Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 149


__ADS_3

"Sayang!", Ken telah menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Ia melepas sabuk pengamannya lalu menghadap ke arah Ana. Ia juga melepaskan sabuk pengaman milik Ana.


"Apa yang kau lakukan, Ken?!", seru Ana tak tahu menahu apa yang akan dilakukan suaminya itu.


"Jangan katakan apapun lagi, sayang! Bukankah sejak awal aku sudah menolak dengan keras perihal rencana kalian. Bagaimana mungkin aku rela membiarkan wanita licik itu menikah denganku, bahkan untuk berdekatan saja aku selalu membuat jarak dengannya. Aku pun tak akan rela tubuhku disentuh barang satu senti saja oleh wanita lain, sayang!", jelas Ken di dalam pelukannya. Tadi ia langsung menarik Ana ke dalam pelukannya untuk meredam emosi wanitanya itu seperti yang ia biasa lakukan sebelum-sebelumnya.


Ya, Ana selalu suka aroma maskulin dari tubuh prianya itu. Aroma yang menangkan hati dan jiwanya. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya itu hingga membuatnya tenang. Awalnya Ana berencana untuk mengerjai Ken saja dengan membawa nama Joice kepermukaan. Tapi setelah itu malahan Ana terbawa emosi sendiri karena menyebutkannya di antara perbincangan dirinya dan juga suaminya. Ana jadi kesal sendiri rupanya. Dan hal itu ia simpan sendiri dan tak akan ia beritahukan kepada Ken. Karena jika Ken sampai tau apa yang sebenarnya ia pikirkan, mungkin saja ia akan mendapatkan hukuman berat dari aksinya kali ini. Ana tersenyum di bahu suaminya, merasa lucu sendiri dengan apa yang ia lakukan barusan.


"Apa aku perlu membatalkan rencana kita yang terakhir ini? Kita sudah memegang semua bukti untuk menjebloskannya ke dalam penjara", ucap Ken berusaha melepaskan pelukannya.


"Jangan!", seru Ana sambil menahan agar mereka tetap berpelukan dan membuat Ken mengernyit heran. Tadi tiba-tiba saja Ana marah karena masalah pernikahan, lalu sekarang ia malahan melarang Ken untuk membatalkan rencana mereka yang terakhir ini untuk wanita itu. Memahami wanita benar-benar rumit daripada menyelesaikan masalah besar di perusahaan, pikir Ken.


"Maksudku kita sudah merencanakan semua ini dengan matang. Jadi jangan sampai semua yang telah kita jalankan berakhir sia-sia. Aku ingin ia membalas semuanya dengan hal yang harus ia ingat selama hidupnya", jelas Ana dengan semangat membara untuk melakukan aksi balas dendamnya.


"Jadi bisakah kau mempercayaiku saja?! Jangan cemburu lagi karena aku tak tahan dengan wajah menggemaskan milikku ini!", Ken melepaskan pelukannya untuk melihat wajah istrinya. Lalu dia mencubit gemas pipi putih Ana.


"Milikku?", tanya Ana heran.


"Ya, ini, ini, ini, ini, semuanya adalah milikku. Milikku seorang!", Ken mengabsen setiap detail wajah Ana dengan jemarinya. Pria itu menyentuhnya dengan begitu lembut hingga membuat Ana bergidik menahan senyar yang terus menjalar hingga ia memejamkan matanya. Kini, sentuhan pria yang sudah menjadi suaminya itu telah menjadi candu tersendiri bagi Ana. Hingga jari Ken mengusap lembut bibir manis miliknya. Ana menahan tangan itu di sana lalu mengecupnya dan melempar tatapan menggoda kepada suaminya.


"Ya ampun, sayang! Bisakah kau tidak menggodaku!", Ken memijit keningnya. Ia ingin menghindar tapi di dalam tubuhnya tak dapat menolaknya. Ana, sejak pertama bertemu dengannya Ken menjadi sangat tertarik untuk menyentuhnya. Hal yang tak pernah ia pikirkan sejak dulu kepada seorang wanita.


