Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 252


__ADS_3

"Ikuti rencanaku!", perintahnya pada pria di sampingnya. Otaknya langsung bekerja ketika ia melihat dua orang pengawal itu masuk ke dalam ruangan yang sedang mereka periksa.


"Emmhh,, tunggu!", buru-buru Megan menepuk bahu Sissy untuk menghentikan langkah pelayan wanita itu.


"Ahh,,, tolong aku, Nona! Kekasihku mabuk berat! Dia sudah tidak sanggup berjalan lagi. Bisakah kau membantuku membawanya ke mobilku? Jika sudah mabuk perilakunya akan sangat merepotkan aku nanti. Mungkin,, mungkin dia akan mengacaukan tempat ini!", wanita rubah itu mengggunakan kemampuan aktingnya yang tidak terlalu buruk.


Megan membuat ekspresi wajahnya menjadi terlihat sememelas mungkin. Dan agar lebih meyakinkan lagi, ia sempat menendang kaki pria di sebelahnya agar pria itu mengikuti skenario yang telah ia buat barusan.


Sempat linglung sebentar, pria itu segera paham. Ia lalu mengikuti apa yang telah Megan katakan. Pria itu kemudian berpura-pura seperti orang yang sedang sangat mabuk.


Berdiri sempoyongan dengan kepala yang tertunduk dalam. Tangannya yang satu memang sudah sengaja dirangkulkan ke bahu Megan sejak awal oleh wanita itu. Dan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk memijit dahinya seperti orang yang sedang merasakan sakit kepala berat.


Kakinya sudah bergerak ke sana-sini seakan sudah tak mampu menopang tubuhnya dengan benar. Sungguh Megan ingin memberi penghargaan kepadanya atas aktingnya saat ini.


Memangnya dasar Sissy si wanita tidak tau diri. Bukannya segera menolong, mimik wajahnya tak menunjukkan rasa iba atau perhatian sedikit pun. Mimik wajahnya malahan seakan meremehkan dan mencibir.


Memangnya siapa dia?! Berani sekali wanita ini memerintahnya! Begitu kira-kira ekspresi yang tergambar pada wajah pelayan wanita itu.


"Ahhh,,,!", Megan paham.


Untuk menangani orang-orang seperti ini memang hanya memerlukan satu hal saja. Ia mengambil dompetnya dari dalam tas. Lalu ia keluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya itu.


"Bagaimana jika begini?!", lantas ia pun menyodorkan tumpukan uang itu ke depan Sissy.


"Kalau begitu aku akan membantu!", tanpa berpikir panjang lagi Sissy pun menyambar uang-uang itu.


Wajah yang merendahkan itu sudah tidak ada lagi. Kini yang ada malahan wajah kegirangan dengan bintang besar pada kedua matanya saat melihat uang-uang itu di tangannya.

__ADS_1


Cih! Megan mencibir dalam hati. Jika memang dasarnya sudah orang rendahan maka nalurinya akan segera tergerak jika sudah disajikan setumpuk uang di wajahnya.


Dan yang ia yakini tentang Sarah juga sama halnya seperti yang ia lihat tentang pelayan wanita yang berada di depannya ini. Mereka berada di tempat yang sama, sudah pasti mereka juga mempunyai sifat yang sama. Tapi sebenarnya,, bukankah antara Sissy dan Megan itu sama?! Jadi sebenarnya siapa yang sama?!


"Kalau begitu bisakah kita jalan sekarang? Kekasihku semakin mabuk!", Megan mulai gelisah tatkala ia mendengar kasak-kusuk jika pemeriksaan di kamar depan sudah mulai selesai.


"Baiklah, ayo!", Sissy memasukkan uang-uang itu ke dalam kantung kemejanya.


"Tolong bantu aku memapahnya! Dia menjadi sangat berat saat mabuk", dan Sissy pun menempatkan dirinya di salah satu sisi pria itu sambil merangkulnya, berbagi beban dengan Megan Aira.


"Jika ada yang mencari aku, katakan saja aku sedang ke toilet!", Sissy menoleh ke arah kedua teman yang tadi berjalan bersamanya. Lalu ia berucap seperti sedang memberikan sebuah perintah. Sangat arogan!


"Cih! Jika sudah menyangkut masalah uang, mana pernah dia ingat dengan orang lain! Selalu memakan uang seperti itu sendiri saja!", cibir salah satu teman Sissy saat melihat punggung temannya itu sudah mulai menjauh.


