Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 143


__ADS_3

"Nona Joice Alexander!", sapa Ana yang berada di dalam bayangan cermin itu, lebih tepatnya berada di hadapannya. Suara Ana mengalun lembut namun alunannya bisa membuat bulu kuduk Joice berdiri semua. Apalagi saat Joice memberanikan diri untuk menaikkan wajahnya dan pandangan mereka sempat bertemu, Ana menampilkan seringainya dengan mata membulat besar.


"Kau mengambil milikku, Nona! Ken adalah milikku! Milik Ana!", itu bukan pernyataan, Ana melakukan peringatan yang bernada ancaman dengan kalimat singkat yang dibuat lembut ketika didengar.


"Tidak,,, Ken adalah milikku! Sejak lama adalah milikku! Kau yang merebutnya dariku!", sahut Joice mulai terpancing emosionalnya.


"Kau sudah mati,,, aku sudah membunuhmu dengan tanganku sendiri! Kini Ken hanya akan menjadi milikku seorang! Ken milikku! Milik Joice Alexander! Sedangkan kau, kau sudah mati,,, sudah mati,,, Hahahaha,,,,,,", sambungnya lalu terbahak puas dengan kenyataan bahwa Ana telah mati di tangannya. Tak ada penghalang lagi baginya untuk memiliki Ken selamanya.


"Kalau begitu kau adalah pembunuh! Seorang pembunuh harus menerima balasannya!", wajah Ana tetap sama. Ia tetap menjaga seringai seramnya. Kedua tangan Ana yang awalnya memegangi sebuah buket bunga, tiba-tiba salah satunya mengayun ke atas sambil memegang sebuah pisau yang ujungnya terlihat sangat tajam hingga berkilau.


Mata Joice membulat besar hingga hampir keluar. Lalu tubuhnya kembali bergetar sangat ketakutan.


"Ti,, tidak! Jangan mendekat! Jangan mendekat! Ampun Ana,, ampuni aku! Aku salah,,, aku salah!", Joice menggunakan kedua tangannya untuk dijadikan tameng bagi dirinya. Tubuhnya yang menggigil ketakutan meringkuk di balik tangannya yang menyilang di depan wajahnya.


ttek


Lampu kembali menyala. Nyonya Rima datang bersama fotografer yang tadi dipanggilnya, lalu menyusul Ken dan juga Sam di belakang mereka. Keempat orang itu nampak terkejut atau lebih tepatnya berpura-pura terkejut melihat keadaan Joice saat ini. Duduk bersimpuh dengan kedua tangan menyilang menjadi tameng bagi dirinya. Dan jelas sekali tubuh itu sedang bergetar hebat.


"Joice sayang, ada apa denganmu?", Nyonya Rima menyentuh bahu wanita itu yang masih menggigil ketakutan.


Perlahan Joice mengangkat wajahnya, kedua matanya mengedarkan pandangan. Wajahnya yang sudah pucat kembali tegang.


"Jadi semua orang melihat keadaanku yang sedang kacau begini?! Dan ada Ken juga?!", Joice menyembunyikan keterkejutannya dalam hati.


Masih dengan wajah terperangah, tubuhnya ikut bangkit dari duduknya saat Nyonya Rima membantunya untuk berdiri. Keringat dingin sudah memenuhi keningnya, ekspresi tertekan tak dapat ia sembunyikan. Kejadian tadi terlalu membuatnya hilang kesadaran. Masih diam, matanya bergerak ke arah cermin besar di hadapannya. Tadi di sana ada Ana dengan gaun dan riasan yang sama, dan mencoba membunuhnya. Tapi sekarang hanya ada pantulan gambar dirinya, hanya ada rupa dari Joice seorang. Tangan gemetarnya naik berusaha menyentuh cermin itu. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu semua tidaklah benar. Penampakan Ana tadi hanya semu, ia ingin meyakinkan dengan tangannya sendiri.


"Kau kenapa?", pertanyaan Ken terlontar tepat saat Joice berhasil menyentuh cermin itu dengan ujung jarinya.


"Tidak ada!", Joice tersenyum kaku sebelum menjawab pertanyaan Ken.


"Aku hanya merasa cermin ini palsu. Karena tadi,,,,", ucapannya segera dipotong oleh Sam.


"Apa maksud ucapanmu? Jelas saja ini cermin asli. Lihatlah!".

__ADS_1


ttok,,,ttok,,,ttok! ttok,,,ttok,,,ttok!


Sam mengetuk cermin besar itu dengan tangannya untuk memastikan sendiri bahwa itu memanglah cermin sungguhan.


"Ini memang cermin, Joice! Ada apa denganmu?" tanya Sam ketus.


"Ya ampun sayang,,, wajahmu jadi pucat begini! Lalu bagaimana dengan sesi pemotretan kita kali ini?!", keluh Nyonya Rima sambil menyentuh wajah Joice untuk ia telisik ke kanan dan ke kiri.


