Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 273


__ADS_3

Berpura-pura menulikan telinganya, Sam terus menarik tangan Sarah ke arah luar. Ada apalagi sebenarnya?! Ayolah, Sam yakin mereka pasti sudah sangat lelah saat ini! Jadi sebaiknya mereka pulang saja!


"Bereskan sisanya!", perintahnya pada salah satu pengawal yang ia temui di luar.


Ia memerintahkan kepada pengawalnya itu untuk membereskan urusan Megan Aira dan juga wartawan itu yang masih terikat di dalam sana.


"Tuan Sam,,, Sarah,,, tunggu dulu!", Krystal memanggilnya lagi setengah berlari. Tangannya menarik Louis dengan tidak sabar.


Ada juga menyusul Ana bersama Ken, juga Tuan Dion dan Nyonya Rima setelahnya. Saat ini Ana berada di dalam rangkulan suaminya, dan nampak sudah lebih tenang. Emosi yang tadi meluap-luap sudah reda sekarang.


Dengan panggilan itu, otomatis Sarah mengehtikan langkahnya sambil menarik lengan jas milik calon suaminya itu.


"Apa kau telingamu tuli?! Kau tidak dengar Krystal memanggil kita dari tadi!", setelah berhasil menghentikan langkah Sam juga, Sarah memukul bahu pria itu kesal.


Sarah takut Krystal marah pada mereka karena terlihat seperti sengaja mengabaikannya.


"Aku hanya ingin cepat pulang! Memangnya ada masalah apalagi?! Bukankah masalah kita sudah selesai semua?!", Sam merengut sambil memberi alasan. Tak suka waktunya yang berharga dengan wanitanya itu diganggu.


"Hisshh! Kau ini benar-benar!", dengan gigi yang merapat dan ekspresi tidak sabar, Sarah menggertak Sam dengan kepalan tangan di udara.


Sempat menghindar karena takut terkena pukulan dari calon istrinya itu, Sam juga meringis menatap Sarah. Tangannya sudah di depan wajah bersiap menjadi tameng.


"Tuan Sam, Sarah sebaiknya pulang dengan kami saja!", ucap Krystal saat sudah berada di dekat mereka.


Bukannya menjawab dengan kata-kata, Sam malah memiringkan kepalanya sambil menatap bingung ke arah Krystal. Apa maksudnya ini?!


"Bukankah hari pernikahan kalian tinggal sebentar lagi?! Jadi sebaiknya kalian meneruskan adat yang memang sudah seharusnya kalian jalankan sebelumnya! Maka dari itu sebaiknya kami saja yang mengantar Sarah pulang!", sambil mengangguk kecil Krystal mengutarakan isi pikirannya saat ini.


Ah! Nyonya Rima baru mengingat hal ini. Benar apa yang Krystal katakan. Adat yang sedang dijalankan oleh mereka berdua harus mereka lanjutkan.


"Benar! Kalian seharusnya kan belum boleh bertemu sampai hari pernikahan nanti!", Nyonya besar keluarga Wiratmadja itu maju satu langkah lalu melipat tangannya di depan dada. Memberi peringatan pada putra bungsunya yang sepertinya lupa. Atau pura-pura lupa!


Ya, ampun! Sam menepuk dahinya keras-keras dengan telapak tangannya yang terbuka lebar. Kenapa mereka harus mengingat hal ini, sih?! Padahal sudah bagus jika semua orang lupa, kan?! Meskipun sebenarnya dia sendiri juga lupa! Tapi bukannya itu bagus untuk dirinya yang jadi bisa berlama-lama dengan Sarah?! Hehee,,,


"Baiklah! Kalau begitu aku pulang bersama kalian, ya!", Sarah mengangguk setuju pada Krystal dan juga Louis.


Dan tentu saja ada orang yang langsung ingin protes dengan menarik lengan Sarah ke arahnya.


"Tidak bisa! Anu,,, maksudku berikan kami kelonggaran paling tidak untuk malam ini saja! Lagipula kami tidak akan kemana-mana lagi. Hanya mengantarnya pulang saja!", segera Sam memberi alasan saat ditatap dengan intens oleh ibunya.


Tidak mengiyakan juga, tapi Sarah menjadi serba salah saja harus bagaimana. Pegangan tangan Sam pada lengannya sangat kencang untuk ia lepaskan. Tapi,,, tidak mungkin juga baginya membantah apa yang telah ditetapkan oleh para orang tua untuk mereka.


