Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 4


__ADS_3

Ana dan Ken sampai di area parkir tak lama setelah Sam dan Sarah memasuki lift. Mereka berjanji untuk bertemu di butik langganan Ana saja, itu berada di lantai tiga di mall yang megah ini. Karena Sarah dan Sam sudah sampai lebih dulu, jadi mereka memilih untuk naik ke atas lebih dulu.


Dan sekarang sepasang suami istri itu sudah keluar dari mobil yang pintunya dibukakan oleh supir mereka. Pasangan harmonis itu berjalan, bergandengan tangan dan saling melemparkan senyuman.


Setelah bertemu dengan Ana, pakaian yang Ken miliki tidak lagi sebatas warna hitam, putih ataupu abu-abu lagi. Di lemari pakaiannya yang begitu lebar, kini sudah berderet setelan jas dan juga kemeja beraneka warna. Gaya yang Ken pakai setiap hari juga lebih trendi ketimbang biasanya yang hanya monoton saja.


Seperti sekarang ini, Presdir Ken yang terhormat itu keluar bersama istrinya mengenakan kemeja biru laut dengan paduan celana slimfit berwarna biru tua. Kancing kemejanya sengaja dibuka dua urutan ke bawah, menambah kesan seksi bagi dirinya. Dan tentu saja itu adalah keinginan dari istrinya. Ana yang mendandani suaminya hari ini. Meskipun awalnya Ken menolak, tapi mana bisa dia tahan dengan wajah istrinya itu yang pandai merayu. Ujung-ujungnya dia pasti akan menurutinya juga.


Senada dengan suaminya, Ana mengenakan gaun longgar dengan warna yang sama. Gaun itu berbahan lembut sehingga sangat nyaman dikenakan oleh ibu hamil itu. Ada bordiran bunga berwarna putih di sekitar dadanya, menambah kesan manis gaun yang Ana kenakan itu. Perutnya sekarang sudah tidak rata lagi, sudah lebih menonjol, membentuk sebuah bulatan yang tidak terlalu besar di depan tubuhnya. Maka dari itu Ana sudah mulai sering mengenakan pakaian yang agak longgar ataupun tidak terlalu menghimpit perutnya yang sudah mulai berisi itu.


"Lantai berapa?", tanya Ken pada Ana setelah mereka berdua memasuki lift.


"Tiga!", jawab Ana ringan pada suaminya itu.


Sebelum pintu lift tertutup, supir pribadinya mendekat seraya memberi isyarat dengan sebuah anggukan. Dan Ken pun membalasnya dengan sebuah anggukan lainnya.


"Ada apa?", Ana yang melihat hal itu pun menjadi penasaran.


"Aku mengerahkan beberapa orang untuk berjaga di sekitar kita. Tenang saja, Sayang! Mereka tidak akan terlalu mencolok nanti", buru-buru ia menghibur istrinya itu saat mengatakan hal ini. Ia mencubit kecil dagu istrinya itu sembari menggodanya.


Ken memang tidak dapat menyembunyikan apapun dari istrinya yang pintar dan cerewet itu. Jika tidak sekarang, pasti ia akan tetap mengatakannya lantaran tidak tahan dengan mulut istrinya itu yang terus bertanya. Dan mengenai hal ini, ia sangat tau jika Ana tidak nyaman jika harus dibuntuti seperti ini. Selain mengingatkannya pada mendiang ayahnya yang semasa hidupnya selalu melakukan hal ini terhadapnya. Hal ini juga Ana rasa tidak perlu. Karena ia merasa hanya dengan keberadaan Ken saja sudah cukup baginya.


"Hey,, berpikir aku ini berlebihan! Ini demi anak kita juga! Lebih baik berjaga-jaga dan lebih waspada! Bagaimanapun juga aku sedang keluar bersama orang yang paling penting di dalam hidupku! Ada istriku dan juga calon anakku! Aku harus melindungi kalian dengan segenap jiwa dan ragaku, bukan?!", Ken kembali menghibur Ana lagi saat melihat bibir istrinya itu yang mengerucut. Pasti Ana akan protes. Jadi segera saja ia berbicara lagi. Membawa anaknya ke dalam pembicaraan ini tentu akan berhasil membuat istrinya itu mengerti.


