
Seorang wanita tertabrak dari arah belakang. Beberapa foto yang ia pegang menghambur ke atas dan jatuh berserakan. Krystal nampak tertegun dengan apa yang ia lihat di lantai. Ia membekap mulutnya dengan tangannya sendiri seraya menatap tak percaya ke arah foto-foto itu dan bergantian ke arah pemiliknya.
Joice berdiri dengan seorang pria bermasker hitam berdiri di hadapannya dengan tatapan yang sulit ditebak. Di tangannya masih terdapat beberapa lembar foto yang masih tertinggal.
Foto-foto yang jatuh merupakan foto saat Ana bersama dengan Bastian alias Ken. Sedangkan foto yang masih tertinggal di tangan Joice terlihat gambaran Ken yang sebenarnya dan Ana yang berada di rumah sakit, gambar yang sama seperti yang Krystal terima beberapa waktu lalu.
"Kau!", Krystal menatap Joice tajam. Louis yang khawatir jika Joice akan mengucapkan sesuatu yang membuat Krystal salah paham dengannya pun melangkah maju ke depan Krystal. Buru-buru ia memunguti foto-foto yang tergeletak di lantai dan menyerahkannya dengan kasar ke tangan Joice.
"Jadi kau yang mengirim foto-foto itu kepadaku?", tanya Krystal dengan pandangan menuntut.
"Aku tidak mengerti ucapanmu?", Joice berkilah dan ia pun memberi isyarat dengan tangannya supaya laki-laki yang bersamanya pergi menjauh.
"Jangan berpura-pura lagi, Nona! Apa motif anda melakukan ini semua?", Louis mencercanya dengan pertanyaan yang mematikan.
Masih disibukkan oleh pikiran mereka mengenai foto-foto itu, tak ada yang menyadari pria bermasker itu mulai mundur perlahan hingga tak terlihat lagi dari jangkauan mereka.
"Aku ingat, sebelumnya kau mengatakan bahwa kau adalah teman dari Presdir Ken kan?! Dan kau sepertinya juga memiliki ketertarikan dengannya. Lalu apa maksudmu melakukan ini semua?!", Krystal menahan kesal. Ia menatap wanita itu dengan tajamnya dan siap memburu.
"Heh, bukankah kau yang dengan percaya dirinya mengakui bahwa kau memiliki hubungan dekat dengan Presdir Ken?! Aku hanya memudahkan langkahmu dengan memberikanmu peluang untuk menyingkirkan sebuah penghalang", Joice berusaha menutupi rasa gugupnya dengan masih bersikap arogan.
"Kau ingin meminjam tanganku untuk menyingkirkan Ana sehingga hal itu akan mempermudah jalanmu sendiri untuk bisa berada di sisi Presdir Ken-mu itu. Benar kan yang aku katakan?!", Krystal membaca maksud dan tujuan dari apa yang Joice inginkan darinya.
"Dia ingin cuci tangan rupanya! Dasar licik!", batin Krystal kesal.
Joice tak bergeming juga tak mengucapkan satu kata pun. Karena memang benar apa yang menjadi tebakan Krystal. Tapi ia masih mempertahankan sikap arogannya agar ia tak dapat disudutkan oleh Krystal dan Louis.
"Licik sekali! Kau ingin menggunakan tangan orang lain untuk mempermudah urusanmu sendiri!", Krystal tersenyum remeh ke arah Joice.
"Bukankah itu juga menguntungkan bagimu, Nona Krystal!", Joice masih tak mau disudutkan. Toh dengan begitu saingan mereka makin berkurang bukan jika Krystal berhasil menyingkirkan Ana, begitu pikir Joice saat ini. Karena ia belum mengetahui perihal hubungan Krystal dan Louis yang sekarang.
"Cukup! Krystal ayo pergi dari sini sebelum kita jadi bahan tontonan", Louis sangat tau sifat Krystal jika sudah emosi. Ia takut nanti Krystal akan meluap-luap dan menimbulkan keributan di tempat umum ini. Louis menggenggam tangan Krystal dan mengusapnya lembut berharap Krystal akan meredakan emosinya.
Tapi hal itu tak menimbulkan efek apa pun bagi Krystal. Ia sudah terlanjur emosi saat ini. Krystal merasa dimanfaatkan meskipun ia tak menuruti apa yang seharusnya ia lakukan. Tapi rasa kesalnya belum juga hilang, Krystal masih ingin meladeni wanita yang berada di hadapannya ini.
