
Wanita itu hampir saja terjatuh saking kagetnya. Ada tangan dingin yang menyentuh punggungnya secara tiba-tiba, lalu ada juga nafas hangat yang menyemprot di sekitar telinganya. Membuat bulu kuduknya berdiri mendadak.
Sesaat Sarah kehilangan kesadarannya. Apalagi saat ini wajah mereka begitu dekat karena Sam berusaha menyelamatkan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Tangan pria itu kini memegangi pinggang dan punggungnya dengan erat.
Meskipun Sarah tau jika Sam benar-benar bermaksud menyelamatkannya, tapi jantungnya berdebar dengan sangat kencang sekarang. Posisi mereka begitu dekat saat ini dan begitu ambigu. Dengan pikiran yang sama mengenai apa yang harus mereka hadapi setelah ini, jantung Sam juga tidak kalah berdebarnya. Jadi entah suara jantung siapa yang terdengar sekarang.
Tadi Sam sudah berhasil menyingkirkan pikiran itu. Ia sudah berhasil mengendalikan otak dan hatinya. Namun dengan posisi seperti ini, semua keyakinannya terasa goyah. Rasanya ia ingin menikmati bibir merah muda yang cerah meskipun telah dibersihkan dari riasan itu. Lalu ia ingin langsung menggendong istrinya itu untuk ia bawa ke atas ranjang.
"Sam!", panggilan lirih itu membuatnya tersadar. Ia pun membantu Sarah untuk berdiri tegak kembali.
Dalam keadaan canggung Sam tetap membantu Sarah membuka resleting gaun pengantinnya. Sumpah demi apa pun, tangannya gemetar hebat saat ini. Sarah pun bisa merasakannya dari getaran di belakang pungungnya yang ia rasakan. Ternyata yang gugup dalam situasi ini bukan hanya dirinya saja, tetapi suaminya juga sama gugupnya. Wanita itu tersenyum sedikit tanpa sepengetahuan suaminya.
Tangannya yang memegang resleting pada ujung kepalannya itu pun mulai bergerak turun. Sam dan Sarah merasa waktu berjalan sangat lama saat ini. Hal itu hanya perlu dilakukan dalam hitungan sepersekian detik saja. Tapi kedua orang itu merasa waktu yang mengelilingi mereka berjalan dengan sangat lamban. Dan itu membuat keduanya semakin gugup saja.
Ya! Resleting itu sudah mencapai batasnya. Tapi tangan Sam masih bertahan di sana. Tangannya seperti terkena perekat sehingga menempel erat tidak mau lepas dari sana. Tidak hanya tangannya yang sedang mematung, tapi wajahnya juga terpaku pada sajian punggung putih mulus yang terpampang di depan matanya. Tenggorokkannya kembali terasa kering sekarang.
Gaun itu tidak terjun bebas dari tubuh Sarah. Tentu saja karena wanita itu memegangi bagian depannya dengan sangat erat. Ia belum siap jika saat ini suaminya itu akan melihat keseluruhan tubuhnya. Bukan bermaksud apa-apa, dia masih malu. Dan juga merasa minder karena belum membersihkan diri.
Rasanya ia segera ingin melarikan diri saja, tapi itu tidak mungkin, kan?! Sekarang ini ia adalah seorang istri. Jadi ia sadar harus bersikap bagaiamana. Sarah hanya ingin meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. Tapi lidahnya juga terasa kelu. Apalagi saat ini Sam tak kunjung bergerak di posisinya. Wanita itu jadi bingung harus bagaimana memulai ucapannya. Ia tidak ingin membuat suaminya itu salah paham.
Tapi gerakan tangan Sarah yang tanpa sadar di depan dadanya membuat Sam akhirnya kembali ke pikirannya. Istrinya itu mengibaskan tangannya beberapa kali di depan. Akhirnya Sam tau jika saat ini istrinya itu sedang kegerahan dan membutuhkan mandi. Sebenarnya sama dengan dirinya juga yang juga sudah merasa panas di dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Kau mandilah dulu! Aku akan mandi setelah dirimu!", Sam mengecup pucuk kepala Sarah dari belakang.
"Baiklah!", jawab Sarah pelan tanpa menoleh ke arah suaminya. Ia sangat malu karena saat ini wajahnya pasti sudah berubah merah.
Lalu Sam beranjak ke arah sofa lagi. Sedangkan Sarah langsung berlari kecil ke arah kamar mandi.
Lelaki itu menoleh, melihat istrinya yang kabur ke arah kamar mandi itu membuatnya menaikkan salah satu sudut bibirnya. Ada sedikit rasa tidak rela di dalam hatinya.
