Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 159


__ADS_3

"Ibu!", Sarah menangkap tangan ibunya yang sedang membelai lembut rambutnya. Lalu digenggamnya tangan ibunya itu.


"Ada apa?", wajah Ibu Asih penuh minat namun ia berusaha untuk tetap tenang dan bertutur lembut.


"Aku ingin pergi dari sini, Bu!", ucapan Sarah membuat mata Ibu Asih melebar sempurna.


"Kakak! Apa yang kakak bicarakan?!", tiba-tiba Sandi muncul di sana.


"Tapi Sandi,,,,", Sarah menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sambil menyembunyikan apa yang tengah ia rasa saat ini.


"Jangan lari lagi seperti dulu, kak! Hadapilah masalah ini dengan kuat. Ada aku dan Ibu di sini menemani kakak", Sandi berjongkok di hadapan kakaknya sambil mengusap lengan Sarah lembut menyalurkan energi positif agar kakaknya lebih tegar.


"Benar apa yang Sandi katakan Sarah. Kau harus menghadapinya! Ibu akan selalu mendukungmu, tapi tidak dengan pergi dari sini", Ibu Asih berkata lembut namun tegas di akhirnya. Menekankan Sarah bahwa tidak seharusnya ia kembali lari dari kenyataan seperti sebelumnya. Putri sulung harus menjadi wanita yang kuat.


"Lagipula Ibu sudah tua, Sarah. Penyakit Ibu sudah seperti ini. Siapa lagi yang akan menjaga ibu selain kamu dan Sandi. Jadi jika Sandi pergi bekerja, paling tidak Ibu masih memiliki putri Ibu di sini", Ibu Asih menatap putrinya sendu begitupun bergantian ke arah putranya.


deg


Hati Sarah seperti dicambuk. Bagaimana bisa dia jadi begitu egois seperti ini, sampai melupakan penyakit jantung ibunya yang sudah kronis. Ibunya tentu memerlukan dirinya untuk selalu setia di sampingnya. Meskipun masih ada Sandi di sana, tapi ibunya tentu lebih membutuhkan perhatian dari dirinya yang merupakan seorang anak perempuan.


Tapi begitu mengingat lagi bagaimana tadi hatinya terasa dicabik begitu mendengar ucapan pria gila itu, sedikit bergoyang keputusannya saat ini. Sarah memang belum menceritakan secara detail dari awal hingga akhir mengenai permasalahan yang tengah dia hadapi. Jadi saat ini, ia memang dituntut untuk membuat keputusan seadil mungkin untuk dirinya maupun keluarganya.


"Hah!", Sarah menarik nafas dalam-dalam setelah itu menghembuskannya sekaligus dengan cepat.


"Baiklah! Sarah akan tetap di sini. Tapi boleh kan besok Sarah pergi berlibur. Sarah ingin mencari udara segar untuk menjernihkan pikiran, Bu", pinta Sarah pada ibunya. Memohon izin pada orang tua adalah utama baginya.


Baik Ibu Asih maupun Sandi, keduanya saling melemparkan pandangan. Wajah mereka terlihat enggan, tapi mimik wajah Sarah begitu mengharapkan.


"Pliiisss!", Sarah memasang wajah imutnya.


"Baiklah! Aku akan ikut, aku akan menemani kakak! Tidak baik anak gadis pergi jalan-jalan sendirian", Sandi mengeluarkan suara dengan wajah bijaknya seakan-akan ucapannya adalah keputusan yang paling benar.


"Tidak!", sergah Ibu Asih cepat.


Kedua anaknya menatap Ibu Asih dengan kebingungan yang besar di kepala mereka. Apalagi yang ibunya ini pikirkan?


"Tidak ada yang boleh berangkat!,,,,, Kecuali ibu ikut dengan kalian!", Ibu Asih memamerkan deretan gigi putihnya dengan begitu bahagia. Memangnya hanya anak-anak yang butuh hiburan, orang tua itu juga merasa membutuhkannya, bukan.


"Ya ampun, Ibu! Aku pikir apa?!", sebuah senyuman lolos dari bibir Sarah. Ibu Asih dan Sandi menatapnya dengan begitu bahagia. Akhirnya wanita itu bisa sedikit melupakan masalahnya.


"Tapi Sandi, bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau baru saja bekerja, bukan?", Sarah baru ingat mengenai hal ini. Jangan sampai gara-gara dirinya, adiknya itu jadi pengangguran lagi.