"Ya,, ya,, Baiklah!", Ana pun mengangguk malas.


Iya,, Ana ingat dia ini adalah istri seorang Presdir Ken yang terhormat itu. Dan tentu saja, sebagai orang penting, Ken pasti memilih untuk waspada. Suaminya itu memiliki banyak kolega, dan tidak sedikit juga yang menjadi pesaingnya. Jadi demi keselamatan bersama, cara ini Ana dapat memakluminya. Karena sebenarnya, ia juga sudah terbiasa dengan apa yang ia jalani dulu atas perintah mendiang ayahnya itu.


***


"Sarah! Apa ini cocok untukku?", tanya Ana pada wanita yang masih memilih di deretan pakaian di sebelahnya. Ia menunjukkan sebuah terusan bermotif bunga kepada Sarah.


Waktu masih menunjukkan pukul setengah dua belas siang saat mereka semua sampai di butik langganan Ana itu. Sebuah butik ternama yang harganya tentu tidak murah. Bagaimana pun juga Ana berasal dari keluarga berada, jadi sudah sewajarnya jika ia terbiasa berbelanja pakaian di sini. Ana merasa cocok dengan desain yang mereka miliki. Model dan warnanya tidak mencolok, sangat cocok dengan kepribadiannya.


Karena waktu masih belum mencapai jam makan siang, maka mereka memutuskan untuk melihat-lihat dulu. Lagipula keempatnya merasa belum terlalu lapar saat ini. Jadi selagi para wanita memilih beberapa potong pakaian, para lelaki memilih untuk duduk-duduk santai sambil memainkan ponsel mereka. Lebih tepatnya memeriksa beberapa hal penting mengenai perusahaan.


"Kakak!", panggil Sam seraya mematikan layar ponselnya. Kedua kakak beradik itu saat ini tengah duduk berseberangan. Jadi mata Sam sejak tadi tak dapar berhenti memindai penampilan kakaknya itu yang semakin hari menjadi semakin tampan saja.


"Ehhmm!", Ken hanya mengerang menanggapi panggilan adiknya itu. Mata dan tangannya masih sibuk dengan benda pipih miliknya.


"Kakak, hari ini kau terlihat sangat tampan dan,,, seksi!", Sam kemudian menutup mulutnya yang sedang terkekeh dan merasa lancang dengan kata-katanya tadi. Kakaknya pasti akan memarahinya setelah ini.

__ADS_1


"Kau kurang kerjaan? Atau kau sudah bosan hidup?", sahut Ken dingin tanpa melihat ke arah adiknya itu. Meskipun sebenarnya dalam hati ia senang, karena hasil karya istrinya itu mendapat pujian.


"Hisshh! Kakak ini! Tidak seru!", dan Sam pun melanjutkan lagi kegiatannya yang sebelumnya. Jika ia membuka mulutnya lagi, selain kesal, pasti akan ada satu masalah perusahaan yang akan dibebankan lagi kepadanya.


Bukan apa-apa, sudah hampir dua bulan menikah, istrinya itu belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dengan begini ia harus bekerja keras bukan untuk membuat istrinya itu hamil secepatnya?! Jika ia terus sibuk dengan urusan kantor saja, maka tenaganya untuk membuat istrinya hamil itu pasti akan terkuras. Dan dia pulang dalam kondisi lelah. Sam tidak ingin seperti itu, ia ingin menyenangkan istrinya itu setiap malam. Agar segera muncul Sam junior di antara mereka.


ting


Sebuah pesan pun masuk ke dalam ponsel milik Ken. Setelah membacanya, ia segera bangun dari duduknya dan menarik kerah pakaian adiknya itu. Lalu Sam pun akhirnya terseret begitu saja karena tidak siap.


"Hey, Kak! Kita akan pergi kemana?", teriak Sam di antara rasa bingungnya seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Istriku haus!", jawab Ken singkat dan terus menarik kerah adiknya itu dengan kejam.


Sam sungguh ingin berteriak dan memohon. Dimanakah wibawanya sebagai seorang pria jika ia terus saja diperlakukan seperti ini oleh kakaknya?! Tapi apakah ada gunanya?! Jadi dia hanya ikut terseret saja dengan pasrah. istri siapa sebenarnya yang haus?! Lalu kenapa ia harus ikut pergi juga?! Hah!