"Tidak,,, sekali tidak tetap tidak! Ini saja kalian sudah bertemu, kan!", jari telunjuk Nyonya Rima bergoyang ke kanan dan ke kiri. Menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata.


"Tapi kan ini tidak sengaja, Bunda! Kakak saja waktu itu tidak menjalankan hal seperti ini!", Sam masih berdalih. Dan bahkan sekarang ia membawa-bawa kakaknya ke dalam isi ucapannya.


"Tutup mulutmu!", mata Ken mendelik penuh peringatan kepada adiknya itu.


Dan si adik langsung jatuh keberaniannya setelah tadi mengangkat nama kakaknya itu. Sam meringis, tersenyum kaku. Dan langsung mendapat cemoohan dari senyuman kakak iparnya itu.


Memang beda lagi ceritanya dengan pernikahan Ken dan Ana yang saat itu memang dibuat secara mendadak. Karena Ana masih harus menyembunyikan dirinya yang masih hidup. Itu juga hanya satu hari dari saat pertama kali Ana dan juga Ken bertemu lagi setelah mereka lama terpisah akibat kecelekaan na'as itu.


"Sudah, jangan banyak bicara lagi! Lebih baik kau ikut kami pulang sekarang!", Tuan Dion maju lebih dulu.


Untuk menangani putranya yang paling suka membangkang, Tuan Dion tau apa yang harus ia lakukan. Maka ayah dua orang putra itu langsung menarik lengan putra bungsunya, hingga tangannya terlepas dari lengan Sarah. Lalu ia apitkan leher putranya itu di sekitar ketiaknya. Hingga hanya kepala Sam saja yang menyembul di antara lekukan ketiak itu.


"Tunggu,, tunggu dulu! Aku mau dibawa kemana, Ayah?", tanya Sam yang tak bisa melepaskan diri dari kungkungan ayahnya itu. Langkahnya terseret terbawa langkah ayahnya yang mendominasinya.


"Pulang,,, pulang ke rumah! Ke rumah besar! Haha,,,", Tuan Dion tertawa bangga sambil terus membawa putranya itu di dalam ketiaknya.


"Ap,,, Apa?!", mata Sam langsung membulat besar tak percaya.


"Tidak, Ayah! Aku akan pulang ke apartemenku saja!", ia meronta sambil berusaha melepaskan diri ayahnya.


"Tidak bisa! Haha,,,,", suara bariton itu tegas dan terdengar makin menakutkan kala Tuan Dion membarenginya dengan sebuah tawa.


Pria paruh baya itu harus ketat kali ini. Sepertinya putra bungsunya ini harus dikurung di dalam sangkar emas miliknya agar bisa tetap mematuhi aturan yang ada. Dan Sam sudah bisa membayangkan hal itu sambil meringis ngeri.


Memang tujuannya tinggal sendiri sejak lama adalah karena ia ingin hidup bebas tanpa kekangan dan aturan. Sam memilih tinggal di sebuah apartemen yang meskipun tetap terlihat mewah. Tapi paling tidak, tempat itu adalah tempat yang paling simpel dan tidak merepotkan baginya. Karena hanya terdiri dari beberapa ruangan saja.


"Yasudah, ayo kita pulang, semuanya!", ajak Nyonya Rima setelah selesai menggelengkan kepalanya melihat tingkah ayah dan anak itu.


***


Saat ini Sam sudah dimasukkan ke dalam mobil oleh Tuan Dion. Ia sudah didudukkan dengan rapih disebelah ayahnya itu. Dan saat melihat rombongan lainnya yang mulai menampakkan diri satu persatu, maka Sam lalu tersenyum senang.


Ia melirik ke arah ayahnya yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya. Sepertinya saat ini ayahnya sedang lengah. Jadi Sam memanfaatkan saja momen ini untuk menemui Sarahnya sebentar saja.


Suara pintu terbuka membuat Tuan Dion terkejut. Dan makin terkejut lagi saat pintu itu ditutup dengan kerasnya dan hanya menyisakan udara kosong di sebelahnya karena saat ini putranya sudah menghilang dari tempat duduknya.

__ADS_1


Setelah berhasil melesat keluar dari mobil layaknya pesawat jet, Sam meneruskan langkahnya yang cepat untuk menarik tangan Sarah untuk ikut bersamanya.


