
Butik Aslan, butik mewah di tengah kota dimana beberapa waktu yang lalu Nyonya Rima dan Joice memesankan jas untuk Ken walau Ken tak jadi memakainya, terlihat seorang wanita cantik sedang memilih-milih beberapa gaun indah nan elegan. Dua orang pegawai di sana terlihat mengikuti dan melayaninya dengan ramah. Wanita itu adalah Krystal Winata, seorang aktris nomor satu di negara ini. Jadi tentu saja pegawai itu dengan senang hati melayaninya, meskipun kadang Krystal sedikit rewel dengan pilihannya.
Matanya bersinar saat ia melihat sebuah gaun hitam panjang tanpa lengan dengan kain transparan pada bahunya dihiasi brodiran bunga besar yang indah. Gaun itu sangat cantik dan lembut, saat dipakai gaun itu akan memperlihatkan lekuk tubuh si pemakai dengan indahnya.
Satu tangannya mencoba meraih gaun itu, bertepatan dengan satu tangan orang lain yang mencoba mengambilnya. Orang itu adalah Joice. Kedua wanita itu saling memandang dengan tatapan menyelidik dan gaun itu pun membuang terangkat ke udara oleh tangan mereka.
"Kau...", kedua wanita itu merapalkan kata yang sama dalam waktu yang bersamaan.
"Kau duluan!", perintah Krystal tegas.
"Kau Krystal Winata?", tanya Joice hati-hati.
"Kau Joice Alexander, kan?", bukannya menjawab Krystal malah balik bertanya.
"Ya benar, itu aku! Bagaimana kau mengenalku?", tanya Joice balik.
"Dan kau,, bagaimana kau mengenalku?", Krystal juga menyerangnya dengan pertanyaan yang sama.
"Kau adalah seorang aktris, tentu saja aku tau siapa dirimu. Tapi bagaimana denganmu, siapa kau hingga mengenalku?", ucap Joice dengan angkuhnya.
"Aku pernah melihat profilmu di sebuah majalah, seorang pebisnis wanita yang cukup handal dan memiliki paras cantik. Setelah bertemu langsung, harus aku akui bahwa kau memang cantik. Mengapa repot-repot menjadi pengusaha, bagaimana jika kau masuk ke dalam agency ku. Aku dapat merekomendasikan dirimu agar cepat debut dan menjadi terkenal. Aku akan mempromosikan dirimu pada bos di agency ku. Bagaimana tawaranku?", tutur Krystal dengan sombongnya menyatakan dirinya memiliki peran penting dalam perusahaan.
Joice menatap Krystal dengan tatapan penuh selidik. Wajahnya tak tersenyum tapi juga tidak ramah.
"Bukankah dia berasal dari Glory Entertainment? Dan itu merupakan salah satu perusahaan milik Ken. Merekomendasikan? Mempromosikan? Memangnya dia pikir dia siapa? Apakah mereka saling mengenal? Kurasa tidak! Ken tak pernah berteman dengan wanita selain diriku", gumam Joice dalam hati.
"Memangnya kau memiliki hubungan apa dengan pemilik agency mu sehingga bisa dengan mudah mempromosikan diriku?", tanya Joice memancing Krystal.
"Yaaa,, kami cukup dekat! Jadi tidak perlu khawatir! Serahkan saja semua padaku", ucap Krystal dengan sombongnya namun dalam nadanya terdapat kehati-hatian dalam berucap.
"Oh ya, benarkah?! Aku bahkan tidak mengetahuinya! Dia tidak pernah mengatakan padaku bahwa dia mengenal dirimu", Joice tersenyum remeh.
"Dia? Memangnya siapa dirimu berani-beraninya menyebut Presdir Ken dengan panggilan seperti itu?", tegur Krystal pada Joice yang masih memandangnya dengan tatapan remeh.
"Aku?", ucap Joice sambil menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya.
" Ya dirimu, memangnya siapa lagi!", ucap Krystal yang mulai tak sabar.
__ADS_1
"Aku adalah satu-satunya teman wanita Presdir Ken yang terhormat. Dan kami sudah saling mengenal sejak sekolah. Kami cukup dekat hingga bahkan ibunya sudah merestuiku menjadi calon istrinya!", ungkap Joice penuh percaya diri. Ia yakin kali ini sudah menyerang lawannya dengan jurus yang paling ampuh untuk membuatnya jatuh.
"Ha, ha, ha, ha, ha", Krystal terbahak mendengar penuturan Joice. Ia tertawa sampai cairan bening menggenang di pelupuk matanya.
"Kau pikir aku percaya?", ucap Krystal kemudian dengan wajah serius.
"Aku sudah pernah menemui banyak wanita yang mengatakan hal-hal aneh seperti itu mengenai dia-mu itu. Baiklah, tenang saja aku akan menganggap kau tak pernah mengatakan apa pun. Karena Presdir Ken yang terhormat itu adalah masa depanku", kali ini Krystal yang mengucapkan kalimatnya dengan percaya diri.
"Ha, ha, ha, ha, ha", sekarang Joice yang tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau tertawakan, hah!", Krystal mulai tersulut emosinya.
"Seharusnya itu adalah naskah yang harus aku ucapkan padamu, wanita tidak tau diri!", ucapnya dengan lambat dan penuh penekanan.
"Hey, jaga ucapanmu!", Krystal setengah berteriak.
"Baiklah aku pergi! Karena kau duluan yang menginginkan gaun ini, maka ambillah! Anggap saja selera kita sama. Tapi aku tak akan sudi memiliki selera yang sama untuk masalah lelaki!", Joice mendorong gaun itu ke tubuh Krystal secara paksa dan langsung meninggalkannya begitu saja.
Krystal menghentakkan kakinya bersamaan dengan Joice yang pergi menjauh.
