Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 82


__ADS_3

"Good morning, every body!", sapa pria tampan itu kepada semuanya.


"Hey, lady!", sapanya pada Ana.


"Ha,,ha,,hai!", Ana tersenyum canggung menatap ke arahnya. Ia mengerutkan alisnya dalam-dalam.


"Hey, baby! Are you okay!", pria itu melambaikan tangannya di hadapan wajah Ana yang sedang tertegun.


"Ken!", ucap Ana tanpa bersuara.


Sejenak pria itu tersenyum simpul pada Ana dan mengubah ekspresinya lagi seketika agar tidak terlihat oleh Tuan Bram. Tapi Ana sudah menangkap sinyal dari pria itu, Ken.


"Hey, Nona! Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?", tanya Ken ramah pada Ana seolah-olah belum mengenalnya.


"Emmhh, maaf saya tidak mengingatnya!", jawab Ana asal. Masalahnya ia belum mengetahui permainan apa yang akan Ken mainkan saat ini. Jadi dia hanya bisa menjawab sekenanya. Dan lagi, ia juga berpikir supaya pamannya yang licik itu tidak mencurigai mereka saat ini.


"Baiklah lupakan!", ucap Ken begitu saja. Lalu ia melangkah menghampiri Tuan Bram.


"Tuan Bram perkenalkan, saya adalah Bastian Adelard. Presiden Direktur dari Aziel Coorporation. 30% saham di perusahaan mu adalah milikku", ucap Bastian alias Ken dengan riang. Ia mengulurkan tangannya menanti Tuan Bram untuk menjabat tangannya. Tak lupa ia mengulas senyumnya yang menawan, berusaha tampil seramah mungkin.


"A,, Aziel Coorporation?", Tuan Bram menjabat tangan Bastian alias Ken dengan wajah penuh selidik. Pasalnya baru kali ini ia mendengar nama perusahaan itu.


"Kenapa? Sepertinya Tuan Bram belum pernah mendengar nama perusahaan ku ya? Baiklah kalau begitu biar ku jelaskan. Aziel Coorporation merupakan salah satu perusahaan terbesar di negaraku P", Bastian melepaskan tangannya dari tangan Tuan Bram. Kemudian ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan bergaya santai sambil menjelaskan siapa dirinya.


Beberapa anggota rapat saling berbisik membicarakan Bastian alias Ken itu.


"Berarti Tuan Bastian merupakan saingan terkuat Tuan Bram untuk mengendalikan perusahaan ini", ucap salah satunya sambil berbisik.


"Mari kita lihat! Kemana Tuan Bastian akan berpihak? Tuan Bram atau Nona Ana", balas satunya lagi berbisik.


"Lalu bagaimana Tuan Bastian bisa tertarik dengan perusahaan kami yang tak cukup besar dibandingkan perusahaan lainnya?" Tuan Bram masih memasang tatapan waspadanya.


"Hanya kebetulan saja!", jawab Bastian santai.


"Baiklah, Tuan-tuan semua!", Bastian kini menghadap ke arah para anggota rapat. Menggeser tubuh Tuan Bram secara halus dan memposisikan dirinya di tengah layaknya pemimpin perusahaan ini.


"Saya adalah Bastian Adelard, salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan ini", ia mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum ramah namun sedikit mengejek ke arah Tuan Bram. Bastian alias Ken menyatakan bahwa ia juga mempunyai hak untuk andil dalam mengatur perusahaan ini. Sedikit banyaknya ia menampakkan suasana perang yang tak kasat mata.


"Mari kita lanjutkan rapatnya. Aku ingin mengetahui sejauh mana perusahaan ini berkembang", Bastian melangkah begitu saja dan mendudukkan dirinya di kursi kosong paling ujung ruangan itu.


Tuan Bram dan Ana masih terdiam menatap Bastian melangkah dengan pikirannya masing-masing.


Tuan Bram sedang berpikir bahwa kini satu orang yang muncul, entah ia sebagai lawannya ataupun sebagai kawannya. Ia belum mengetahui kepada siapa orang itu berpihak. Jika memang berpihak kepadanya, maka sudah menang secara mutlak ia mengendalikan perusahaan ini. Tetapi jika orang itu berpihak pada Ana, maka kalah telak dirinya mungkin. Ia menatap punggung Bastian sambil menyipitkan matanya.


