Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 37


__ADS_3

Meninggalkan kegeraman Tuan Sanchez dan juga putrinya, kali ini suasana di sebuah pesawat yang sudah menyamai tingginya awan pun terlihat cukup ramai. Ana, Ken dan yang lainnya terlihat bercengkrama pada kursi penumpang yang di atur untuk saling berhadapan. Mereka semua menghangatkan suasana kabin pesawat cepat itu.


Belum terbiasa menaiki burung terbang, Sarah masih selalu gugup ketika mereka sudah berada di atas awan. Perasaan terpesonanya akan pemandangan di bawah sana juga selalu hadir menemani rasa gugupnya. Matanya tak lekang mengawasi setiap bintik kecil indah yang terlihat dari atas sana.


"Sayang!", seseorang memanggilnya. Membuatnya kembali dijangkau oleh rasa gugup. Sarah menoleh dengan cepat, tapi tangannya mengepal sandaran kursi dengan erat. Ia mengalihkan pandangannya dari panorama di bawah menuju ke samping ke sumber suara yang memanggilnya.


cup


Pria konyol yang menjadi suaminya ternyata sudah siap siaga mendekatkan wajahnya di belakang wajah Sarah. Sehingga ketika ia menoleh, bibir mereka segera bertemu dengan tidak sabar. Sam tersenyum di atas rasa kesalnya. Sungguh sangat menjengkelkan! Sepertinya Sam memang sudah merencanakan hal ini.


"Kau!", lantas Sarah menjauhkan kepalanya sampai membentur ke jendela secara tidak sengaja.


tukk


"Aduh!", erangnya merasa sedikit nyeri di bagian belakang kepala.


"Lagipula untuk apa menghindar, Sayang?! Seharusnya kita bisa melanjutkannya saja, kan!", suaminya itu menyeringai tanpa dosa. Sam bahkan tak memundurkan tubuhnya sama sekali. Ia menggerakkan alisnya ke atas dan ke bawah berulang kali dengan ekspresi menggoda. Wajahnya saat ini benar-benar sangat mirip dengan seorang cabul!


"Sam!", Sarah berseru seraya mendorong lelaki itu menjauh.


"Duduk dengan benar! Jangan seperti anak kecil yang tidak bisa diatur!", omelnya sekarang seperti sedang memperingati anak muridnya. Suaminya ini memang sangat suka menggodanya.


"Iishh,, iishh,, iishh,, Pamer sekali!", suara di depan mereka menggerakkan kepala Sam dan Sarah ke asal suara. Nampak Krystal sedang menyangga dagunya dengan satu tangan seraya menggeleng pelan. Matanya menunjukkan kilatan tidak suka dengan gaya santainya.


"Tolong kalian kasihanilah aku yang baru saja berpisah dengan kekasihku!", wanita itu memberi ultimatum dengan suaranya yang dalam. Kemudian ia rubah wajahnya menjadi memelas. Lengkung alisnya berkerut ke bawah.


"Kau memang tidak tahu malu!", Sarah mengomel lagi sambil melempar wajahnya ke samping. Lebih baik melihat ke luar, pikirnya. Ia merasa cukup malu sampai ditegur seperti ini oleh sahabatnya itu.


Kebetulan tempat duduk mereka saling berhadapan. Jadi Krystal bisa melihat dengan jelas percobaan adegan romantis di depan matanya tadi. Mungkin jika dirinya tidak bersuara, sudah akan terjadi adegan yang sesungguhnya hingga membuat dirinya muak dan ingin muntah.


Bukan karena ia tidak suka! Namun bukankah terlihat miris dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang diri?! Mereka malahan asyik pamer kemesraan hingga membuat orang iri. Sedikit saja,,, tolonglah bertoleransi dengan yang tidak memiliki kekasih di sampingnya ini!


Namun,, ada hal yang membuatnya sedikit lebih baik lantaran ia pulang tanpa pasangannya kali ini. Buket bunga mawar raksasa itu, yang mendampinginya di kursi sebelah. Anggap saja itu yang menggantikan Louis untuk bersamanya. Membelai bunga itu, Krystal melakukannya tanpa henti sambil tersenyum sendiri.


