Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 138


__ADS_3

"Kau dan yang lainnya? Merencanakan? Siapa saja kalian? Lalu apa maksudnya kau tak akan menikah selain dengan Ana. Bukankah Ana sudah meninggal? Apa maksud dari ucapanmu, Ken? Apakah kau tidak ingin menikah selamanya?", Nyonya Rima memberondong putranya dengan pertanyaan.


"Apa aku sudah ketinggalan pembicaraan seru kalian, ya?", sapa Tuan Dion dari arah belakang mereka. Ayah dari Ken itu sebenarnya sudah memperhatikan mereka sejak tadi di ambang pintu yang menuju kebun ini. Tapi ia urungkan untuk mendekat melihat keakraban ibu dan anak yang jarang sekali ia lihat, bahkan momen ini terasa hampir punah di rumahnya. Hatinya terasa hangat dan teduh melihat perubahan sikap Ken yang entah karena apa penyebabnya. Sampai akhirnya ia begitu penasaran karena perbincangan ibu dan anak itu terlihat makin serius, Tuan Dion memutuskan untuk menghampiri mereka berdua.


"Aku akan menceritakannya nanti padamu. Tapi untuk saat ini aku ingin mendengar penjelasan dari Ken terlebih dahulu", ucap Nyonya Rima terdengar tegas. Pertama ia menoleh ke arah suaminya, lalu ia menatap tajam ke arah putranya. Ia sungguh tidak sabar menunggu putranya itu berbicara.


"Jadi begini Bunda, Ayah! Beberapa waktu lalu Ken menyelidiki kembali kasus kecelakaan yang menimpa Ken dan Ana sebelumnya. Dan setelah melakukan penyelidikan ulang, tim yang Ken bentuk menemukan bahwa Joice berkaitan dan bahkan dalang di balik kecelakaan yang menimpa Ken waktu itu", jelas Ken dengan sabar.


"Siapa saja timmu itu?", tanya Tuan Dion cepat.


"Eemmmhh,, emmhh!", Ken nampak berpikir dan menimbang. Apa yang harus ia lakukan, mengatakan yang sejujurnya atau menyembunyikan fakta yang ada bahkan mengenai Ana yang ternyata masih hidup. Ken bingung, ia melempar pandangannya ke arah lain. Menghindari sebelum rentetan pertanyaan datang lagi padanya, selagi menguras otaknya untuk mencari jawaban yang tepat.


"Aku salah satu dari tim itu!", ucap seseorang tiba-tiba dari arah pintu. Dia adalah Sam yang langsung mengerti situasi yang dihadapi kakaknya saat ini.


"Cepat atau lambat Ayah dan Bunda harus mengetahui kebenaran bahwa kakak ipar masih hidup!", batin Sam sambil mendekat ke arah mereka.


"Sam!", seru ketiga orang itu bersamaan.


"Ya aku tau, kalian sangat merindukan aku kan?!", tangan Sam merangkul ketiga orang keluarganya itu.


"Saamm!", seru mereka lagi dengan suara lebih keras.


"Ya, ya, ya, aku memang tampan dan pintar!", ucap Sam lagi dengan senyum konyolnya.


"Kau bodoh!", seru Ken kesal dengan wajah dingin yang biasa ia tampilkan.

__ADS_1


"Huh!", Sam mendesah kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


"Apa kalian tau, Bunda, Ayah! Kakak sudah menikah!", ucap Sam lagi seraya menjauh dari Ken dan berlindung di balik tubuh ayahnya.


"Sam! Tutup mulutmu atau aku akan membakarnya!", seru Ken kesal. Bahkan dia sendiri masih bingung untuk mengatakan sekarang atau nanti. Tapi adiknya yang konyol dan bodoh ini tiba-tiba mengatakan hal semestinya keluar dari mulutnya, hal itu malahan membuat Ken murka.


"Ken!", seru kedua orang tuanya bersamaan. Tuan Dion dan Nyonya Rima kini berdiri tepat di hadapan putra sulungnya itu dengan wajah menghakimi. Dan adiknya itu tentu sedang menyeringai menang di balik tubuh kedua orangtuanya itu.


