
Sarah terus menarik tangan Krystal sampai di depan kamar sahabatnya itu. Begitu sampai di depan daun pintu yang lumayan lebar itu, ia langsung melepaskan tangan sahabatnya itu dan langsung membuka pintu kamar itu sudah seperti membuka pintu kamarnya sendiri.
"Ya ampun, Krystal! Ini sebenarnya kamar perempuan atau lelaki, sih?!", seru Sarah begitu kencang sambil menyingkirkan beberapa bungkus makanan ringan yang sudah kosong dari atas tempat tidur milik sahabatnya itu.
"Sudah galak, berisik lagi!", Krystal mengacuhkan wanita itu. Ia meringis sambil mengorek telinganya dengan jari kelingkingnya. Indera pendengarannya terasa terganggu oleh suara Sarah yang keras itu.
"Ini apa-apaan, Krystal? Ada apa denganmu sebenarnya?", sekarang Sarah sedang menyingkirkan sebuah dress yang ia rasa sudah dipakai oleh Krystal. Lalu ia mendudukkan dirinya di tempat tidur dengan kesal, sehingga timbul guncangan di atas ranjang itu dan terasa juga oleh si empunya kamar.
Sarah memandangi sahabatnya itu dengan tatapan menyelidik. Matanya menyipit dengan tangan yang ia lipat di depan dadanya.
"Katakan padaku! Sebenarnya apa yang terjadi?", tanyanya kemudian tak mengubah ekspresi di wajahnya.
Krystal yang ia kenal adalah seorang aktris yang sangat mencintai kebersihan dan juga keindahan. Wanita itu bahkan selalu tampil rapih dan cantik saat berada di rumah. Bahkan ia tak pernah membiarkan kamarnya berantakan sedikit pun. Mulutnya pasti akan langsung berteriak memanggil salah satu asisten rumah tangganya untuk membereskan sesuatu yang ia rasa tidak sesuai dengan standar keindahan dan kerapihan di matanya.
Dan yang sekarang ia lihat adalah kamar yang sangat amat berantakan. Bekas bungkus makanan ringan yang sudah habis atau hampir habis bertebaran dimana-mana. Ada juga pakaian bekas pakainya masih tersampir di beberapa tempat. Tempat tidurnya berantakan sekali. Selimut menggulung tidak jelas, bantal dan guling juga tidak tertata dengan rapih. Bahkan ada juga bantal yang tergeletak di lantai begitu saja. Ini lebih seperti pemandangan kamar seorang lelaki. Padahal kamar adiknya sendiri saja tidak seperti ini berantakannya. Pertama kali yang ia lakukan ketika masuk kamar itu adalah mendengus seraya menggelengkan kepalanya.
Krystal merasa akan segera diinterogasi setelah ini. Tapi hatinya belum siap untuk mengatakan semuanya, jadi ia memilih untuk membereskan kamarnya lebih dulu sambil mengulur waktu. Karena menghindar pun tidak ada gunanya, karena wanita yang masih memperhatikannya itu tidak akan melepaskannya begitu saja apapun yang terjadi. Walau ia berpura-pura pingsan atau sakit pun, Sarah akan tetap menanyainya. Dan hal itu akan membuat kepalanya sakit.
"Jangan coba-coba untuk menghindar dariku! Atau aku akan memanggil Ana untuk datang ke sini juga!", ancam Sarah dari atas tempat tidurnya. Wanita itu makin menyipitkan matanya ke arah Krystal.
Benarkan apa yang ia pikirkan?! Sahabatnya itu tidak akan melepaskannya dengan mudah. Bahkan sekarang dia malahan berani mengancamnya.
"Wah! Ancamanmu itu benar-benar membuatku takut!", Krystal membuat ekspresi luar biasa di wajahnya. Ia sudah selesai memunguti sampah-sampah yang berserakan tadi. Sekarang tangannya mulai memunguti pakaian kotor yang sama berserakannya dimana-mana.
Tapi memang benar saja! Jika sampai sepupunya yang sedang hamil itu datang dan ikut menginterogasai dirinya. Mungkin suasana kamarnya tidak akan menjadi lebih damai. Sepupunya itu semenjak hamil menjadi semakin jahil dan menyebalkan. Jadi jangan sampai Ana datang ke rumahnya sore ini. Lebih baik ia berbicara dengan Sarah saja. Meskipun sahabatnya yang satu ini cukup galak. Hehe,,
"Sebenarnya kapan terakhir kamarmu ini dibersihkan?!", Sarah menggerutu seraya melemparkan sebuah dress yang ada di ujung ranjang ke arah Krsytal.
"Mungkin dua hari yang lalu! Aku tidak mengizinkan siapa pun masuk ke kamarku!", jawab Krystal acuh. Setelah menangkap dress dari Sarah, ia pun memasukkan semua pakaian kotornya ke dalam keranjang.