Ken berbalik lagi lalu menyambar bibir manis bak madu milik istrinya itu. Ia menciumnya, menyesapnya, bahkan menggigitnya. Ken sungguh tak tahan dengan godaan dari istrinya itu. Apalagi saat ini Ana malahan membalas ulahnya. Aksi mereka makin panas saat Ken mulai menjelajahi leher jenjang istrinya itu. Ia menciumi bagian itu dengan liarnya, hingga tanpa sadar ia mulai menjelajahi bagian dada istrinya. Dress yang Ana gunakan sudah melorot sebagian, Ken masih asik bermain di sana.


Si wanita, Ana tentu saja terbuai oleh permainan suaminya. Tapi saat matanya mengerjap, ia menyadari dimana tempat mereka berada saat ini. Ana mulai berusaha menghentikan kegiatan suaminya yang tengah asik dengan tubuh bagian atasnya itu.


"Ken, Ken!", seru Ana sedikit mendesah. Ia berjuang keras untuk tidak terbawa suasana panas ini lagi karena Ken masih bermain di sana.


"Sayang, kita masih di jalan raya! Bagaimana jika kita lanjutkan di rumah saja ya!", Ana berusaha mengangkat wajah Ken agar suaminya itu benar-benar mendengarkan ucapannya. Ken menoleh ke arah jalanan dengan mata berkabut akibat gairahnya yang masih membara.


"Baiklah, itu janjimu ya, sayang! Kita lanjutkan di rumah!", Ken mengecup bibir Ana singkat lalu membantu istrinya itu merapihkan pakaian yang sempat ia buat berantakan di bagian atasnya.


Mereka berdua sama-sama tersenyum. Mau bagaimana lagi, sekarang keduanya telah menjadi candu bagi satu sama lain. Maka dari itu, tak ada yang bisa menahan diri jika sudah ada yang memulainya. Mobil mereka pun melaju meninggalkan tempat itu. Bayangan adegan panas dengan istrinya, membuat Ken menjadi bersemangat untuk segera sampai di rumahnya. Ekspresi yang terlihat jelas itu membuat Ana menggelengkan kepala sambil mengulas senyumnya.


"Dasar!", gumam Ana dalam hati.


***


Petang telah menjelang, langit biru menjulang di langit kini telah berganti dengan semburat oranye di sana. Ana terlihat tengah merapihkan beberapa pakaian ke dalam koper, miliknya dan juga milik Ken, suaminya. Setelah ini mereka akan langsung berangkat ke villa tempat terakhir mereka melakukan resepsi pernikahan mereka. Karena acara akan berlangsung besok pagi jadi kedua keluarga, yaitu keluarga Ken maupun keluarga Joice sudah membuat janji untuk datang ke villa pada malam ini. Dan Keluarga Wiratmadja mempercepat keberangkatan mereka karena mereka akan membawa Ana ke sana.


Sejak pernikahannya dengan Ken, Ana memang baru hanya bertemu dengan Nyonya Rima, itupun dikarenakan rencana mereka yang sebelumnya melibatkan kedua belah pihak. Ana sempat gugup saat itu, tapi kini ia makin gugup lantaran harus bertemu dengan kedua orang tua Ken secara lengkap, baik itu Nyonya Rima maupun Tuan Dion. Ken akan memperkenalkan Ana sebagai istrinya, sebagai menantu keluarga Wiratmadja secara resmi kepada kedua orang tuanya.


Setelah keluar dari kamar mandi, Ken masih dengan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya dari pinggang sampai ke lutut bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memperhatikan istrinya itu yang tengah sibuk dengan kegiatannya, namun terlihat pula bahwa wanita itu sedang menahan gugupnya. Ken mengerti karena tadi Ana sempat menyampaikan kekhawatirannya itu saat di perjalanan menuju mansion miliknya. Ana sedang bergumam pelan menyampaikan keluhannya secara monolog. Ia berbicara sendiri, berkeluh kesah sendiri, seakan semua pakaian dan koper yang tengah ia pegang merupakan benda hidup yang dapat diajaknya berbicara.


