Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 275


__ADS_3

"Ada apa ini, Ayah?", tanya Nyonya Rima saat melihat pintu mobil terbuka dan langsung disajikan pemandangan yang membuatnya agak tercengang.


"Tanyakan saja pada putramu yang nakal ini?!", dengan acuhnya Tuan Dion mengangkat kedua bahunya lalu berlalu ke arah dalam begitu saja.


Ia menatap suaminya yang melewatinya begitu saja dengan keheranan. Lalu ia alihkan perhatiannya pada putra bungsunya yang saat ini masih dalam kondisi tangan dan kaki terikat di dalam mobil itu.


"Bantu dia lepaskan ikatannya!", perintah Nyonya Rima pada salah satu pengawal yang baru saja keluar dari kursi depan.


"Bunda!", sambil merengut Sam mengadu pada ibunya itu perihal apa yang telah ayahnya lakukan padanya tadi. Diikat seperti ini sudah seperti seorang pencuri saja. Sam sangat kesal.


"Oohh,, jadi begitu!", sambil memegangi daguya, Nyonya Rima mengangguk-ngangguk memikirkan sesuatu.


"Iya, Bunda! Bukankah Ayah keterlaluan padaku?!", pria itu bergelayut manja di lengan ibunya. Seulas seringai muncul di bibirnya merasa akan dibela kali ini.


"Keterlaluan? Siapa yang kau bilang keterlaluan? Jelas-jelas yang keterlaluan itu kamu, Saaamm!!", dan akhirnya Sam mendapatkan banyak pukulan dari ibunya itu.


"Kau memang benar-benar anak nakal! Sudah mau menikah begini kau masih usah diatur, ya! Kau tidak bisa bertemu dengan Sarah sampai nanti hari pernikahan kalian, itu juga demi kebaikan kalian sendiri! Dasar anak nakal! Bagaimana nanti kau jika sudah punya anak Sam?! Apakah kau akan mengajari anakmu dengan kenakalan yang kau miliki ini, hah!", terus saja Nyonya Rima memukuli putra bungsunya itu melampiaskan kekesalannya.


Wanita paruh baya itu tidak berhenti meskipun anaknya itu sudah berkali-kali minta ampun untuk berhenti. Memang kenakalan Sam ini tidak ada bandingannya. Sudah mau menikah tapi tidak berubah juga.


"Tapi aku sangat merindukan Sarah, Bunda!", Sam mencoba membela diri sambil terus berputar mengitari tubuh ibunya itu berusaha menghindari pukulan ibunya yang lumayan sakit juga.


"Diam!", jari telunjuk Nyonya Rima berdiri tegap di hadapan wajah Sam berbarengan dengan mata yang terbuka lebar.


Ibunya itu benar-benar memberi peringatan rupanya. Wajah serius Nyonya Rima tak akan berani Sam bantah lagi. Jika sudah marah, ibunya itu sangat mirip dengan kakak iparnya, menyeramkan.


"Baik, Bunda!", bibir pria itu melengkung ke bawah.


Sam mengerucutkan bibirnya lalu menundukkan kepalanya lesu. Tak ada kata lagi yang mampu ia keluarkan lagi dari mulutnya.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?", sekarang Nyonya Rima sudah bisa mengontrol emosinya. Ia sudah lebih tenang dalam menghadapi putranya sekarang.


"Aku dibawa pulang ke rumah, tentu saja sekretarisku yang menyelesaikan sisa pekerjaanku di kantor! Tapi seperti ini bagus juga, aku jadi makin banyak memiliki waktu untuk istirahat!", sambil terkekeh Sam tetap mengambil hikmah dari apa yang terjadi padanya saat ini.


"Saammm!", Nyonya Rima sudah bersiap akan memukul putranya lagi, tapi Sam buru-buru lari dari hadapannya sambil tertawa nyaring.


Wanita paruh baya itu menghela nafasnya pasrah. Putra bungsunya itu memang benar-benar menguras kesabaran. Ia saat ini sedikit berduka pada Sarah di masa depan. Dimana wanita itu akan menghabiskan hidupnya dengan putra bungsunya yang konyol itu.


***


Langit biru itu sudah berubah warna. Sudah menjadi lebih gelap dengan semburat oranye yang membentang di sepanjang angkasa sana. Matahari telah lelah bertengger di atas dan kini sudah mulai turun dari peraduannya. Sangat indah langit sore itu dibarengi dengan semilir angin yang sepoi-sepoi menerpa wajah. Sungguh sempurna momen ini untuk dinikmati oleh para khalayak manusia.


