
"Mana buktinya!", tangan Sarah menengadah dengan wajah tenangnya.
"Bukti? Tentu,, tentu saja buktinya ada di sini!", Sisil mulai tergagap karena Sarah berhasil menyerang balik dirinya.
"Dimana?", Sarah mengedarkan pandangannya ke sekitar dirinya dan sofa tempat dimana dirinya dan Sam berada. Tapi bibirnya seakan sedang tersenyum mengejek ke arah wanita yang berada di hadapannya.
Kedua wanita di belakang Sisil mempunyai firasat buruk. Keduanya mundur beberapa langkah menjauh dari Sisil. Mereka tak ingin terbawa oleh urusan ini. Bagaimanapun juga di sini jabatan Sarah lebih tinggi dari mereka. Dan Sisil mulai merasa tubuhnya gemetar saat ini.
"Bu,,bu,,bukti?!", Sisil mulai tergagap karenanya. Sial, kali ini ia sudah salah langkah rupanya. Wanita yang ia hadapi tidak selemah yang ia pikir. Kali ini ia masuk perangkapnya sendiri.
"Ya, bukti! Mana buktinya?!", Sarah menantang balik wanita itu. Melihat kegugupan yang Sisil tunjukkan jelas bahwa kali ini ia yang akan menang. Toh, memang ia tak melakukan apapun. Ia tak melakukan apa yang Sisil ucapkan. Bahkan saat ini ia sedang berusaha menolong pria mabuk ini.
"Tidak punya, kan?!", Sarah tersenyum mengejek ke arahnya. Benar-benar merendahkan Sisil kali ini.
Beberapa orang mulai membicarakan Sisil yang kerjanya selalu mencari masalah saja. Mencibirnya dan tak jarang mereka menghujat Sisil di belakang. Lagipula mereka yang berada di sekitar tempat duduk itu pun tau sendiri apa yang Sarah berusaha lakukan sejak tadi. Mereka tak termakan ucapan Sisil begitu saja.
Di tengah bisingnya orang-orang yang mula mencibir bagaimana tindakan Sisil kepada Sarah barusan, dua orang datang ke arah mereka. Doni datang bersama seorang pria paruh baya.
"Sarah, bapak ini supir pribadi Tuan Sam!", Doni menghela tangannya dengan sopan mempersilahkan supir Sam mendekat. Wajah pria paruh baya itu jelas terdapat banyak gurat kekhawatiran dan kepanikan.
"No,, Nona, Anda Nona Sarah, kan?", pak supir mencoba mengingat-ingat jika dirinya pernah mengantar tuannya ke rumah seseorang sewaktu baru pulang dari rumah sakit tempo hari. Dimana akhirnya Sam pingsan saat sedang mengejar wanita itu.
"Bapak mengenal saya?", pertanyaan Sarah membuat semua orang mulai memikirkan pertanyaan mereka masing-masing.
"Tentu saja saya ingat. Saat itu saya yang mengantar Tuan Sam ke rumah Nona, hingga Tuan Sam pingsan saat mengejar,,, ", langsung saja Sarah memutus ucapan pak supir itu.
"Ah ya, saya ingat!", Sarah langsung memegang lengan pak supir sedikit meremasnya. Memberi isyarat kepada pria itu agar berhenti bicara.
Lagipula mana mungkin dia tidak ingat. Tentu saja ingat, itu adalah momen dimana Sam lagi-lagi membahayakan dirinya untuk Sarah.
Tapi,,, separuh ucapan pak supir sudah terlanjur terdengar oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Mulailah timbul banyak spekulasi tentang dirinya.
"Dia hanya wanita biasa. Bagaimana Sarah bisa kenal dengan Tuan Sam?".
"Iya, bagaimana mungkin? Bahkan Tuan Sam sudah tau rumah Sarah! Apa jangan-jangan mereka memiliki hubungan?".
"Pantas saja sejak tadi hanya Sarah yang mampu membuat Tuan Sam tidak marah-marah".
"Iya benar! Tapi bagaimana mungkin mereka bisa saling kenal. Dan bahkan dekat sepertinya?!".
