
Sam tak berucap, ia hanya menampilkan seringainya yang membuat tubuh Sarah menggigil jadinya. Apalagi pakaiannya yang kini terkesan minim membuatnya makin merasa kedinginan. Tak melepaskan seringainya, Sam menghimpit tubuh Sarah sampai membentur pintu. Sarah terkunci ketika tangan Sam terulur untuk menutup rapat pintu ruangannya dan tak lupa menguncinya. Perasaan Sarah sudah tidak enak saat ini.
"Sam,,, ap,, apa yang kau lakukan?", Sarah menegur dengan sedikit keberanian yang ia punya. Bagaimanapun galaknya dia, tapi jika menghadapi Sam yang seperti ini, ia sungguh tak berdaya. Semua otot dan sarafnya melemah untuk melawan pria dengan seringai khas yang tak menyurutkan ketampanannya.
"Wanitaku memang hebat! Hanya kau yang mampu mengatasi wanita tidak tau malu itu", Sam mengunci tatapan mata mereka hingga Sarah terjerat dan tak mampu mengalihkan pandangannya. Dengan gerakan cepat lalu pria itu meraih pinggang Sarah dan mendekapnya erat.
"Sebagai priamu, tentu aku harus memberikan hadiah, bukan!", Sam berbisik di telinga Sarah dan sengaja mengembuskan nafas hangat miliknya.
Wanita ini sudah berani menggodanya dengan berpakaian seperti ini. Entah sengaja atau tidak yang jelas kini dirinya sudah terpancing untuk memberikan penghargaan atas tindakan Sarah dan juga penampilannya yang seksi saat ini.
Sarah tak bergeming. Tubuhnya saja sudah meremang akibat gelenyar hangat yang Sam berikan padanya. Wajahnya sudah merah dan menghangat sekarang. Dan wanita itu seakan terhipnotis oleh tatapan Sam yang makin intens. Sarah menaikkan dagunya, lalu disambut dengan senyuman puas dari bibir Sam. Wanita itu sudah tidak sabar rupanya, hal yang membuat Sam makin merasa senang. Berarti bukan hanya dirinya yang menginginkan wanita itu, tetapi Sarah juga menginginkan dirinya.
Sam meraih tengkuk Sarah, menekannya hingga hidung mereka saling bersentuhan. Sapuan nafas hangat menerpa masing wajah mereka. Sarah memejamkan matanya, mulutnya terbuka sedikit untuk menerima sentuhan yang akan Sam berikan padanya.
Pria itu tak menunggu lama, ia memejamkan matanya lalu menanamkan bibirnya pada bibir Sarah. Dan wanita itu segera menerimanya, juga membalas hal yang Sam berikan padanya. Sarah mengalungkan tangannya di sekitar bahu pria itu hingga tubuh mereka makin merapat seluruhnya. Decakan demi decakan terdengar harmonis mengiringi penyambutan bibir masing-masing dengan penuh cinta.
Lama makin lama, tubuh mereka makin memanas. Sinyal itu langsung menjalar ke seluruh tubuh keduanya. Pagutan bibir itu makin panas dan bergairah. Sam membimbing Sarah menuju mejanya. Tanpa melepaskan bibir wanita itu, Sam mendudukkan Sarah di atas mejanya. Tangan Sarah mencari pegangan untuk menjaga keseimbangannya. Dan hal itu malahan membuat beberapa benda terjatuh dari meja. Tapi seakan tak peduli, keduanya masih menikmati kenikmatan cinta yang mereka miliki.
__ADS_1
Sam hilang kendali, tubuhnya terbawa gairah yang kian memanas. Ia melepaskan bibirnya dari bibir Sarah. Lalu menanamkan bibir lembab dan lembut miliknya menuju sekitar telinga dan leher Sarah. Wanita itu juga masih dibawah kendali gairah yang ia miliki. Tangannya mencengkram pinggiran meja sambil memejamkan matanya. Ia menikmati sentuhan-sentuhan yang Sam berikan kepadanya. Sam mengelus punggung mulus Sarah yang sudah ia nantikan sejak tadi.
Dada Sarah yang naik turun seperti dirinya akibat nafas yang minim di rongga paru-parunya, membuat Sam mengalihkan perhatiannya. Ciumannya turun ke tulang selangka, ia mendaratkan beberapa kecupan di sana. Lalu turun lagi ke bagian dada atas yang terbuka.
