
"Ini bekas bibir Sarah!", teriak Sam yang sudah tidak tahan dengan amukan kedua wanita itu.
"Sarah?", kedua wanita itu berseru kencang seraya melemparkan tatapan tanda tanya baik kepada Sam maupun kepada Sarah.
Sedangkan wanita yang disebutkan namanya itu segera melonjak kaget sampai-sampai majalah yang dipegangnya terbang ke udara. Dengan gugup ia menangkap majalah itu. Ia masih memerlukan benda itu untuk membuat tameng bagi dirinya. Sarah kembali menutupi wajahnya, tapi kini ia memperlihatkan sepasang matanya untuknya mengawasi ekspresi wajah dari orang-orang di sekitarnya. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri menyapu pandangan semua orang yang memiliki tanda tanya besar pada wajah mereka masing-masing. Tapi pria di sampingnya kini sedang terkekeh pelan sambil menahan sakit di punggungnya.
"Bisa kau jelaskan hal ini kepada kami Nona Sarah?!", bahkan Tuan Dion yang angkat bicara untuk bertanya pertama kali kepadanya.
Tidak, tidak bisa. Sarah tidak mau disalahkan. Dalam hal ini bukan dirinya yang bersalah, Sam lah yang telah meminta hal konyol seperti itu pada kemejanya. Dan karena kesal maka Sarah hanya membiarkan pria itu menerima hukumannya sendiri dari orang lain. Haha,,
"Bi,, bisa Ayah!", jawabnya sambil menurunkan majalah yang menutupi wajahnya.
"Baik! Kami menunggu!", suara Tuan Dion terdengar lembut dan tegas.
"Be,, begini!", Sarah menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan duduk permasalahannya.
"Itu bukan keinginanku sendiri! Tadi Sam sendiri yang menyuruh aku untuk memberikan tanda di bajunya. Sam yang memintaku untuk melakukan hal itu. Padahal aku sudah bersikeras menolaknya, tapi orang ini tetap keras kepala dengan keinginannya", semangatnya sudah kembali saat Sarah menjelaskan semuanya. Bahkan ia sampai mendorong lengan Sam dengan satu jarinya.
"Karena aku masih kesal dengan ide konyolnya itu, makanya aku biarkan saja dia saat Bunda dan Ana memukulinya. Hehe", Sarah mengakui maksudnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Saaammm!", semuanya berseru lagi memanggil nama pria itu dengan serempak.
"Tenang dulu! Aku bisa jelaskan! Tapi jangan pukuli aku lagi!", tangan pria itu menahan udara di depannya mencegah kedua wanita tadi menyerangnya lagi. Lagipula kali ini ia cukup percaya diri karena memiliki alasan yang kuat.
"Katakan, cepat!", seru Ana tidak sabar.
"Sabar kakak iparku, sayang! Ibu hamil tidak baik marah-marah terus!", Sam mengulas senyum termanisnya sambil menolehkan kepalanya ke arah Ana.
__ADS_1
pletak
"Kau bilang siapa yang sayang?!", gertak Ken dengan wajah tak sabar setelah memukul kepala adikn ya oya itu.
"Haishh! Kau masih posesif saja kakak! Aku tak akan mengambil kakak ipar darimu. Tenang saja, aku kan sudah memiliki calon istri untukku! Iya kan, sayang?!", Sam mengelus-elus kepalanya yang terkena pukulan kakaknya seraya menggerutu. Lalu pegang jemari Sarah dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Diam!", Sarah kesal dan menarik tangannya paksa.
"Lihat itu mereka sudah menunggumu berbicara!", masih dengan suasana kesal wanita itu memperingati Sam dengan setengah berbisik. Pasalnya semua pasang mata yang ada di sana masih memandang mereka dengan tatapan menanti dengan tidak sabar.
"Eherm,,, ehermm!", Sam berdehem sambil membenarkan posisi kerah kemejanya. Kemudian ia memasang wajah serius untuk menjelaskan maksud dan tujuannya tentang cetakan bibir ini.
"Jadi begini! Sebenarnya ide yang ku miliki cukup brilian menurutku. Karena dengan begini semua wanita yang berusaha menggodaku atau bahkan seluruh wanita di dunia akan tau bahwa aku sudah memiliki pasangan. Dan bahkan wanita yang menjadi pasanganku seakan memiliki otoritas yang tinggi terhadap diriku karena membiarkan aku pergi keluar dengan cetak bibirnya pada kemejaku. Jadi dengan begini mereka semua akan berpikir dua kali sebelum mendekatiku lagi", Sam mengembuskan nafasnya setelah berucap tanpa jeda.