Beberapa obrolan di belakangnya, membuat Sisil menjadi panas dan kegerahan. Ia mengipasi dirinya sendiri dengan telapak tangannya. Wanita itu tak percaya jika memang Tuan Sam itu mengenal Sarah. Seorang wanita biasa yang tidak ada kelebihannya sama sekali jika dibandingkan dengan dirinya. Heh, paling juga Sarah hanya menawarkan tubuhnya saja seperti wanita yang lainnya lakukan pada Tuan Sam. Sisil sungguh menyimpan dengki di dalam hatinya.
__ADS_1
"Bapak, Tuan Sam sudah mabuk berat. Aku takut terjadi apa-apa pada lukanya. Bagaimana jika bapak membawanya pulang saja?", Sarah memberi saran dengan sopan.
"Dengar, luka apa? Bahkan sepertinya Sarah tau tentang luka yang diderita Tuan Sam. Hubungan mereka pasti tidak begitu sederhana".
"Ya benar, kupikir mereka cukup dekat".
Suara-suara itu benar-benar membuat Sisil mengepulkan asapnya. Ia tak tahan lagi untuk mencibir wanita itu.
"Hey, orang miskin!", tegurnya dengan nada yang amat tidak menyenangkan.
"Sisil jaga ucapanmu!", bentak Doni yang sudah jera dengan sikap kurang ajar Sisil sejak lama.
"Diam kau jangan ikut campur!", Sisil menunjuk wajah Doni dengan penuh kebencian. Kali ini gilirannya untuk membuktikan bahwa Sarah hanyalah sebuah debu baginya. Tidak bisa dibandingkan dengan dirinya sama sekali.
"Nona Sarah, saya takut Tuan dan Nyonya besar akan marah kepada saya jika tau lagi-lagi saya membuat Tuan Sam sakit lagi. Bagaimana jika Nona ikut membawa Tuan Sam bersama saya. Tadi Tuan Sam berpesan untuk membawanya ke apartemennya saja", jelas pak supir dengan wajah sangat khawatir.
"Bapak, tolong jangan mempercayai Sarah begitu saja. Dia ini wanita tidak baik. Bagaimana jika bersama saya saja, membawa Tuan Sam ke apartemennya?", Sisil menerobos orang-orang hingga kini ia berada di sebelah pak supir sambil memasang senyum manisnya.
"Maaf Anda siapa?", pak supir menoleh dengan wajah heran.
"Saya,, emmh,,, saya temannya Tuan Sam. Ya, temannya Tuan Sam", Sisil dengan manja memegangi lengan pak supir sambil berusaha meyakinkan ucapannya barusan.
Sarah kini benar-benar mengumpat dalam hatinya. Bagaimana bisa ada wanita yang begitu tidak tau diri seperti ini. Haduh,, Sarah menepuk jidatnya sendiri. Tak habis pikir dengan tingkah konyol manusia satu ini. Andai saja Sam bangun sekarang, mungkin wanita tak tau malu ini sudah ditendang ke belakang.
jleb
Sisil sudah ditembak mati sekarang. Ia kesusahan menelan salivanya yang tersangkut di tenggorokan. Tembakannya lagi-lagi membidik dirinya sendiri. Sial sungguh sial Sisil hari ini. Apalagi tadi ia lengannya sudah sempat membiru gara-gara di dorong dengan kuat oleh Sam. Ia benar-benar harus menelan ribuan malu saat ini. Tapi namanya juga wanita tak tau malu. Ia masih bersikeras dan malahan membawa orang lain untuk jatuh bersamanya.
"Lalu bagaimana Tuan Sam bisa mengenal wanita ini, hah? Dia juga seorang pelayan di sini", bentak Sisil tidak suka karena tadi ia merasa diinjak harga dirinya saat pak supir menyebut kata pelayan kepada dirinya.
"Maaf Nona, tapi Nona Sarah bukan teman Tuan Sam", Sisik sudah menyeringai duluan. Ia yakin Sarah akan terjerembab juga sama seperti dirinya.
