Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 151


__ADS_3

Tapi sayangnya, Joice sempat melihat bayangan seseorang lewat di depan kamarnya. Yang jelas orang itu menggunakan pakaian putih panjang. Karena rasa penasarannya, dengan perlahan ia beranikan diri untuk melihat keluar. Dan benar saja, ia melihat seorang wanita dengan gaun putih menjuntai dan rambut panjangnya yang terurai tengah berjalan menyusuri lorong itu.


Joice membekap mulutnya dengan mata membulat besar sempurna.


"Ha,, hantu!", seru Joice dengan suara gemetar dan ketakutan.


Ya, itu adalah Ana. Saat itu Ana memang mengenakan gaun tidur berwarna putih dan menggunakan jubah putih yang panjang pula untuk menutupi lekuk tubuhnya. Jadi jelas saja dari belakang terlihat Ana menggunakan pakaian putih panjang dengan rambut yang memang tak ia ikat karena baru saja berkeramas. Pantas jika Joice menganggap dirinya melihat hantu, apalagi cahaya remang lorong itu menambah kesan horor suasana saat itu.


Ana berhenti di depan kamarnya dan Ken, ia sempat mendengar samar-samar suara Joice menyebut dirinya hantu saat ujung matanya menangkap kepala Joice yang sedang menoleh ke arahnya. Buru-buru ia buka pintu dan segera menghilang dari lorong itu.


"Bukankah itu kamar Ken?! Apa jangan-jangan hantu itu akan mengganggu calon suamiku?!", Joice nampak bingung namun alisnya tetap berkerut, khawatir akan ketakutannya juga.


"Apa aku saja untuk memastikannya? Tapi jika hantu itu malahan menyerangku bagaimana?", wanita itu bergidik ngeri. Joice masih berkutat dengan pemikirannya. Langkah apa yang harus ia ambil. Dia sendiri takut dengan hantu, tapi saat ini ia juga penasaran dengan nasib calon suaminya. Pasalnya hantu itu berhenti dan menghilang tepat di depan kamar yang Ken tempati.


***


Di kamar Ana dan Ken


"Hey, ada apa sayang? Kenapa kau terlihat buru-buru dan khawatir?", tegur Ken dari arah ranjang yang sedang memainkan ponselnya.


"Joice! Joice tadi melihatku!", seru Ana dengan wajah yang benar-benar khawatir.


"Benarkah?!", tanya Ken penuh minat. Hingga akhirnya ia pun bangun dan menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Tapi dia mengira aku hantu!", kali ini ekspresinya berubah drastis. Ana malahan terkekeh sendiri mengingat kejadian tadi.


"Kau ini membuatku khawatir saja!", Ken mengacak-acak rambut Ana gemas.


"Jadi sekarang sudah saatnya, kan!", tatapan Ken menusuk ke dalam bola mata Ana.


Perlahan pria itu melangkah maju dengan tatapan yang begitu intens. Ken terus menatap Ana tanpa berkedip. Seulas seringai muncul di bibir pria itu sambil terus menggiring Ana mundur hingga membentur pintu.


"Se,, sekarang saatnya untuk ap,, apa Ken?", Ana tergagap karena menahan gugupnya. Tatapan Ken, aura yang dikeluarkan tubuhnya benar-benar mendominasi saat ini. Ana sampai tak dapat berkutik. Bahkan tatapan mata Ken yang begitu mendamba itu membuat Ana segera memunculkan semburat merah di pipinya. Tapi karenanya pula, Ana yang biasanya bisa membalas dengan menggoda suaminya, kini malahan benar-benar ditekan oleh dominasi yang suaminya miliki.


Tangan Ken sudah memenjarakan Ana di sisi kanan dan kiri kepalanya. Ken mendekatkan wajahnya ke telinga Ana lalu berisik mesra di sana.


"Imbalan yang sudah semestinya ku terima!", lalu ia hembuskan nafas hangat dari mulut di belakang telinga Ana hingga ke bagian lehernya.


Ana menggelinjang, tubuhnya menegang seperti tersengat aliran listrik. Ana melipat bibirnya ke dalam agar tak mengeluarkan suara desahan. Ia benar-benar menahannya karena tau betul mereka saat ini berada dimana, di ambang pintu dimana setiap orang yang melewati kamar mereka pasti akan mendengarnya.


Mata Ken yang penuh hasrat sudah mengarah pada bibir manis merah muda milik Ana. Sudah ingin ia terkam bibir itu dengan ganasnya. Tapi,,, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.


tok! tok! tok!


Ken belum menghiraukannya, ia masih berusaha untuk mendapatkan bibir istrinya.


tok! tok! tok!


Kali ini Ken sudah menggertakkan giginya karena terusik. Namun matanya masih penuh damba kepada istrinya.


