Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 171


__ADS_3

"Trauma,,,, ", gumam Sam pelan sambil berpikir.


"Sebenarnya ada apa, Ken?", Nyonya Rima menjadi begitu penasaran bercampur rasa khawatir.


"Entahlah Bunda! Ana sedang membawanya untuk diperiksa", Ken pun ikut menghela nafasnya. Bagaimana bisa keadaan Sarah menjadi begitu rumit seperti ini, Ken pun ingin mengetahuinya.


"Dan untuk masalahmu itu?", Nyonya Rima kini menghadap ke arah putra bungsunya sambil membulatkan mata di dengan wajah galaknya. Sam yang melihat hal itu pun menjadi waspada.


"Cap playboymu itu! Segera perbaiki dan bereskan urusanmu dengan para wanita itu! Jika Bunda masih melihat ada wanita yang datang lagi kepadamu, maka kau akan berurusan dengan Bunda, Sam! Apalagi jika sampai menyakiti hati Sarah lagi, jangan harap kau mendapat ampunan dariku!", ancam Nyonya Rima dengan wajah yang begitu serius.


"Ap,, Ap,, Apa? Jadi maksudnya Bunda sudah merestui aku dan Sarah?", tanya Sam mencoba memastikan maksud dari perkataan ibunya itu. Dan ketika tak mendapat jawaban karena ibunya itu tetap diam, maka Sam menyimpulkan bahwa itu sebagai iya.


"Wahh ,,, terima kasih, Bunda! Bunda memang benar-benar yang terbaik!", Sam kegirangan bukan main sampai ia memeluk ibunya itu dengan begitu eratnya. Hingga ia lupa bahwa lukanya itu masih terasa amat sakit.


"Auww!", akhirnya Sam melepaskan pelukannya sambil mengaduh kesakitan.


"Makanya hati-hati!", meski masih kesal Nyonya Rima tak dapat menghiraukan keadaan putranya saat ini. Bagaimanapun juga luka di perut Sam masih belum pulih, bahkan tubuhnya masih begitu lemah saat ini.


Di sisi Tuan Dion dan juga Ken, keduanya menatap ke arah sana dengan senyum damai. Perasaan yang menggembung di dada tak bisa Ken tahan untuk tidak mengeluarkan senyumannya. Meski harus ia yang merasakan jatuh bangunnya mendapatkan restu ibunya itu, tapi tak apa. Yang terpenting adalah pandangan ibunya yang semula angkuh itu telah berubah. Ken juga dapat merasakan bahwa kini Nyonya Rima makin memperhatikan kebahagiaan anak-anaknya. Dan itu tak luput dari perjuangan cintanya dengan Ana. Ken makin bersyukur akan hal itu.


"Bundamu, sudah banyak berubah!", seru Tuan Dion pelan hingga hanya Ken yang mampu mendengarnya.


"Apa yang Ayah lakukan hingga Bunda bisa berubah seperti itu?", tanya Ken tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tentu saja Ayah menghipnotis Bundamu itu!", jawan Tuan Dion sekenanya.


"Benarkah?!", jawaban Tuan Dion membuat Ken menoleh ke arahnya dengan wajah penasaran.


"Tentu saja,,, tidak! Kau ini serius sekali!", Tuan Dion terkekeh sendiri dengan tingkah putra sulungnya. Padahal tadi dia hanya menjawab pertanyaan dengan asal saja.


"Bundamu telah berpikir mungkin. Setelah kejadian tempo hari, ia merasa makin jauh dengan putra-putranya. Ia merasa terlalu memaksakan kehendaknya kepadamu, sehingga membuat dirimu seakan membenci Bunda. Apalagi ketika kabar Ana meninggal mulai tersebar, dan kau menjadi begitu terpukul waktu itu. Bundamu makin menyadari bahwa kebahagiaan anak-anaknya adalah yang terpenting mulai saat ini. Maka dari itu, ia tak lagi memaksakan siapa yang akan Sam pilih. Hanya saja setelah melihat Sarah, Bundamu merasa mereka cocok dan bisa mengisi satu sama lainnya", jelas Tuan Dion dengan wajah seriusnya.


"Tapi bagaimana dengan statusnya? Dia bukan dari kalangan kita. Sarah hanya dari kalangan biasa. Apa Bunda bisa menerimanya?", tanya Ken tajam. Ia masih ingat betul insiden makam malam waktu itu, dimana bahkan Sarah sempat terkena tamparan ibunya demi membela Ana.


"Kau lihatlah sendiri, Ken. Sudah ku katakan bukan, jika Bundamu sudah berubah. Kau lihat saja, dia lebih mengkhawatirkan Sarah ketimbang putranya!", dagu Tuan Dion bergerak menunjuk ke arah istri dan putra bungsunya. Ken pun mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh ayahnya.

__ADS_1


"Awas saja jika sampai terjadi sesuatu pada Sarah, Bunda tak akan mengampunimu!", itu merupakan ancaman yang kesekian kalinya yang Nyonya Rima keluarkan untuk Sam.


