Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 123


__ADS_3

Mentari pagi yang hangat menyirami halaman luas yang telah ditata sedemikian indahnya khusus untuk acara sakral ini. Villa indah di tepi pantai ini adalah salah satu aset yang dimiliki Ken pribadi secara rahasia karena asetnya ini di atas namakan seseorang yang ia kenal. Dan acara pernikahan yang begitu mendadak ini hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat kedua mempelai yang hanya mengetahui keberadaan Ana saat ini. Bahkan Tuan Dion dan Nyonya Rima pun tidak tahu menahu mengenai pernikahan putranya ini. Ya, pernikahan ini dibuat secara rahasia demi kelancaran aksi pembalasan Ana nanti. Dan, tujuan utama Ken adalah untuk mengikat Ana supaya menjadi miliknya seutuhnya, juga demi mengikat dirinya pula dari jerat wanita rubah yang selalu menggodanya.


Tuan Reymond sengaja diundang untuk menggantikan mendiang Tuan Danu sebagai wali sah Ana. Tentu saja, saat pertama kali mendapat undangan untuk acara ini dan mengetahui bahwa Ana masih hidup, reaksi pertamanya adalah diam. Pria paruh baya itu begitu terkejut hingga tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Hanya bulir-bulir cairan bening yang tanpa izin merembes di ujung matanya. Ia begitu bahagia bahwa seorang putri yang telah dititipkan oleh ayahnya itu masih bernyawa. Tuan Reymond telah berjanji pada mendiang Tuan Danu akan menjaga Ana layaknya putrinya sendiri.


Begitulah saat ini bisa terjadi, Tuan Reymond dengan setelan jas hitamnya nampak gagah berdiri di samping Ana yang tangannya sedang melingkar erat pada lengan kokohnya. Saat ini, ia berperan menggantikan Tuan Danu sebagai ayah yang akan melepaskan putri kesayangannya itu kepada pria yang telah dipilihnya.


Di belakang mereka, Sarah dan juga Risa tengah berperan sebagai pengiring pengantin. Mereka mengenakan gaun putih selutut dengan corak berbeda, namun tetao menambah pesona mereka bagi para lelakinya. Kedua wanita itu berjalan anggun sambil membawa satu keranjang penuh bunga warna-warni yang menggantung pada lengan mereka karena saat ini mereka juga tengah membantu Ana dengan memegangi ujung gaun pengantin yang menjuntai itu.


Sejak berita tentang kepergian Ana yang mendadak itu, Risa bertekad untuk cepat pulih dan menghubungi beberapa koneksinya untuk mencari tahu kebenaran mengenai kecelakaan yang menimpa Ana yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Dan betapa bahagianya dia, saat Han memberi kabar bahwa saat ini Ana masih hidup dan memintanya sebagai pengiring dalam upacara pernikahannya nanti.


Di depan sana sudah ada Han yang berdiri bersama Sam di sisi kanan, dan di sisi lainnya Ben nampak tenang berdiri bersama Relly asisten setianya. Mereka akan berperan sebagai saksi dari acara penting ini. Sam dan Han sama terpesonanya dengan wanita mereka masing-masing. Han saling melempar senyuman dengan Risa yang notabene adalah tunangannya. Sedangkan Sam, pria konyol itu masih ternganga melihat penampilan Sarah yang bagaikan seorang dewi dari langit sana. Sarah nampak tersipu karena Sam terus memandanginya seperti itu. Dengan sembunyi-sembunyi ia tersenyum sambil memalingkan wajahnya. Dan akhirnya Han selalu bertugas untuk menyadarkan Sam, ia menepuk bahu pria itu sedikit keras.


"Aaww, sakit Han!", pekik Sam sambil mengusap-usap bahunya yang nyeri.


"Air liur anda bisa menetes jika terlalu lama menatapnya seperti itu!", tegur Han acuh yang diiringi oleh kekehan dari mulut Sam.


"Dia sangat cantik, Han!", ucap Sam seraya memposisikan dirinya menghadap ke arah depan.


"Ya Risa memang cantik, Tuan!", sahut Han menyamakan posisinya dengan Sam.


"Hey, Sarahku yang paling cantik!", Sam membantah dengan suara yang agak keras. Sontak semua orang mengalihkan pandangan mata mereka kepadanya. Tak terkecuali Ken yang tengah menatapnya amat tajam dari depan sana.


"Tutup mulutmu, Tuan jika anda tidak ingin diamuk oleh Tuan Ken!", ucap Han dingin. Ia sebentar kesal dengan tingkah Sam yang lagi-lagi selalu bertingkah konyol di saat yang tidak tepat. Apalagi dengan ucapannya yang barusan, kakaknya itu yang amat memuja calon istrinya, tak akan terima jika wanitanya itu ditandingi oleh wanita lain. Karena bagi bosnya, Ana adalah wanita paling dalam segala hal. Yah, kakak beradik yang sama konyolnya pikir Han.