"Katakan yang sebenarnya, Ken! Kau bilang tidak akan menikah selain dengan Ana. Lalu sekarang apa? Apa maksud dari semua ini, Ken?!", Nyonya Rima menginterogasi putra sulungnya diiringi anggukan setuju dari Tuan Dion. Ya mereka masih belum mencapai final dari apa kenyataan yang ada.


"Kakak memang menikah dengan kakak ipar, Bunda!", seru Sam di belakang sana.


"Sam, kau benar-benar gila! Aku benar-benar akan memecatmu setelah ini!", geram Ken pada adiknya.


"Jelaskan Sam!", perintah Tuan Dion sambil menatap tajam ke arah Ken.


"Kakak, entah esok ataupun saat ini orang tua kita harus mengetahui bahwa kakak ipar masih hidup. Dan lagi, kakak ipar pasti membutuhkan restu dari Ayah maupun Bunda untuk pernikahan kalian, kan!", ucapnya lagi kali ini ia tujukan kepada kakaknya tersayang.


"Sejak kapan anak ini jadi dewasa?!", gumam Tuan Dion dalam hati lalu mengalihkan pandangannya ke arah putra bungsunya.


Ken tertegun mendengar apa yang adiknya itu ucapkan. Sebenarnya apa yang ia ucapkan memang ada benarnya. Apalagi kemarin malam istri tercintanya itu sempat mengangkat masalah ini untuk mereka bicarakan. Dan Ken sudah berjanji akan membuat kedua orang tuanya merestui pernikahan mereka, dan terutama dari ibunya, Nyonya Rima.


"Ken!", seru Nyonya Rima pelan.


"Apakah kau sangat mencintainya? Apakah kau bahagia menikah dengannya?", tanya Nyonya Rima dengan tatapan yang sulit dibaca.

__ADS_1


"Tentu saja, Bunda! Ken sangat mencintainya, bahkan kami selain mencintai. Dan Ken benar-benar hanya akan menikah dengan Ana. Hanya Ana istri sah Ken satu-satunya! Ken juga tidak sembarangan menentukan siapa yang paling tepat menjadi pasangan hidup Ken, Bunda. Ken juga berhati-hati. Tapi setelah mengetahui tentang Ana dan segala yang ia miliki, Ken rasa hanya Ana yang pantas menjadi pendamping hidup bagi Ken. Ana wanita yang sempurna Bunda hingga menurut Ken hampir mustahil menemukan wanita seperti dia lagi setelah ini!", tutur Ken jujur dengan wajah dingin. Ia mengungkapkan bahwa kali ini ia harus benar-benar tegas mengenai Bundanya. Mau tak mau, kedua orangtuanya harus merestui pernikahannya saat ini.


"Dasar anak kurang ajar!", seru Tuan Dion sambil berkacak pinggang dengan kilatan emosi di matanya.


Sedangkan Nyonya Rima masih tak bergeming, ia menatap putra sulungnya itu dengan raut yang sulit diartikan. Dan adiknya yang mencetuskan ide gila dengan memberitahukan kenyataan bahwa Ana masih hidup kepada orangtuanya, kini pria konyol itu benar-benar sedang meringkuk dengan seluruh tubuh yang menegang. Pasrah, Sam pasrah apa pun yang akan terjadi dengan hidupnya nanti. Yang terpenting baginya, tugas yang sudah memang seharusnya sudah ia jalankan. Karena dari dalam lubuk hatinya sendiri, ia sudah tak menerima siapa pun menjadi kakak iparnya, karena hanya Ana yang bisa membuat kakaknya itu bahagia.


"Ken, lihat Bunda! Apa kau masih menganggap kami orang tuamu, hah!", bentak Nyonya Rima tiba-tiba.


-


-


-


-


-


Maaf ya teman-teman atas keterlambatan updatenya.. sebenernya rencananya author mau crazy up malam ini, tapi ternyata author malahan ketiduran 😁


maaf ya,,, author kan juga masih manusia biasaπŸ€­πŸ˜…


rencananya sampai nanti malam author akan menamatkan cerita tentang Ken dan Ana.


Jadi sekali lagi, mohon dukungannya ya dengan meninggalkan like, vote atau komentar kalian..

__ADS_1


love u teman-teman 😘


keep strong and healthy ya πŸ˜‰


__ADS_2