"Tuan Sam bilang Nona Sarah adalah keka,,,", Sarah segera mencegah lagi ucapan yang akan terlontar dari mulut pak supir yang kelewat jujur ini.
"Aku ini adalah kerabatnya. Ya, kerabatnya!", Sarah berusaha menjelaskan kepada semuanya sambil tersenyum canggung.
"Bagaimana mungkin, Nona! Tuan Sarah bilang Nona Sarah itu adalah kekasihnya!", sergah pak supir dengan cepat dan juga wajah polosnya tak ketinggalan.
"Ya, ampun!", Sarah mengusap wajahnya kasar.
Hal itu juga seperti tamparan keras bagi Sisil. Ia tidak terima dikalahkan oleh wanita yang tidak ada kata tertariknya sama sekali. Sisil makin menatap benci terhadap Sarah. Ia masih dengan pemikirannya bahwa Sarah hanya menggoda Sam dengan tubuhnya. Pasalnya ia juga tau bagaimana wanita-wanita yang biasa datang bersama dengan Tuan Sam itu. Mereka semua wanita cantik, seksi dan dari kalangan atas tentunya. Beda sekali dengan Sarah, ia hanyalah wanita biasa dan sederhana. Bahkan jika dibandingkan dengan dirinya, Sarah masih kalah jauh. Sisil tetap menetapkan pikirannya bahwa Sarah tak lebih dari wanita penggoda.
__ADS_1
"Sarah, jangan pergi!", tiba-tiba Sam mengigau sambil menarik tangan Sarah yang berada di dekatnya hingga wanita itu terduduk di sebelahnya.
"Sam, lepaskan!", bisik Sarah begitu pelan sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Sam pada pergelangan tangannya.
"Sarah, kumohon jangan pergi!", lirih suara itu bersamaan dengan satu tetes air mata yang keluar dari mata pria yang sedang terpejam itu.
"Ya ampun! Coba lihat Tuan Sam menangis saat menyebutkan nama Sarah!", semua orang jadi histeris di sekitar mereka. Mereka kini menyadari bahwa Sarah bukanlah wanita biasa lagi saat ini.
"Pak, bagaimana sekarang?!", Sarah cepat-cepat menghentikan spekulasi yang ada agar tak lebih mengkhawatirkan bagi dirinya. Ia tau hal-hal seperti ini tak selalu berakhir baik. Ada saja orang-orang yang iri dan dengki terhadap dirinya seperti Sisil, contohnya. Lagipula keadaan Sam yang terpenting sekarang.
"Nona, saya mohon! Bahkan Nyonya besar akan lebih mempercayai Nona Sarah daripada Tuan Sam sendiri. Tolong bantu saya Nona, saya sangat takut dimarahi", bahkan supir keluarga besar seperti keluarga Wiratmadja sampai memohon dan menghormati wanita biasa seperti Sarah. Ya ampun, semua orang makin mencibir Sisil yang tak tau malu itu.
"Tapi pak, saat ini saya sedang bekerja. Dan saya yang bertanggung jawab atas operasional club malam ini, karena atasan saya sedang tidak hadir", Sarah mencoba menolak secara halus. Karena sejak awal niatannya hanya untuk membujuk Sam agar tidak mengacau lagi di tempatnya bekerja.
"Nona, saya mohon!", pak supir sungguh memelas wajahnya. Ia juga menoleh ke arah Sam yang terus menyebut namanya lirih. Ia menoleh ke arah Sam lalu ke arah pak supir secara bergantian. Ia nampak ragu, bagaimanapun juga ia masih mengemban tanggung jawab saat ini.
"Sudahlah Sarah tidak apa-apa! Masalah di sini biar percayakan saja pada kami. Kau kabari Manajer Toni, pasti dia akan mengerti keadaannya!", Doni maju mencoba menengahi keadaan ini. Menurutnya ini adalah keputusan yang terbaik untuk mereka semua sekarang.
"Tapi,,,,", Sarah masih terlihat meragu.
-
-
-
-
-
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
love you semuanya π
__ADS_1
keep strong and healthy ya π₯°