
"Lalu seperti apa sebenarnya perasaanmu kepada wanita itu?", tanya Tuan Dion penuh minat.
"Entahlah ayah,, aku sebenarnya bingung. Ini kali pertama bagiku menyukai seorang wanita dengan serius. Aku benar-benar mengejarnya saat ini", Sam berkata jujur.
"Lalu?".
"Sebenarnya sejak awal aku hanya bermain-main dengannya", Sam menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum lebar dengan rasa bersalah yang mendalam.
bruk
Sarah sudah berdiri di ambang pintu kamar rawatnya. Buket bunga yang ia pegang jatuh ke lantai karena tiba-tiba tangannya lemas dan jatuh di kanan dan kiri tubuhnya setelah mendengar ucapan San barusan. Tubuhnya mematung tak berdaya dan wajahnya sulit diartikan ekspresiny. Sam baru aja menyiram air garam ke dalam lukanya.
Mata Sarah rasanya memanas. Dengan tubuh yang sedikit gemetar ia berusaha menguarkan senyumannya. Meski terlihat canggung dan aneh ia tak peduli. Dipungutnya bunga yang jatuh itu, lalu ia langkahkan kakinya yang terasa berat. Ia sudah sampai di sini, bunga yang sudah ia beli juga tak boleh menjadi sia-sia. Masih berusaha mempertahankan senyum kakunya, Sarah meletakkan buket bunga itu di paling ujung ranjang dekat dengan kaki Sam. Ia tak mampu melangkah lebih jauh lagi.
"Sepertinya kau sudah lebih baik. Kalau begitu aku permisi!", Sarah sudah tak dapat membendung lagi air matanya yang mulai meleleh. Tapi tak lupa ia membungkuk memberi salam hormat kepada Tuan Dion yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Lalu sambil menunduk menyembunyikan wajahnya, ia keluar dari kamar rawat itu dengan langkah seribu.
"Sarah!", seru Sam dengan tak berdaya karena luka perutnya terasa nyeri. Tapi wanita itu tak bergeming dan tetap meneruskan langkahnya.
"Sarah!", Sam keras kepala dan akan beranjak dari tempat tidurnya. Namun tangan Tuan Dion dengan cepat mencegahnya.
"Tidak! Lukamu masih basah", cegah Tuan Dion.
"Tapi ,Yah! Sarah salah paham denganku!", seru Sam jengkel. Dia bukan kesal karena ayahnya. Tapi kesal dengan dirinya sendiri yang sedang tak berdaya seperti ini. Ia tak mampu menjelaskan apapun kepada wanita itu.
"Salah paham apa?", Tuan Dion pura-pura tidak mengerti. Tapi sebenarnya dia tau bahwa ada keseriusan di dalam mata putranya mengenai wanita itu.
"Ayah kumohon! Aku mencintainya, Ayah! Aku sudah jatuh cinta dengannya. Bermain-main hanyalah permulaan karena saat itu aku sedang bosan", jelas Sam dengan penuh emosional.
"Haruskah aku menjelaskan semuanya kepada Ayah?!", tambahnya dengan nada benar-benar kesal.
"Biarkan dia menenangkan diri dulu! Sembuhkan lukamu! Lalu jelaskan semuanya dengan kepala dingin", perintah Tuan Dion dengan tenang.
"Sial! Sial! Sial!", teriak Sam frustasi sambil memukul-mukul ranjangnya. Berbanding terbalik dengan ayahnya, Sam malahan tidak bisa tenang sebelum ia bisa menjelaskan tentang isi hatinya yang sebenarnya kepada Sarah.
"Kau harus tenang, nak!", Tuan Dion pun memilih bangkit dari tempat duduknya dan berangsur pergi. Ia juga memberi kesempatan kepada putranya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau ini.
Bersama perginya Tuan Dion, Sam membuang pandangannya ke samping sambil memijit keningnya. Kepalanya terasa berat saat ini, terlalu kesal dan emosi.
