Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 279


__ADS_3

"Krystal!", Sarah memekik ketika sahabatnya itu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Saat ini Krystal sudah berada di atas tubuhnya. Mengurungnya dengan kedua tangan di sisi kanan dan kiri wajahnya.


"Tatap aku! Kau harus melihat wajah Tuan Sam nanti, Sarah!", sambil berusaha mengulum bibirnya yang sudah sangat ingin tertawa, Krystal pun menarik tangan Sarah yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.


Wajah Sarah sudah sangat merah sekarang. Bukannya ia tidak tau sama sekali. Ia juga punya pengetahuan sedikit tentang hal itu. Tapi diperlakukan seperti ini, membuatnya takut karena akan segera berfantasi liar setelah ini.


Tapi tidak! Jangan sampai hal itu terjadi! Karena ia berharap pikirannya akan benar-benar jernih saat menghadapi momen sakral esok hari. Mengenai malam yang akan menjelang, biar saja besok lagi ia memikirkannya.


"Pergi tidur sana!", Sarah mendorong tubuh Krystal hingga terjatuh tepat di sebelahnya.


Suara tubuh yang jatuh di sebelahnya berbarengan dengan suara tawa Krystal yang nyaring lantaran sangat puas telah berhasil menggoda sahabatnya itu.


Tak berselang lama, Sarah pun sudah terlelap. Ia sudah berpetualang ke dalam alama mimpinya. Entah apa itu, yang jelas Krystal tak dapat mengetahuinya.


Agak lama wanita itu memandangi wajah sahabatnya yang sangat damai itu. Senyum penuh ironi terbit pada bibir wanita yang berprofesi sebagai seorang aktris itu.


"Apa kalian tau?! Aku sebenarnya sangat iri pada kalian berdua!", setelah mengucapkan kalimat itu, Krystal membalikkan tubuhnya, membelakangi Sarah.


Tentu saja ia iri dengan perjalanan cinta Sarah dan Ana. Jika sepupunya itu sudah menikah, maka sahabatnya ini akan segera menyusul. Lalu kapan dirinya akan menyusul ke sana?! Krystal sendiri belum mengetahui jawabannya.


Urusan masa depannya tidak semudah itu bisa ia tentukan. Profesi dirinya dan juga Louis, sebagai kekasihnya membuat mereka harus merencanakan hal ini matang-matang beserta semua kontrak yang telah mereka tanda tangani untuk satu-dua tahun ke depan.


Akhirnya, Krystal mengikhlaskan saja keadaannya saat ini. Yang jelas ia akan menjaga cintanya ini sehingg bisa memiliki akhiran yang sama, yaitu berdiri bersama di sebuah pelaminan yang indah. Senyumnya sudah lebih indah sekarang, lalu ia pejamkan matanya, menyusul Sarah yang sudah pergi ke alam mimpi terlebih dahulu.


***


"Sayang!", sapa Ana riang setelah membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Karena ternyata suaminya itu masih terjaga dengan buku yang tadi dibacanya. Sepertinya Ken melanjutkannya lagi. Pria itu duduk bersandar di kepala ranjang dengan kaki yang menyilang. Wajahnya naik menatap kedatangan istrinya itu.


"Sudah jam berapa ini, hemm!", tangan pria itu terulur menyambut tubuh Ana yang mendekat ke arahnya. Ia tidak marah, hanya menipiskan bibirnya saja, itu sebuah teguran yang lembut.


Ana terkekeh saat melihat jam yang berada di atas nakas. Ini sudah hampir tengah malam rupanya. Jika sudah berkumpul dengan wanita-wanita itu memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


"Maaf!", wanita itu terkekeh agak malu. Tubuhnya saat ini sudah berada di pangkuan suaminya. Lalu ia pun merangkulkan tangannya pada sekitar leher suaminya itu.


"Kau mau menggodaku lagi, hemmhh!", Ken tersenyum seraya mencubit kecil dagu Ana.


"Aku hanya ingin memberikan kompensasi!", Ana kembali terkekeh. Ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah suaminya itu.


"Bisakah kalian menghormati keberadaanku di sini?!", Sam mendengus kesal. Ia bangkit dari posisinya yang sedang merebahkan diri di sofa


"Harusnya kau yang tau diri untuk segera pergi dari sini! Ini adalah kamar sepasang suami istri, jadi kami bebas melakukan apa pun di sini!", tanpa perlu mengeluarkan kata-kata, istrinya itu sudah berucap terlebih dahulu setelah menarik satu tangannya dari rangkulannya di leher Ken.


