Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 191


__ADS_3

"Apa maksudnya?! Jadi benar, selama ini aku tidak bisa menemukan Sarah adalah karena dirimu kan, kak?!", sambil meringis ia melemparkan sebuah tuduhan kepada kakaknya.


"Bukan aku, tapi Ana!", jawab Ken dengan santainya. Sam lantas berdiri tegak mendengar penuturan kakaknya.


"Hemnn? Maksudnya ??", Sam benar-benar menekuk pangkal alisnya lebih dalam lagi.


"Ini hukuman untukmu!", jawab Ana dengan wajah acuhnya sambil mendekat ke arah Ken. Ia lalu tersenyum penuh arti kepada suaminya itu.


"Hukuman?", adik iparnya itu belum bisa mencerna semua kata-kata yang diucapkan oleh Ana.


"Apa kau tidak merasa setelah waktu berlalu Ana sama sekali belum membuat perhitungan untukmu?! Sebenarnya bagaimana kau menggunakan otakmu, Sam?! Aku menjadi ragu untuk lanjut menjadi kakakmu lagi", desah Ken pasrah dengan kebodohan yang selalu dilakukan oleh adiknya itu.


"Iya ya, aku baru ingat! Pantas saja kepalaku rasanya ringan sekali. Biasanya setelah membuat kesalahan, kakak ipar selalu membuat kepalaku berat dengan benjolan di sana-sini. Lagipula akhir-akhir ini aku terlalu sibuk menyingkirkan wanita-wanita pengganggu itu! Jadi aku tidak sempat memikirkan hal itu. Hehe", senyuman pria itu sudah seperti kuda saking lebarnya. Ia juga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Lalu, apa hubungannya hal itu dengan hukumanmu, kak?!", pertanyaan polos Sam lantas membuat Ana terhuyung lemas. Ia pikir adik iparnya ini sudah mengerti setelah berucap panjang lebar seperti itu. Ternyata tidak sama sekali, ia belum mengerti juga rupanya.


"Hish! Dasar bodoh!", hardik Ana seraya menarik telinga Sam lagi.


"Karena kau telah menyakiti Sarah saat di rumah sakit waktu itu, makanya aku memberikan dirimu hukuman yang sepantasnya untukmu. Awalnya Sarah sendiri yang tidak ingin bertemu denganmu. Lalu aku hanya meneruskan keinginannya saja supaya lebih maksimal. Aku meminta bantuan suamiku tersayang untuk tak membiarkan kau bisa menemui sahabatku!", Ana puas menjelaskan hukuman yang ia berikan kepada adik iparnya itu sampai menunjuk-nunjuk wajahnya.


"Waahh!!! Kau memang ratu tega, kakak ipar! Adik iparmu ini sudah seperti mayat hidup, putus asa, dan tak tau harus mencari kemana lagi wanita yang dicintainya itu!", Sam berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Tapi,, mau bagaimanapun juga Sam tidak akan bisa marah pada kakak iparnya itu. Lagipula siapa juga yang berani,,,, hiii,,,.


"Siapa suruh kau menyakiti sahabatku! Ah ya, wanita genit itu juga akan mendapatkan bagiannya!", ucap Ana berapi-api sambil menaikkan dagunya ke atas.

__ADS_1


Hiii,,,, Sam merinding sendiri mendengar ancaman kakak iparnya dengan wajah yang begitu mengerikan itu. Merasakan hukuman yang baru saja ia lewati begini saja sudah membuatnya tersiksa. Apalagi ancaman Ana yang merajuk pada wanita yang bernama Megan itu, entah bagaimana Ana akan menghukum wanita yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuannya. Sam enggan memikirkan kengerian itu.


"Kenapa? Kau merasa khawatir untuk wanita itu?!", sahut Ana yang melihat adik iparnya itu sedang meringis sendiri.


"Mana mungkin kakak ipar! Aku mana berani! Aku hanya sedang membayangkannya saja, hukuman apa yang pantas untuk wanita genit seperti dia?", jawab Sam jujur. Memang iya begitu, pria itu sungguh membawa kejujuran ke dalam matanya karena ia sendiri sudah jengah dengan kelakukan wanita itu.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk percaya!", ucap Ana seraya tersenyum kepada suaminya. Hal itu membuat Sam sedikit menahan kesal, sejak tadi setiap kali bicara hanya kakaknya saja yang dipandang. Seolah kehadirannya tidak dianggap sama sekali oleh kakak iparnya. Ingin sekali dirinya merajuk, tapi ,,,,mana mungkin dia akan berani, kan!