"Ken! Kau di dalam? Ken buka pintunya! Apakah kau baik-baik saja! Ken! Aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja! Ken tolong buka pintunya!", seru Joice sedikit kencang dan tidak sabar.


Teriakan itu membuat Ken benar-benar murka. Ia mengusap kasar wajahnya. Lagi-lagi ia harus menahan hasrat yang sudah ia tahan sejak tadi kepada istrinya. Tapi Ana malahan menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi kesal suaminya.


"Bukalah! Calon istrimu sepertinya sangat mengkhawatirkanmu, sayang!", Ana mendekatkan wajahnya lalu berbisik pelan.


Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pintu. Memegang kenop pintu sambil menoleh ke arah Ken dengan senyuman. Ana benar-benar puas melihat suaminya itu dengan wajah kesalnya. Saat ini wajah Ken sudah memerah seperti kepiting rebus, bahkan seperti ada kepulan asap di atas kepalanya. Ana terkekeh sebelum akhirnya membuka kenop pintu secara perlahan lalu ia bersembunyi di balik pintu sambil memandangi wajah suaminya yang benar-benar kesal sedang menatap tak rela ke arahnya.


"Ken!", Joice langsung menyerobot masuk ke dalam kamar.


Wanita itu langsung terpana dengan pemandangan yang Ken sajikan untuknya. Benar saja, karena merasa ia akan bertempur dengan istrinya, Ken saat ini tengah bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana satin panjang berwarna hitam. Niat awalnya adalah untuk menggoda Ana, tapi sekarang malahan Joice yang tergoda.


Selama bertahun-tahun Joice mengenal Ken, satu kalipun ia tak pernah mendapat sebuah kesempatan untuk melihat pemandangan indah ini. Ken selalu menjaga tubuhnya untuk tidak sembarangan dilihat apalagi disentuh oleh sembarangan wanita sejak dulu. Jadi dada yang telanjang ini, membangkitkan hawa panas pada tubuh Joice.


Lagi, Ken meraup wajahnya kasar sambil membuang nafasnya panjang.


"Ada apa?", tanya Ken dingin.

__ADS_1


"Ehmm,, itu Ken!", Joice masih berusaha menyatukan pikirannya karena saat ini ia tengah membayangkan sesuatu yang panas bersama dengan Ken.


"Ada apa! Cepat!", ucap Ken tak sabar. Ia ingin wanita itu cepat-cepat pergi dari kamarnya.


"Itu, tadi aku melihat hantu masuk ke dalam kamarmu! Apakah kau merasa ada yang aneh barusan. Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Aku khawatir padamu, jadi meskipun takut, aku beranikan diri untuk menemuimu!", jelas Joice dengan wajah khawatirnya.


"cekk!",Ken berdecak kesal sebelum menjawab.


"Tidak ada apa-apa dari tadi sini. Dan aku malahan terganggu dengan kehadiranmu", jawab Ken dingin.


"Ken, mengapa kau begitu dingin padaku?! Besok kita akan menikah, bukankah ada baiknya jika kita saling mendekatkan diri?!", Joice merangkul lengan Ken lalu menggesekkan dadanya di sana. Dan tanpa sengaja wanita itu memang hanya menggunakan gaun tidur berwarna hitam dengan bentuk v pada dadanya, lalu dengan sengaja pula ia memperlihatkan belahan dadanya.


Ken menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia keluarkan sekaligus dengan kasarnya. Joice benar-benar menguji kesabarannya. Jika itu adalah wanita lain, maka ia sudah akan membanting wanita itu ke lantai karena sudah bertindak kurang ajar kepadanya. Mengingat hari esok adalah final untuk Joice maka Ken akan memberikan sedikit diskon untuk tidak menghukum wanita licik itu.


Ken melepaskan tangan Joice dengan kasar, lalu ia berjalan ke arah tempat tidur. Joice yang melihat hal itu berpikir jika Ken akan menerima tawarannya dengan mengajaknya ke ranjang tanpa bersuara. Tapi saat baru beberapa langkah mendekati Ken, sesuatu malahan menimpa kepalanya.


Ken meraup bed cover yang menutupi ranjangnya. Lalu ia angsurkan bed cover itu ke atas kepala Joice hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya. Joice gelagapan di dalam sana. Sambil tangannya meraba-raba, sambil mulutnya berteriak juga.


"Ken, gelap! Tolong aku, Ken! Kenapa ini gelap! Tolong!", racaunya dari salam sana.


Lalu dengan satu jari telunjuknya saja, Ken mendorong gundukan yang sepertinya itu adalah kepala Joice keluar kamar. Joice yang masih sibuk dengan benda yang menutupi kepalanya itu hanya ikut terbawa mundur ke belakang.