"Ya, benar sekali! Dia tidak ingat jika dia memiliki teman saat sedang mendapatkan uang seperti ini! Tapi jika ingin bergosip, selalu ingat bahwa kita adalah temannya! Mencari pendukung untuk bahan ejekannya terhadap orang lain! Huh!", yang satunya lagi juga ikut menggerutu dengan wajah kesal.


"Dulu saja, Ana yang sangat dibencinya!".


"Husshh,,, Nona Ana!", yang satu lagi mengingatkan dengan menyenggol bahunya.


"Iya, Nona Ana! Maaf aku lupa! Setelah tau bahwa Nona Ana adalah pemilik tempat ini, mana berani mulutnya terbuka mengatakan hal-hal buruk lagi mengenai Nona Ana!".


"Ya,, kau benar sekali! Huh! Bagaimana pun juga dia masih membutuhkan pekerjaan ini! Mau makan darimana dia jika Nona Ana sampai memecatnya?! ", mereka berdua jadi kesal sendiri dengan Sissy.


Setelah cukup puas melampiaskan kekesalan mereka terhadap wanita yang berstatus teman mereka itu, keduanya pun memilih untuk melanjutkan langkah mereka sesuai tujuan awal. Yaitu kembali bekerja.


***

__ADS_1


"Jadi bagaimana hasilnya?", tanya Krystal tidak sabar pada pengawal yang berada bersama mereka.


"Sampai saat ini belum ada hasil, Nona! Mohon menunggu sebentar lagi!", jawab pria itu dengan sopan sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.


Pengawal itu bersama rekannya tidak meninggalkan sisi Sarah dan Krystal lama-lama. Sejak tadi rekannya yang lain hanya memberikannya info terbaru melalui telepon atau pun pesan. Begitu lebih efektif agar mereka tetap bisa menajaga keselamatan Nona mereka sebagai proiritas.


"Sudahlah, Krystal! Sabar saja dulu! Lagi pula wajahmu itu benar-benar sangat serius saat ini. Membuat aku semakin takut saja!", Sarah meneguk jus jeruk di tangannya lalu menyandarkan diri lagi ke sofa.


Bukannya dia tidak memikirkan hal ini sama sekali. Hanya saja sampai saat ini, pikiran positifnya masih menguasai sebagian besar otaknya yang sedang dalam kondisi sadar saat ini. Ia tidak berpikir sejauh itu jika ada seseorang yang memiliki niat jahat terhadap dirinya dan juga Krystal.


"Perasaanku mengatakan jika ini benar. Apa yang aku rasakan memang benar. Tunggu saja dan lihat nanti! Perasaanku tidak pernah salah!", Krystal pun meneguk cocktail miliknya. Ia juga menyandarkan punggungnya di sofa namun memiliki ekspresi yang berbeda. Wajah wanita itu lebih serius ketimbang Sarah.


"Kalau begitu aku akan ke toilet dulu!", Sarah sudah bangun dari duduknya.


"Bawa satu pengawal bersamamu!", Krystal memberi saran pada sahabatnya itu sehingga Sarah menghentikan niatannya untuk memulai langkahnya.


"Apa? Tidak, aku tidak mau! Aku sendiri saja!", Sarah segera menolak anjuran Krystal.


Bukan apa-apa, ini adalah ke toilet. Tempat palingn privasi bagi seseorang. Apagi ia adalah seorang wanita. Bagaimana bisa dirinya yang seorang wanita diikuti oleh seseorang pria untuk menunaikan hajatnya. Tentu saja dia merasa risih dan langsung menolaknya.


"Tapi ini demi keamananmu, Sarah! Kita masih belum tau situasinya bagaimana saat ini!", Krystall tetap pada pendiriannya.


Masalahnya adalah, dia yang membawa Sarah ke sini, jadi keselamatan Sarah sudah menjadi tanggung jawabnya sekarang. Jika sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada Sarah, entah apa yang akan dilakuka bosnya itu padanya. Secara dia jug atau bagaimana overprotektifnya Sam terhadap Sarah.


"TIdak! Pokoknya aku tidak mau!", Sarah memang wanita keras kepala. Setelah berseru cukup kencang menyatakan penolakannya, Sarah segera kabur dari sana agar bisa ke toilet sendiri saja.


"Cekk! Dasar wanita itu!", Krystal sudah bangkit dan ingin mengejar Sarah, namun salah satu pengawal itu mencegahnya.

__ADS_1


__ADS_2