
"Whaatt?!", teriak Ana yang begitu terkejut dengan kedatangan seseorang itu.
***
"Ada apa?", tanya Tuan Danu yang sudah berada di dekat Ana.
"Ken ayah, Ken!", ucap Ana masih dengan keterkejutannya.
"Ada apa dengan Ken?", Tuan Danu mengerutkan alisnya dalam.
"Ken datang ayah, Ken datang! Aku masih berantakan sekarang. Aku belum berdandan ayah!", ucap Ana panik sambil sesekali membenarkan rambutnya yang hanya di sanggul asal ke atas.
"Astaga Ana, begitu saja kau sudah panik!", Tuan Danu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ya sudah, kau berdandan atau apalah sesuka hatimu. Ayah akan menemani Ken dulu. 15 menit, jika dalam waktu 15 menit kau tidak turun, maka ayah akan menyuruh Ken pergi", ucap Tuan Danu sedikit mengancam.
"Baiklah, baiklah! 15 menit ayah, 15 menit aku janji!", ucap Ana seraya mendorong ayahnya keluar dari kamarnya.
Tuan Danu menuruni anak tangga sambil terkekeh mengingat tingkah putrinya. "Ternyata seperti ini rasanya memiliki seorang putri yang sedang jatuh cinta!", ucapnya sambil tersenyum.
Saat menuruni anak tangga, Tuan Danu mendengar beberapa pelayannya sedang bergosip mengenai putrinya yang kedatangan calon suaminya. Mereka terlihat sangat antusias dan beberapa di antaranya turut bahagia dengan kabar tersebut. Tuan dan Nona mudanya itu memang pantas mendapatkan kebahagiaan, karena menurut mereka Tuannya itu adalah orang yang sangat baik. Tuan Danu menanggapi obrolan mereka dengan senyuman tanpa merespon ke arah mereka.
"Siang Ken!", sapanya pada Ken yang tengah duduk dengan elegannya di ruang tamu.
"Oh siang, Paman!", Ken menghampiri Tuan Danu dan mereka saling berpelukan.
"Jadi inikah calon suami dari putri kesayanganku?", ucap Tuan Danu yang sudah berwajah serius dan sudah duduk di sofa tunggalnya.
"Ya, tapi maaf paman karena aku belum melamar putrimu secara resmi. Itu karena dia belum menerimaku sepenuhnya", ucap Ken lugas.
"Benarkah? Kupikir dia sangat menyukaimu sejak dulu, haha", Tuan Danu terbahak mendengar penuturan Ken.
__ADS_1
"Benarkah?!", Ken berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Apakah kau tidak mempercayai ucapan ayahnya?", ucap Tuan Danu sambil menahan senyumnya.
"Maaf, tapi aku hanya sedang meyakinkan diriku saja Paman. Dan terima kasih untuk informasi pentingnya", Ken tersenyum ke arah Tuan Danu.
"Tapi mengapa harus putriku, Ken. Bukankah kau di kelilingi wanita-wanita berkelas yang begitu menginginkan menjadi pendampingmu. Sedangkan Ana, aku tahu bahkan dia sudah menyembunyikan jatidirinya dengan cukup baik. Sejujurnya aku tak ingin dunia mengetahui putriku", ucap Tuan Danu tulus.
"Karena dia berbeda, Paman. Karena dia tidak mengemis perhatianku dan dia menjadi dirinya sendiri saat bersamaku. Tidak seperti wanita lain yang memakai topengnya demi bisa mendekatiku dengan berbagai tujuan mereka", jelas Ken dengan wajah serius.
"Tapi, maaf Paman jika aku lancang. Mengapa kau menyembunyikan mutiara indahmu itu selama ini, Paman? Jika Paman tak ingin menjawabnya, aku tak keberatan", tanya Ken menyipitkan matanya mencoba mengawasi perubahan ekspresi Tuan Danu.
Tuan Danu nampak ragu menjawab pertanyaan yang Ken ajukan. Tapi bagaimana pun juga, kelak Ana memang akan bersama dengan Ken. Sedangkan dirinya yang sudah berumur tak mungkin menjaga Ana selamanya. Tiba-tiba dia ingat akan permintaan yang sudah dijanjikan oleh Ken untuknya. Wajah Tuan Danu berubah sendu.
"Ken", panggilnya yang kini sedang menatap kosong ke sembarang arah.
"Ya, Paman", Ken menyelidik ke arah ekspresi Tuan Danu.
"Katakan saja, Paman. Selama aku bisa, aku pasti akan mewujudkannya", ucap Ken.
"Ken, tolong jagalah putriku selama sisa hidupmu!", ucap Tuan Danu sedikit ragu. Dia mencondongkan tubuhnya menunggu jawaban dari Ken.