"Kau bilang menguntungkan? Aku bahkan sudah tidak tertarik dengan pria itu. Jadi dimana letak kata menguntungkan bagi diriku, Nona Joice?! Dan kau bisa lihat sendiri bukan, Presdir Ken bukanlah pria yang dekat dengan Ana. Ada pria hebat lain yang berada di sampingnya, dan kau bukan apa-apa bagi Ana. Jangan coba-coba berusaha bersaing dengannya, jika kau tak ingin merasakan kekalahan telak. Aku sekarang sadar betul, jika Ana memang ditakdirkan untuk bersinar. Seberapa terangnya aku, aku tetaplah berada di bawah bayang-bayangnya. Tapi itu tak menjadi masalah, karena paling tidak aku selalu menjadi yang paling terang dalam hati seseorang", dada Krystal naik turun setelah mengucapkan ceramahnya pada Joice. Ia mengambil nafas dalam-dalam untuk mengisi rongga paru-parunya yang sedang kekurangan oksigen.
"Jadi, aku memberi saran kepadamu agar kau berhenti mengganggu saudaraku!", kecam Krystal sembari menyipitkan kedua matanya. Seolah-olah ia sedang memberi sebuah peringatan keras.
Louis yang belum juga hilang rasa terkejutnya dari ucapan Krystal yang sebelumnya. Ia merasa amat sangat senang Krystal mau mengakui perasaannya kepada orang lain. Tapi kini lagi-lagi wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu membuatnya tercengang, karena selama ia mengenal Krystal maupun Ana, baru kali ini juga Krystal menyebut Ana sebagai saudaranya. Ia mau mengakui Ana sebagai bagian dari keluarganya, hal itu sangatlah luar biasa terjadi.
__ADS_1
"Cukup Krystal, ayo pergi!", Louis merasa sudah cukup mereka berbicara dengan Joice. Apalagi saat ini mereka sedang berada di tempat umum, ia sungguh tak ingin menjadi pusat perhatian. Karena dengan status mereka yang merupakan seorang public figure pasti akan sangat repot melepaskan diri dari sebuah kerumunan dan gosip miring. Ia menarik Krystal untuk beranjak dari sana.
Sebelum mengikuti langkah Louis, Krystal menyambar paksa foto-foto yang berada di tangan Joice. Ia meraihnya dan membawanya pergi dari sana. Louis dan Krystal meninggalkan Joice sendiri yang masih terpaku pada posisinya.
Joice masih tercengang dan mencerna semua kata yang diucapkan Krystal kepadanya. Setelah kesadarannya pulih kembali, ia menggeram marah karena semua rencananya tidak berjalan sesuai rencana. Ia meremas pinggiran pakaiannya, melampiaskan emosi yang baru saja datang. Tapi kemudian senyumnya tersungging tiba-tiba.
"Kau belum mengetahui yang sebenarnya, Nona Krystal Winata!", Joice membuang pandangannya seraya melangkahkan kakinya dengan seringai licik di bibirnya.
"Tuan!", ucapnya setelah sambungan teleponnya terhubung.
"Ya tuan, aku Joice Alexander. Apakah tuan masih mengingatku? Saat ini aku membutuhkan bantuan anda tuan", ucap Joice lagi tak melepas seringai liciknya saat berbicara dengan orang yang ia telepon.
***
Sore telah menjelang, langit telah menyemburkan semburat oranye di atas sana. Di kamarnya, Ana tengah bersiap-siap dengan dandanan cupunya. Ia akan mengunjungi Dragon Night dan menemui manajer di sana. Ada beberapa hal yang ia perlu bahas karena Ana akan menyerahkan sebagian besar tanggung jawab kepada Manajer Toni sesuai mandat dari ayahnya. Karena Ana merasa belum sepenuhnya yakin bisa memegang kendali salah satu bisnis ayahnya itu. Ana masih harus banyak belajar pada Manajer Toni.
Tentu saja, ia sudah mendapat ijin dari Ken untuk datang ke club malam ayahnya. Tapi dengan syarat, ia harus tetap membawa bodyguard yang biasa menjaganya. Sebab percuma juga jika ia melarang Ana, karena wanitanya itu akan terus berusaha agar apa yang ia mau terlaksana. Maka dari itu sebelum pekerjaannya selesai, Ken memutuskan untuk menempatkan orang-orang yang bisa selalu menjaga Ana dengan sangat baik.
Saat ini Ana menggunakan kaos putih dengan celana jeans dan juga ia memakai jaket jeans dengan warna senada. Kali ini ia memilih tampilan casualnya untuk pergi ke sana. Rambutnya di sanggul acak dan menyisakan beberapa helai di samping telinganya.
Dengan cerianya ia berjalan keluar rumah untuk masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan. Beberapa pelayan terlihat menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Ana yang melewati mereka dengan senyum sumringah.
"Benarkah?! Apa terlalu kelihatan?!", jawab Ana riang.
"Aku hanya senang, Bi. Karena sudah lama tidak memakai dandanan seperti ini. Aku jadi tidak sabar untuk berangkat sekarang! Aku pergi dulu ya, Bi!", lanjut Ana seraya berpamitan dengan Bi Rani.
"Hati-hati, Non!", ucap Bi Rani seraya menutup pintu mobil. Ia selalu mengantar Ana sampai di depan mobil setiap kali Ana akan pergi. Karena baginya Ana sudah seperti putrinya sendiri.