Tatapan sombong kakaknya itu membuat Sam semakin kesal. Baiklah-baiklah, ia memang masih berstatus lajang saat ini. Tapi lihat saja besok, ia akan segera menyusul status kakaknya yang sudah menikah lebih dulu itu.


Ana terkekeh geli melihat adik iparnya yang kesal itu. Malam ini ia telah membuat kedua calon pasangan pengantin itu kesal, baik yang wanita maupun yang pria. Dan makin senang, karena tidak ada yang bisa melawannya.


"Kau sangat senang sepertinya?!", Ken mencubit gemas hidung istrinya itu sampai kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri.


"Tadi aku sudah berhasil menggoda wanitanya, sekarang aku membuat kesal prianya!", Ana tertawa lagi setelah mengelus hidungnya yang memerah karena ulah suaminya itu.


"Jadi,,, mana kompensasinya?", Ken tak ingin memperpanjang pembahasan tentang orang lain lagi. Saat ini yang terpenting adalah tentang dirinya dan juga istri tercintanya.


"Ayahmu sangat cerewet, Sayang!", setelah mengelus perutnya sebentar, Ana lalu memberikan satu ciuman pada bibir suaminya itu.

__ADS_1


Ken juga tak ingin berlama-lama menerima ciuman itu. Ia takut hal seperti tadi terjadi lagi, sehingga ia harus mandi air dingin lagi.


Pria itu langsung mengangsur tubuh istrinya ke samping. Keduanya saling merebahkan diri sambil berpelukan.


"Selamat tidur, Suamiku!", Ana kembali mencium pipi pria itu. Lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya yang membuatnya sangat nyaman.


"Ya,, tidurlah!", Ken membalas perlakuan istrinya itu dengan memberikan satu kecupan dalam pada pucuk kepalanya.


Lalu keduanya memejamkan mata mereka. Memasuki alam bawah sadar sambil tersenyum menikmati kehangatan dari pelukan yang erat itu.


***


Jika sepasang suami istri itu sudah berhasil memejamkan matanya. Maka seorang pria sampai saat ini masih terjaga di kamarnya. Matanya seperti sangat sulit untuk diajak bekerja sama. Tidak mau mendengarkan perintah si empunya.


Sam masih berguling-guling di atas ranjangnya. Hatinya masih gelisah bahkan setelah ia berbicara dengan kakaknya. Meskipun dari luar kakaknya itu terkesan dingin dan angkuh, namun sebenarnya pria itu sangat memperhatikan dirinya.


Ken sudah memberikan nasehat agar adiknya itu bisa lebih tenang sekarang. Banyak berdoa dan yang lebih penting adalah mengistirahatkan diri agar esok hari dirinya terlihat bugar saat menghadapi saat-saat yang menegangkan itu. Gelisah tidak karuan seperti itu tidak ada gunanya, tambah penjelasan kakaknya itu.


Tapi mungkin Sam ini tidak bisa berpikir sejernih Ken, kakaknya. Ia tidak bisa tenang seperti apa yang dikatakan kakaknya itu.


Sudah pukul tiga pagi, dan Sam masih belum tidur juga. Akhirnya ia mengingat sesuatu. Ada sesuatu yang dapat ia gunakan untuk membuatnya tidur. Paling tidak ia harus tidur walau hanya beberapa jam saja.


Sam mengambil sebuah botol obat tidur yang yang berada di dalam kopernya. Tanpa sengaja, botol obat itu selalu terbawa kemana pun ia pergi. Ia akan meminum obat itu ketika ia sedang merasa resah seperti ini dan menjadi tidak bisa memejamkan matanya. Hal ini mulai terjadi ketika ia berpisah dengan Sarahnya saat itu.


Satu butir obat ia ambil, lalu ia tenggak bersamaan dengan air putih ke dalam tenggorokannya. Matanya terasa makin berat untuk ia buka. Dan tak butuh waktu lama, pria itu pun akhirya bisa memejamkan matanya.


***

__ADS_1


"Aakkhhhh", suara teriakan seorang pria terdengar nyaring pagi itu.


Tidurnya yang masih sangat nyenyak harus disudahi. Tubuhnya saat ini juga sudah basah kuyup beserat bantal dan selimut yang menemani tidurnya tadi.


__ADS_2