***


Meninggalkan dua pria itu, saat ini kedua wanita itu masih sibuk memilih beberapa potong pakaian untuk mereka coba. Sudah ada dua potong di tangan Sarah, sedangkan Ana sudah memilih empat potong pakaian yang kini sedang berada di tangan pegawai yang membantunya. Mereka tau siapa tamu yang datang. Orang-orang penting dari keluarga Wiratmadja ini harus mereka layani semaksimal mungkin tentunya.


Di saat mereka sedang asyik memilih pada deretan pakaian lainnya. Tak sengaja Sarah punggung Sarah bertabrakan dengan punggung seseorang yang sepertinya sedang memilih pakaian di sana juga.


"Auuww!", ketika wanita itu memekik histeris dan dibuat-buat sambil memegangi punggungnya, Sarah hanya mengernyit sedikit karena memang sebenarnya benturan mereka tidaklah keras.


"Apakah kau pikir maaf saja cukup?! Kau sudah membuat punggungku sakit! Jadi kau harus bertanggung jawab!", tiba-tiba wanita itu langsung membentak Sarah dengan begitu arogan.


Yang jadi lawan mereka adalah dua orang wanita yang memiliki penampilan begitu modis dan seksi. Apa yang mereka kenakan memang merupakan merek kenamaan semua. Sama seperti yang Ana dan Sarah kenakan. Yang membedakan adalah gaya kedua wanita itu begitu sombong dan arogan. Berbeda dengan Ana dan Sarah yang penuh keanggunan.


"Maaf Nona! Tapi ini merupakan sebuah ketidaksengajaan, bukan?!", pegawai yang membantu membawakan pakaian untuk Ana pun menyela karena ia memang melihat dengan jelas kejadian barusan. Di samping itu, tamu yang sedang ia layani bukankah seluruh kota juga tau bahwa mereka adalah orang penting di kota ini. Sungguh berani dua wanita arogan itu berbicara lancang seperti itu pada tamu mereka.


Ana sangat mudah terpancing emosinya jika seseorang miliknya sudah diganggu. Ia menggeram di samping Sarah dan mengepalkan tangannya. Tapi di saat ia ingin maju dan berbicara, Sarah menahan kepalan tangan Ana itu dan malahan maju lebih dulu. Menurut Sarah, tidak perlu sampai turun tangan. Dia sendiri masih bisa mengatasi dua wanita itu.


"Jadi aku harus bagaimana agar Nona ini mau melepaskan aku?", Sarah maju satu langkah seraya tersenyum ramah.


"Maria, pegang ini!", dengan gaya arogannya, ia memberikan dua potong pakaian yang tadi dipilihnya kepada wanita lain di belakangnya. Pandangan wanita itu sama arogannya dengan wanita yang berbicara dengan Sarah. Tapi dengan patuh wanita itu menerimanya. Sarah pikir wanita itu seperti seorang asisten bagi wanita yang bertabrakan dengannya tadi.


"Bayar ganti rugi biaya pengobatan punggungku di rumah sakit! Apakah kau tau seluruh tubuhku ini adalah aset! Tidak ada yang boleh terluka atau pun cacat sama sekali!", wanita itu pun tak mau kalah. Ia maju satu langkah seraya membusungkan dadanya.


Mendengar ucapan wanita itu, Sarah jadi teringat dengan ucapan Krystal yang mengatakan betapa berharganya semua hal yang ada di tubuhnya sebagai seorang aktris tentunya. Jadi sampai di sini Sarah menilai jika wanita yang sedang ia hadapi adalah seorang aktris atau semacamnya, dan wanita yang berada di belakangnya memang semacam asistennya.


"Bagaimana bisa cacat dengan benturan sekecil itu?!", Sarah menggeleng pelan dengan wajah tenanggnya.

__ADS_1


Ana yang sudah gemetar karena kesal pun semakin tidak tahan. Jadi dua orang itu sedang mencoba memeras mereka! Dan pegawai yang membantu Ana pun hanya merasa khawatir dengan nasib dua wanita arogan itu pada akhirnya nanti.