Begitu juga dengan Sam yang ikut menikmati sore ini dengan berdiri di balkon kamarnya. Ia pejamkan matanya lama-lama sambil mengingat wajah Sarah yang sangat dirindukannya.


"Ahh!", sepertinya ia memiliki ide di kepalanya saat ini.


Sam mengambil ponselnya di atas meja yang berada di sudut balkon itu. Setelah menekan beberapa kali pada ponselnya itu, segeralah sebuah suara nada panggilan yang meminta untuk dihubungkan terdengar dari ponselnya itu. Dan ia pun membawa ponselnya ke hadapan wajahnya setelah panggilan itu mulai tersambung.


"Sam!", suara merdu seorang wanita terdengar bersamaan dengan munculnya wajah cantik yang membuat rindu Sam berkurang sedikit. Pria itu tersenyum memandangi wajah itu.

__ADS_1


"Ada apa kau meneleponku? Kau itu hanya tersenyum saja dari tadi, apa kau tidak bisa bicara? Atau kau sudah gila, hah!", Sarah geram pada pria itu.


Sudah melakukan panggilan video seperti ini, Sarah pikir ada hal penting yang akan disampaikan oleh pria itu, seperti menyangkut pernikahan mereka mungkin. Tapi yang dilakukan pria itu hanya diam dan tersenyum saja sejak pertama kali wajahnya muncul di layar ponsel.


"Emmhh,, ya! Bisa dibilang begitu! Mungkin aku memang sudah gila karena terlalu merindukanmu!", pria itu membuat suaranya sangat ringan didengar.


Dengan santainya, Sam mendudukkan dirinya di kursi di sudut balkon itu. Lalu ia naikkan kakinya ke atas meja sambil bersandar dengan sangat nyaman. Tatapannya tak ia lepaskan dari wajah wanita yang amat ia cintai itu.


Dan senyum Sam yang sangat menawan itu tak dapat lagi bisa Sarah tahan sendirian. Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus sekarang. Ditambah dengan ucapan Sam yang sebenarnya terdengar gombal. Tapi sebagai wanita normal, tentu ia akan otomatis tersipu mendengarkan hal yang manis seperti itu.


"Skill lama memang selalu berguna, ya!", Sarah menggoda Sam balik sambil menutup mulutnya yang sedang tersenyum itu.


Kali ini Sarah menyerang balik dengan mengingatkan Sam dengan statusnya yang merupakan mantan playboy yang sangat terkenal. Entah Sarah ini sudah menjadi wanita ke berapa yang mendapat gombalan seperti ini darinya.


"Jangan begitu, Sayang! Aku hanya seperti ini padamu! Mereka mana pernah menerima perlakuan semanis yang aku lakukan padamu!", Sam mencoba membela diri dan ia juga merasa bersalah. Status yang pernah disandangnya itu memang tidak ada bagus-bagusnya sekarang. Malahan membuatnya menyesal karena tidak dipertemukan dengan Sarahnya sejak lama.


"Kau terjebak dengan ucapanmu sendiri, Sam! Jadi kau memang sering melakukan hal manis pada mereka, kan?!", Sarah tidak marah kali ini.


Ia sudah mengerti jika sebentar lagi mereka akan menikah. Dan tak ada yang perlu diragukan lagi karena Sam telah membuktikan banyak hal padanya, bahwa pria itu hanya akan mencintainya sampai nanti. Dan untuk saat ini, ia hanya sedang senang saja menggoda pria yang biasanya konyol itu.


"Tidak, Sayang! Aku bahkan bisa bersumpah jika kau mau!", wajah Sam sangat serius. Ia sangat takut Sarahnya akan marah karena hal ini. Benar juga, bahwa ia telah terjebak dengan apa yang ia ucapkan sendiri tadi.


"Jangan terlalu serius begitu, Sam!", Sarah terkekeh geli melihat wajah Sam yang tegang seperti itu. Dan pria itu pun akhirnya bisa menghela nafas lega.


"Bagiku yang terpenting sekarang adalah hanya ada aku di dalam hati dan di hidupmu, sekarang dan sampai seterusnya nant!", wanita itu tersenyum saat melanjutkan kalimatnya.


"Dan kau harus camkan baik-baik hal itu!", tiba-tiba saja wajah Sarah berubah menyeramkan dengan telunjuk mengacung ke depan tepat ke wajah Sam.


Calon istrinya ini ya memang seperti itu. Aneh memang rasanya jika sekali saja dalam perbincangan mereka akan mulus-mulus saja tanpa Sarah yang garang atau marah-marah. Tapi itu pula yang membuat Sam pertama kali suka padanya. Betapa menggemaskannya Sarah saat sedang marah.