Hal itu memang bukan hal yang akan Sam lakukan untuk pertama kalinya. Tapi ini adalah pernikahannya, dan dengan wanita yang sangat ia cintai pula. Cinta yang entah kapan terakhir kali Sam merasakannya.
Sam ingin melakukan hal itu dengan Saarah karena sama-sama menginginkannya. Karena Sarah sudah siap dan memberikan dirinya dengan sukarela dan tulus ikhlas kepadanya sebagai sepasang suami istri. Ia benar-benar tidak akan memaksa Sarah sama sekali. Karena Sam ingin melakukannya dengan penuh rasa cinta.
***
Rambut panjang setengah basah yang sedang dikeringkan. Dan yang lebih gila lagi adalah istrinya itu keluar hanya melilitkan handuk di bagian atas tubuhnya saja. Gila,, gila,, Sam benar-benar akan gila sekarang.
Setelah kembali ke jalan pikirannya yang waras, pria itu berdehem beberapa kali untuk mengusir pikiran gilanya barusan.
"Aku akan mandi sekarang!", Sam menundukkan wajahnya yang bersemu merah sambil berjalan secepat mungkin menuju kamar mandi.
Ia bahkan melewati Sarah begitu saja tanpa melihatnya. Sam takut jika ia mengalihkan pandangan matanya lagi ke arah sana, ia tidak akan bisa menahan diri untuk melahap Sarah sekarang juga. Jadi sekarang ia yang kabur ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?!", Sarah melihat aneh ke arah suaminya itu.
Tapi setelah matanya tertuju pada apa yang ia lihat pada tubuhnya, ingin sekali rasanya Sarah menjerit sekencang-kencangnya. Jadi dia sendiri yang telah membuat Sam jadi seperti itu. Pasti suaminya itu menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menerkamnya sekarang juga.
Huh! Betapa bodohnya dia ini! Sarah merutuki dirinya sendiri sambil berlalu ke arah kopernya untuk mengambil pakaian.
Dan betapa dia ingin memaki kedua sahabatnya itu. Karena seluruh baju tidur yang sudah ia persiapkan, telah diganti semua. Pakaian tidur yang ada hanya gaun-gaun malam berbahan satin dan sutra yang sangat lembut dan menerawang. Sarah sangat yakin jika ini pasti kelakuan kedua sahabatnya itu. Ah! Sarah sangat malu untuk menggunakan yang seperti ini di depan suaminya.
"Awas saja, kalian ya! Terutama kau Krystal! Tunggu pembalasanku saat kau menikah nanti!", bibirnya mencibir kesal sambil menyipitkan mata. Tapi dengan bijaksana, akhirnya Sarah mengambil salah satunya yang berbahan putih dan yang paling panjang di antara yang lainnya. Itu gaun malam dengan panjang sampai ke tumit, meskipun ia sedikit keberatan karena hanya memiliki tali satu pda bagian atasnya.
***
Sam sudah berada di dalam kamar mandi selama setengah jam. Pria itu menyiramkan air dingin dari kepala hingga ke sekujur tubuhnya. Pria itu sedang berpikir keras bagaimana nanti ia akan memulainya.
Mengobrol dulukah?! Ia takut itu akan membosankan bagi Sarah. Menggombalinya?! Tapi Sam takut jika istrinya itu nanti malah akan memukulnya. Karena ia tau jika istrinya itu bukan tipe wanita seperti itu.
Hah! Sam kesal pada dirinya yang bodoh ini! Kenapa otaknya tidak mau bekerja di saat diperlukan di saat-saat seperti ini?!
Akhirnya pria itu menyelesaikan ritual mandinya dan segala kegudahannya barusan. Ia mengenakan handuk yang lilitkan di pinggangnya keluar dari kamar mandi itu. Lalu pria itu mendesah saat melihat wanita yang sejak tadi memenuhi otak dan pikirannya itu sudah tertidur dalam posisi duduk di atas ranjang sana.
Setelah mengambil celana panjang dan ia kenakan, pria itu segera menuju ke arah istrinya itu. Ada rasa bersalah melesat di dalam hatinya. Sepertinya ia merenung terlalu lama di dalam kamar mandi sana. Dan ia yakin jika Sarah berusaha menunggunya, dilihat dari posisi tidurnya yang seperti ini dan juga masih ada ponsel di tangannya.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah pesan masuk di dalam ponsel itu. Sam sangat penasaran siapa yang mengirimi pesan kepada istrinya di malam hari dan di saat-saat seperti ini. Ia yakin jika hampir semua orang tau jika ini merupakan malam pengantin bagi mereka. Tapi siapa orang itu?! Karena Sam merasa istrinya itu tidak dekat dengan siapa pun sebelum bersama dengan dirinya. Pria itu menggeram marah sambil meraih ponsel Sarah.