Tidak! Ini tidak benar! Ia sudah berjanjilah tidak akan melakukan hal itu kepada Sarah. Ia sangat menghormati wanita yang sangat ia cintai ini. Sam segera mengakhiri kegiatannya dengan menanamkan kecupan yang cukup lama pada bagian itu, meski Sarah seakan masih menikmatinya. Wanita itu masih memejamkan matanya, Sarah seperti sedang terjebak dalam gairahnya sendiri. Dan melihat hal itu, Sam makin merasa bersalah. Ia langsung menarik Sarah ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat seraya memejamkan matanya.
Nafas keduanya sama pendek-pendek. Namun mendapati gerakan Sam yang tiba-tiba ini membuat Sarah perlahan membuka matanya. Ya ampun, benar saja apa yang mereka lakukan. Mereka berdua telah terlena oleh sentuhan dan gairah yang memenuhi hati dan pikiran mereka. Lalu Sarah tersenyum, bahkan pria ini yang terlebih dahulu menghentikan kegiatan panas ini. Sam berhenti di saat yang tepat, sebelum semua makin terlambat. Meski Sarah mencintainya, tapi ia juga berharap jika mereka akan benar-benar bersatu nanti saat mereka sudah resmi menjadi suami-istri.
"Terimakasih, Sam!", ucap Sarah begitu tulus di dalam pelukan pria itu seraya tersenyum.
"Hentikan, Sam! Jangan minta maaf lagi. Hal tadi terjadi karena kita saling menginginkannya, bukan", Sarah merasa ini bukan sepenuhnya salah pria itu. Karena dirinya sendiri juga tadi terbawa suasana dan termakan gairah yang menjalar ke sekujur tubuhnya.
"Kali ini aku benar-benar berjanji tidak akan melakukan hal tadi lagi sebelum kita benar-benar sudah menikah. Kecuali,,, kecuali ini!", Sam menarik diri lalu mendaratkan kecupan singkat pada bibir wanitanya. Ada perasaan lega bahwa Sarah tak mempermasalahkan dan malah menenangkan dirinya yang gelisah.
"Kau ini!", Sarah tersenyum malu seraya mendaratkan pukulan ringan pada bahu pria itu.
Lalu Sam kembali memeluk wanita itu dengan erat. Sangat erat seakan ia tidak ingin kehilangan Sarah meski di saat seperti ini. Sam sangat mencintai Sarah. Perjuangan yang dilaluinya tidaklah mudah untuk mendapatkan cinta wanita ini. Ia tentu akan menghargai hal itu sampai nanti.
__ADS_1
"Sudah siang! Yang lainnya pasti sudah menunggu kita di sana!", Sam menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sarah. Ia masih ingat bahwa mereka masih memiliki janji hari ini. Apalagi jika bukan untuk fitting baju pengantin dan seragam untuk keluarga mereka.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu!", Sarah menunjuk tumpukan berkas yang masih tinggi di salah satu sisi meja kerja pria itu.
"Biarkan saja, mereka bisa menunggu!", jawab Sam dengan santainya.
Sarah menjadi tidak enak hati. Karena bagaimanapun juga pekerjaan Sam jadi tertunda itu karena kedatangan dirinya dan juga si Megan rubah itu tentunya. Andai saja tidak ada wanita itu, pasti Sam akan dengan tenang menyelesaikan pekerjaannya lalu berangkat ke butik sesuai rencana.
"Apakah kau yakin?", Sarah memastikan lagi.
"Tenang saja sayang, persiapan pernikahan kita lebih penting", pria itu mengulas senyum tulusnya seraya membelai lembut pipi wanitanya.
Biar saja, paling-paling setelah ini ia akan melimpahkan semua pekerjaan yang tersisa pada sekretarisnya. Karena ia tau, aktifitas mereka nanti akan memakan waktu lama, jadi sejak sekarang pun ia sudah enggan untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk itu. Jika sekretarisnya tau apa yang ia pikirkan, mungkin wanita itu akan pingsan seketika. Mengingat pekerjaan yang ia punya tidak sedikit juga.
"Yasudah, ayo kita berangkat sekarang!", Sarah meraih bahu Sam dengan kedua tangannya untuk mempermudah dirinya turun dari meja.
"Tunggu dulu!", Ben menghentikan langkah Sarah yang sudah berjalan di belakangnya. Ia bahkan menarik tangan wanita itu hingga Sarah memutar tubuhnya dan membentur tubuh Sam yang sudah berbalik.
__ADS_1