"Aku takut dia akan menjadi gila!", gumam Sarah sambil meringis ngeri. Tubuhnya bergidik seraya memperhatikan tingkah laku wanita di seberangnya itu.


"Aku pun sudah tergila-gila padamu, Sayang!", Sam yang duduk di sampingnya mendadak merangkulnya dengan erat. Senyum tidak waras itu sudah membuatnya hampir gila. Bagaimana lagi sebenarnya cara untuk menghadapi suaminya yang konyol ini?!


"Minggir!", Sarah menyingkirkan kepala Sam yang dibaringkan di bahunya dengan satu jari telunjuk.


"Tidak mau!", pria itu tetap gigih kembali ke pangkuan bahu ramping namun nyaman untuknya bersandar. Ia menolak sampai menggoyangkan tubuhnya seperti anak kecil.

__ADS_1


"Minggir!", lagi-lagi Sarah melakukan hal yang sama. Menyingkirkan kepala Sam yang mendadak menjadi berat lantaran pria itu melakukan perlawanan.


"Tidak mau!", ujarnya bersikeras.


"Cium dulu, barulah aku patuh!", di bahu wanita itu, Sam menengadahkan kepalanya sedikit seraya menampilkan senyum lebarnya. Negosiasi yang alot ini pasti akan dimenangkan oleh dirinya.


cup


Dengan terpaksa, satu ciuman Sarah daratkan pada kening pria itu. Karena hanya bagian itu yang mudah dicapai oleh bibirnya. Ia enggan memiliki banyak usaha. Apalagi mencium bibirnya! Hush,, ia masih mempunyai rasa malu tentu untuk melakukannya di depan umum.


"Jangan curang, Sayang! Aku belum siap tadi! Sekarang cium di sini!", Sam mengangkat kepalanya yang baru saja diberi tanda cinta. Meskipun ia senang, tapi bukan di situ tempat yang ia inginkan. Sam menunjuk pipi sebelah kanannya kemudian.


"Kau ini rewel sekali seperti ibu hamil saja!", gerutu Sarah kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


"Siapa yang kau bilang rewel barusan?", suara wanita yang ia kenal datang menyambar seperti guntur di siang bolong. Ana sedang memelototinya di tempat sambil berkacak pinggang. Kebetulan kursi mereka berada di seberang barisan. Karena suara Sarah agak kencang, jadi Ana masih bisa mendengar ucapan wanita itu samar-samar.


"Tidak ada! Aku tidak berbicara apa-apa! Aku hanya mengatakan, jika wajar jika ibu hamil agak rewel dan mempunyai banyak keinginan. Memang sudah seperti itu biasanya. Jadi aku mengingatkan Sam supaya bisa menjadi suami yang sabar seperti Kakak ipar! Iya kan, Sam?!", bola mata Sarah berputar di dalam kelopak matanya sambil berucap sambil berpikir untuk menggunakan alasan yang tepat agar ibu hamil itu tidak marah. Ia menyesal sendiri karena tidak bisa menjaga mulutnya.


"Iya kan, Sam?!", ulangnya ketika suaminya itu belum bisa diajak kerja sama. Pasalnya, saat ini Sam tengah menatapnya dengan bingung. Mengapa namanya dibawa-bawa dalam hal ini?!


"Kenapa sekarang ucapanmu panjang sekali?! Sepertinya tadi ku dengar kau hanya mengucapkan satu kalimat saja!", protes Ana dengan tatapan menyelidik. Ia tidak ingin percaya begitu saja kepada sahabatnya itu. Meskipun alasan yang Sarah berikan cukup masuk akal dan juga menghibur hatinya.


"Oh mungkin itu hanya perasaanmu saja, Kakak ipar! Benar kan, Sam?!", Sarah menekankan kata dengan senyumnya yang dibuat meyakinkan. Sedangkan pada suaminya, ia melirik sambil melotot dengan wajah garangnya. Mengapa suaminya ini lamban sekali?!


"Benarkah begitu?!", Ana tampak ragu dan berpikir. Mungkinkah dirinya yang salah?!


Ken yang sedari tadi diam sebenarnya sangat tahu persis duduk permasalahannya. Tak peduli jika adik dan adik iparnya berbohong, tapi memang kenyataannya ini hanyalah kesalahpahaman biasa. Lagipula istrinya yang sedang hamil itu sensitif, jika diteruskan dengan realita yang sebenarnya, mungkin saja singa betinanya ini akan mengamuk pada adik dan adik iparnya itu. Ken tidak mau itu terjadi, karena akan mengganggu tumbuh kembang si kecil di dalam sana.