"Hey!", Krystal yang tiba-tiba tangannya menjadi kosong pun hanya mampu berseru kaget. Tadi itu ada tangan Sarah yang ia genggam dengan eratnya.


"Sam!", dan tak berdaya Nyonya Rima hanya bisa berseru memanggil nama putranya yang sangat nakal itu.


"Sebentar, Bunda! Aku pinjam Sarah sebentar hanya sebentar saja! Lima menit! Aku pinjam Sarah lima menit, oke!", jawab pria itu tak menghentikan langkahnya.


Ia menoleh ke belakang, ke arah ibunya sambil menunjukkan tanda oke dengan jarinya. Tak lupa ia memberikan kerlingan mata yang konyol pada ibunya itu.


"Adikmu itu! Sayangku,,, semoga nanti kamu jadi anak baik seperti ayahmu ya, nak! Jangan seperti pamanmu yang nakal itu!", Ana menggelengkan kepalanya sambil mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.


"Benar, Sayang! Kau harus keren seperti Ayah!", lalu Ken menunduk, mensejajarkan kepalanya dengan perut Ana. Lalu memberikan satu kecupan di perut istrinya yang belum membuncit itu.


"Ah,,, irinya!", gumam Krystal sambil merangkul lengan kekasihnya.


"Lou, sepertinya Krystal sudah memberikan kode keras! Jangan sampai nanti dia merebut anakku!", Ana yang mendengar gumaman sepupunya itu lantas langsung memberikan peringatan pada temannya yang juga merupakan kekasih Krystal itu.


"Membuat anak?! Aku sih, siap kapan saja! Sekarang juga, tidak masalah!", tersenyum konyol pria itu pada semua orang.


"Sayang!", Krystal langsung memerah wajahnya mendengar ucapan frontal kekasihnya itu. Ia sangat malu karena saat ini masih ada Nyonya Rima bersama mereka. Pasti akan terdengar tidak sopan, bukan?! Dan Krystal pun melayangkan satu pukulan ringan pada bahu kekasihnya itu sambil menundukkan kepala.


"Lou,,, cari mati, ya!", Ana sudah berkacak pinggang sambil menunjukkan matanya yang bulat sempurna.


"Nikahi dulu, saudaraku!", Ana mendengus kesal sambil memberikan peringatannya.


"Sudah Sayang, jangan marah lagi! Tidak baik untuk bayi kita! Mereka kan sudah dewasa, itu sudah bukan urusan kita lagi! Dan lagi,,, bukannya membuat anak itu enak! Istriku saja sampai ketagihan, kan!", sambil membimbing Ana menuju mobil, sekalian saja Ken menggoda istrinya itu. Pria itu mencubit hidung Ana dengan gemasnya.


"Kau ini, ya!", Ana mencubit pinggang suaminya yang fulgar itu. Selalu saja senang menggoda dirinya.


Nyonya Rima yang melihat keakraban semua anak-anak itu merasakan hangat di hatinya. Beruntungnya mereka masih memiliki saudara dan teman yang saling menyayangi. Sambil berjalan ke arah mobilnya, senyum wanita paruh baya itu terus terkembang sempurna. Rasanya pasti nanti amat menyenangkan saat keluarga besar mereka berkumpul bersama dengan banyaknya cucu yang mereka punya.


***


Sam membawa Sarah kembali ke arah pintu utama rumah itu. Tapi bukannya membawanya ke dalam, Sam mengajak Sarah untuk duduk di sebuah bangku taman yang sudah usang, di dekat sana.


"Sebenarnya ada apa, Sam! Tanganku sampai sakit begini kau tarik-tarik!", mereka berdua telah duduk di bangku taman itu. Sarah protes akan pergelangan tangannya yang memerah akibat ulah pria itu.


"Ahh! Maafkan aku!", dengan penuh perhatian Sam mengambil tangan Sarah yang memerah itu lalu ditiupnya dengan sabar. Ia menyesal karena tadi ia begitu bersemangat saat menarik wanitanya ini.


"Sudah! Sudah! Tidak apa-apa! Nanti juga hilang sendiri!", Sarah berusaha menghentikan usaha Sam yang malahan membuat tangannya terasa geli. Dan bahkan saat ini ia sedang menyembunyikan wajahnya yang menghangat dengan menoleh ke arah samping. Ia yakin jika saat ini pasti pipinya sudah bersemu merah.


