Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 35


__ADS_3

"Aku mau seperti itu lagi!", Ana bergelayut manja pada lengan suaminya. Ibu hamil itu tiba-tiba ingin mendapatkan sebuah kejutan lamaran romantis seperti yang Krystal alami tadi. Padahal dulu, Ken sudah memberikannya lamaran yang begitu romantis di pinggir pantai. Tapi karena melihat Krystal, ia jadi ingin seperti dilamar lagi. Seperti itu!


"Baiklah! Apa pun untukmu, Sayang! Setelah pulang nanti aku akan mempersiapkan sebuah kejutan untukmu!", melihat senyum manis Ana, Ken jadi tidak tahan. Ia mencubit hidung istrinya itu dengan gemas sampai wajah Ana bergoyang ke kanan dan ke kiri.


Lagipula mana bisa ia menolak keinginan istinya yang sedang mengandung itu. Pikirnya, bisa jadi itu juga merupakan keinginan calon jabang bayinya juga. Sebagai ayah yang baik, tentu saja ia akan melakukan apa pun untuk keluarga kecilnya. Membuat kejutan seperti itu bukanlah hal yang sulit baginya.


"Tapi aku minta imbalan di muka!", lelaki itu tetap berkompromi tentang hal ini. Ia menaikkan kedua alisnya bersamaan dengan wajah serius.


"Iya,, iya,, baiklah! Tapi nanti setelah kita sampai di rumah, ya!", kemudian Ana berbisik ke telinganya. Wanita itu malu terang-terang mengatakan hal ini di depan umum. Wajahnya yang memerah ia sembunyikan di balik lengan suaminya. Entah kenapa, semenjak kehamilannya ini ia jadi semakin suka dijamah oleh raja singanya. Hatinya serasa dipenuhi dengan bunga-bunga.


"Oke!", jawab Ken singkat, jelas, padat. Dan tak merubah wajah datar biasanya. Namun lelaki itu sedikit menaikkan lengkung bibirnya secara samar. Sebagai seorang pengusaha, ia harus selalu mengambil keuntungan dalam setiap langkahnya. Termasuk hal yang bersangkutan dengan istrinya, yang semakin menggemaskan saja semenjak hamil. Itu harus!


Kemudian ia daratkan satu kecupan singkat pada dahi Ana sebagai penutup perbincangan romantis yang membuat mereka lupa diri jika saat ini masih ada beberapa manusia tunggal yang betah menyendiri. Adam memandang dengan tatapan nyinyir pada pasangan suami istri itu. Selalu saja mengumbar kemesraan dimana pun mereka berada.


"Ya ampun, Sandi! Kau sejak tadi masih memegangi buket bunga sebesar ini?!", teriak Sarah histeris ketika melihat adiknya itu sedang bergerak ke arah mereka. Sandi menjadi yang paling terakhir bergabung dengan mereka semua karena ia harus berjalan dengan hati-hati. Sedangkan pandangan matanya saja terhalangi oleh deretan mawar-mawar itu.


"Tidak apa-apa, Kak!", Sandi tak mengindahkan gerakan tangan Sarah yang berniat mengambil buket bunga itu dari tangannya. Ia menjauhkan karangan bunga itu dari tangan Sarah. Lagipula ini memang tugas dan kesediaannya sendiri untuk membantu Louis. Jadi tidak merasa terbebani sedikit pun.


"Astaga! Aku sampai melupakanmu, Sandi! Maaf!", Louis hendak menghampiri Sandi untuk mengambil buket bunga dan ia serahkan kepala Krystal. Namun Sarah sudah lebih dulu merebutnya.

__ADS_1


"Ini! Kau kan sudah menerima lamaran Louis! Jadi terima juga bunganya! Jangan membuat tangan adikku lelah!", Sarah membuka tangan Krystal, kemudian meletakkan buket bunga besar itu kepadanya dengan kasar.


"Dasar nenek sihir!", Krystal mencibir. Sedangkan Louis dan Sandi saling bertukar pandang sambil menggelengkan kepala mereka. Mereka sama-sama tahu sifat para wanita, jadi sudah tak heran lagi melihat hal-hal seperti ini di depan mata mereka seperti sekarang ini.


"Cantik sekali! Terima kasih!", tak menghiraukan Sarah yang mendekat ke arah suaminya. Krystal memandangi gumpalan merah besar di tangannya itu. Ia hirup wanginya sampai memejamkan mata. Kemudian ia sejukkan matanya dengan warna merah indah yang telah dirangkai sedemikian rupa. Wanita itu memandang Louis dengan binar cinta di matanya. Ia dekap erat gerombolan mawar itu seakan yang ia peluk adalah kekasihnya sendiri. Tak rela ia melepaskannya.


Melihat kekasihnya sangat senang dengan bunga yang telah dipersiapkannya, Louis pun merasa lega. Hanya saja masih ada yang mengganjal di dalam hatinya saat ini. Ia sedang memikirkan keberadaan cincin lamaran yang sudah dipersiapkannya. Kemanakah dia pergi?! Louis menggaruk kepalanya sambil berpikir sendiri.


"Krystal!", seru Nyonya Harris sambil mendorong kursi roda suaminya mendekat.


"Ya, Mama!", Krystal terhenyak dalam romansanya dengan mawar-mawar itu. Ia berbalik dengan sedikit keterkejutan di matanya.