Ya benar memang, jika sejak awal Sam hanya bermain-main dengan Sarah. Karena ia sudah terlalu sering bertemu dengan wanita hingga bosan. Tapi makin lama ia mengenal wanita itu, makin ia tau bahwa wanita itu sungguh naif dan polos. Ia tak seperti wanita lain yang mengharapkan banyak hal darinya. Sarah wanita sederhana yang mampu meluluhkan hatinya. Sam telah sadar bahwa ini perasaan cinta. Ia sudah tau bahwa ia mencintai Sarah. Hanya saja wanita itu selalu menganggap semua tingkahnya adalah sebuah lelucon darinya. Sam benar-benar frustasi saat ini. Ia tak pernah mengejar wanita, ia tak pernah memuja wanita. Semua wanita datang dengan sendirinya ke dalam pelukannya. Ini pertama kalinya Sam tak rela ada seorang wanita pergi menjauh dari dirinya.
***
Gerimis yang menemani malam itu tak mempengaruhi kehangatan yang terjalin di dalam kamar pasangan pengantin baru itu. Pergulatan panas telah berlangsung selama berjam-jam sejak sore tadi. Kini keduanya tengah merebahkan diri sambil berpelukan di atas ranjang kusut mereka.
"Ken!", panggil Ana lembut sambil memainkan jari di dada suaminya.
"Emmhh!", Ken hanya menyahutinya dengan gumaman sambil memejamkan mata. Sepertinya ia cukup lelah saat ini.
"Aku,, Emmhh aku lapar!", lalu sambil malu ia sembunyikan wajahnya ke dalam lekukan lengan suaminya.
"Ah ya ampun! Maafkan aku, sayang! Aku lupa kita soal makan malam!", Ken menepuk dahinya dengan senyum konyol.
"Ayo mandi, lalu kita makan malam setelahnya!", ajak Ken sambil mengusap lembut pipi putih milik istrinya itu. Pikir Ken dengan mandi tubuhnya yang sedikit lelah ini akan lebih segar lagi untuk menyambut makan malam yang tertunda ini.
"Gendong!", Ana bersuara manja setelah sebelumnya ia mengangguk setuju.
__ADS_1
"Apapun untukmu, sayang!", Ken menghadiahkan kecupan singkat di bibir manis itu kemudian menyambut tubuh Ana dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Tak ada kegiatan lainnya, mereka benar-benar mandi, hanya mandi, dan Ken sudah berjanji akan hal itu. Mereka hanya saling menggosok, membantu membersihkan tubuh satu sama lain.
***
Kini keduanya sudah duduk di meja makan dengan pakaian santai. Keduanya memilih duduk bersebelahan agar lebih romantis, pinta Ken sebenarnya agar memudahkannya bermanja ria dengan istrinya.
"Ken!", seru Ana disela kegiatan makan mereka. Ada sesuatu yang mengusik hati dan pikiran Ana sejak tadi. Entah apa tapi seperti berhubungan dengan Sarah, sahabatnya.
"Ada apa sayang?", tanya Ken sambil menggenggam tangan istrinya. Ia juga menangkap ada sesuatu ada yang berbeda dari wajah istrinya itu. Seperti sesuatu hal serius mengganggu benaknya.
"Perasaanku tidak enak!", Ana terdiam sejenak.
"Ini mengenai Sarah! Tiba-tiba terlintas namanya di dalam otakku", Ana kini sudah berwajah serius. Entah ini benar atau hanya ilusinya saja, tapi perasaannya benar-benar terganggu saat ini.
"Baiklah! Besok kita temui dia setelah menjenguk Sam, okeh?", keputusan yang tepat menurut Ken. Lagipula mereka sendiri juga belum melihat Sam lagi sejak adiknya itu keluar dari ruang operasi dan saat itupun masih tak sadarkan diri. Dan hal ini juga dapat mengurangi kecemasan yang melanda istrinya itu.
"Setuju!", Ana mencoba tersenyum. Tapi di dalam hati tetap saja ia tidak tenang. Senyum itu ia gunakan untuk menutupi perasaannya agar Ken tidak terlalu mengkhawatirkannya. Pasangan ini saling menjaga satu sama lain, baik hal yang mempengaruhi dari luar maupun dari dalam hati mereka masing-masing.
