
"Sayang! Kau memakai seluruh tenagamu, ya? Lihat, pinggangku sampai biru begini!", saat sudah dekat, dengan tidak tahu malunya Sam langsung membuka sebagian pakaiannya itu sampai menunjukkan sisi pinggangnya yang memiliki bercak biru.
"Kau ini benar-benar, ya!", dengan cepat Sarah menutup mata Krystal. Sebelum wanita di sebelahnya itu meneteskan air liur, karena Sarah tidak memungkiri jika tubuh suaminya itu memang sangatlah indah. Pantas saja jika banyak wanita yang tergila-gila kepada suaminya itu.
"Tutup!", bisiknya pelan dengan barisan gigi yang ia rapatkan dan ekspresi tidak sabar.
"Tutup, Sam!", bisiknya lagi dengan suara yang ia tinggikan sedikit, ketika suaminya itu hanya diam tak mengerti seperti orang bodoh. Malahan, alis pria itu mengernyit seakan bertanya.
"Tutup matamu! Awas saja, jika kau sampai membukanya!", maka Sarah mengambil telapak tangan Krystal untuk ia tutupkan pada mata orang itu sendiri sambil mengancamnya.
"Aku sudah sering melihat yang seperti itu!", sambil terkekeh ia tetap menuruti keinginan sahabatnya itu.
Sarah berjalan menuju Sam dengan wajah setengah kesal.
"Kau itu ingin mengeluh atau ingin pamer tubuhmu?", tangannya segera menarik pakaian Sam turun dengan kasar.
"Sudah, jangan cerewet lagi! Ayo, duduk!", ia pun menarik tangan suaminya itu untuk ikut duduk bersama. Sarah sedikit merasa bersalah setelah melihat tanda kebiruan di pinggang suaminya itu. Jadi kali ini ia memilih untuk tidak mengomel lagi.
"Sudah belum?", ia masih menutup mata dengan tangannya sendiri. Krystal pura-pura bertanya, meksipun sebenarnya ia sudah tahu jika kedua orang itu sudah duduk di sebelahnya.
"Tutup saja terus selamanya!", jawab Sarah ketus saat melihat sahabatnya itu tertawa. Ia yakin maksud Krystal itu hanya untuk menggodanya saja.
"Kau ini kenapa galak sekali, sih!", Krystal menurunkan tangannya lalu menyenggol tubuh sahabatnya itu pelan. Sahabatnya itu kadang terlalu serius.
"Memang benar! Lihat saja,,,", Sam berhenti sebentar saat Sarah kembali memelototinya karena ia hampir saja membuka pakaiannya kembali untuk menunjukkan jejak kebiruan yang istrinya itu buat.
"Ya, hanya karena beberapa kata saja, aku sudah dianiaya sampai seperti ini! Pinggangku sakit sekali!", ia tidak jadi membuka pakaiannya, tapi melanjutkan mulutnya untuk mengeluhkan tindakan istrinya itu.
"Kau ini memang benar-benar seperti perempuan! Bagaimana nanti jika kau sudah punya anak?! Jangan sampai anakku menuruni semua sifat jelekmu itu!", Sarah kembali mengomeli suaminya itu dengan wajah kesalnya.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar ya, Sayang, untuk mempunyai anak denganku?! Kalau begitu kau cabutlah hukumanmu untukku berpuasa selama seminggu, ya, Sayang!", Sam mencubit dagu istrinya itu untuk menggodanya.
__ADS_1
"Tidak akan!", dan tentu saja Sarah langsung menampik tangan suaminya itu dengan wajah galak khasnya.
Krystal terkekeh melihat tingkah suami-istri itu. Paling tidak, hatinya terhibur untuk sementara waktu ini. Ia menipiskan bibirnya sambil menikmati hiburan ini.
"Apakah benar, Sarah, yang baru saja Ibu dengar?", tiba-tiba saja terdengar suara Ibu Asih dari arah belakang mereka.
Ketiga orang itu langsung terdiam. Tak ada yang berani mengeluarkan suara, bahkan Krystal sekali pun. Padahal ia tidak terkait sama sekali dengan hal yang mereka perdebatkan itu.
"Ayo, jawab! Apa benar kau meminta suamimu untuk berpuasa selama seminggu, Sarah?", tanya Ibu Asih dengan nada tegas. Semua orang telah berbalik dan menghadap ke arahnya. Seperti murid-murid yang sedang diinterogasi oleh gurunya. Meskipun begitu, Sam merasaka angin segar di dalam hatinya. Akhirnya ada juga orang yang akan membelanya.
"Iya benar, Bu! Habisnya Sarah kesal, Bu! Tadi sebelum kami makan siang, ada seorang wanita yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya! Siapa juga yang tidak akan kesal jika tiba-tiba ada orang yang mengaku sebagai kekasih suaminya sendiri! Dan tentu saja, itu adalah karena ulahnya di masa lalu yang menjadi seorang playboy!", Sarah beranikan diri untuk mengangkat kepalanya, mencoba menjelaskan duduk permasalahannya karena ia tidak mau disalahkan sendirian karena hal ini.
"Kalau begitu aku setuju dengan Sarah, Bu!", suara Krystal yang tiba-tiba membuat Sam menurunkan lengkung bibirnya. Ia murung karena ia berfirasat jika apa yang akan keluar dari mulut Krystal hanya akan membuatnya semakin terpojok saja.