"Menjengkelkan! Baru saja aku akan memujinya karena dia begitu cantik dan cerdas. Tapi sekarang dia benar-benar membuatku kesal. Presdir Ken hanya boleh menjadi milikku seorang!", Krystal menyipitkan kedua matanya menatap tajam ke arah Joice pergi.
"Winata? Dimana aku pernah mendengar nama itu sebelumnya?!", Joice memiringkan kepalanya dengan wajah seram kemudian menyeringai.
"Ahhh! Keana Winata, Danu Winata! Apakah kalian keluarga?", Joice menyeringai licik.
"Tenang saja, aku akan membuat kalian menjadi begitu rukun,,,,keluarga!", ucapnya penuh penekanan pada akhir kalimatnya.
"Karena pada akhirnya Ken hanyalah milikku seorang, Joice Alexander. Hanya aku yang pantas mendampinginya menjadi Nyonya muda Wiratmadja", ucapnya penuh percaya diri disusupi seringai yang begitu lebar.
Sampai saat ini, Joice merasa hanya dia yang pantas berada di samping Ken. Karena dia merasa paling tau bagaimana Ken yang begitu disegani dengan kharisma dan kecerdasannya. Dan ia sudah berusaha keras menyiksa masa mudanya untuk mengejar Ken, mensejajarkan dirinya agar selalu berada di samping Ken. Baginya tak ada lagi wanita yang pantas selain dirinya. Termasuk Ana yang ia sudah lihat sendiri bagaimana Ken memperlakukannya. Jadi Joice pasti mempunyai seribu akal untuk rencana memisahkan mereka berdua.
***
Ana sedang sibuk mengelap tangan ayahnya dengan handuk kecil. Ia dengan telaten mengurus ayahnya yang masih terbaring dengan beberapa alat medis yang tersambung ke tubuhnya. Seseorang mengetuk pintu ruangan kamar ayahnya itu. Ana pun menghentikan kegiatannya dan mendekat ke arah pintu. Ia mendapati seorang paruh baya berdiri tegap dengan setelan rapi dan beberapa berkas di tangannya.
"Maaf mengganggu, Nona! Perkenalkan Nona Ana, saya Reymond pengacara pribadi Tuan Danu", orang tersebut mengulurkan tangannya pada Ana untuk berjabat tangan. Dan dengan ragu Ana menyambut tangan lawan bicaranya, kemudian menariknya cepat. Ia masih menatap orang itu dengan tatapan waspada, karena ia belum pernah melihat orang itu di kantor ayahnya.
__ADS_1
"Maaf karena saya baru bisa menjenguk Tuan hari ini. Bisakah kita bicara sebentar, Nona?", ucapnya sopan pada Ana.
"Ba,,baiklah! Silahkan masuk!", Ana memundurkan langkahnya untuk memberi jalan pada orang itu. Ia masih menatapnya dengan awas.
"Terima ka...", belum sempat Tuan Reymond berucap seseorang datang menghampiri mereka.
"ppukk", satu tepukan mendarat di bahu Tuan Reymond. Tuan Reymond menoleh ke arah orang yang menepuknya.
"Sudah lama tidak bertemu, Tuan Reymond!", sapa Ken dengan ramah.
"Hoo, putraku ada di sini rupanya! Kemarilah, nak!", Tuan Reymond merentangkan tangannya. Ken mendekat ke arahnya dan mereka saling berpelukan layaknya teman yang sudah tak bertemu lama.
"Apa kabar, paman?", ucap Ken setelah melepas pelukannya.
"Baik, nak! Tapi tunggu dulu, apa yang membuatmu datang kemari?", Tuan Reymond melihat Ken dari atas sampai bawah begitu juga dengan tangannya yang membawa beberapa kantung makanan.
"Tentu saja menjenguk calon mertuaku!", Ken menarik Ana dan merangkul bahunya sambil tersenyum.
"Jadi kalian sudah saling mengenal?",Tuan Reymond dan Ana berucap secara bersamaan.
Hal itu membuat ketiga orang itu tergelak bersama.
"Bagaimana jika kita masuk dulu?! Kita bisa meneruskan obrolan kita di dalam bukan?!", ucap Tuan Reymond dengan mata melirik ke arah dalam ruangan.
"Oh ya, silahkan masuk Tuan!", ucap Ana kikuk.
"Panggil saja, paman! Kita ini keluarga Ana", Tuan Reymond melangkah lebih dulu seraya mengusap pucuk kepala Ana sambil lalu.
"Siapa dia, Ken?", bisik Ana sambil berjinjit mengarahkan mulutnya ke arah telinga Ken.
"Apa?", Ken pun berbisik dan menahan seringainya. Ia berpura-pura tidak dengar.
"Siapa di....", Ken sengaja menoleh hingga bibir mereka pun saling bersentuhan.
Setelah hubungannya dengan Ken yang sudah seperti ini, Ana masih saja berdebar setiap kali berdekatan dengannya. Ia mematung wajahnya dengan pipi yang sudah memerah. Ken sedikit menekan bibirnya untuk memberi kecupan singkat di bibir Ana. Kemudian ia mengalihkan wajahnya ke telinga Ana dan berbisik di sana.
"Terima kasih!", bisik Ken lembut juga mengecup telinganya lalu melangkah masuk ke dalam menyusul Tuan Reymond.
__ADS_1
"Ana!", panggil Ken dari arah dalam ruangan. Panggilan itu mengembalikan kesadaran Ana. Ia terkesiap setelahnya. Ana menangkup kedua pipinya sambil menggeleng pelan.
"Astaga! Betapa memalukannya, masih saja aku dikerjai seperti ini!",ucap Ana mengumbar senyumnya dan berjalan masuk ke dalam.