Sarah menepuk dahinya keras-keras seraya meniupkan nafas tak berdayanya. Ia semakin bertanya-tanya ada apa dengan sahabatnya itu. Benar-benar kacau tidak seperti biasanya. Karena saat Sarah mengalami traumanya kembali dan tinggal satu atap dengannya, ia jadi semakin mengenal semua kebiasaan sahabatnya itu.
"Minggir!", perintah Krystal ketus sambil menarik selimut yang sedang diduduki oleh Sarah.
"Kau ini ingin membuatku terjungkal, ya!", sempat goyah dan hampir terjatuh, Sarah berhasil berdiri tegak sambil mengomel.
__ADS_1
"Bagus malah jika kau sampai terjungkal!", sambil membereskan bantal dan guling di tempat tidurnya, Krystal tersenyum senang karena ia tahu, sangat mudah untuk membuat sahabatnya itu kesal.
"Kau ini benar-benar, ya!", wajah Sarah sudah siap menyerang dengan kedua tangan yang terkepal di sampingnya.
"Kena kau!", ia langsung mendorong Krystal hingga keduanya terjatuh di atas tempat tidur itu. Tak menunggu lama, ia juga langsung menyerang sahabatnya itu dengan menggelitiki pinggangnya.
"Ampun! Ampun! Tolong lepaskan aku! Lepaskan aku, Sarah!", sambil meronta, Krystal memohon agar sahabatnya itu berhenti membuatnya kegelian. Air matanya saja sudah keluar-keluar saking ia tidak tahannya dengan rasa geli yang terus bergelanyar di pinggangnya.
"Kau sedang memohon kepadaku?", Sarah bangkit, setengah duduk sambil bertolak pinggang berbicara seperti sang penguasa.
"Iya, aku sedang memohon kepadamu!", di tengah nafasnya yang terengah-engah ia berusaha untuk duduk juga.
Saat Sarah lengah, Krystal menarik tangan wanita itu hingga ia terjatuh di sebelahnya. Dan Krystal tidak mau menunggu lama lagi. Ia segera membalas Sarah. Ia menggelitiki pinggang wanita itu sampai terdengar teriakan minta ampun seperti dirinya tadi.
"Sudah! Sudah! Ku mohon hentikan!", ucap Sarah sambil tergelak karena rasa geli di pinggangnya.
"Krystal, hentikan! Sudah! Sudah!", setengah tertawa, setengah memohon, separuh lagi ia berucap dengan tubuh lemasnya. Menahan geli itu sungguh melelahkan.
Akhirnya Krystal menjatuhkan dirinya di samping Sarah. Mereka tertawa bersama dengan nafas terengah-engah. Baik yang menggelitiki maupun yang digelitiki sama-sama kelelahan.
"Pembicaraan kita, ya!", Krystal ikut mengubah posisinya sama seperti Sarah. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan dengan pemikiran mereka masing-masing.
Sarah dikelilingi rasa penasarannya. Tapi ia berusaha menunggu sahabatnya itu bicara dengan sabar. Sedangkan Krystal, ia sebenarnya bingung harus mulai bicara dari mana.
"Ada apa?", tanya Sarah lembut ketika Krystal tak juga membuka suara. Ia melihat wajah wanita itu dipenuhi rasa bimbang.
"Ini tentang Louis!", Krystal sempat menghela nafasnya sebelum akhirnya ia berbalik lagi dan menatap langit-langit kamarnya.
Ya! Sarah yakin juga begitu. Pasti sikap aneh sahabatnya itu berhubungan dengan kekasihnya yang sesama artis itu. Tapi ia enggan bertanya lebih lanjut. Biar Krystal saja yang menjelaskannya secara perlahan. Sesuai dengan bagaimana nyaman hatinya dalam berbicara.
"Sejujurnya, aku iri pada kalian berdua!", ucap Krystal lagi sambil melipat tangannya di atas perut. Pandangannya masih lurus ke depan ke arah langit-langit. Terlalu dalam pandangan matanya hingga Sarah merasa Krystal bahkan sedang menatap langit sore menembus atap rumahnya.
"Aku juga ingin menikah, sama seperti kalian!", tambahnya lagi, masih tanpa memandang orang di sebelahnya.
"Tapi pekerjaan kami tidak bisa mengizinkan kami untuk segera memiliki pernikahan sesuai kemauan kami sendiri! Setelah menyesuaikan jadwal dengannya, kami pikir awal tahun depan kami bisa melangsungkan pernikahan untuk menyusul kalian. Tapi kenyataannya seperti ada saja masalah yang datang untuk menghadang rencana yang sudah kami bicarakan", setelah itu terdengar Krystal mengembuskan nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
Dan Sarah pun merubah posisinya, berbalik dan sama-sama memandangi langit-langit kamar itu. Seperti sedang membayangkan apa saja yang sedang sahabatnya itu ceritakan kepadanya. Dengan sabar ia terus menanti Krystal untuk meneruskan ceritanya.