"Iya, Sayang! Tenang saja! Sampai saat ini hanya kau yang ada di dalam hatiku!", pria itu tersenyum sambil membujuk wanita itu agar lebih tenang lagi.


"Sam-pai sa-at i-ni,,, kau bilang?! Jadi nanti masih akan ada wanita-wanita lainnya lagi yang akan mengisi hatimu yang selalu ada tempat kosongnya seperti rumah kontrakan?!", Sarah mendengus. Kepalanya juga sudah mengeluarkan sungut mendengar ucapan Sam yang entah itu benar disengaja atau memang pada dasarnya pria itu bodoh dalam merangkai kata-kata.


"Haduh!", benar saja Sam merasa bersalah pada dirinya sendiri dan juga Sarah. Ia menepuk dahinya dengan keras.


Kenapa mulutnya ini sulit sekali diajari untuk berbicara dengan baik dan benar?! Tadi saja ia sudah terjerat dengan ucapannya sendiri. Lalu sekarang ia mulai lagi melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Padahal kan bukan begitu apa yang Sam maksud.


Mana mungkin ia hanya akan mencintai wanita itu saat ini saja. Setelah melepaskan predikat playboy-nya, tentu Sam telah memantapkan hati dan pikirannya untuk hidup hanya dengan satu wanita saja. Hanya dengan wanita yang ia cintai sepenuh hati dan jiwa raga. Bahkan ia telah rela mengorbankan nyawanya sendiri untuk melindungi wanita ini. Jadi mana mungkin Sam akan main-main lagi seperti saat itu. Ia telah benar-benar berubah sekarang. Sam hanya membutuhkan Sarah di dalam hidupnya.


Tatapan frustasi milik Sam itu terus saja menusuk ke dalam kornea mata Sarah. Membuat wanita itu tak dapat lagi menyembunyikan senyumannya yang ia tahan.


"Iya, Sam! Aku tau! Aku tau bahwa hanya ada aku di dalam hatimu! Karena aku pun begitu! Aku tau kau itu tadi hanya sedang bodoh saja, kan!", akhirnya bibir pria itu melengkung sempurna saat mendengar penuturan Sarah ini. Dan keduanya pun terkekeh bersama untuk beberapa saat.


"Sam, sudah dulu, ya! Aku ingin sekali mandi! Tubuhku rasanya sudah lengket sekali!", di dalam layar ponsel pria itu terlihat Sarah yang sedang menyeka keringatnya dengan kaos oblong yang ia kenakan. Kaos itu agak kebesaran, jadi Sarah dapat menarik sebagian ke atas untuk menyeka keringat di keningnya.


"Memangnya apa yang baru saja kau lakukan sampai berkeringat seperti itu?", kini Sam menyandarkan punggungnya lagi ke belakang dengan sedikit kerutan di dahinya. Menanti jawaban.


"Aku baru saja memasak banyak makanan untuk makan malam bersama ibu. Krystal sedang melupakan dietnya dan sedang ingin makan banyak", Sarah pun akhirnya sedikit bercerita mengenai hari-harinya di rumah sepupu kakak iparnya itu. Betapa senangnya wanita itu seperti memiliki keluarga baru.

__ADS_1


"Tapi kau jadi makin seksi saat berkeringat begini!", ucapan polos Sam lolos begitu saja tanpa ia sadari. Dan mata Sarah melotot bersamaan dengan Sam yang segera menutup mulutnya rapat-rapat setelah menyadari kesalahannya.


"Kau benar-benar cari mati ya! Berhenti berpikiran kotor, Sam!", Sarah berteriak antara malu dan kesal.


"Iya, iya, maafkan mulutku yang lancang ini ya, Sayang! Ahh,,, rasanya aku ingin sekali mempercepat hari pernikahan kita menjadi besok. Aku sudah tidak sabar membuatmu berkeringat begitu banyak!", tapi sayangnya saat ini pikiran pria itu sudah traveling kemana-mana. Ia sudah membayangkan indahnya malam pernikahan mereka nanti.


"Saaammm!!", dalam panggilan video itu Sarah menjerit dengan wajah yang sudah merah matang. Banyak asap juga mengepul di atas kepalanya.


Wanita itu sangat malu saat ini. Bagaimana tidak, hal yang seharusnya belum terjadi sudah ada di dalam angan-angan pria itu. Dan itu menyangkut dengan dirinya tentu. Rasanya Sarah sangat ingin menyapu bersih isi kepala Sam yang kotor itu dengan memukul kepalanya menggunakan martil.


"Sudah! Tutup teleponnya! Aku mau mandi dulu!", tidak tahan, Sarah pun memerintahkan Sam untuk mengakhiri panggilan video itu. Ia malu, benar-benar malu saat ini.