"Jangan khawatir, kakak! Statusku saat ini masih pekerja paruh waktu. Jadwal kerjaku dua hari sekali, kak. Jadi besok aku libur, dan kita akan liburan tentunya!", sorak Sandi kegirangan. Begitu pun dengan Ibu Asih dan juga Sarah yang larut dalam rasa gembira mereka kali ini.


***


Sarah sudah selesai membersihkan diri. Kini ia sudah berganti dengan kaos longgar dengan gambar beruang coklat di tengahnya dan juga celana pendek setengah paha, setelan favoritnya untuk tidur di setiap malamnya. Rambutnya yang tak begitu panjang sudah ia sanggul asal ke atas.


Tangannya menscroll layar ponselnya berulang kali dengan rasa kegelisahan yang ada. Dirinya dilanda perasaan bimbang dimana ia harus menceritakan hal ini kepada Ana ataupun tidak. Untuk urusan ini, ia telah memilih untuk tidak pergi meninggalkan ibunya seorang diri. Tapi di lain sisi, ia masih belum ingin bertemu dengan pria gila itu lagi. Hatinya yang masih ingat betul rasa nyeri yang tadi datang menghampiri.


Tangannya sudah bergerak menulis di papan teks, sempat ragu ia menghapus pesan itu kembali. Tapi lalu ia ketik lagi dengan kalimat yang benar-benar pas menurutnya. Hingga akhirnya, sebuah pesan terkirim kepada kontak bernama "Ana".


***


Waktu sudah hampir larut malam. Rintik hujan pun sudah mulai berhenti menyisakan dingin yang menusuk ke tulang. Tapi bagi sepasang pengantin baru ini setiap malamnya mereka tetap merasa hangat, karena mereka saling memeluk satu sama lain.


Setelah acara makan malam, Ken memutuskan untuk kembali ke ruang bacanya untuk memeriksa beberapa pekerjaan. Tak begitu lama, kemudian ia kembali ke kamar dan mendapati istrinya itu masih terjaga dengan ponsel di tangannya. Mata Ana sejenak melebar ketika memainkan ponselnya, tapi untung saja Ken tak memperhatikan hal itu. Setelah urusannya selesai dengan ponselnya, Ana buru-buru mengajak suaminya itu untuk lekas tidur dengan dalih sudah sangat lelah dan ingin dipeluk. Tentu saja Ken tak keberatan dengan sikap manja istrinya, malahan ia sangat menyukainya karena wajah Ana terlihat lebih menggemaskan bagi pria itu.


Ana belum memejamkan matanya sejak tadi di pelukan suaminya. Ia berusaha menjaga matanya tetap terbuka karena ia sudah memiliki janji dengan seseorang untuk bertukar kabar. Dengan perlahan, Ana mencoba meraih ponselnya yang berada di atas nakas di samping kepalanya. Ia melihat jam sudah menunjukkan waktu yang ditentukan, sudah jam sebelas malam sekarang.

__ADS_1


Ana mengecek tingkat kesadaran suaminya. Ia sedikit mengguncang tubuh pria itu, namun tak ada gerakan. Lalu ia mencoba memanggil-manggil nama pria itu pun sama tak mendapat jawaban, hanya lenguhan tidak jelas yang keluar dari mulutnya. Ia dekatkan telinganya ke dada suaminya, dan benar saja nafasnya sudah teratur di sana. Lalu dengan amat hati-hati Ana menyingkirkan tangan Ken yang melingkar di pinggangnya. Ana sudah berdiri sambil memegangi ponselnya.


"Maaf ya, sayang! Aku punya misi penting kali ini. Dan kau tak boleh tau!", bisik Ana setelah mendaratkan sebuah kecupan di kening suaminya.


Situasi sudah aman sekarang, lalu ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk menjalankan misi selanjutnya. Sejenak ia membuka isi pesan yang sejak tadi sudah ia baca.


*Sarah:


Ana, aku perlu bicara denganmu sekarang. Ini penting. Tapi bisakah untuk suamimu tidak mengetahuinya. Karena ini berhubungan dengan Sam, adiknya. Aku perlu bicara denganmu malam ini juga*.


Ana:


Ada apa? Kau membuatku penasaran saja. Baiklah, nanti jam sebelas aku akan menelponmu. Tunggu aku! Aku akan menyelesaikan tugasku dulu di sini


*Sarah:


Baiklah, aku menunggu*


Dalam balasan pesan itu, Sarah membacanya dengan ekspresi geli. Pikiran Sarah sudah melayang-layang entah kemana. Memikirkan adegan panas yang akan dilakukan Ana dengan suaminya, yang menurut Sarah itulah tugas yang Ana maksud. Padahal tugas sesungguhnya saat ini adalah membuat Ken cepat tertidur bagi Ana. Dan itu sangat mudah karena adegan yang Sarah bayangkan, sudah terjadi berjam-jam sebelumnya. Jadi Ana pikir, saat ini suaminya itu sangat membutuhkan istirahat. Maka jadilah ia meninggalkan Ken dalam kondisi tertidur pulas.