Tapi kemudian wanita itu malahan berhenti bicara. Sarah pikir Krystal hanya membutuhkan waktu saja untuk melanjutkannya. Jadi ia hanya diam dand terus menanti. Tapi lalu ia melirik ke samping dan mendapati bahwa sahabatnya itu tengah menutupi wajahnya dengan lengan. Melihat tubuhnya yang berguncang-guncang, Sarah yakin jika saat ini Krystal sedang meneteskan banyak air mata.
"Hey, sebenarnya apa yang terjadi?", lantas ia mendudukkan diri lalu menyingkirkan lengan yang menutupi wajah sahabatnya itu dengan begitu penasaran.
"Sarah!", segera tubuhnya diraih dan dipeluk dengan sangat erat oleh Krystal. Tangisan wanita itu semakin menjadi di dalam pelukan itu.
"Sudah-sudah! Berhenti menangis, lalu tenangkan dirimu dulu!", dengan sabar Sarah terus megusap punggung Krystal hingga tangisannya mereda.
"Louis,, Louis, Sarah!", Krystal kembali menitihkan air matanya lagi, lalu ia menundukkan kepalanyaa. Ada rasa sakit dan kebimbangan yang menjadi batu besar di dalam hatinya saat ini.
"Ada apa dengan Louis?", Sarah terus mengusapi punggungnya dengan sabar.
"Rencana pernikahan kami terancam batal!", dan seketika Krystal langsung menangis histeris sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
Meskipun geram mendengar berita buruk itu. Tapi saat ini ia tetap harus tenang supaya ia juga dapat menenangkan tangis Krystal yang semakin keras itu. Dipeluknya lagi wanita itu, tapi ada kilatan amarah di mata Sarah. Sebenarnya apa yang terjadi?! Apa yang pria itu lakukan sampai terdengar berita buruk yang membuat sahabatnya bersedih seperti ini?!
Awas saja jika sampai Sarah tahu jika Louis macam-macam di belakang Krystal! Meskipun ia adalah salah satu fans beratnya, tapi jika Louis melakukan kesalahan, dan terlebih lagi ini kepada sahabatnya sendiri, maka ia tidak akan tinggal diam. Ia akan membuat perhitungan. Lagipula ia memiliki suami yang berkuasa di dunia hiburan! Sudah begini, barulah ia merasa bisa menyombongkan diri karena telah memiliki Sam sebagai suaminya.
"Ada apa?", dua pria datang dari arah pintu dan berbisik pelan pada Sarah.
"Tidak apa-apa! Aku akan memberitahu kalian nanti! Pergi sana! Pergi!", Sarah berbicara tanpa bersuara kepada Sam dan Adam yang berdiri tak jauh dari pintu. Ia mengibaskan tangannya, benar-benar mengusir mereka.
Kedua pria itu pun memutar tubuhnya dan beranjak keluar kamar, lalu mereka menutup pintu kamar itu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
"Sepertinya kau terbiasa diusir olehnya!", celetuk Adam sambil berjalan bersama.
Melihat wajah acuh Sarah, ia menilai jika Sarah cukup kejam terhadap suaminya itu. Menyadari hal itu membuat Adam terkekeh sendiri. Beruntung ia tidak menikah dengan waniita itu. Karena jika iya, setiap hari pasti ia akan ditindas olehnya. Tapi, jangan sampai saja Sam mengetahui isi pikirannya saat ini! Bisa kena bogem mentah wajahnya jika Sam tahu ia sempat membayangkan istrinya orang itu menjadi miliknya.
"Hanya perlu menjadi tidak tahu malu untuk menghadapinya!", ucap Sam begitu percaya diri seraya mempercepat langkahnya. Sehingga kini ia berada dua langkah di depan Adam.
Pantas saja jika orang itu sering kali bertindak konyol di hadapan istrinya. Ternyata sikap tidak tahu malunya itu yang ia gunakan untuk menaklukan Sarah. Tapi jika itu dirinya, Adam tidak akan memilih untuk menjadi konyol sepanjang waktu seperti apa yang Sam biasa lakukan. Ia menghirup udara begitu banyak, lalu ia hembuskan perlahan seraya menggelengkan kepalanya.
"Tapi ada apa sebenarnya dengan Krystal?", gumamnya pelan seraya berpikir. Sebagai kakak, tentu saja ia mengkhawatirkan kondisi adiknya yang seperti itu. Karena tidak ada ayah mereka, jadi Adam memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi adik perempuannya itu. Ia menggosok dagunya berulang kali sambil berpikir keras.
__ADS_1