"Ya ampun! Bunda hebat sekali aktingnya!", gumam Sam dalam hati.


Ia membuang muka sambil menutup mulutnya dengan kepalan tangan, mencoba menahan tawa yang akan meledak keluar mungkin akan berbunyi nyaring. Mata Ken menangkap hal itu, matanya langsung berubah tajam menatap ke arah adiknya itu. Betapa bodohnya Sam, jika sampai rencana mereka terbongkar nanti, maka Ken tak akan segan-segan mengakhiri hidup adiknya itu.


"Maaf Nyonya, sepertinya kita harus membatalkan sesi pemotretan kali ini. Kondisi Nona Joice tidak memungkinkan, jika dipaksakan saya takut hasilnya tidak bagus", kali ini sang fotografer membuka suara seperti skenario yang telah mereka persiapkan.


"Tidak apa-apa, Tuan! Saya masih bisa, saya yakin masih bisa!", Joice mencegah fotografer itu pergi.


"Biarkan dia pergi! Kondisimu yang seperti ini malah akan membuat hasil yang memalukan", ucap Ken tajam. Setelah itu sang fotografer kembali melangkah keluar ruangan seperti apa yang Ken katakan.


"Tapi Ken, bagaimana dengan fotonya?", tanya Joice merasa bersalah. Karena dirinya sesi foto prewedding yang harusnya ia lakukan dengan Ken malah batal.


"Tentu saja tidak, hari pernikahan kita yang lebih penting!", sahut Joice secepat kilat.


"Kalau begitu pulanglah dan beristirahat! Dua hari lagi adalah hari pernikahannya!", perintah Ken pada Joice dengan nada dingin seperti biasanya.


"Ya, baiklah! Aku akan ganti pakaian dulu!", Joice menghela nafas karena akhirnya ia benar-benar tidak melakukan foto prewedding sama sekali. Angannya menggantung foto ia dan Ken di rumah mereka nanti pupus sudah karena kejadian yang tak terduga tadi. Wajah piasnya membuat Nyonya Rima mengambil inisiatif untuk menemaninya berganti pakaian.


Ken juga memutuskan untuk kembali menemui Ana sebentar. Sebisa mungkin ia mencuri-curi waktu untuk bisa melihat wajah cantik istrinya itu. Wajah yang selalu dirindukannya meski hanya sebentar saja ia tak melihatnya. Matanya, hidungnya, pipinya, dan terutama bibirnya, semua bagian wajahnya sudah menjadi candu bagi Ken untuk dinikmatinya.


krrett


Pintu ruangan Ana yang berada di samping ruangan Joice berada dibuka oleh Ken. Nampak di sana, Ana sedang duduk di depan meja rias yang di hadapannya terdapat cermin dengan banyak lampu terang dan ada Sarah yang tengah membantunya membuka sanggul pada rambutnya. Lalu Ken lebih memilih duduk di sofa sambil memandangi wajah cantik istrinya dari pantulan cermin yang sedang dibersihkan riasannya.


"Aku tau, aku memang cantik!", ucap Ana ketus pada pantulan wajah Ken yang sedang memandanginya dari arah belakang. Dan suaminya itu hanya tersenyum karena ia tau bahwa istrinya itu masih dalam mode cemburu.

__ADS_1


"Cih!", Sarah berdecak kesal mendengar ucapan Ana yang terlalu percaya diri.


"Iya, kau memang cantik, sayang!", dengan sabar Ken malah membalas ucapan Ana dengan sangat lembut.


"Astaga!", gumam Sarah pelan seraya memutar bola matanya. Rasanya ia ingin segera pergi dari ruangan ini. Mana tahan dirinya yang melajang ini berada di antara pasangan pengantin baru yang bahkan kadang tidak tau tempat untuk menunjukkan kasih sayang mereka. Sarah bertekad untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.


"Jadi kau sudah selesai bermesraan dengan wanita licik itu?", tanya Ana dengan bibir mencibir.


"Sudah!", jawab Ken singkat sambil mengurai senyumnya.


Mata Ana membulat besar, wajah garangnya sudah mulai keluar. Sarah yang melihat hal itu rasanya ikut bergidik ngeri. Tekadnya kali ini benar-benar bulat, ia harus segera pergi dari sini.


"Kakak!", seru seseorang yang tak lain adalah Sam dari arah luar.


"Wah, kebetulan! Masa bodoh lah dengan si bodoh itu!", gumam Sarah dalam hatinya.


-


-


-


-


-


-


-


teman-teman jangan lupa ikutin terus ya akhir-akhir cerita ini,, dan ikutin juga ya ceritanya Ben dan Rose di sana..


🌹"Hey you, I love you!"🌹

__ADS_1


Dan aku ingetin sekali lagi,, jangan pernah lupa buat kasih like, vote sama komentar kalian di sana maupun di sini ya teman-teman 😘


keep strong and healthy ya guys 😉


__ADS_2