"Sayang, apakah kau sudah minum obat?", tanya Ken dengan wajah seriusnya sambil berjalan mendekat.


"Aku sedang tidak merasa sakit, Ken!", seru Ana seraya mengecek suhu tubuhnya dengan menempelkan telapak tangan ke dahinya. Sambil mengernyitkan alisnya, Ana merasa tidak ada yang salah dengan dirinya. Dengan wajah polosnya itu, Ana memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menimbang-nimbang apakah terjadi sesuatu pada dirinya.


"Sini biar aku yang periksa!", Ken memegangi kedua tangan Ana lalu menempelkan keningnya ke kening Ana. Lalu secara spontan Ana mengecup bibir Ken singkat.


Ken menarik diri menjauh dari wajah Ana. Lalu ia benar-benar tersenyum sambil menatap lekat wanita itu. Wanita yang kini telah menjadi istri sahnya, baik secara hukum dan secara agama. Selalu saja pria itu mempunyai cara untuk memperlakukan istrinya itu dengan istimewa.


"Kau ini aneh sekali, Ken!", Ana mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Benarkah aku yang aneh?! Tapi tadi aku melihat istriku sedang berbicara dengan semua pakaian dan koper ini. Apakah aku atau istriku yang aneh?!", Ken mulai memakai pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Ana sebelumnya. Dengan santainya ia melepas handuk, benda satu-satunya yang saat ini tengah membalut tubuhnya.


"Aaaaaa,, Keeenn!", seru Ana sambil menutup matanya dengan semua jemarinya yang renggang. Salah satu celah tetap memberikan Ana kesempatan untuk melihat aksi tubuh kekar itu bergerak memakai pakaiannya dengan elegan.


"Lihat saja jika kau mau! Kenapa harus malu-malu begitu?! Kita sudah melihat semua yang kita miliki satu sama lain", Ken berjalan mendekat dengan kemeja yang belum terpasang kancingnya sehingga menampakan dada dan perut indah miliknya.


"Oh ayolah, sayang! Apakah kau sedang menggodaku, hemm?", Ana menurungkan tangannya lalu bergerak untuk memasangkan kancing kemejanya sehingga menutup sempurna.


"Jangan biarkan wanita lain melihat pemandangan indah ini, okeh!", perintah Ana seraya menyentuh perut Ken dari luar kemejanya.


"Hehe,, baiklah! Ternyata kau memang tidak sakit, sayang!", Ken menarik tangan Ana sehingga mereka berdiri dan saling berhadapan.


"Heh, apa maksudmu sayang?", Ana memukul pelan dada Ken.


"Tadi aku sedih melihatmu masih begitu khawatir dengan pertemuan kita dengan kedua orang tuaku. Lalu aku mencoba menghiburmu ya,,, dengan tubuhku ini. Aku tau istriku selalu suka dengan melihat tubuhku yang indah ini, kan?!", ucap Ken sambil berusaha melepas kancing kemeja bagian atasnya dengan ekspresi dan nada yang begitu menggoda.


"Astaga hentikan, sayang! Aku takut kita akan terlambat nanti!", Ana kembali memasangkan kancing kemeja itu hingga menutup sempurna. Jika Ken benar-benar memulainya, maka mereka akan telat sampai di villa nanti. Kegiatan mereka akan panjang dan lama jika sudah saling menginginkan satu sama lain. Ken terkekeh mendengar penuturan istrinya yang memang ada benarnya.


"Baiklah, kalau begitu aku percaya bahwa kau baik-baik saja!", ucap Ken yang sedang merapihkan rambutnya di depan cermin. Tak lupa ia tersenyum ke arah pantulan wajah istrinya. Ana mengerti, Ken pasti bermaksud untuk menghilangkan kekhawatiran yang melandanya sejak tadi. Memang wajar bagi Ana merasakan gugup seperti itu saat akan bertemu dengan orang yang begitu penting, yaitu kedua orang tua Ken.