"Di sini siapa sih yang sebenarnya menjadi anak Bunda?!", keluh Sam sambil merajuk manja.


"Ehermmm!", Ken berdehem sambil maju ke arah mereka. Nyonya Rima dan Sam pun menoleh bersamaan.


"Cepat sembuh!", kakaknya itu sudah berdiri tepat di sebelah dirinya.


"Terim,,, ", tapi Ken kembali melanjutkan kalimatnya.


"Ana sudah menunggu untuk memberi hukuman kepadamu karena telah menyakiti sahabatnya", Ken tersenyum miring setelah puas mengucapkan kalimatnya.


"Haaa?!", Sam baru sadar akan hal yang satu ini.


"Kakak! Tolong aku, kak! Selamatkan aku dari amukan singa betinamu, kak!" dengan wajah memelas Sam menarik-narik kemeja milik kakaknya. Terlalu banyak masalah, ia jadi melupakan hal itu. Kakak iparnya itu sangat protektif kepada sahabatnya. Apalagi jika sampai terjadi sesuatu pada Sarah?! Sudah, habislah sudah riwayat hidupnya! Sepertinya ia akan benar-benar merasakan amukan singa betina yang sesungguhnya.


"Singa betina apa? Maksudmu Ana?", Tuan Dion bertanya penuh minat.


"Ya tentu saja, Ayah! Siapa lagi?! Jika di rumah ada Bunda sebagai singa betina kita, lalu untuk kakak yang merupakan raja singa, ia memiliki singa betina yang begitu kejam dan tirani, ya siapa lagi kalo bukan kakak iparku, Ana!", Sam menjelaskan dengan wajah yang masih diliputi kekhawatiran. Dia masih memikirkan bagaimana nasibnya.


"Apa maksud ucapanmu? Jadi kau bilang Bunda ini singa? Kurang ajar, anak nakal, tidak sopan! Berani ya mengatakan Bunda seperti itu?!", Nyonya Rima menyambar jas Ken yang Sam pegang, lalu memukulinya dengan jas tersebut sampai putra bungsunya itu memberingsut minta ampun.


"Jadi ayah menyetujui ucapannya?!", Nyonya Rima tidak terima. Ia menatap tajam ke arah suaminya sambil membesarkan bola matanya.


"Memangnya salah? Lihat saja betapa ganasnya dirimu saat ini!", balas Tuan Dion tak kalah garangnya.


Baiklah, jika sudah begini Nyonya Rima kalah. Ia memang hanya akan menurut dan mengalah kepada suaminya itu.


"Ayah!", Nyonya Rima merajuk lalu bangkit dan menghambur ke pelukan suaminya itu.


"Sekali lagi kau menyebutku atau Ana seperti itu lagi, lihat saja apa yang istriku akan perbuat untukmu nanti!", ucapan Ken kepada Sam dengan tenang. Wajah Sam mulai pias, ia merutuki mulutnya sendiri. Karena tak mampu menahan ucapannya sendiri.


"Ayolah, Kak! Tolong aku!", Sam mengatupkan kedua tangannya di depan wajah sambil memasang wajah yang lebih memelas lagi.


"Aku berangkat ke kantor dulu ya, Bunda, Ayah!", Ken malah berpamitan dengan kedua orang tuanya. Rasanya sudah cukup lama ia berada di sana.

__ADS_1


"Bersiaplah!", Ken mengetuk dahi Sam pelan. Lalu ia malah acuh tak mempedulikan adiknya yang terus memohon dari ranjangnya.


"Jangan lupa, buang jas itu, okeh ", pria itu menepuk bahu adiknya lagi setelah menyampaikan pesan terakhir yang harus Sam laksanakan. Lalu ia mulai beranjak dari sana, dari kamar adiknya.


"Kakak! Kakak! Kakak!", tangan Sam menggapai-gapai udara berharap Ken akan membalikkan tubuhnya. Dan berubah pikiran untuk membantunya.


"Kami keluar sebentar ya, Sam. Nanti kami akan kembali lagi", kedua orang tuanya juga pamit kepada Sam untuk melakukan beberapa hal.


"Hah! Kenapa tidak ada yang mau menolongku, sih!", Sam meratap sendiri di dalam kamarnya setelah semua orang pergi. Bagaimana nasibnya nanti ia sama sekali belum mengetahui.


"Ini semua gara-gara wanita sialan itu!", Sam menggeram marah saat melihat jas kakaknya yang masih berada di tangannya. Hal itu mengingatkannya pada si wanita genit, si Megan tentunya.


-


-


-


-


-


maaf authornya nyicil ya satu-satu update episodenya ga bisa sekaligus πŸ™


pokoknya ditunggu aja ya teman-teman, masih ada lagi kok kelanjutannya πŸ˜‰


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰

__ADS_1


love you semuanya 😘


keep strong and healthy ya πŸ₯°


__ADS_2