
ting
Begitu denting itu berbunyi dan pintu lift tertutup, Ana langsung melirik suaminya dari samping. Ken dapat melihatnya dari pantulan dinding kubik yang tak cukup luas itu. Namun Ana segera menghadapkan wajahnya ke depan lagi.
"Aku yakin jika kau tidak benar-benar menyelesaikan pekerjaanmu, kan?!", tuduh Ana seraya melipat tangannya di depan. Seperti seorang ibu guru yang sedang menginterogasi muridnya yang nakal.
"Sudah! Jangan lupa jika suamimu ini adalah seorang Presdir Ken yang terhormat! Yang hebat dan disegani banyak orang! Dan sudah tentu jika aku ini adalah tipe orang yang bertanggung jawab!", ujar pria itu dengan angkuhnya sambil menyugar rambutnya ke belakang.
"Kau jadi terlihat mirip seperti Sam!", Ana menyikut perut suaminya itu pelan sambil tertawa geli. Jika diperhatikan, tingkah suaminya saat ini tidak berbeda jauh dengan tingkah adik iparnya yang konyol dan selalu narsistik.
Ken menatap bayangan Ana di pantulan dinding lift dengan tatapan tidak suka. Pria yang biasanya tak banyak bicara itu tidak terima jika dirinya dibandingkan dengan adiknya yang lebih dominan konyolnya, meskipun mereka sama tampan. Ken akui itu. Namun mereka berbeda, jelas ia ingin dinyatakan menjadi yang paling hebat oleh istrinya. Dan Ana semakin geli melihat pandangan mata permusuhan suaminya yang seperti anak kecil itu.
"Tapi benarkan jika kau masih menyisakan pekerjaan untuk Han?", Ana segera mengubah ekspresi riangnya dengan wajah serius. Suaminya pun sempat terhenyak untuk sesaat.
"Nah, kalau pertanyaannya seperti ini baru benar!", Ana langsung meliriknya tajam mendengar pernyataan acuh suaminya itu.
Sudah jelas-jelas memiliki dosa, namun Ken masih memasang wajah yang begitu tidak peduli seperti itu?! Hah! Suaminya ini benar-benar!
"Jadi?", Ana bertanya dengan ekspresi setengah sabar.
"Aku memang benar-benar sudah menyelesaikan semua pekerjaanku tadi! Tapi ini belum waktunya jam pulang kerja, sudah tentu akan ada berkas yang datang lagi untuk diperiksa. Jadi semua pekerjaan yang akan datang aku serahkan kepada Han. Dia harus menyelesaikan pekerjaan itu sesuai dengan gajinya!", ungkap pria itu dengan gaya acuhnya. Penghasilan yang Han terima bukanlah nominal yang kecil jika dibandingkan dengan orang lain dengan jabatan yang sama. Maka dari itu Ken juga memperhitungkan hal ini. Ia tidak mau rugi karena sudah mengeluarkan uang banyak untuk asistennya itu.
"Tapi setidaknya kau berikan kesempatan untuk Han menghabiskan waktu lebih banyak dengan Kak Risa! Mereka memerlukan waktu untuk saling mengenal lebih jauh lagi, Ken!", dengan bijaknya Ana memperingati sambil memikirkan kakaknya yang sama sibuknya juga di perusahaan miliknya. Ana sungguh prihatin dengan pasangan itu, sungguh hebat mereka bisa tetap menjalin hubungan di bawah tekanan besar pekerjaan.
"Yahh,, aku yakin mereka bisa meluangkan waktu mereka sendiri! Lagipula untuk mengenal lebih jauh lagi, mereka bisa melakukannya setelah menikah nanti. Sama seperti kita, bukan?!", pria itu tetap pada pendiriannya. Dalam hal pekerjaan ia memang cukup ketat terhadap bawahannya. Hanya saja ia tidak menyadari jika ia semakin mengendurkan etos kerjanya sendiri setelah menikah. Hal itu yang membuat Han semakin tersiksa saja dari hari ke harinya.
"Hah!", Ana menggeleng pasrah. Ia kehabisan kata-kata untuk mendebat suaminya itu. Lelaki yang ia nikahi memang lelaki yang sangat cerdas. Sehingga apa pun yang Ana katakan, pasti Ken memiliki jawabannya.
***
Ana tengah berbaring di sebuah ranjang rumah sakit. Gaunnya yang lembut telah disibak sampai ke atas perut. Lantaran tubuh bagian bawahnya sudah ditutup rapat oleh selimut. Perut yang berisi janin itu sekarang sudah semakin membesar saja di usia kehamilannya yang sekarang. Apalagi bisa dikatakan jika nafsu makan Ana cukup baik, sangat baik malahan.
__ADS_1
"Bayinya dalam kondisi sehat, Tuan, Nona!", di atas perut Ana berselancar sebuah stik dengan gel yang membuatnya licin dan nyaman saat menyentuh kulit perut wanita itu. Seorang dokter wanita tengah melakukan pemeriksaan USG lima dimensi terhadap kandungan Ana saat ini. Dokter tersebut menyampaikan semua hasil pemeriksaannya dengan teliti. Dimulai dari detak jantungnya, berat badan dan juga tinggi badannya. Posisi bayi Ana dan Ken beserta jumlah ketuban di dalam sana juga tak boleh luput dari pemeriksaan.