"Ya ya, baiklah aku sudah baik-baik saja! Jadi bagaimana jika kita berangkat sekarang!", Ana membalas senyuman suaminya di pantulan cermin.


"Ayo!", Ken menggenggam tangan Ana dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk menarik koper yang akan mereka bawa. Sepasang pengantin baru itu akhirnya berangkat dengan senyum lebar di bibir mereka.


***


Watu sudah menunjukkan pukul 8 malam saat tiga mobil sampai di halaman villa. Ken mengatakan kepada kedua orangtuanya bahwa villa ini adalah milik temannya yang ia sewa. Ken tetap ingin menjaga privasinya, ia ingin mempunyai satu tempat dimana tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Wiratmadja.


Sam dan Sarah yang datang pertama. Mereka berdua sudah duduk di ruang tamu sambil menunggu yang lainnya. Sam sangat menikmati harinya saat ini, sejak tadi siang ia mulai menemui Sarah sebagai alibinya akan menjemputnya untuk datang ke villa malam ini. Dia sengaja menunggu Sarah selesai bekerja sambil terus menggoda wanita itu. Sebuah kenikmatan tersendiri baginya melihat wajah galak dan mendengar makian yang keluar dari mulut Sarag untuknya. Dan bukannya berhenti, Sam malah makin jadi menggoda wanita itu.


"Tenang saja sayang, aku akan sangat senang bisa mati di tanganmu!", seruan Sam malah makin memprovokasi kemarahan Sarah. Dan entah kenapa ia sangat suka melihat wajah wanita itu yang tengah marah dan memerah seperti tomat.


"Diam kau!", bentak Sarah dengan suara yang begitu keras. Lalu ia melempar sebuah bantal ke arah wajah Sam yang tengah berada di seberangnya.


happ


Sam berhasil menghindar dengan memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan. Tapi sayangnya seseorang berhasil menangkap bantal yang Sarah lempar. Dan dia adalah Tuan Dion Wiratmadja, ayah dari Samuel Wiratmadja. Ya , itu ayahnya Sam, dia Tuan Besar Wiratmadja.


Sarah refleks menutup mulutnya tak percaya atas tindakan apa yang baru saja ia lakukan. Tindakan tidak sopan bahkan kurang ajar yang ia lakukan pada Tuan Dion, karena pada Sam ia tak peduli tentang apa yang telah ia lakukan selama ini. Laki-laki itu benar-benar mengesalkan baginya.


"Hey, itukah wanita yang kau sedang usahakan!", Tuan Dion menyerahkan bantal yang ia tangkap kepada Sam dengan wajah santai seperti tidak terjadi sesuatu apapun barusan.


"Jangan bicara terlalu keras, ayah! Nanti dia bisa memakanku jika mendengarnya!", bisik Sam dengan seringainya sambil menatap Sarah yang jelas sedang menahan kegugupannya.


"Se,,,se,,, selamat malam Tuan dan Nyonya!", sapa Sarah dengan senyum canggungnya.


"Selamat malam, Nona! Tapi apa yang kau lakukan pada putraku barusan?", Nyonya Rima berjalan mendekat ke arah Sam dengan wajah seriusnya.


Jantung Sarah berdegup sangat kencang. Ia ingat betul bagaimana kejadian tempo hari yang menjadikan hubungannya dengan Nyonya Rima tidak baik, apalagi Nyonya Rima sempat meremehkannya perihal statusnya yang orang biasa. Sebenarnya bukan masalah nyali, nyali Sarah tidak menciut, hanya saja ini masalah etika yang selalu ia jaga setiap bertemu dengan orang yang lebih tua. Ya ampun, Sarah benar-benar tidak enak hati saat ini menghadapi kedua orang tua Sam yang memergokinya melakukan tindakan kasar kepada putranya itu.


"Kau seharusnya menarik telinganya dengan keras seperti ini!", Nyonya Rima malahan menarik telinga putra bungsunya itu sambil tersenyum ramah ke arah Sarah.


"Aaww! Aaww! Bunda sakit!", pekik Sam kesakitan.