"Sebenarnya aku ingin meminta obat penawar padamu, Sarah!", sebentar Sam menoleh ke arah Sarah yang sedang mengalihkan wajahnya itu.


"Obat penawar?! Memangnya kau kenapa?! Apakah kau sakit?! Atau keracunan?!", Sarah memberanikan diri untuk menoleh ke arah Sam lagi. Menunggu jawaban pria itu dengan wajah yang diusahakan serius sambil menahan geli yang terus menjalar dari pergelnagan tangannya.


"Sekarang aku tidak sakit. Tapi nanti aku pasti akan sakit!", lalu Sam mendudukkan diri di sebelah wanitanya itu. Tapi tak melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Sarah.


"Kenapa bisa begitu? Memangnya nanti kau akan sakit apa? Jangan ngawur, Sam! Memangnya kau ini seorang peramal!", Sarah merengut sambil berusaha melepaskan pergelangan tangannya. Ia yakin pasti pria ini hanya akan mengatakan hal-hal yang konyol saja.


"Aku memang bukan peramal. Tapi aku sangat yakin jika nanti aku pasti akan sakit setelah lama tak bertemu denganmu. Aku akan sakit karena terlalu merindukanmu, Sarah!", Sam tak membiarkan tangan Sarah terlepas.


Dan malahan ia mengecup punggung tangan Sarah setelah menyelesaikan kalimatnya. Lalu tersenyum yang teramat mempesonan sambil memberikan tatapan intens pada wanita itu.


"Jangan bercanda terus, Sam!", ditatap seperti itu siapa juga yang tidak meleleh.


Sebagai wanita normal, Sarah sangat mengakui ketampanan Sam yang luar biasa. Mata wanita mana yang tidak teralihkan pada wajah tampan dan ramah pria itu. Tapi hal itu selalu berbanding lurus dengan kekonyolan yang dimilikinya. Sam sangat tampan, tapi sayangnya, pria itu juga sangat konyol baginya.


Wajah Sarah sebenarnya makin terasa panas saat ini. Ia juga sudah berusaha melepaskan tangannya itu untuk menutupi wajahnya yang ia yakini sudah sangat memerah itu. Tapi Sam menahannya terlalu kuat.


Ia ingin terlena oleh rayuan pria itu, tapi mengingat kekonyolan yang sering pria itu buat, maka Sarah tak ingin hanyut dalam pikirannya terlalu lama.


"Sudah malam, ayo kita pulang!", tak peduli tangannya masih dalam cekalan Sam, Sarah beranjak berdiri mengajak Sam untuk pergi dari sana.


"Tapi aku masih belum mendapatkan penawarnya, Sarah!", dengan cepat Sarah segera ditarik dan mendarat di atas pangkuan pria itu.


"Sam!", wanita itu memekik kaget.


Mereka memang akan pulang, tapi Sam harus mendapatkan penawar rindunya dulu yang ia yakini akan menggebu-gebu di masa yang akan datang saat dirinya tidak dapat bertemu dengan calon istrinya itu.


"Bukannya sudah kubilang aku butuh penawar!", senyuman pria itu begitu menggoda, sehingga bulu kuduk Sarah meremang. Seperti kucing yang ketakutan. Karena Sarah justru ngeri melihat senyuman Sam yang seperti ini.


Tanpa ragu lagi, salah satu tangan Sam menyusup ke samping wajahnya. Memegangi kepalanya sampai ke belakang. Dan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk mengambil dagu wanita itu.


Sam tanamkan bibirnya di sana. Meski awalnya Sarah membelalakkan matanya karena terkejut dengan serangan dadakan ini, tapi kemudian ia memejamkan matanya setelah menyadari apa yang Sam maksud dengan ucapannya barusan.


Rindu, itu sudah pasti. Bohong jika hanya Sam sajaj yang akan merasakan rindu. Sarah juga, ia pasti juga akan sangat merindukan pria konyolnya itu. Apalagi mendekati hari pernikahan mereka, rasanya ia ingin melewati kegugupannya ini bersama dengan pria itu. Agar mereka bisa melewati kekhawatiran ini bersama.