"Sudah! Ayo, duduk!", tarikan lembut itu seperti magnet dan sihir. Ken dapat dengan mudahnya mendudukkan Ana kembali. Pada akhirnya menang hanya raja singa yang bisa menaklukkan singa betinanya yang sangat seram jika sudah marah.


"Mau kue?", dan mulut yang semula dipergunakan untuk mengomel, sekarang disumbat oleh sepotong kue manis yang Ken suapkan ke mulut Ana.


"Manis!", soraknya riang sambil menikmati lumer kue itu di mulutnya. Sekarang ia sudah lupa kesalnya tadi setelah tak sengaja mendengar keluhan Sarah.


"Hah! Untunglah!", Sarah kemudian duduk lurus sambil mengusap dadanya. Lega juga akhirnya.


"Jadi mana imbalanku?", Sam lagi-lagi menggoda istrinya itu dengan pamrihnya.


"Kalau begitu tidak perlu! Biar aku saja yang menciummu!", tangan pria itu bergerak dengan cepat mengurung Sarah. Kedua tangannya saling mengait dengan kencang di samping tubuh Sarah.


cup,, cup,, cup,, cup,,

__ADS_1


Terus saja Sam ciumi pipi istrinya itu dengan gemas. Tak masalah jika istrinya menolak. Toh, ia tak akan bisa lepas dari penjaranya ini. Pipi kiri Sarah sampai memerah lantaran pria itu tak henti menjatuhkan bibirnya di sana.


Bagaimana pun juga Sarah adalah wanita yang mencintai pria itu. Bagaimana ia kesal dengan ulah konyol Sam, di dalam hatinya ia tetaplah memiliki perasaan yang begitu besar terhadap suaminya. Jadi diperlakukan manis begini juga ia akan luluh pada akhirnya. Lama-lama Sarah tersipu diciumi terus seperti ini. Hingga wajah yang tadinya kesal pun perlahan pudar. Tergantikan dengan senyum malu-malu yang ditahan di bibirnya.


Sebagai penonton dari semua adegan romantis dari dua pasangan itu, Krystal tak henti-hentinya mencibir. Sungguh mereka tidak bisa menjaga perasaan para umat yang masih sendiri saat ini. Sangat pandai mereka menyiksa mata orang-orang. Ia jadi merasa kasihan saat melihat wajah suram Adam maupun Sandi. Paling-paling yang merasa terhibur adalah Ibu Asih di sini. Senangnya merasakan kehangatan keluarga terhormat ini.


Buket bunga di sampingnya kembali menjadi pelipur laranya. Tak mempedulikan dua sahabatnya yang tenggelam dalam keharmonisan bersama pasangannya, Krystal kembali tersenyum pada bunga-bunga itu. Sungguh,, padahal baru sebentar mereka berpisah. Tapi sekarang ia sudah merindukan orang itu saja! Krystal jadi tidak sabar dinikahi oleh pria itu.


***


Semua orang akhirnya bisa duduk dengan tenang di dalam mobil. Setelah mereka tadi berhasil mengelabui orang-orang yang katanya merupakan penggemar dari Krystal maupun Louis. Berita lamaran romantis di antara mereka berdua telah bergerak dengan cepat. Bahkan para awak media juga datang, sangat berniat untuk mendapatkan konfirmasi langsung dari pihak yang terkait, yaitu Krystal sendiri.


Beruntung mereka cepat mendapatkan kabar dari orang-orang Ken dan Sam. Sehingga mereka dengan cepat membuat rencana untuk mengelabuhi orang-orang itu. Nyatanya, mereka semua keluar melalui pintu yang lainnya. Sehingga mungkin, sampai saat ini para penggemar maupun awak media, masih menunggu mereka dengan harapan besar.


"Sedihnya aku tidak bisa menyapa mereka!", ujar Krystal sambil memandang keluar jendela. Sudah di perjalanan, tapi dia masih memikirkan para penggemarnya yang mungkin masih bertahan di sana.