Ken belum memberi jawabannya. Dia terlihat masih mencerna kalimat yang diucapkan lawan bicaranya itu.
"Ken", panggil Tuan Danu yang melihat Ken masih terdiam.
"Ah iya, Paman!", Ken gelagapan dibuatnya.
"Apakah permintaanku terlalu berlebihan? Apakah hal itu terlalu berat untukmu? Tidak apa-apa Ken, katakan saja!", ucap Tuan Danu tulus.
"Ah, tidak Paman. Bukan begitu maksudku. Aku hanya terkejut mendengarnya. Masalahnya aku saja belum melamar putrimu secara langsung, tapi sekarang kau malah menyerahkan Ana begitu saja padaku. Tentu saja aku sangat senang, Paman. Secara tidak langsung kau telah merestui hubungan kami, bukan?! Lalu mengenai permintaanmu, tentu saja Paman. Selama sisa hidupku, aku akan selalu menjaganya. Aku akan berusaha untuk membuatnya bahagia", tutur Ken dengan tulus.
__ADS_1
"Kau tahu bukan masalah keluargaku sudah mulai genting. Itulah mengapa aku menyembunyikan Ana selama ini. Karena aku tahu dengan semua bakat yang dimilikinya, dia akan bersinar terang Ken. Hal itu akan menjadi bahaya bagi dirinya, Ken. Jagalah dia Ken, aku percayakan putriku padamu", Tuan Danu tahu bahwa hanya Ken yang bisa menjaga putrinya dari kedengkian adik dan keponakannya itu. Sungguh ironi bagi hidupnya, keluarga yang bagaikan musuh untuknya.
"Tenang saja, Paman! Aku berjanji", ucap Ken dengan tatapan pasti. Karena dia tahu betul dengan apa yang dia rasakan pada Ana. Rasa cintanya tak main-main ia rasakan. Dia merasa bahagia saat Ana tersenyum. Dan Ken juga ingat saat dirinya hampir menyakiti Ana, perasaannya pun ikut tersakiti. Kebodohan yang membuat hatinya ikut berdenyut menahan sakit.
"Terima kasih, Ken!", ucap Tuan Danu tulus.
"Ayah!", Ana tiba-tiba muncul di ruang tamu.
"Hai!", Ana melambaikan tangannya pada Ken dan tersenyum manis. Kini dia sudah memakai dress rumahan berwarna peach dan rambutnya sudah diikat tinggi.
"Hai!", Ken membalas lambaian tangan Ken.
"Emm, ayah. Makan siang sudah siap. Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perbincangan serius kalian", ucap Ana yang sudah menyipitkan matanya ke arah Ken maupun ayahnya.
"Tapi Ana, aku baru saja akan mengajakmu makan siang di luar", ucap Ken tiba-tiba.
"Makan sianglah di sini. Suatu kehormatan bagi kami jika Presdir Ken yang terhormat bersedia makan siang di rumah kami yang kecil ini" ucap Tuan Danu seraya bangkit dari tempat duduknya. Ia merentangkan tangannya agar Ken bergabung dalam rangkulannya.
"Ah, Paman. Hentikan memanggilku seperti itu. Paman tahu kan, aku muak mendengar kalimat-kalimat seperti itu", ucap Ken dan menyambut rangkulan tangan Tuan Danu. Mereka terkekeh bersama sambil berjalan ke arah meja makan.
Ana memandangi kedua pria yang sangat dicintainya itu sambil tersenyum haru. Bulir air mata mengalir tanpa sadar di pipinya yang putih bersih.
FLASHBACK ON
Ana sedang menuruni anak tangga sambil bersenandung. Wajahnya terlihat berbinar saat itu. Saat akan sampai di ruang tamu, ia melihat ayahnya yang sedang membuat permintaan pada Ken dengan wajah sendu.
Ana menghentikan langkahnya dan memilih untuk bersembunyi di balik lemari kaca yang paling dekat ruang tamu sambil memasang indera pendengarannya.
Mata Ana berkaca-kaca mendengar pembicaraan kedua pria itu. Dirinya begitu terharu mendengar kedua pria itu sangat mencintainya. Dia merasa sangat beruntung memiliki mereka yang dengan sepenuh hati menjaga dan membahagiakannya. Akhirnya Ana memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya setelah ia rasa cukup sudah pembicaraan mereka yang makin membuatnya haru.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
Ana mengikuti langkah Ken dan ayahnya menuju meja makan. Dan mereka pun makan siang dengan beberapa obrolan dan candaan. Ken memandangi kedua ayah anak itu sambil tersenyum damai. Begitu bahagianya dia berada di tengah keluarga yang hangat ini.