Dalam hati Ana sudah bertanya-tanya, apa yang sebelumnya sedang Ken rencanakan. Sebelumnya ia mengatakan bahwa tak dapat datang pada rapat kali ini. Lalu tiba-tiba ia muncul dengan dandanan aneh seperti sekarang. Dan lagi cara bicaranya yang sangat lain dari biasanya. Tidak seperti Ken yang biasanya dingin dan berwibawa saat sedang bekerja. Permainan apa yang akan ia mulai, Ana membuat tanda tanya besar untuk hal itu.


Tapi dari lubuk hatinya yang lain, ia juga merasa senang. Karena di saat-saat penting seperti ini yang membuatnya sangat gugup, ada orang yang dapat ia gunakan untuk menjadi pemicu semangatnya. Ada Ken yang notabene menjadi kekasihnya saat ini, yang menjadi payungnya saat ini.


"Baiklah, mari kita mulai rapat hari ini. Silahkan duduk Ana dan Tuan Reymond", Tuan Bram mempersilahkan keponakannya untuk duduk beberapa kursi darinya. Karena tidak mungkin ia membiarkan Ana duduk di kursi yang akan ia nikmati untuk seterusnya ini.

__ADS_1


"Terima kasih! Tapi sepertinya tugasku sudah selesai. Saya pamit undur diri", Tuan Reymond sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Tuan Bram dan anggota rapat lainnya.


Sekilas ia menatap ke arah Bastian sambil menyipitkan matanya. Lalu ia tersenyum sembari melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Terima kasih, paman!", seru Ana pada Tuan Reymond yang sudah hampir di ambang pintu.


Tuan Reymond menjawab dengan melambaikan tangannya tanpa menoleh. Juga ia mengacungkan ibu jarinya pada Ana dan menghilang di balik pintu.


Sebelum duduk ia sempat melirik ke arah Bastian yang tak lain adalah kekasihnya sendiri. Ana memasang wajah datarnya sedangkan Bastian, mendapati Ana tengah melirik ke arahnya, maka ia tersenyum tanpa menoleh ke arah Ana.


Rapat yang membahas proyek-proyek perusahaan mereka berlangsung selama 1 jam. Dan selama rapat berlangsung, baik Ana maupun Bastian alias Ken saling mencuri pandang.


"*Ken, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?!", batin Ana sambil melirik ke arah Bastian aka Ken.


"Rahasia! Kalau kau mau jawabannya maka beri aku hadiah yang setimpal", sahut Bastian alias Ken dalam hati sambil melirik ke arah Ana*.


"cehh!", Ana berdecak kesal tanpa sadar. Rupanya suara itu terdengar sampai ke telinga Tuan Bram yang tengah memperhatikan seorang anggota yang sedang menjelaskan presentasinya.


"Ada apa Ana? Apakah ada hal yang kurang puas menurutmu?", tanya Tuan Bram ramah. Terselubung niat jahat dalam ucapannya, karena ia mencoba menjatuhkan Ana saat ini. Kalau-kalau ternyata Ana tidak memperhatikan sejak tadi maka akan menjadi pukulan yang telak untuk keponakannya itu.


"Tidak ada, paman! Lidahku hanya terselip saja. Dan aku sudah puas dengan presentasi Tuan Hadi ini", ucap Ana tenang seraya melemparkan senyuman kepada Tuan Hadi di depan. Taun Hadi membalas senyum Ana dan mengangguk hormat.


Bastian alias Ken menahan geramnya melihat Ana tersenyum pada laki-laki lain. Padahal Tuan Hadi merupakan pria berumur 45 tahun yang sudah memiliki 2 orang putra yang sudah beranjak dewasa. Dan lagipula Tuan Hadi hanya menghormati Ana sebagai putri dari atasan yang sebelumnya.


Ken meremas pinggiran kursi sambil memaksakan akting senyumnya pada semua orang.


"Lihat saja nanti kau, wanita!", geram Ken dalam hati.


"Huhu,, pasti dia sedang cemburu! Apa tersenyum pada seorang pria tua juga tidak boleh?! Ada-ada saja kamu, Ken!", Ana terkekeh sambil membatin.


***


Rapat pun usai, Tuan Bram menghampiri Ana yang masih duduk merapihkan beberapa berkasnya. Ia menggeser kursi di sebelahnya dan berdiri tepat di samping Ana.


"Ahh keponakanku! Mari paman tunjukkan ruanganmu" ucap Tuan Bram yang sudah merencanakan untuk menempatkan Ana pada ruang sempit seperti karyawan biasa yang lainnya.


"Ruangan?", Ana bertanya dengan lambat-lambat seraya menoleh ke arah Tuan Bram.


"Ahh, kurasa paman salah paham. Aku akan menempati ruangan ayah tentunya. Dan gedung ini masih cukup luas untuk paman membuat ruangan baru, bukan!", ucapan Ana kontan membuat Tuan mengeratkan rahangnya. Namun sebisa mungkin ia masih memasang wajah ramahnya.