Nyonya Harris pun tak kuasa untuk tersenyum. Ia menghampiri calon menantunya itu seraya berkata, "Mama ingin memberikan sesuatu kepadamu! Coba ulurkan tanganmu! Dan ohh,, berikan buket itu padanya dulu!".


"Karena Louis tidak bisa memberikan cincin lamaran yang sesungguhnya, maka biar Mama saja yang memberikannya!", ucap Nyonya Harris yang saat ini sedang serius membuka sebuah kotak kecil yang sangat familiar di mata putranya. Louis mendekatkan wajahnya mencoba menelisik kemiripan kotak itu dengan kotak yang dikenalnya.


"Mau apa kau?!", Nyonya Harris melirik tajam pada putranya. Louis pun urung maju lagi, dan kembali berdiri tegak sambil terus memperhatikan.


"Terima kasih karena kau sudah mau menerima putra kami!", wanita paruh baya itu pun selesai melingkarkan jari manis Krystal yang satunya dengan sebuah cincin dengan mata berlian besar di tengahnya. Ia mengusap jari jemari itu kemudian menarik Krystal ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Mama, itu kan cincinku! Dari mana Mama mendapatkannya!", pekik Louis histeris membuat semua orang menoleh kepada mereka. Pelukan itu pun berjalan singkat sebelum Krystal berhasil mengatakan satu kalimat pun untuk calon mertuanya.


"Kau sendiri yang menjatuhkannya sebelum kita berangkat! Sudah tahu akan menjalankan misi penting, tapi kenapa masih saja begitu ceroboh begini! Kau ini sebenarnya putra siapa?! Ayahmu padahal tidak sembrono seperti dirimu! Untung saja Krystal masih mau menerima dirimu! Bagaimana jika dia tidak mau?! Lalu akan menikah dengan siapa kau nanti, hah! Apakah kau akan terus melajang sampai seumur hidupmu?!", Nyonya Harris segera berubah menjadi seorang penyanyi rap yang baru saja menemukan lirik lagunya sendiri. Tak lupa ia juga terus memukul bahu dan punggung putranya itu sebagai hukuman karena telah ceroboh, meski ia tahu kondisi pagi ini memang tidak cukup kondusif lantaran Krystal yang tiba-tiba menghilang dan membuat semua orang panik.


"Krystal terlalu mencintaiku, Mama! Jadi sudah pasti dia akan menerimaku meski tidak ada cincin lamaran! Iya kan, Sayang! Kau pasti akan tetap menerima lamaranku, kan?! Aku tahu kau sangat mencintaiku sekarang!", sambil memakai kedua lengannya sebagai tameng dari tindakan keras ibunya itu terhadap dirinya, Louis mencoba membela diri seraya meminta dukungan dari kekasihnya.


"Heh! Kau terlalu percaya diri!", Krystal tak bergeming. Kali ini ia mendukung tindakan calon ibu mertuanya. Melihat Louis ditindas seperti ini sangat asyik rupanya. Ia pun bertukar senyum dengan Nyonya Harris. Melihat ibu dan kekasihnya, Louis merasakan krisis. Belum menikah saja ia sudah merasa hubungan mereka akan membahayakan nyawanya. Tuan Harris yang sejak tadi damai di kursi roda pun tertawa. Sudah lama ia tak merasa lepas seperti ini.


"Wah,, wah! Keluarga Harris sekarang begitu ramai, ya!", suara bariton menyapa mereka dari kejauhan.


Semua pasang mata memandang ke arah yang sama, ke arah suara itu datang. Tak terkecuali Ken, yang memandang orang itu dengan tatapan awas dan penuh selidik.


Olahraga di antara ibu dan anak pun berhenti. Nyonya Harris kemudian merapatkan diri ke arah suaminya. Sedangkan Louis merapikan penampilannya yang sedikit berantakan akibat ulah ibunya itu. Ia menyapu jasnya dengan kibasan tangan yang cepat, menyingkirkan debu-debu dari sana sekaligus meluruskan bagian-bagian jas yang agak kusut. Segera ia merangkul Krystal sambil memegangi buket bunga besar itu di tangan satunya.


Apa yang mau dilakukannya?! Louis menatap orang itu dengan tatapan sangat waspada. Pegangannya di bahu Krystal pun semakin erat, sebagai tindakan defensif terhadap kekasihnya itu.


"Ku dengar dari jauh katanya ada sebuah acara lamaran romantis di sini! Jika dilihat-lihat sepertinya tidak ada orang lain lagi selain kalian!", pria itu menatap mereka satu persatu dengan tatapan merendahkan. Adam dan Sam yang terlihat geram, kemudian Ken menahan mereka semua supaya tetap tenang.


Mereka semua sudah tahu siapa sosok orang itu sebenarnya. Dia tak lain adalah Tuan Sanchez. Orang terkaya nomor dua di negara mereka berada saat ini. Mereka semua sudah mengulik profil orang yang akan menjadi lawan bertarung Louis nanti. Jadi ketika dia datang, mereka semua langsung tahu siapa gerangan orang itu. Sombong, jelas adalah kesan mereka pertama kali kepadanya.

__ADS_1


"Papa!", seruan dari jarak yang cukup jauh juga datang menghampiri mereka semua. Alleta berjalan agak cepat bersama dengan ibunya.


Di momen ini, waktu seakan berhenti. Hingga yang terjadi adalah perang tatapan sengit antara Krystal dengan Alleta, wanita yang baru datang itu. Aura permusuhan seketika terasa kental di antara mereka semua.


__ADS_2