Sedangkan para wanita yang sedang berjalan itu pun turut mendengar apa yang Sam ucapkan. Mereka tersenyum dengan pemikiran mereka masing-masing. Ana memasang senyum puasnya saat mendengar hal itu terucap dari mulut adik iparnya. Sedangkan Risa tersenyum sambil sesekali menggoda Sarah yang nampak memerah wajahnya. Dan subjek yang dibicarakan, Sarah tengah tersenyum malu sambil menundukkan wajahnya supaya bisa menyembunyikan semburat merah pada wajahnya.


"Kenapa kalian tidak menikah saja sekalian!", ucap Tuan Reymond tiba-tiba. Sebagai pemerhati, tentu saja ia menyadari apa yang terjadi saat ini. Pasangan kekasih yang saling terpesona, begitulah pikirnya. Hingga akhirnya ia dan Ana menjadi terkekeh bersama.


Ben, pria eksentrik itu mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Tentu saja ia tak meninggalkan topi koboy yang menjadi ciri khasnya. Ia terus memandangi Ana dengan senyum damai dan mata yang begitu teduh. Sebagai seorang pria, dia juga amat terpesona oleh cantiknya wanita itu yang saat ini bagaikan seorang putri.


"Biarkan mata ini menjadi serakah untuk yang terakhir kali!", gumam Ben dalam hati.


Karena setelah ini, ia tak ingin terus memandangi Ana dengan tatapan seperti ini lagi. Sebab ia telah berjanji dalam hati, bahwa ia akan menjaga Ana seperti menjaga adik kandungnya sendiri. Ia akan menyayangi Ana dan tak akan membiarkan Ana tersakiti. Meskipun ia harus melawan Ken yang akan berperan menjadi sosok suami. Tapi jika suatu ketika pria itu berani menyakiti adik kesayangannya itu, maka tak ada ampun baginya untuk siapapun itu.

__ADS_1


Ken menangkap cara Ben memandang Ana dengan tatapan yang berbeda. Ingin sekali tangannya bergerak untuk meninju wajah pria yang telah kurang ajar memandangi wanitanya dengan tatapan penuh cinta kasih seperti itu. Tapi niatannya hanya angan-angan, karena mengingat Ben telah menyelamatkan Ana dan menyerahkan wanitanya itu dengan tangannya sendiri. Ken berusaha memahami apa yang Ben pikirkan saat ini. Mungkin ini adalah detik-detik terakhir sebelum Ben melepas wanita yang amat ia cintai kepada orang lain. Dan Ken berusaha mentolerir akan hak itu. Tapi jika ke depannya Ben masih berusaha mengejar Ana, maka pria itu harus menghadapinya dulu.


"Di saat-saat seperti ini, dia masih sempat-sempatnya cemburu!", gumam Ana dalam hatinya.


Ana, mempelai wanita itu turut merasa terpesona oleh betapa tampannya pria yang sudah berdiri di depan sana. Calon suaminya itu nampak gagah nan rupawan dengan setelan jas putih-putih dan sinar matahari pagi yang menambah bias ketampanannya. Ia meneruskan arah tatapan tajam mata prianya itu. Dan betapa ia ingin sekali tertawa, karena di saat momen penting seperti ini Ken masih bisa cemburu kepada pria lain yang sudah menganggap dirinya seperti adiknya sendiri. Ana menggeleng pelan seraya tersenyum mengingat sikap Ken yang selalu saja begitu posesif jika menyangkut dirinya.


Iring-iringan mempelai wanita telah mencapai depan altar. Tuan Reymond diikuti ketiga wanita itu menghentikan langkahnya. Ia melepaskan dengan perlahan tangan Ana yang memegang lengannya. Lalu menempatkan jemari itu ke atas telapak tangan Ken yang telah menjulur menyambut jemari Ana untuk ia genggam dan ia bawa ke sisinya. Lalu sepasang kekasih itu berdiri bersama di depan seorang penghulu.


Mereka telah selesai mengucapkan janji suci. Saat ini Ana dan Ken sudah sah secara hukum dan agama sebagai sepasang suami dan istri. Kemarin begitu Ana menyetujui syarat yang telah Ken ajukan, pria itu langsung memerintahkan Han mengurus berkas-berkas supaya dirinya dan Ana bisa sah menjadi suami-istri secara hukum hari itu juga. Dengan kekuatan uang tentu saja semua hal menjadi lancar, namun Ken tak mempedulikan betapa Han kerepotan kemarin itu untuk menuruti apa yang bosnya perintahkan.