"Halo Sarah!", sapa Ana setelah teleponnya terhubung. Suaranya ia buat sepelan mungkin.


"Ya, Ana! Bagaimana, apakah aman?", tanya Sarah sedikit khawatir.


"Aman! Tenang saja! Ken sudah bermimpi indah, dan aku ada di kamar mandi sekarang. Cepat katakan ada apa! Kenapa kau membuat orang penasaran saja!", Ana masih berbisik di sana.


"Aku bingung memulainya darimana, mungkin butuh satu abad lamanya", Sarah terkekeh di seberang saluran sana.


"Jelaskan saja, cepat!", sahut Ana tidak sabar.


"Jadi begini! Tolong jangan katakan kepada Sam tentang keberadaanku, Ana. Aku sangat memohon kepadamu", pinta Sarah serius.


"Hey, ada apa sebenarnya?! Kupikir kalian akan baik-baik saja bahkan akan lanjut ke tahap selanjutnya setelah di mengorbankan nyawanya", Ana sempat menaikkan intonasinya karena terkejut dengan permintaan Sarah yang mendadak ini. Tapi lalu ia kembali mengatur suaranya agar tetap berbisik.


"Tapi kenapa? Ada apa? Aku masih tidak mengerti, Sarah!", Ana masih ingin meminta penjelasan lainnya. Ia yakin masih ada hal penting lainnya yang Sarah belum ucapkan.


"Tadi aku ke rumah sakit untuk menjenguknya. Lalu, aku mendengar bahwa sejak awal dia hanya bermain-main denganku saja, Ana. Pria gila itu tak pernah memiliki ketulusan, Ana", seru Sarah mulai emosional.


"Bagaimana mungkin, Sarah! Pasti kau salah paham! Sudah beberapa kali Sam meminta bantuanku untuk mendekatkan dirimu dengannya", Ana mencoba menjelaskan duduk permasalahannya dengan tenang.


"*Tapi aku mendengar hal itu dari mulutnya langsung, Ana", nada bicara Sarah mulai naik.


"Hah!", sepertinya ia sedang menetralisir emosinya saat ini.


"Sudahlah, Ana. Aku lebih percaya apa yang aku dengar dan aku lihat. Lagipula kondisinya rumit saat ini. Dan aku tak ingin berharap kepadanya. Jadi tolong hargai keputusanku!", Sarah berucap setenang mungkin meski hatinya bergemuruh saat mengingat bagaimana perasaannya saat ini*.


"Baiklah! Baiklah! Apapun keputusanmu aku akan selalu mendukungmu. Tapi ingat, kau masih berhutang penjelasan kepadaku!", Ana mengalah. Memang tak seharusnya mereka berdebat. Sebagai sahabat, tugas Ana adalah mendukung apapun jalan yang akan dipilih sahabatnya.


"Besok aku akan pergi dengan Ibu dan Sandi. Jika mereka bertanya kepadamu, katakan saja tidak tau. Oke!", perintah Sarah dengan nada memohon.


"Baiklah! Aku mengerti!", Ana refleks mengangguk meski Sarah tak melihatnya.


"Terima kasih, Ana! Aku sangat menyayangimu!", ucap Sarah tulus.


"Aku juga sangat menyayangimu, Sarah! Kau sudah seperti keluarga bagiku!", balas Ana tak kalah tulusnya.


"Baiklah, aku tutup sekarang ya! Aku takut suamimu akan bangun dan kita akan ketahuan. Beberapa hari lagi aku akan menemuimu. Nanti aku akan mengabarimu lagi. Bye!", Sarah menutup sambungan telepon itu terlebih dahulu.


Ana pun segera menjauhkan ponselnya dari telinganya. Entah apa yang terjadi sebenarnya, Ana belum tau pasti. Tapi ia sangat yakin bahwa ini hanyalah kesalahan pahaman belaka. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tersimpan amat dalam dari diri Sarah dan itu terasa menekan hati dan perasaannya. Baiklah, Ana akan menunggu Sarah menjelaskan semuanya sebelum ia memilih tindakan apa yang cocok untuk membantu sahabatnya itu menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


Setelah menghela nafas berulang kali untuk menetralisir rasa gugupnya karena akan kembali lagi ke ranjang, akhirnya wanita itu mulai melangkah menuju pintu kamar mandi. Ia sudah menekan kenop pintu itu lalu menariknya ke belakang. Dan,,,


"Aaakkhh!!!", Ana berteriak kencang saking terkejutnya. Bahkan tubuhnya terperanjat ke belakang dan hampir jatuh jika saja Ken tidak menangkap dan mendekapnya seperti sekarang ini.