__ADS_1


"Jika kau mau menghukumnya harus totalitas jangan tanggung-tanggung, mengerti!", Nyonya Rima seakan menjadi guru yang sedang mengajari muridnya. Dan Sarah pun refleks menganggukkan kepalanya patuh.


"Bunda benar-benar jahat! Bukannya membela putranya sendiri, malah mengajari orang lain bagaimana cara menghukumku!", ucap Sam pura-pura kesal. Padahal senyumnya jelas terukir di sana, karena ia tau dengan begini berarti ibunya itu sudah menerima keberadaan Sarah.


"Malam Ayah, Bunda!", sapa Ken yang baru saja datang dengan Ana di sampingnya.


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya!", Ana menunduk hormat memberi salam kepada mertuanya.


"Hey, bukankah sudah ku ajarkan bagaimana cara memanggilku sekarang! Kau ini adalah menantu keluarga ini, jadi sekarang panggil aku Bunda dan dia Ayah! Mengerti? Jangan sampai aku mengingatkanmu lagi, oke!", ucap Nyonya Rima setelah melepas pelukannya pada Ana. Dan Ana pun menjawab dengan anggukannya.


"Kemarilah!", Tuan Dion merentangkan kedua tangannya isyarat supaya Ana juga memeluknya.


"Dan sekarang kau juga putri kami. Jadi meskipun sudah tidak ada Danu di sisimu. Tapi kau harus ingat, kau masih punya kami sebagai keluargamu", ucap Tuan Dion setelah melepas pelukannya.


"Terima kasih,,, Ayah!", mendengar nama mendiang ayahnya disebut Ana menjadi sedih. Namun rasa itu terkalahkan lantaran rasa haru yang tengah meliputinya saat ini. Perasaan diterima di keluarga suaminya benar-benar membuat Ana bahagia.


"Terima kasih, sayang!", Ana segera berjalan ke arah Ken dan memeluknya. Ia sangat berterima kasih dengan semua yang ia miliki saat ini. Sebuah keluarga utuh dimana bahkan ia memiliki seorang ibu.


"Apapun untukmu, sayang!", Ken membalas pelukan istrinya itu lalu mengecup kening Ana dalam sampai memejamkan matanya. Ya, apapun akan Ken lakukan untuk janjinya membahagiakan Ana.


"Hey, abaikan saja kami yang masih melajang kakak!", seru Sam tidak terima yang lagi-lagi melihat adegan mesra kakaknya.


"Atur strategimu! Kenapa kau lamban sekali, heh! Lihat kakakmu yang tak berpengalaman sama sekali malahan dengan cepat mendapatkan jodohnya!", ujar Tuan Dion sambil berbisik kepada Sam.


"Dia berbeda, Ayah! Tidak seperti wanita lainnya!", jawab Sam dengan bisikannya.


Sarah memang berbeda dari wanita yang biasa dekat dengannya. Hanya melihat wajah dan status yang Sam miliki, sangat mudah wanita jatuh ke tangannya. Tapi yang mereka inginkan adalah tampang dan materi yang Sam miliki, bukan hati apalagi cintanya. Tapi dengan Sarah berbeda, ia ingin sekali merasakan bagaimana dicintai. Hal yang sudah sangat lama tidak ia miliki.


Di tengah lamunan itu, seorang pelayan datang mendekat dan memberi kabar mengejutkan.


"Permisi, Tuan! Maaf, mobil keluarga Nona Joice telah memasuki halaman!", pelayan itu memberikan laporannya yang membuat semua wajah menegang.


-


-


-


-


-


-


**Jangan lupa ya ikutin kisah Ben dan Rose di novel aku yang satunya dengan judul


🌹"Hey you, I Love you!"🌹


Dan terutama jangan lupa juga buat tinggalin like, vote sama komentar kalian,, okeh 😉


Love u teman-teman 😘


Stay strong and keep healthy ya 🥰

__ADS_1


oh iya follow ig aku ya di @adeekasuryani


nanti aku folback kalian lagi,, tambah banyak temen tambah bagus kan 😊**


__ADS_2