***
Selama perjalanannya kembali ke rumah, hanya ada tangis yang tertahan di wajah Sarah. Tadi ia coba untuk mendengarkan saran dari adiknya, Sandi untuk paling tidak mengucapkan rasa terima kasih karena telah menyelamatkan dirinya. Entah bagaimana perasaannya terhadap pria itu, tapi menurut Sandi rasa perikemanusiaan lebih penting saat ini. Sarah harus jadi orang yang lebih bermoral dan punya rasa terima kasih menurut Sandi seperti itu. Karena bagaimanapun juga orang itu telah rela mengorbankan nyawanya demi kakaknya itu.
Ya, begitu jawaban Sarah setelah cukup lama berpikir. Ia mempertimbangkan hatinya sementara ia belum juga mengucapkan terima kasih kepada orang itu. Jika dipikir-pikir Sarah cukup egois mungkin. Akhirnya setelah menyelesaikan makan malam yang tak berselera lantaran hatinya yang tengah kacau, ia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit tempat dimana Sam dirawat. Hari makin malam dan hal itu membuat Sandi khawatir. Namun Sarah tetap keras kepala dan ingin pergi sendiri.
Dan beginilah akhirnya, ia menangis lagi dan lagi. Rasa kecewa tiba-tiba menyeruak di dalam hatinya setelah mendengarkan penuturan laki-laki itu tadi. Sakit menghujam jantungnya hingga ke dalam. Entah kenapa Sarah amat ingin menyangkal perasaan ini. Ia merasa tak ingin menerima hadirnya benih ini di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
"Bodohnya aku!", batin Sarah menangis.
Lagipula apa yang harus ia tangisi. Apa pula yang membuatnya sehancur ini. Bukankah sejak awal juga Sarah telah terang-terangan dengan dirinya sendiri menyatakan bahwa ia tak akan terlibat dengan pria gila itu. Lalu kenapa pula dia harus menangis sekarang. Sambil memandang keluar jendela mobil, ia menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh lantaran termakan ucapannya sendiri.
"Nona, maaf Nona!", supir taksi itu keluar dari mobil untuk memanggil Sarah. Entah apa yang terjadi Sarah tidak mengetahui tujuan supir taksi itu. Jadi dengan enggan ia menoleh ke arahnya.
"Ya! Ada apa, Pa?", tanya Sarah lesu.
"Ini uangnya, Nona!", supir taksi itu menyerahkan selembar uang kertas ke arah Sarah dengan tatapan ambigu.
Sarah sedikit memiringkan kepalanya sambil mencoba menerka-nerka apa maksud dari supir taksi ini.
"Oh, mungkin aku lupa dengan uang kembaliannya!", gumam Sarah dalam hati.
"Baiklah, terima kasih Pa!", Sarah mengambil kembali uang yang berada di tangan supir taksi. Tapi yang anehnya supir taksi itu malahan menahan uang itu agar Sarah tak dapat mengambilnya.
"Baiklah, terima kasih Pa!", ulang Sarah sambil merapatkan giginya dengan gemas. Tapi supir taksi itu masih saja menahan uang itu.
"Mau apa sebenarnya orang ini!", gumamnya lagi.
"Maaf Nona uang anda kurang!", jelas supir taksi itu akhirnya.
blush
Wajah Sarah langsung merah karena malu. Ia pikir supir taksi sedang menyerahkan uang kembalian kepadanya. Nyatanya uang yang ia berikan malah kurang. Sarah benar-benar bingung mau meletakkan dimana wajahnya saat ini. Dan benar saja saat ia melihat uang kertas yang berada di tangan orang itu. Warnanya memang hampir mirip, namun tetap saja dengan mata telanjang pun semua orang bisa melihat bahwa itu adalah nominal yang berbeda.
"Astaga! Maafkan aku Pa! Aku sedang tidak konsentrasi!", Ia segera mengambil dompetnya lagi di dalam tas dan mengeluarkan uang kertas yang seharusnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Pa! Maaf jadi merepotkan anda untuk turun dari mobil", ucap Sarah sopan seraya membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Jangan sungkan, Nona! Sepertinya anda terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini?!", mendengar ucapan itu Sarah menautkan kedua alisnya. Bukan apa-apa, masalahnya itu adalah orang lain yang melihatnya. Apa benar-benar jelas apa yang ada di wajahnya saat ini, gumamnya sendiri.