Barusan, saat Ana membuka pintu, Ken sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi sambil bersandar dan melipat tangan di depan dadanya. Matanya memancarkan aura interogasi yang kuat. Hanya saja tidak terlalu tajam seperti yang biasa ia tunjukkan kepada yang lainnya. Masih ada tatapan kasih sayang di sana.


"Terkejut?", tanya Ken dingin.


Ana melipat mulutnya dalam-dalam. Menatap wajah prianya sambil takut-takut. Karena lidahnya pun kelu untuk mengeluarkan satu katapun dari mulutnya. Hanya anggukan kepala yang teramat berat yang bisa ia lakukan.


"Kenapa terkejut?", tanya pria itu lagi masih sambil mendekap tubuh istrinya dengan erat.


"A,, aku,, aku habis buang air besar! Ya, buang air besar! Tadi tiba-tiba perutku sakit, jadi aku bangun untuk buang air besar. Mungkin karena aku terlalu banyak makan tadi", jelas Ana dengan cepat sambil menyembunyikan rasa gugupnya yang kuat.


"Benar begitu, sayang?", tanya Ken sambil mengeluarkan senyum jahatnya.


"Tentu saja benar, sayang!", Ana tidak tau lagi harus bagaimana jadi ia sengaja bersikap manja sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Baiklah! Aku percaya!", Ken memberikan kecupan singkat di bibir istrinya lalu tersenyum.


"Kalau begitu ayo kita tidur lagi, sayang!", ajak Ana sambil menarik lengan suaminya dengan manja.


"Baiklah!", Ken mengikuti langkah Ana sambil tersenyum. Tapi senyumnya hilang saat ia menoleh ke arah nakas di sudut dekat pintu kamar mandi. Terdapat ponsel Ana yang tergeletak di sana.


"Kau tidak pandai berbohong, sayang!", ucap Ken dalam hati.


Lalu mereka pun tertidur kembali sambil memeluk satu sama lain. Mata Ana mulai terpejam namun mata suaminya masih nyalang menatap ke depan.


# FLASHBACK ON


Saat Ana mulai mengangkat tangan Ken dan menyingkirkannya, sebenarnya pria itu mulai sadar dari tidurnya. Tapi ia memilih untuk tetap diam dan mengikuti permainan istrinya. Saat Ana mengguncang tubuhnya, saat Ana memanggil-manggil namanya, ia tetap berusaha mempertahankan ekspresi tidur pulasnya. Hingga Ana sudah menutup pintu kamar mandi, barulah Ken bangun dari tempat tidur dan menyusul ke sana. Ken memasang indera pendengarannya ke arah daun pintu.


Hampir saja ia menggeram marah jika saja orang yang sedang bercakap dengan istrinya itu adalah seorang pria. Tapi hatinya langsung mencelos lega karena ternyata itu hanyalah Sarah, sahabatnya. Setelah mencuri dengar percakapan itu, Ken jadi paham kecemasan apa yang melanda istrinya sejak tadi saat makan malam. Dan mengenai adiknya, Sam. Ken akan mencoba mencari tau besok saat mereka menjenguknya. Seserius apa masalah ini, mungkin ia tak dapat membantu banyak. Karena bagaimanapun juga yang menentukan segalanya adalah kedua orang itu.


Lalu saat Ana membuka pintu, wanita itu sebenarnya hanya melebih-lebihkan akting terkejutnya supaya bisa meletakkan ponselnya di atas nakas di sudut dekat pintu kamar mandi. Dan Ken melihat hal itu.


Dan karena ia pun sudah mengetahui semuanya, jadi ia tak mempermasalahkan hal-hal lainnya. Karena memang Ana tidak melenceng dari yang ia duga. Ini hanya rahasia antara wanita, pikirnya. Maka Ken tak mau ambil pusing dan memilih untuk tidur lagi, kembali ke alam mimpi bersama istri tercintanya.


# FLASHBACK OFF


-


-


-


-


-


jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya 😁


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


terimakasih teman-teman πŸ˜‰

__ADS_1


love you semuanya 😘


keep strong and healthy ya πŸ₯°


__ADS_2