Perpaduan panas sesuatu yang lembut dan lembab itu membuat keduanya terjerat dalam waktu yang tak sebentar. Saling mencercap rasa, menikmati pergulatan lidah yang basah, hingga keduanya sama-sama kehabisan nafas. Sepasang insan itu menghentikan kegiatan mereka sambil menautkan kening masing-masing dengan nafas yang putus-putus.

__ADS_1


"Inilah penawaar yang ku maksud! Aku mencintaimu, Sarah!", ia daratkan kecupan ringan pada bibir wanita itu.


"Ya, aku tau! Meskipun kau sangat konyol, tapi aku harus mengakui jika aku juga mencintaimu, Sam!", Sarah pun membalas kecupan yang sama.


Keduanya masih saling menempelkan kening, sama-sama tersenyum dan saling berpegangan tangan.


Keduanya larut dalam suasan penuh cinta itu dengan saling membalas kecupan-kecupan singkat yang mereka berikan pada satu sama lain. Sambil terus tersenyum, dua orang itu merasa konyol dengan tingkah mereka sendiri.


Tapi lain juga apa yang ada dipikiran Sam saat ini. Ia ingin egois sesaat ini. Rasanya belum puas ia menikmati bibir wanita itu sebagai penawar rindunya nanti. Penawar yang kini menjadi candu baginya, membuat pria itu segera menarik kepala Sarah untuk mendekat lagi.


"Penawarnya tidak ampuh barusan!", ucapnya sebelum melancarkan lagi aksi penyerangannya terhadap Sarah.


"Sam!", Sarah pun mengerang kecil kaget karena lagi-lagi pria itu melahap bibirnya.


Sayangnya, permainan mereka kali ini tidak bisa berlangsung lama. Ada sesuatu yang membuat salah satu pohon di belakang kursi taman yang mereka duduki bergerak sendiri. Sarah yang melihat hal itu dengan mata kepalanya sendiri pun segera mendorong tubuh Sam dengan kuat.


"Ada apa, Sarah?!", tanya Sam bingung. Lalu ia mengikuti arah pandangan mata Sarah yang jelas tergambar rasa terkejut dan ketakutan.


"Sarah! Aku takut! Ap,, apa itu sebenarnya, Sarah?!", Sam langsung melonjak berdiri lalu bersembunyi di belakang punggung Sarah dengan tubuh gemetar.


"Hey, kau ini apa-apaan! Harusnya kau yang melindungiku kan sebagai seorang lelaki!", masih diselimuti rasa takut, Sarah menepuk tangan Sam yang memegangi bahunya dengan sangat kuat.


"Lupakan soal gender! Kita ini kan sudah masuk ke zaman emansipasi wanita, jadi tidak masalah kan jika wanita yang maju untuk melindungi prianya!", tak mau keluar dari persembunyiannya, Sam malahan mengelaurkan alasan yang konyol dan membuat Sarah kesal.


"Ini tidak ada hubungannya dengan emasnsipasi wanita! Ayo sini! Ayo, Sam!", Sarah membalas ucapan Sam sambil berusaha untuk terus menarik pria itu ke hadapannya.


"Tidak, Sarah! Aku tidak mau!", pria itu pun mencoba melepaskan diri dari tangan Sarah.


Di tengah aksi tarik-menarik itu, mata Sarah tak sengaja menangkap sebuah obejek yang sangat menarik perhatian.


Sebuah ekor kucing keluar dari balik pohon tersebut. Dan sebisa mungkin Sarah tetap fokus untuk tidak tertawa saat ini. Ternyata hal yang mereka takutkan dari tadi hanyalah ulah seekor kucing?! Ya ampun, ia sangat ingin mennepuk jidatnya keras-keras. Tapi dengan munculnya hal itu, sebuah ide langsung terbesit di kepalanya.


"Saaam,,, itu Sam! Itu! Itu!", mengubah ekspresi wajahnya menjadi ekspresi yang sangat ketakutan, Sarah juga menunjuk-nunjuk ke arah pohon hias yang sudah bergerak-gerak sejak pertama kali mereka melihatnya.


"Ada apa, Sarah?!", tak berani menoleh ke belakang, tubuh Sam makin gemetar ketakutan.


Sumpah demi apa pun, Sarah ingin sekali tertawa. Dimana Sam yang sangat heroik seperti tadi saat akan menangkap Tuan Alexander?! Mana juga Sam yang selalu terang-terangan menolak Megan Aira dengan cara yang keren?! Semua bayangan itu langsung buyar dengan melihat ekspresi ketakutan Sam yang sekarang.