"Bagaimana, bagus bukan ideku ini?!", ia merentangkan tangannya dengan bangga.
Sejenak hening di sekeliling mereka. Semua orang tak bergeming dan hanya menampakkan ekspresi mematung mereka di tempat. Sepertinya mereka syok dengan ide konyol yang Sam berikan. Atau sebenarnya mereka merasa benar dengan ide yang Sam sampaikan?! Hah, masa bodoh lah. Toh pria itu pun saat ini masih bisa tertawa. Memang ia rasa seharusnya dirinya tidak perlu mengambil pusing untuk menentukan kalimat pembuka yang cocok untuknya.
"Yah,,benar!", Tuan Dion menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap Sam dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Tapi kurasa itu keren!", tiba-tiba Ken berucap di belakang.
"Yah,, kau memang benar, Sam! Ini baru putra ayah! Hey brother, berarti kita sepaham!", Tuan Dion tersenyum puas ke arah Sam lalu ia juga mengulurkan tangannya untuk Ken sambut sebagai perayaan bahwa mereka berdua memiliki pemikiran yang sama.
"Tentu Ayah, kami kan anak Ayah! Jika aku memiliki situasi yang sama, mungkin aku akan melakukan apa yang Sam lakukan!", Ken menyambut tangan ayahnya seraya tersenyum manis ke arah istrinya.
Nyonya Rima dan juga Sarah menepuk jidatnya bersamaan. Bagaimana bisa ketiga lelaki Wiratmadja ini memiliki pemikiran konyol yang sama. Hah! Sarah sungguh frustasi pagi ini.
__ADS_1
Dan tiba-tiba Ana bangun dari duduknya. Ia menarik diri dari sana. Wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang dengan tatapan kosong lurus ke depan. Ken sempat khawatir dan akan menarik Ana ke dalam dekapannya. Tapi tanpa menatap ke arah suaminya, ia sudah mengangkat tangannya di udara agar suaminya itu tidak mendekat.
Mereka semua kebingungan, ada apa dengan Ana saat ini. Pasalnya ini terlalu tiba-tiba dengan perubahan ekspresi Ana yang aneh. Apalagi tatapan kosong itu dan juga masa kehamilan Ana yang masih sangat muda, membuat Nyonya Rima dan juga Sarah memiliki pemikiran horor di dalam benaknya. Mereka berdua saling menatap dengan wajah pias. Dan begitu Sam melihat ekspresi ibu dan juga wanitanya, Sam jadi memiliki ide untuk memanfaatkan situasi.
"Kakak ipar, jangan membuat kami takut!", kemudian pria itu segera memeluk Sarah dengan eratnya seraya memejamkan matanya supaya aktingnya lebih maksimal. Sesaat ia membuka satu matanya untuk melihat situasi. Dan ternyata aman, Sarah masih sibuk dengan pemikirannya sendiri sehingga tidak menyadari Sam yang sudah menempel pada lengannya seperti lem.
"Ken!", panggil Ana lirih sambil menatap lurus ke depan.
"Ada apa, sayang?", pria itu tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya sehingga ia segera menyerbu untuk merangkul istrinya itu.
"Bunda, sebenarnya apa yang terjadi pada Ana?", Tuan Dion juga tak dapat menyingkirkan rasa penasarannya. Ia akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada istrinya yang sedang sibuk menilai keadaan Ana. Meskipun ia akui jika saat ini ia juga didera sedikit ketakutan.
"Bunda juga tidak tau, Ayah! Mari kita lihat dulu apa yang akan terjadi selanjutnya. Barulah kita bisa tau tindakan apa yang harus kita ambil. Aku sangat mengkhawatirkan menantu dan calon cucuku", tutur wanita paruh baya itu dengan wajah serius.
"Ya benar! Aku juga mengkhawatirkan mereka", lirih Tuan Dion menjawab ucapan istrinya.
-
-
-
-
-
**ini dulu ya,, nanti sisanya menyusul malam nanti π
__ADS_1
penasaran kan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Ana?! Makanya ikutin terus ya πβΊοΈ
Like, vote sama komentarnya jangan lupa ya teman-teman,, terimakasih π**