Ken memegangi tangan istrinya yang tengah berbaring itu dengan erat. Jantungnya ikut berpacu semakin kencang setiap kali ia mendengar detak demi detak yang dari si jabang bayi. Irama teratur itu selalu mengalirkan arus hangat di hatinya. Padahal ini sudah yang ke sekian kalinya, tapi Ken selalu merasa haru luar biasa setiap saat mendengar detak jantung calon anaknya kelak.
Begitu pun dengan Ana. Ia juga merasakan hal yanng sama. Apalagi wanita itu yang mengandung dan membawa jabang bayinya kemana-mana. Perasaan tidak percaya juga muncul kala ia mendengar ada makhluk hidup sedang tumbuh dan berkembang di dalam perutnya. Pasangan suami istri itu merasa bahagia tak terkira setiap kali mengintip perkembangan jabang bayi mereka melalui layar persegi itu.
"Selamat Tuan dan Nona! Calon dede bayinya berjenis kelamin laki-laki! Belalainya terlihat jelas di sini!", dokter tersebut menunjuk bagian kelamin bayi dalam kandungan Ana dengan sebuah stik alumunium.
"Masih di dalam perut saja wajahnya sudah tampan sekali, ya!", tambahnya memuji, ikut tersenyum dengan pasangan suami istri itu sambil memandangi wajah si bayi yang terlihat pada layar monitor.
"Putraku!", Ken menyombongkan diri dengan satu kata itu pada istrinya. Ana menanggapi dengan tatapan malas. Tapi itu hanya sesaat, karena selanjutnya mereka tertawa riang bersama. Bahkan dokter wanita yang memeriksa Ana pun ikut tertular riangnya mereka.
Benar memang, harus Ana akui jika keturunan Wiratmadja memiliki ketampanan di atas rata-rata. Bahkan ia harus mengakui ini meskipun benci, jika adik iparnya itu juga memiliki ketampanan yang luar biasa. Makanya dulu bocah konyol itu memiliki predikat seorang palyboy. Berbeda dengan suaminya yang ketampanannya memiliki rasa agung dan penuh kharisma. Yang membuat orang terkagum-kagum bahkan jika itu seorang pria. Bagi kedua kakak beradik Wiratmadja itu, ketampanan seorang model pria ternama pun tidak bisa menyaingi wajah mereka.
Maka, beruntunglah ia dan Sarah yang memiliki kesempatan untuk menetaskan bibit-bibit unggul dari keluarga kenamaan itu. Dan untuk jenis kelamin, Ken dan Ana memang sejak awal tidak memiliki target apa pun. Mereka berdua hanya berharap jika calon anak mereka selalu sehat sampai menuju hari kelahiran nanti. Juga yang utama, diberi kelancaran diproses persalinan tersebut.
Dua insan yang nantinya akan menjadi orang tua itu tengah mengucapkan kumparan doa dan harapan bagi calon anak mereka kelak dengan penuh rasa suka cita dan haru. Kemudian disambung dengan aamiin yang berkali-kali oleh dokter yang menangani kandungan Ana.
***
Maka dari itu, makan malam ini juga diadakan sekaligus untuk merayakan kabar gembira dari pasangan itu mengenai jenis kelamin calon anak mereka. Meskipun Ana merasa hal ini terlalu berlebihan, namun ia tak sanggup menolak ketika mendengar antusiasme dari kedua mertuanya. Membahagiakan orang tua tidak ada salahnya, kan!
"Biar Ana bantu, Bunda!", wanita hamil itu ikut bergabung dengan ibu mertuanya dan juga Sarah yang saat ini tengah sibuk menyiapkan berbagai hidangan. Semenjak siang, Ana dan Sarah sudah datang terlebih dahulu ke sana untuk memberikan beberapa bantuan layaknya seorang anak perempuan di keluarga mereka sendiri.
"Tidak perlu, Sayang! Kau istirahat saja di kamar! Lagipula di sini sudah banyak orang yang mengerjakan, ditambah lagi ada Sarah. Bunda rasa sudah lebih dari cukup bantuan yang Bunda butuhkan!", terlihat Sarah dengan celemek yang membalut tubuhnya tengah memotong beberapa sayuran. Wanita itu pun tersenyum seraya mengangkat sayuran yang ia pegang agar Ana dapat melihatnya dengan jelas. Nyonya Rima meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk memberi pengertian kepada menantunya yang sedang hamil itu.
"Tapi, Bunda! Rasanya tidak enak sekali jika tidak melakukan sesuatu!", keluh Ana yang sedang dibimbing menjauh dari dapur dan didudukkan di sebuah mini bar tak jauh dari sana.
"Tapi Bunda lebih tidak ingin lagi kau kelelahan! Bunda tidak ingin terjadi sesuatu apa pun pada kau dan calon cucu Bunda!", wanita itu mengeluarkan roman tegasnya sambil berkacak pinggang di depan Ana.