"Itu Sam, ada,,, ada,,, itu ada,,,", Sarah terus menunjuk ke arah itu sambil berusaha keras menahan tawa.


"Hantu?! Ada hantu?!", Sam tak sabar dan malahan menyimpulkan sendiri apa maksud dari ucapan Sarah tadi.


"Sam,, itu?!", Sarah tidak mengiyakan, tapi malah makin menambah jadi ekspresi ketakutan Sam saat ini.


"Ayo, Sarah! Kita cepat kabur dari sini!", seru Sam tak tahan lagi sambil berusaha menarik Sarah untuk ikut berlari.


Luar biasa! Sarah sangat luar biasa menahan diri untuk tertawa malam ini. Bagaimana dunia jika tau pangeran tampan yang selalu dipua-puja ini ternyata takut dengan hantu. Sudah tidak diperhatikan lagi karena Sam sibuk melarikan diri, Sarah di belakang punggung pria itu puas tertawa tanpa suara. Mengekspresikan rasa gelinya yang tadi sempat tertahan.


Lalu tak lama, seekor kucing berwarna kuning kecoklatan keluar dari balik pohon yang tidak terlalu tinggi itu. Kucing itu membawa tulang ikan di mulutnya, sepertinya tadi kucing itu sedang menikmati makan malamnya. Dan terganggu karena keributan yang dibuat oleh Sam dan Sarah.


***


"Sarah, sebaiknya kau langsung pulang ya! Krystal, Louis, tolong antarkan Sarahku sampai rumah dengan selamat, ya! Sekarang sudah malam, sebaiknya kalian segera jalan!", setelah memasukkan Sarah ke dalam mobil dengan tergesa-gesa, Sam langsung memerintahkan orang-orang itu untuk segera pergi dari tempat ini.


"Tenang saja! Tapi Tuan, apa Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat pucat!", lalu Krystal menyahut dari arah dalam.


Saling melemparkan pandangan dengan Louis, kekasihnya. Karena sepertinya mereka memiliki isi kepala yang sama. Keduanya pun mengangguk setuju.


"Tidak usah khawatir, Sam baik-baik saja! Iya kan, Sam?!", Sarah tersenyum penuh arti. Namun pria itu tidak menyadarinya.


"Ya,, ya,, benar! Aku baik-baik saja!", jawab Sam gugup.


Sarah melipat bibirnya rapat-rapat. Ia berusaha menahan tawanya agar tidak meledak sekarang juga. Wanita itu tau jika pria konyolnya itu tidak akan mau mengakui hal terkonyol yang sedang dilakukannya ini. Mau ditaruh dimana wajahnya yang sudah rupawan itu?! Pasti iai tidak akan mau wajah mulusnya itu tercoreng dengan isu konyol yang memang benar sebuah kenyataan sebenarnya.


"Ya sudah! Kami pamit ya, Tuan! Anda berhati-hatilah dalam perjalanan!", Louis lalu menutup jendela kaca mobil seraya memerintahkan kepada supir untuk mulai menjalankan mobil.


"Hey, ada apa sebenarnya?!", Krystal tak dapat lagi menahan diri dari rasa penasarannya. Dan hal itu langsung membuat Louis mengangguk setuju. Karena kedua orang itu heran melihat sikap aneh calon suaminya Sarah itu.


"Apakah kalian bertengkar?", Louis hanya menanyakan spekulasi yang ada di benaknya.


"Tidak!", jawb Sarah yakin sambil menahan tawa. Dan semakin membuat kedua orang itu kebingungan.


Lalu Sarah pun menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Tentu saja ia melewatkan adegan-adegan yang akan membuatnya malu setengah mati. Dan yang tersisa selama perjalanan itu adalah suara tawa dari ketiga orang itu yang memekakkan telinga supir mereka.


-


-


Maaf ya teman-teman aku lama update nya,, kemarin itu aku ga enak badan, jadi aku ga konsen buat nulis 🙏

__ADS_1


episode ini aku buat 3000 kata lebih ya,, aku males ngedit lagi, jadi sekalian aja aku update kaya gini,, semoga kalian suka ya 😉


oh iya, sekedar bocoran aja,,, besok sam sama sarah menikah 🤭


__ADS_2