Dan saat ini, Ken telah melengkapi pernikahan mereka, dengan acara yang dilangsungkan secara sederhana namun tetap khidmat prosesnya. Ana tak mempermasalahkan hal itu, toh baginya bisa sah menjadi istri dari pria yang amat ia cintai saja sudah cukup. Ia tak memerlukan kemegahan lainnya, karena kemewahan yang ia inginkan adalah berkumpul dengan orang-orang penting dalam hidupnya di saat-saat indah seperti sekarang ini Dan betapa beruntung dirinya bisa mendapatkan wanita yang hatinya bersahaja seperti Ana, pikir Ken.


Ken mengambil kotak merah yang berada di tengah-tengah pada nampan yang Han bawa. Kotak itu berisi sepasang cincin pernikahan mereka. Ken mengambil satu yang berukuran lebih kecil untuk ia sematkan di jari manis Ana. Cincin yang Ken gunakan untuk melamar Ana, tetap wanita itu gunakan pada jari manis tangan kirinya. Karena bagaimanapun juga, cincin itu juga sama bersejarahnya bagi Ana. Setelah itu bergantian, kini giliran Ana yang menyematkan cincin pernikahan mereka pada jari manis milik Ken. Lalu segera Ana mencium tangan suaminya itu, tanda bahwa ia menghormati Ken sebagai suaminya. Dan Ken pun langsung menghadiahi Ana dengan kecupan yang amat dalam pada keningnya.


Semua yang ada di sana bersorak-sorai. Ikut merasakan kebahagiaan tiaayda tara yang kini tengah dirasakan oleh pasangan suami-istri baru itu.


"Cium.. cium .. cium!", para hadirin bersorak dengan begitu bersemangat.


Ken menatap Ana penuh harap. Sedangkan Ana, ia menggelengkan kepala dengan kasarnya. Ia menolak mentah-mentah apa yang Ken harapkan kini.


"Ayolah sayang, kau tidak ingin mengecewakan mereka bukan?!", bisik Ken masih berusaha membujuk Ana.


"Tidak!", Ana menggeleng lagi.


"Ayolah! Sedikit saja, sayang!", bisik Ken lagi.


"Malu, Ken, aku malu! Lagipula kau bisa melakukan dengan sepuasnya nanti di sana!", bisik Ana malu-malu seraya menunjuk-nunjuk ke arah kamarnya di atas villa. Ana menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam akibat ucapannya barusan. Pasti ia telah membuat prianya itu amat bersemangat kini.


Sontak Ken langsung melebarkan seringainya sambil menatap arah telunjuk Ana bergerak. Ditambah lagi, dengan wajah Ana yang sudah seperti kepiting rebus membuat Ken makin tak sabar melahap hidangannya itu.


"Itu janjimu ya, sayang!", bisik Ken di telinga Ana yang sengaja dibuat dengan nada yang amat menggoda. Lalu ia hadiahi kecupan lembut di belakang telinganya.


Ana langsung menggelinjang merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik. Ia lalu memaku tubuhnya berdiri tegap menatap ke arah Ken sambil merasai sisa-sisa rasa geli yang menjalar ke sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Ken langsung mengambil keuntungan dari lengahnya Ana. Ia langsung mengecup bibir wanita itu. Memberi sedikit tekanan lalu menarik diri sebelum Ana tersadar dan ia mendapat hukuman.


Ana terkesiap setelah mendapat serangan tiba-tiba itu. Wajahnya makin merah saat orang-orang di sana malah makin bersorak setelah Ken berhasil menciumnya. Ana mengerucutkan bibirnya sambil menatap kesal ke arah Ken, lalu ia menghadiahi Ken dengan satu pukulan yang mendarat pada perutnya. Bukannya meringis, Ken malah ikut tertawa bersama semua orang yang ada di sana. Mereka bersama-sama merasakan euforia kebahagiaan yang tak terkira.


-


-


-


-


-


-


-


🌹🌹🌹


Meskipun udah ada cerita bahagianya, kalian jangan berhenti ikutin cerita selanjutnya ya. Karena pembalasan Joice belum terlaksana.


Author cuma sesekali ingetin nih sama temen-temen sekalian supaya enggak lupa buat kasih vote, like, sama komentar kalian ya πŸ˜‰


Karena author ingin sekali karya author ini makin banyak yang baca, supaya author bisa liat bagaimana hasil dari karya author yang pertama kali ini.. semoga kalian senang ya


Dan juga author mau berterima kasih buat kalian semua yang sudah kasih dukungan selama ini. Beribu-ribu ❀️ author kasih dari hati author yang terdalam


Keep strong and healthy ya teman-teman ☺️


Pokoknya jangan lupa buat kasih like, vote dan komentar... oke 😊


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2