" Begitu ya? Baiklah, kau bisa menempati ruangan bekas ayahmu. Dan aku akan membuat ruangan baru untukku yang lebih luas dan lebih bagus tentunya", ucap Tuan Bram dengan congkaknya.


"Ahh! Itu memang terlihat lebih seperti dirimu, paman!", Ana memasang wajah ramahnya seraya tersenyum padanya. Taun Bram membalas senyum Ana.


"Se-ra-kah!", ucap Ana lambat dan penuh penekanan. Kali ini ia menampilkan wajah sangarnya dalam sekejap dan kembali tersenyum ramah seketika.


"Baiklah, paman!", Ana berdiri sambil mengetuk-ngetuk berkasnya ke meja dengan suara keras yang sengaja ia lakukan untuk membuyarkan pikiran Tuan Bram. Pria itu sempat tertegun saat menangkap wajah seram Ana. Ada aura membunuh yang sangat kuat bersembunyi di balik tatapan mata Ana pada Tuan Bram.


"Aku pergi dulu. Esok aku baru akan mulai efektif bekerja di sini. Selamat siang Tuan Bramantyo Winata!", Ana sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada pamannya itu.

__ADS_1


"Ya, baiklah", tanpa sadar ia mengucapkannya begitu saja.


"Ahh, bodoh! Mengapa aku membiarkannya melakukan semua hal seenak hatinya. Aku bos saat ini. Harusnya aku yang mengaturnya", Tuan Bram mengusap wajahnya kasar.


"Baiklah, Tuan Bram! Kalau begitu saya juga pamit dulu! Mungkin kita akan lebih sering bertemu", Bastian mengerlingkan matanya seraya berlalu pergi begitu saja. Sebenarnya sejak tadi ia sudah memperhatikan interaksi antara paman dan keponakannya itu. Bastian mengawasi dari jauh kalau-kalau Tuan Bram akan menyakiti Ana.


"Hah, dia juga seenaknya!", Tuan Bram mendengus kesal. Dia sekarang sangat kesal karena tidak dihargai sebagai bos perusahaan ini.


***


Ana sedang menunggu di depan lift. Sejak dulu setiap kali ia datang berkunjung ke kantor ayahnya, ia terbiasa menggunakan lift untuk karyawan. Ana tidak terlalu suka menjadi spesial. Ia hanya ingin membaur dengan semua karyawan di sana. Jadi tentu sudah banyak yang mengenal Ana di perusahaan ini.


"drap,, drap,, drap!", suara langkah kaki mendekat.


Ana enggan untuk menoleh karena ia pikir itu adalah Tuan Bram yang datang menyusulnya. Ia memilih sibuk memainkan benda pipihnya.


Orang itu sudah berdiri di samping Ana dan menekan tombol turun pada lift khusus presdir. Ana masih belum menghiraukan kehadiran orang itu.


"ting!", pintu lift khusus presdir terbuka lebih dulu.


Sebuah tangan menariknya secara paksa masuk ke dalam lift bersamanya. Orang itu memenjarakannya ke sudut lift dan mendekapnya erat sambil menekan tombol lantai basement dan menutup pintu lift segera.


Setelahnya orang itu langsung memberi Ana ciuman bertubi-tubi tanpa ampun pada bibirnya. Usaha Ana memberontak terasa sia-sia saat yang dilawan merupakan seorang lelaki perkasa. Tangan Ana melemah seiring matanya yang terbuka dan melihat siapa sosok yang kini tengah berada di hadapannya.


"Ken!", batinnya berkata.


Ana melingkarkan tangannya pada leher Ken dan membalas ciuman yang Ken berikan. Perasaan amarah dan cemburu yang sempat Ken rasakan seolah memudar setelah mendapat balasan dari Ana. Kegiatan bibir mereka yang penuh hasrat dan menjadi panas harus terhenti saat pintu lift tiba-tiba terbuka kembali setelah mencapai lantai yang dituju.


-


-


-


-


-


-


-


-


maaf atas keterlambatannya updatenya ya teman-teman πŸ™


dan author mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas dukungan kalian selama ini, atas apresiasi kalian terhadap hasil karya ku kali ini,,


ayo trus kasih like, vote dan komentar kalian untuk novel perdana ku ini ya,,

__ADS_1


author senang sekali jika kalian menyukai dan terus mengikuti kelanjutan ceritanya 😊


semoga sehat selalu ya teman-teman ☺️😘


__ADS_2