Ana membuka jendela mobil, ia melambaikan tangannya seraya tersenyum riang. Bersamaan itu pula mobil mulai keluar dari halaman rumahnya. Bi Rani menatap kepergian mobil itu dengan senyum haru.
"Waktu berjalan terlalu cepat. Sekarang Nona sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah. Aku pasti akan sangat rindu pada Nona nanti", batin Bi Rani.
Setelah mobil meninggalkan rumah, Ana segera menghubungi Sarah. Ia memerintahkan Sarah untuk segera berangkat bekerja saat ini juga. Tentu saja hal itu mendapat protes keras dari Sarah, karena Ana memutuskan seenak hatinya. Tapi apalah daya seorang karyawan memang harus menurut pada atasannya. Akhirnya Sarah hanya bisa mengikuti perintah Ana dan bergegas untuk berangkat ke sana.
***
Dragon Night
Ana sudah memulai kegiatannya di tempat biasa ia dan Sarah melakukan tugasnya, yaitu bagian cuci piring dan Ana yang akan memoles alias mengelap peralatan yang sudah dikeringkan. Di tengah-tengah kegiatan mereka yang diselingi obrolan juga canda tawa, Manajer Toni menghampiri mereka.
__ADS_1
"Non...", Manajer Toni nampak ragu untuk menyapa dengan panggilan yang biasa ia pakai untuk Ana lantaran ia sudah mengetahui identitas Ana yang sebenarnya. Tapi ia sudah terbiasa dengan penampilan Ana yang seperti ini. Lalu Manajer Toni melirik ke arah Sarah yang tak begitu peduli dengan kehadiran dirinya.
"Tidak apa-apa. Dia sudah tau", Ana menganggukkan kepalanya pelan. Ia mengisyaratkan bahwa Sarah tak akan menjadi masalah untuk mereka saat ini karena Sarah sudah mengetahui siapa dia sebenarnya.
"Baiklah, Nona! Bagaimana jika kita memulainya sekarang?", tanya Manajer Toni sopan.
"Oke! Tapi aku memerlukan seorang asisten untuk membantuku", ucap Ana tenang.
"Tentu saja, Nona! Apapun sesuai keinginan anda", ucap Manajer Toni sopan untuk.
"Kau tidak perlu sesungkan itu, Pa", ucap Ana tersenyum.
"Aku membutuhkan dia sebagai asisten ku", tambah Ana seraya mendorong tubuh Sarah ke hadapannya.
Sarah tersenyum canggung. Ia merasa bukan apa-apa dibandingkan karyawan lain yang lebih mumpuni kemampuannya. Saat ini ia merasa rendah, merasa tak pantas dengan jabatan baru yang akan Ana berikan kepadanya.
"Tapi Ana, emmh maaf Nona! Aku tidak pantas mendapatkan posisi itu. Masih ada yang lebih mempunyai kemampuan dibandingkan diriku", ucapnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Terima atau ku pecat kau!", ancam Ana sambil berkacak pinggang.
"Kau memang pandai sekali mengancamku, Nona!", ucap Sarah dengan penekanan seraya tersenyum.
Ia menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Ana yang selalu bisa mengancamnya. Tapi ia juga merasa tersanjung Ana mau mengangkat dirinya sebagai asistennya saat ini. Namun hal itu juga merupakan tanggung jawab besar untuknya, sekaligus medianya untuk belajar juga bersama Ana. Ia bingung harus bersikap bagaimana, hingga akhirnya hanya senyum kikuk yang keluar dari bibirnya.
Mereka pun memulai dengan berkeliling area club. Kemudian mereka beralih ke lantai atas dimana kantor-kantor yang mendukung kelancaran operasional club itu. Ana diberikan beberapa berkas yang berhubungan dengan perkembangan club malam itu. Ia bersama Sarah mempelajarinya dengan seksama. Mereka memutuskan untuk mempelajari berkas-berkas itu di ruangan Manajer Toni agar lebih nyaman.
"tok! tok! tok!", suara ketukan keras terdengar dari arah pintu.
"Masuk!", jawab Manajer Toni dengan sesekali melirik ke arah Ana dan Sarah yang masih asik membaca berkas-berkas.
"Jangan sampai ada masalah saat Nona sedang berada di sini!", batin Manajer Toni tak enak hati.
Seorang pelayan memasuki ruangan dengan nafas yang tersengal. Dadanya naik turun seakan ia berusaha secepat mungkin untuk sampai di ruangan ini.
"Tuan! Ada tamu penting akan datang. Asistennya melakukan reservasi untuk keseluruhan club ini", ucap pelayan itu masih dengan nafas yang tersengal.
Ana yang mendengarnya pun langsung menoleh sambil mengernyitkan alisnya diikuti.
"ta,,mu,,pen,,ting?!", tanya Ana penuh penekanan.
__ADS_1