"Tuan Sam itu dulunya terlalu ramah terhadap semua wanita, Bu! Makanya banyak wanita yang tidak tahu diri dan salah mengartikan sikapnya. Sudah begitu, lebih seringnya Tuan Sam hanya membiarkan saja wanita-wanita gatal itu menempel padanya!", dengan semangat Krystal membeberkan kenyataan di masa lalu itu. Sebagai sesama wanita, tentu saja ia harus membela sahabatnya itu. Meskipun dulunya ia juga sempat terlena dengan sikap baik bosnya itu.
"Kau juga termasuk dari wanita-wanita itu, kan?!", Sarah menampakkan wajah nyinyirnya pada Krystal.
Mata Sam terbelalak lebar mendengar penuturan itu. Memangnya dirinya seburuk apa sehingga seorang Krystal saja tidak mau dengan dirinya?! Sudah jelas bukan jika tadi wanita itu mengatakan jika dirinya ini tampan dan kaya, jadi dimana letak kekurangannya?! Pria itu tidak juga sadar diri dengan tingkah konyolnya yang sering kali membuat orang marah.
"Iya juga, sih!", Sarah mengangguk setuju dengan penuturan sahabatnya itu.
"Sudah jangan diteruskan lagi! Sarah, bagaimana pun juga Nak Sam sekarang sudah menjadi suamimu! Yang terjadi tadi siang adalah kesalahan wanita itu, bukan salahnya. Jadi tidak sepantasnya kau mengatakan hal seperti itu kepada suamimu! Dan itu juga adalah salah satu kewajibanmu untuk melayani suamimu. Mengerti!", Ibu Asih menengahi mereka semua.
Ia berkata seperti ini, bukan karena ingin membela siapa-siapa. Wanita paruh baya itu hanya mengatakan apa yang ada dipikirannya. Tidak peduli Sarah adalah putrinya, jika memang ia merasa sikap putrinya itu tidak sesuai, maka ia tidak akan segan untuk menegur putri sulungnya itu.
Sarah ingin menangis dalam hati karena ibunya malahan tidak membela sama sekali. Sedangkan Sam, suaminya itu sedang tertawa girang. Tentu saja masih ia sembunyikan dalam batinnya. Karena jika ia tertawa keras sekarang, sudah pasti istrinya akan meneruskan hukumannya lagi padanya. Ya,, paling tidak, untuk saat ini ia menang. Haha,,,
"Dan kau, Nak Sam! Sebisa mungkin hindari semua wanita yang pernah dekat denganmu dulu! Jangan membuat putri Ibu kecewa!", ternyata Sam tidak ketinggalan mendapat ceramah juga dari ibu mertuanya.
"Siap, Bu! Aku malahan sudah memasang garis dan memerintahkan keamanan untuk mengusir mereka, bahkan sebelum mereka sampai di depan kantorku!", tertawa senang, Sam memberi hormat kepada Ibu Asih layaknya seorang prajurit.
__ADS_1
"Baguslah, kalau begitu! Berarti tidak ada masalah lagi, kan, sekarang?! Ibu mau mandi dulu, ya! Nanti kita makan malam bersama!", ia menepuk bahu menantunya seraya berlalu pergi.
Di saat Sam tengah terbawa rasa senang dan gembiranya, tiba-tiba Sarah sudah berdiri di hadapannya. Mata wanita itu menyipit sambil menempatkan kedua tangannya di pinggang.
"Meskipun Ibu berkata seperti itu, semua keputusan tetaplah ada di tanganku! Kau,,, ", ia menempatkan telunjuknya tepat di depan wajah suaminya itu.
"Tetap berpuasa selama se-ming-gu!", lalu Sarah menarik punggungnya hingga ia berdiri dengan tegak. Namun tangannya masih bertahan di pinggang.
"Benarkah?! Kalau begitu aku akan katakan pada Ibu!", jawab Sam dengan entengnya seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar tukang mengadu!", Sarah menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai.
"Ayo, Krystal! Lebih baik kita ke kamarmu sekarang!", lantas ia tarik tangan sahabatnya itu tanpa menoleh lagi ke arah suaminya. Bibirnya merengut, sejalan dengan ekspresi kesalnya.
Tubuhnya ikut terbawa langkah Sarah dengan tak berdaya. Selagi melewati bosnya itu, ia hanya dapat meringis kaku. Memohon maaf karena tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah sahabatnya yang galak itu.
Sam mengangkat salah satu tangannya sebagai isyarat bahwa ia tidak apa-apa. Membiarkan istrinya itu tenang dulu mungkin lebih baik saat ini. Masalah hukuman itu, bukannya ada di tangan Sarah. Tapi tetap saja ada di tangannya. Itu hanyalah sebuah keputusan dimana ia harus menghormati keinginan istrinya itu. Masalah dia ingin atau tidak, semua tergantung Sam. Di sini dia adalah lelakinya, jika pun Sarah menolak, bisa apa istrinya itu ketika sudah disentuh di sana-sini olehnya. Paling juga tidak akan tahan.
Pria itu tertawa dengan pikirannya sendiri. Hingga tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari samping.
"Kau baru datang?", sapa orang itu.
-
-
**jangan lupa mampir lho ke novel kedua aku,,
"Hey, You! I Love You!"
klik profil aku ya,, pokoknya jangan lupa, okeh 😊ðŸ¤**
__ADS_1