"Iya,,, iya,,, baiklah! Aku tutup ya teleponnya! Love you, Sayangku!", tak lupa juga pria itu memberikan satu kecupan singkat pada ponselnya yang ia arahkan untuk Sarahnya itu.


"Mana ciuman untukku?", pria itu merengek dan terdengar menggelikan. Tentu saja Sarah semakin kesal.


"Tidak ada ciuman! Sudah ah, aku mau mandi sekarang!", wanita itu langsung memalingkan wajahnya.


Lalu gambar pada ponsel Sam bergerak-gerak seperti ponsel itu akan diletakkan di suatu tempat. Dan memang benar, setelah gambarnya terlihat konsta, terpampang pemandangan kamar yang sepertinya sekarang Sarah tempati saat ini.


Nyatanya di sana, Sarah meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia sandarkan ponsel itu agar berada dalam posisi berdiri. Karena ia tau panggilan itu belum benar-benar selesai.


"Jika tidak ada ciuman,maka katakan dulu kau mencintaiku baru tutup teleponnya!", Sam langsung berucap saat wajah Sarah terlihat kembali.


"Hah! Baiklah! Aku mencintaimu, Sam!", si pria lansung saja berbunga-bunga. Rasanya ia sangat ingin pingsan saat ini juga saking bahagianya.


"Baiklah, sampai jumpa di hari pernikahan kita, Sayang!", Sam melambaikan tangannya pada ponsel yang masih ia pegang di tangannya itu.


"Ya, sampai jumpa!", Sarah membalas lambaian tangan Sam seraya tersenyum.


Tentu saja, keduanya pasti sama-sama menantikan hari bahagia itu dengan tidak sabar. Dan juga banyak rasa rindu dan juga rasa gugup di sana-sini menyertai mereka.


Sam belum menutup panggilannya. Ia masih betah berlama-lama menatap Sarah yang terlihat sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamar tersebut. Pria itu menatap layar ponselnya dengan senyuman yang dalam.


Sebentar lagi cinta mereka akan disatukan dalam ikatan suci yang dinamakan pernikahan. Ini seperti mimpi bagi Sam. Tak pernah terbayangka olehnya bahwa ia akan jatuh pada seorang wanita biasa yang tidak ada lembut-lembutnya sama sekali saat pertama kali mereka berkenalan.


Sarah yang merasa panggilan video itu sudah selesai pun acuh saja bergerak ke sana kemari di dalam kamarnya. Ia sudah sangat gerah sekarang. Kaos oblongnya sudah basah kuyup oleh keringat. Dan ia berniat membuka pakaian yang ia kenakan itu sekarang juga sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Wajah Sam berubah merah dengan cepat saat Sarah sudah mulai membuka kaos oblongnya yang kebesaran itu. Ini sungguh seperti sebuah jackpot besar baginya untuk memutuskan melakukan panggilan video dengan calon istrinya itu sore ini.


Pinggang yang meliuk dan putih mulus mulai telihat. Terus makin naik hingga menampakkan setengah punggungnya. Dan Sam merasa makin gila lagi saat seluruh pakaian itu sudah terlepas. Terpampang punggung putih mulus dengan garis tali pakaian dalam yang melintang di tengah punggung ramping wanita itu. Air liur sepertinya sudah menetes dari mulut pria itu.


Tunggu dulu, Sarah merasakan firasat buruk. Ia tutup tubuh depannya dengan pakaian yang sudah terlepas seluruhnya itu. Lalu ia tolehkan kepalanya ke belakang, ke arah ponselnya yang ternyata masih menyala.


Dan yang lebih parahnya lagi adalah, ada wajah Sam yang sangat merah dan sedang menganga. Dan Sarah yakini jika barusan pria itu pasti melihatnya sedang membuka bajunya.


"Saaammmm!!!", Sarah langsung berteriak histeris saat itu juga. Seperti menimbulkan gempa bumi lokal di sekitar kamar itu saja.


Kesadaran Sam langsung pulih. Segera ia tutup panggilan video itu dengan wajah panik. Langsung saja ia peluk erat-erat ponsel itu layaknya ia sedang memeluk Sarah.

__ADS_1


"Hah! Kenapa dia tidak berbalik saja, sih!", Sam memukul kepalanya pelan seraya tersenyum. Pria itu menyesali Sarah yang tidak membalikkan tubuhnya. Padahal kan, dengan begitu, ia jadi bisa melihat pemandangan indah secara keseluruhan.


"Sabar, Sam! Sabar!", pria itu pun memejamkan matanya masih dengan senyuman yang sama di bibirnya.


__ADS_2