Kemudian Ana menjatuhkan pandangannya dengan sedikit rasa sedih. Saat ini ia sedang tidak suka tidak melakukan apa pun. Saat ini ia sedang ingin ikut berdansa di lantai dapur dengan beberapa peralatannya. Memasak adalah hobinya, ia sudah berkawan dengan mereka semua yang ada di sana. Makanya ia merasa hampa tatkala dipisahkan dari semua benda-benda itu.
__ADS_1
"Biasanya juga kau hanya memerintah saja! Aku ingin ini,,, aku ingin itu,, ingin Sarah yang membuatnya,, ingin Krystal yang membuatnya! Kenapa sekarang kau ingin ikut repot bersama kami?!", celetuk Sarah ketus dan terdengar menyindir. Ia bahkan berani menatap Ana dengan tatapan provokasi.
"Mengarang!", sahut Ana yang masih menekuk wajahnya. Ia tidak terima dengan ucapan Sarah itu.
"Benar, Bunda! Biasanya kami akan menjadi asisten dadakan wanita hamil ini! Sudah begitu kemauannya banyak sekali!", ucap Sarah yang sebenarnya terdengar seperti sedang mengadu.
"Benarkah?", tanya Nyonya Rima seperti menimbang sesuatu. Namun ia juga mulai menahan bibirnya agar tidak tersenyum.
"Benar, Bunda!", Sarah menjawab lagi dengan keyakinannya.
"Tapi,, bagaimana pun juga itu adalah keinginan anakku?! Apakah kau mau keponakan tersayangmu kelak setelah lahir terus-terusan ngiler sampai besar?", Ana mengelak dengan jurus andalannya sambil mengusap perut buncitnya.
"Alasan! Itu saja yang selalu kau gunakan untuk memerintah kami, kan?!", Sarah di seberang pandangannya menjawabnya lagi sambil meletakkan pisau di tangannya dengan keras.
Pertengkaran ini menjadi suatu hiburan tersendiri bagi Nyonya Rima. Sejak putra-putranya mulai besar, tidak pernah sekali pun ada sentuhan hangat di rumah besar itu. Bumbu-bumbu seperti ini rasanya sangat nyaman sekali ia dengar di telinganya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan berulang kali sambil menutup mulutnya yang sedang antusias tertawa. Menantu yang sudah ia anggap putri bagi dirinya sendiri sungguh keduanya terlihat menggemaskan saat ini.
"Jadi begini rasanya memiliki anak perempuan di rumah, ya!", suara bariton Tuan Dion langsung menyela kegaduhan di antara dua wanita muda itu. Ana dan Sarah langsung membisu dan malu.
Ketika Sarah menenggelamkan diri dengan melanjutkan kegiatannya yang tadi. Maka Ana hanya bisa memalingkan wajahnya yang sedang menahan perasaan malunya. Dan Nyonya Rima yang berada di tengah-tengah di antara mereka pun tersenyum sangat lebar dan puas. Ia setuju dengan ucapan suaminya itu.
Sebenarnya Tuan Dion bermaksud menunggu kedatangan putra-putranya yang masih bekerja di ruang baca. Namun, mendengar kegaduhan dari arah dapur, dirinya dibuat penasaran. Apalagi setelah mengetahui apa yang terjadi, ia jadi sangat ingin bergabung di dalam kegaduhan itu. Tuan Dion berjalan melewati Ana dan Sarah menuju kulkas sambil menahan senyumnya. Tak kuasa ia juga melihat para menantunya itu menjadi malu seperti itu.
"Ini untukmu! Bagaimana jika kita menjadi penonton di sini?! Biarkan mereka yang bekerja!", Tuan Dion memberikan segelas jus mangga kesukaan Ana lalu ikut duduk di sebelahnya.
"Boleh juga!", Ana mengangguk polos seraya menyeruput minuman berwarna oranye itu sedikit demi sedikit.
Nyonya Rima pun kembali bersama Sarah. Mereka melanjutkan kembali acara masak-masak mereka yang belum usai. Lagipula masih ada banyak pelayan rumah itu yang membantu pekerjaan mereka. Sehingga Nyonya Rima merasa Ana tidak perlu sampai turun tangan. Ia tidak akan membiarkan putrinya yang sedang mengandung cucu pertamanya itu melakukan pekerjaan berat.
Maka, suasana di bagian belakang rumah besar itu pun kembali terasa hangat. Diisi oleh perbincangan yang tiada habisnya. Dan disisipi perdebatan dari kedua wanita muda yang sebelumnya bersahabat dan kini malahan menjadi saudara ipar. Siapa yang menyangka?! Jika hubungan keduanya berkembang menjadi saudara!
Keriuhan di sana pun dibalut dengan tawa renyah yang keluar dari mulut Tuan Dion dan juga Nyonya Rima. Mereka berdua terlihat begitu menikmati momen ini. Dan mereka juga tidak menyangka, jika pertemuan pertama mereka yang terjadi dengan begitu panas. Kini sudah mencair dan bahkan sudah menghangatkan hati.
__ADS_1