"Tentu saja selalu ada kemungkinan! Aku ini adalah seorang aktris papan atas! Jadi tubuhku tidak bisa terbentur sama sekali! Dan kau,, kau harus membayar ganti rugi atas hal yang telah kau lakukan tadi!", wanita itu mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Sarah dengan berani.


"Ehhmm!! Jadi kau adalah seorang aktris, ya! Boleh tau siapa nama Nona? Karena sepertinya aktris papan atas yang aku kenal hanya Krystal Winata saja! Kenapa aku tidak bisa mengenali wajah Nona sama sekali, ya! Atau Nona mau aku rekomendasikan saja pada suamiku? Dia mungkin bisa membantu karir Nona!", Sarah melipat tangannya di depan dada dengan tatapan provokatif. Ana yang berada di belakangnya pun mulai tenang melihat sahabatnya itu mulai beraksi.


"Heh! Kau ini memangnya siapa?! Ingat baik-baik! Namaku adalah Rosi Oktari. Aktris papan atas dari Glory Entertainment!", dengan angkuhnya wanita itu memperkenalkan diri.


"Wah,,, Glory Entertainment rupanya! Jika Nona memang aktris papan atas, kenapa suamiku tidak pernah menyebutkan nama Nona sekalipun, ya!", Sarah memegangi dagunya sambil menggeleng pelan. Sikap tenangnya malahan membuat wanita yang bernama Rosi itu geram dan semakin ingin menunjukkan keangkuhannya.


"Heh! Paling juga suamimu itu hanyalah salah satu pegawai di perusahaan itu saja! Jadi tentu saja aku yakin jika bantuan yang kau ucapkan hanyalah sebuah bualan!", Rosi itu masih terus berbicara dengan sikap arogannya.


"Bualan?! Heh!", Sarah sungguh ingin tertawa saat ini. Ia menahan bibirnya dengan satu kepalan tangannya agar tidak lebih banyak lagi tertawa.


"Lagipula aku sudah memiliki kekasih yang dapat aku andalkan untuk membantu karirku agar cepet melesat naik!", masih saja Rosi itu berusaha membanggakan diri.


"Jadi maksud Nona, karir Nona saat ini belum melesat, bukan?! Kalau begitu Nona belum bisa dikatakan aktris papan atas, kan?! Benar begitu, Nona!", Sarah menembak langsung ke sasaran. Membuat wajah wanita itu langsung memerah karena malu. Ana dan pegawai di belakangnya pun ikut tertawa kecil bersama.


"Tau apa kau ini mengenai dunia hiburan!", wanita itu berteriak kesal. Tidak terima ia dijatuhkan.


"Asalkan Nona tau, ya! Rosi ini memiliki seseorang yang dapat membantunya agar dengan cepat naik. Jadi bisa dikatakan sebentar lagi dia akan menjadi aktris papan atas!", wanita yang sekiranya adalah asisten Rosi itu pun angkat bicara setelah mendengar artisnya itu diserang.


"Ya benar! Dia adalah kekasihku! Tuan Samuel Wiratmadja, bos dari Glory Entertainment! Tempatku bekerja!", dengan gaya yang paling angkuh Rosi itu mengungkapkan.


Wajah Sarah yang sangat tenang sejak semula itu sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Air mukanya berubah galak dan nafasnya mulai pendek-pendek karena emosi. Ana yang berada di belakangnya pun tidak tahan dan maju satu langkah sejajar dengan Sarah.


Si pegawai jadi ketakutan sendiri. Ia menutupi wajahnya dengan pakaian Ana yang berada di tangannya. Setelah ini ia tidak mau melihat apa-apa lagi. Wanita yang bernama Rosi itu benar-benar cari mati rupanya! Dia tidak tau siapa dua tamu penting yang sedang mereka hadapi saat ini!


-


-


-


**maaf baru bisa update ya teman-teman,, anak-anak rewel, jadi aku baru ada waktu sekarang 🙏


baca juga novel kedua aku ya teman-teman


"Hey, You! I Love You!"


ceritanya babang Ben sama neng Rose dijamin pasti seru! Yuk, buka profil aku dan mulai baca ya 👍😊

__ADS_1


terima kasih


keep strong and healthy ya semuanya🥰**


__ADS_2