"Kembali ke kamarmu, sekarang! Dan jangan coba-coba untuk menggangguku lagi, mengerti!", perintah Ken dengan suara tegas.


brakk


Lalu pintu itu ditutup dari dalam dengan keras. Hingga Joice melonjak kaget dan bed cover itu berangsur turun ke bawah dengan sendirinya.


"Huh!", Joice kesal sambil melampiaskan amarahnya ia meremas bed cover itu kencang-kencang. Gagal lagi, usahanya kali ini gagal lagi. Memang benar, tidak pernah ada yang bisa menggoda Ken karena pria itu seakan memiliki tameng yang kuat untuk dirinya sendiri.


"Tidak mungkin Ken suka sesama jenis, kan?!", gerutu Joice sambil lalu berjalan ke arah kamarnya sendiri. Hampir semua laki-laki normal jika disuguhkan sajian menggoda seperti yang Joice lakukan pasti akan langsung menyerah dengan sesuatu dalam dirinya. Tapi dengan Ken, semua itu seakan tidak berguna.


Hanya saja Joice tidak tau jika istrinya yang melakukan hal seperti itu, maka Ken akan dengan senang hati menyambut godaan yang memabukkan itu.


Pintu sudah ditutup. Kini Ken beralih ke arah Ana yang sedang membekap mulutnya. Tentu saja Ana sedang menahan tawanya yang jika meledak akan sangat keras terdengar. Ken menatap Ana tajam. Lalu tanpa kata lagi, ia langsung menggendong Ana dan membawanya ke ranjang.


Bagaimana tidak dua kali lipat, Ana telah membuat Ken menunggu, lalu malahan ia dibuat harus menghadapi Joice yang malahan menggodanya. Hal itu benar-benar menguji kesabaran Ken tentunya. Maka dari itu Ken sudah berjanji, malam ini ia akan membuat istrinya benar-benar memberinya imbalan yang sepantasnya. Ia tak peduli dengan acara besok pagi, yang terpenting baginya adalah malam ini. Dan jadilah malam itu menjadi malam yang panjang dan melelahkan bagi mereka berdua.


***


Eloknya fajar telah menyingsing di ufuk timur. Pagi ini di villa yang sama, akan diadakan sebuah acara. Acara yang sangat penting karena banyak hiasan rangkaian bunga dimana-mana. Hari ini, adalah hari yang telah ditunggu oleh Joice, sangat lama hingga memakan waktu beberapa tahun lamanya. Hari ini ia akan menikah dengan pria idamannya, yaitu Ken. Keanu Wiratmadja, pengusaha muda sukses yang merupakan teman kuliahnya juga. Usahanya tak terasa sia-sia selama bertahun-tahun ini untuk mengejar Ken dengan menyamakan posisinya agar setara dengan Ken yang selalu hebat itu. Joice melempar senyumannya pada cermin di meja riasnya.


Wanita itu sudah selesai mandi, lalu ia akan memakai gaun pengantinnya. Gaun yang telah ia pilih tempo hari di Butik Aslan. Saat ini ia tengah dirias oleh penata rias khusus yang Ken pesan untuk datang ke villanya.


"Hari ini, setelah hari ini semua impianku akan jadi kenyataan!", Joice kegirangan dalam hati.


***


Di kamar Ken dan Ana


"Apakah semuanya sudah siap?", tanya Ken pada sambungan teleponnya.


"Sudah!", jawab Ben datar.


"Lalu bagaimana dengan polisi, apakah kau sudah menghubungi polisinya?", tanya Ken lagi.


"Hah! Aku malas berurusan dengan polisi, sangat merepotkan. Kau saja yang urus, atau suruh saja asisten pribadimu itu!", sahut Ben dengan nada malasnya.


"Dasar kau! Baiklah kalau begitu aku tutup! Pastikan semua berjalan dengan lancar!", perintah Ken lagi lalu dengan santainya ia menutup panggilan itu.


"Hey, kau pikir siapa bosnya!", Ben berteriak marah pada ponsel di tangannya. Yang jelas itu adalah bentuk pelampiasannya kepada seseorang yang meneleponnya barusan. Lalu ia melempar ponselnya kasar.


Setelah menutup panggilan itu, Ken masih berdiri menatap keluar jendela sambil menikmati indahnya mentari terbit. Rasanya tenang di hatinya, rasanya hangat di jiwanya. Sekarang rencana terakhir mereka akan jalankan. Ken berharap setelah ini mereka akan merasakan masa-masa damai untuk saling mencintai satu sama lainnya.


"Ken!", terdengar panggilan lirih dari arah ranjang. Ken segera menoleh dan berjalan mendekat ke sana.