"Cinta memang rumit, jadi kau harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya", ucap pria itu tiba-tiba lalu berbalik dan melangkah menuju mobil taksinya.
Nasehat segar ia dapat secara tiba-tiba. Hanya saja itu jadi terdengar aneh ketika orang luar yang mengatakannya secara mendadak. Sarah makin dalam mengerutkan alisnya sambil memandangi mobil taksi yang mulai menjauhi halaman rumahnya.
Sebenarnya sejak tadi supir taksi ingin bertanya apakah penumpangnya itu baik-baik saja. Tapi ketika melihat wanita itu masih menjaga kesadarannya, maka ia memilih untuk diam dan tidak ikut campur urusan orang lain. Pikir supir taksi itu mungkin memang wanita itu perlu waktu untuk menenangkan diri. Akan tetapi mulutnya seakan tak sabar untuk memberikan beberapa kata untuk memberi sedikit wejangan kepada penumpangnya itu.
Sarah menggeleng pelan sambil melangkah menuju pintu rumah. Ia ingin mengabaikan kalimat itu. Tapi di lain sisi ada benarnya juga apa yang supir taksi itu ucapkan. Wanita itu akhirnya menipiskan bibirnya seperti mendapat sebuah pencerahan. Namun hal itu tak lantas membuat kesedihannya benar-benar sirna.
"Sudah pulang, nak?", sapa Ibu Asih yang ternyata sejak tadi sudah menunggunya di ruang keluarga. Wanita paruh baya itu tak bisa tidur lantaran mengetahui putri sulungnya tengah keluar di malam hari dengan kondisi batin yang tidak baik. Ia hanya semakin menjadi khawatir dibuatnya.
"Sudah, Bu!", Sarah ikut bergabung dengan ibunya yang sedang duduk di kursi panjang mirip sofa.
"Kenapa dengan wajahmu, Sarah? Apa kau menangis lagi?", dengan lembut Ibu Asih mengusap pipi Sarah yang masih meninggalkan jejak air mata.
"Tidak! Ehmmm,,, sedikit, Bu!", wanita itu tak mampu berkilah dari ibunya. Beliau adalah orang yang mempunyai ikatan batin dengan putrinya, tentu tak ada yang bisa Sarah tutupi karena ibunya pasti akan merasakan hal yang sama dengan dirinya.
"Bukannya tadi kau sudah berjanji untuk tidak menangis lagi!", sedikit menegur namun Ibu Asih tetap bernada lembut. Dengan perhatian ia membenarkan rambut Sarah yang tidak terlalu berantakan.
"Sulit untuk berjanji, Bu!", keduanya tersenyum. Ibu Asih tidak memaksa, paling tidak ia dan Sandi telah berusaha mencegah Sarah terlalu larut dalam kesedihannya. Dan paling tidak putrinya ini sudah terlihat lebih ringan beban di wajahnya.
Benarkah begitu, hanya Sarah yang tau. Karena saat ini ia berupaya besar untuk menutupi luka hati yang baru saja Sam buat untuknya. Meski sebelumnya lelaki itu tidak bersalah, karena di sini Sarah lah yang bersalah. Sebab ia telah mengingkari sendiri ucapannya untuk tidak terlibat dengan pria gila itu, dan nyatanya ia malah terbelenggu oleh jerat pria itu. Meski samar, tapi Sarah sedikit yakin tentang perasaannya.
Dan mengetahui apa yang Sam ucapkan di rumah sakit, Sarah memiliki pemikirannya sendiri. Ia sudah memutuskan sesuatu dan akan segera ia sampaikan kepada ibunya sekarang juga.
"Ibu!", Sarah menangkap tangan ibunya yang sedang membelai lembut rambutnya. Lalu digenggamnya tangan ibunya itu.
"Ada apa?", wajah Ibu Asih penuh minat namun ia berusaha untuk tetap tenang dan bertutur lembut.
"Aku ingin pergi dari sini, Bu!", ucapan Sarah membuat mata Ibu Asih melebar sempurna.
-
-
-
-
-
-
jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya π
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
terimakasih teman-teman π
__ADS_1
love you semuanya π
keep strong and healthy ya π₯°