang sudah ia ganti dengan foto Ana yang entah sejak kapan. Ken mendekatkan ponselnya ke arah wajahnya dan mengecupnya, seakan-akan dia sedang membalas ciuman Ana yang sesungguhnya. Kemudian ia letakkan lagi ponselnya ke dalam saku celana.


***


Mentari mulai bekerja menyinari bumi. Hangatnya menembus sampai ke relung hati. Tapi hal itu tidak bekerja bagi mereka yang tak berempati. Seperti Tuan Bram yang sedang kebakaran jenggot, ia sudah mulai repot menangani masalah yang telah dibuat oleh Ken. Walau dia sebenarnya belum mengetahui siapa di balik masalah yang ia hadapi.


Harapan pada Winata Group untuk menjadi miliknya terasa sulit saat semalam ia mendengar kabar bahwa ada seorang misterius yang sudah menguasai 30 % saham Winata Group. Otomatis saat ini orang itu menjadi pesaing terberat baginya untuk menguasai perusahaan peninggalan ayahnya itu.


"brrakk! Sialan!", umpat Tuan Bram dengan wajah memerah.


"Cari informasi siapa orang itu! Jika dia berpihak pada Danu, maka akan menjadi sia-sia usahaku selama ini", perintah Tuan Bram pada Yohan yang tengah menunduk gemetar.


"Dan,, lobi beberapa pemegang saham lainnya agar mereka mau bergabung dengan kita", ucapnya lagi sedikit lebih tenang. Namun pandangannya tetap tajam dengan rahang yang mengeras, mengisyaratkan dirinya yang tengah menahan emosi yang siap meledak.


"Baik, Tuan!", Yohan mengangguk dan buru-buru berbalik pergi. Ia sangat takut jika Tuannya menggila saat ini. Ia tak ingin menjadi bahan pelampiasan dari masalah yang sedang berlangsung ini.


"Yohan!", seruan Tuan Bram menghentikan langkahnya.


Setelah menutup langkahnya, ia berbalik lagi menghadap ke arah tuannya.


"Jangan membuatku kecewa! Kau tau bukan, keluargamu berada di tanganku", ancam Tuan Bram dengan wajah super seram.

__ADS_1


"Ba,, baik Tuan, saya mengerti!", Yohan berbalik benar-benar pergi dari ruangan yang menusuknya dengan aura dingin. Setelah keluar dari ruangan tuannya, ia mengeratkan giginya dan menampilkan wajah tanpa ekspresi. Sulit membaca apa yang ia pikirkan saat ini.


__ADS_2