"Ken!", wanitanya memanggil dengan suara khas bangun tidur. Ana yang masih hanya terbalut selimut sampai ke dadanya tiba-tiba merentangkan kedua tangannya ke atas.

__ADS_1


"Kau ingin dipeluk?", Ken mengulas senyumnya.


Ana mengangguk dengan senyum manjanya.


"Baiklah!", Ken segera memeluk Ana yang masih berbaring di ranjang lalu meninggalkan kecupan hangat di keningnya.


"Mau mandi?", tanya Ken lagi.


"Tentu saja! Tapi gendong aku ya bawa aku ke kamar mandi, tubuhku sakit semua, hehe", seru Ana manja. Lalu terkekeh sendiri mengingat kejadian semalam yang membuat mereka berdua mabuk kepayang.


"Baiklah!", Ken meraih tubuh Ana dan ia angkat dengan mudahnya. Lalu ia bawa tubuh istrinya itu ke dalam kamar mandi. Dan akhirnya mereka pun mandi bersama dengan satu ronde di tengah kegiatan mereka.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Joice hampir siap dengan riasannya. Hanya tinggal rambutnya saja yang belum ditata. Sambil mengunyah sarapannya, ia terus memandangi pantulan wajahnya di cermin.


"Astaga aku cantik, sekali!", Joice memuji diri sendiri. Lalu penata rias itu malahan. tersenyum sambil menggeleng lagi.


"*Wanita ini begitu percaya diri, gumam penata rias itu dalam hati.


"Padahal tetap saja bagiku tetaplah lebih cantik Nona Ana. Bahkan tanpa riasan pun Nona sudah cantik mempesona" ujar penata rias itu lagi dalam hatinya*.


Penata rias itu adalah penata rias yang biasa digunakan oleh Ken dan Ana saat mereka menikah kapan hari. Maka dari itu ia bisa membandingkan lebih cantik mana antara Joice maupun Ana.


***


"Apakah kau sudah siap?", Ana memakaikan dasi kupu-kupu pada kerah kemeja yang Ken kenakan. Saat ini Ken memakai setelan jas berwarna putih agar senada dengan gaun yang Joice pakai nanti.


"Apakah kau tidak ingin memakai gaun pengantin juga?", tanya Ken memastikan lagi. Sejujurnya ia merasa tak enak hati melakukan ini semua di depan Ana nanti.


"Tidak!", jawan Ana tegas sambil membenarkan lekukan-lekukan jas yang Ken kenakan. Lalu ia akhiri dengan beberapa tepukan di bahu prianya itu. Isyarat bahwa Ken sudah rapih sempurna dan ini memang sudah waktunya.


"Aku tidak sudi memakai gaun yang sama seakan-akan aku merebut kekasihnya saja. Lagipula apapun yang aku kenakan aku tetap terlihat cantik bukan?!", tak lupa Ana menyisipkan kedipan matanya kepada Ken suaminya.


"Istriku memang yang paling cantik!", puji Ken seraya mencubit gemas dagu istrinya. Pagi ini Ana memilih menggunakan gaun putih selutut dengan renda di bawahnya dan bordiran bunga-bunga kecil di seluruh gaun tersebut. Gaun yang sederhana tapi tetap terkesan elegan saat Ana yang memakainya.


"Jika saja tidak ada acara menyebalkan ini, mungkin aku sudah memakanmu sekarang!", gurauan Ken sukses membuat pipi Ana memerah lagi.


"Oke, cukup! Lebih baik sekarang kau pergilah sebelum ada yang melihatmu sedang berbicara dengan hantu!!", Ana dan Ken malah tertawa bersama mengingat kejadian semalam saat Joice mengira bahwa Ana adalah hantu.


"Apa kau sudah menelpon pihak kepolisian?", tanya Ana serius kali ini.


"Han sudah mengurusnya!", jawaban Ken membuat Ana menghela nafasnya lega.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita turun dan mulai melakukan perhitungan dengan wanita licik itu!", mereka berdua keluar dari kamar itu secara terpisah agar rencana mereka berjalan dengan lancar. Mereka telah siap untuk membalaskan dendam Ana maupun yang lainnya kepada wanita licik yang telah bermain dengan nyawa dan takdirnya itu.


-


-


-


-


-


Jangan lupa ya ikutin kisah Ben dan Rose di novel aku yang satunya dengan judul


🌹"Hey you, I Love you!"🌹


Dan terutama jangan lupa juga buat tinggalin like, vote sama komentar kalian,, okeh 😉


Love u teman-teman 😘


Stay strong and keep healthy ya 🥰


oh iya follow ig aku ya di @adeekasuryani

__ADS_1


nanti aku folback kalian lagi,, tambah banyak temen tambah bagus kan 😊


__ADS_2