"Jadi kau lebih suka dikerumuni oleh semua orang-orang itu?! Lalu bungamu hancur dan tidak cantik lagi?!", sahut Adam yang mengalah bersama Sandi, duduk di kursi paling belakang.


Semua orang berpisah di pintu keluar bandara. Mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing. Adapun Ken dan Sam yang harus segera kembali ke perusahaan. Namun, jadi mau tidak mau Ana dan Sarah mereka boyong masing-masing ikut dengan mereka. Menurut penuturan mereka, tidak tega meninggalkan istri seorang diri di rumah. Jadi dibawa saja, lagipula dua saudara Wiratmadja itu sama kompaknya dalam mencintai istri-istri mereka. Rasanya tidak mau jauh sedikitpun.


Mengingat hal itu, Adam tak bisa tidak menunjukkan wajah jeleknya. Penampilan Presdir Ken yang terhormat juga Tuan Sam yang begitu disegani pada kenyataannya hanyalah seorang suami yang menjadi budak cinta istrinya. Apakah dia juga akan begitu nanti?! Kadang Adam sendiri juga penasaran! Akhirnya pikirannya pun kembali ke masa kini saat adiknya itu mulai mengeluarkan suara.


"Bukankah ada Sandi yang selalu baik hati membantu Kakak Krystal ini?!", wanita itu menoleh sambil memamerkan manisnya lengkungan di bibirnya pada Sandi.


"Untu kali ini, maaf Kak, aku tidak bisa!", masih sopan anak itu menolak ujaran Krystal.


"Kenapa?", tanyanya memelas. Ia seperti kehilangan malaikat penolongnya. Sedangkan Adam, tergugu pelan di seberang Sandi.


"Aku takut dengan para penggemar Kakak dan Kak Louis! Mereka terlihat ganas! Aku tidak mau!", jawab Sandi polos sambil membayangkan kengerian itu.


Berdiri di tengah arus ombak yang ganas, terombang-ambing oleh para penggemar yang berusaha menjangkau Krystal dengan segala cara. Belum lagi jepretan kamera dan silau lampunya, ketegangan itu berbeda dengan yang tadi ia rasakan saat membantu Louis. Meskipun sama-sama disorot, namun masih cukup jauh jarak di antara mereka semua. Jadi Sandi masih bisa mengatur nafasnya dengan benar. Bahkan sebenarnya tadi pun, pria muda itu selalu menutup wajahnya dengan buket bunga itu. Sangat takut terlihat orang-orang.


"Iya juga, sih!", Krystal membalikkan tubuhnya lagi ke depan. Sebaik-baiknya sikap para penggemar mereka. Tetap saja satu dua orang ada yang bersikap impulsif untuk melakukan sesuatu yang berada di luar dugaan mereka. Namun,, bagaimanapun sikap mereka, Krystal tetap menaruh cintanya sebagian kepada mereka. Sebab,, keberadaan merekalah yang membuatnya bisa menjadi sebesar sekarang ini.


"Louis!", kembali bayang wajah lelaki itu hadir di jendela kaca mobil di sebelahnya. Pria itu tersenyum sangat indah kepadanya.


Aku rindu! Krystal pun menempelkan kepalanya ke kaca jendela. Berkhayal jika memang ada Louis di sebelahnya. Anggap saja ia sedang bersandar pada dada bidang kekasihnya itu. Wanita itu pun melakukan hal yang sama sambil terus mengukir senyum di bibirnya.


Sampai-sampai Adam yang di belakangnya melihat hal ini sambil mengernyitkan alisnya. Ia kembali bertanya-tanya di dalam hati. Apakah jatuh cinta seindah itu sampai bisa membuat semua orang menjadi seperti orang bodoh dan gila?! Bahkan adiknya sendiri! Sungguh,, Adam jadi penasaran sekali bagaimana rasanya mabuk karena cinta sehingga bisa terlihat sama seperti mereka semua!


Tapi pesan yang masuk di ponselnya membuat pria itu kembali berpikir. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Urusan perusahaan lebih penting daripada memikirkan hal konyol seperti itu.

__ADS_1


Hah! Ia pun mendesahkan nafasnya ke kaca mobil sampai embun yang dihasilkan mengaburkan pantulan dirinya yang linglung di sana.


__ADS_2