"Sekarang adalah giliranmu untuk meyakinkan Sarag agar dia mau menerima dirimu dan menikah denganmu. Karena bagian kami sudah selesai", ujar Ken sambil menepuk bahu adiknya itu.


"Baik! Aku pasti akan melakukan yang terbaik!", balas Sam dengan begitu semangat sambil menggeggam udara di tangannya.


Tentu saja ia menjadi sangat bersemangat. Karena mulai saat ini ia akan berjuang mati-matian mempertahankan wanita yang sangat sulit ia dapat itu untuk tetap berada di sisinya. Wanita yang sangat ia cintai, mana mungkin Sam akan melepaskannya begitu saja. Sam berjanji akan berusaha keras membuat Sarah yakin tidak akan menyesal karena telah memilihnya.


"Jangan memandangku!", Sarah melempar handuk yang baru saja ia pakai untuk menggosok rambutnya yang basah sehabis keramas.


"Ehhmm,,,, wanginya!", Sam menghirup dalam-dalam aroma wangi shampoo bekas rambut Sarah. Padahal mereka menggunakan shampoo yang sama, tapi rasanya saat Sarah yang memakainya itu menjadi lebih manis wanginya. Hal itu sungguh menjadi candu bagi Sam saat ini.


"Jangan macam-macam!", segera Sarah menarik paksa handuk yang berada di tangan Sam. Ia jadi menyesal telah melempar handuk itu ke arah wajahnya. Pria itu malahan keenakan menghirup aroma wangi rambutnya, kan. Enak saja! Sarah menggerutu dalam hatinya berulang kali karena tidak terima.


"Jangan terlalu galak, Sarah! Bagaimanapun juga pria ini akan menjadi suamimu kelak!", goda Ana sambil memeluk lengan suaminya.


"Ana! Aku bahkan belum memberi jawaban!", ucap Sarah dengan nada tegas dan lembut. Ia tetap tak ingin begitu banyak menyakiti hati sahabatnya yang sedang hamil muda itu.

__ADS_1


"Tapi aku yakin kau akan menerimanya, iya kan?! Apalagi ini demi bayiku, keponakanmu", Ana memasang wajah imut terbaiknya dibarengi dengan tatapan penuh harap yang tak dapat ditolak oleh siapapun. Bahkan jika ini adalah permintaan yang ia ajukan untuk suaminya, maka Ken tanpa menunggu saat jeda pun ia akan langsung mengabulkan permintaan istrinya itu.


"Terserahlah!", nyatanya Sarah juga sedikit termakan ekspresi penuh harap itu. Ditambah lagi ia malas berdebat dengan ibu hamil, karena ia yakin bahwa ia akan kalah. Maka hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutnya.


"Baiklah, aunty! Kalau begitu kami akan menunggumu untuk sarapan bersama di depan. Ayah dan Bunda juga sudah menunggu di sana", Ana melambaikan tangan ke arah Sarah seraya mengedipkan sebelah matanya. Lalu ia dan juga Ken beranjak terlebih dahulu ke arah depan dimana ibu dan ayah mertuanya telah menunggu.


"Cih! Apa-apaan dia! Wanita itu begitu percaya diri bahwa aku akan luluh olehnya!", Sarah berdecak lalu bergumam sambil memandangi punggung sahabatnya. Ia mengulum senyumnya menyadari betapa besar wanita itu sangat mempedulikannya. Tapi ini di luar permintaan aneh tentang pernikahan yang Ana buat, ya. Itu tidak termasuk. Karena selama pertemanannya dengan Ana, Sarah merasa ini untuk pertama kalinya Ana begitu menyebalkan. Tapi tetap saja, ia masih begitu menyayangi sahabatnya itu.


-


-


-


-


-


masih ada satu lagi ya,,. mohon ditunggu aja 😊


maaf kalo author belum bisa rajin update kaya kemarin lagi ya,, 🙏


karena malam ini author usahakan untuk crazy up, jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya.. okeh okeh 😉

__ADS_1


terima kasih 😘


__ADS_2