
Jika suasana di kamar Ken saat ini masih suram karena Sam yang masuk ke dalam kamarnya secara tiba-tiba. Maka di kamar para wanita, sekarang nuansa keceriaan menghambur di udara.
Ana, Sarah dan Krystal, ketiga wanita itu terlibat banyak perbincangan yang sangat seru. Sarah meminta kedua sahabatnya itu untuk membuatnya tertawa malam ini agar lupa dengan rasa gugupnya mengenai hari penting yang akan ia jalani esok.
Mereka bertiga berbincang, berdebat, juga bersenda gurau. Tertawa bersama hingga perut mereka sampai sakit. Dan tak tahan untuk mengeluarkan air mata saking senangnya.
"Kau hanya menunda kegugupanmu, Sarah!", sekilas Ana menatap wanita itu dengan tatapan serius. Lalu satu pukulan ia layangkan ke bahu Sarah dengan bantal yang ia pegang.
"Kau,,,!", sempat memekik karena kaget. Sarah sudah mengangkat bantalnya di udara untuk membalas Ana.
"Tidak bisa, Sarah! Dia sedang hamil!", Krystal mencegah tangan Sarah dengan wajah malas. Huh! Wanita hamil selalu menang. Wanita hamil memang tak terkalahkan. Enak sekali menjadi wanita hamil, pikirnya. Krystal merengut, menatap acuh ke arah sepupunya itu.
Ah! Sarah baru ingat! Memang mereka bisa apa terhadap wanita hamil yang satu ini?! Belum lagi suaminya yang menyeramkan itu. Siapa pula yang berani melawan dua sejoli itu?! Sarah menurunkan tangannya yang memegang bantal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Habis mau bagaimana lagi?! Aku sangat gugup sampai tanganku gemetar terus sejak tadi!", Sarah merespon ucapan Ana yang tadi sambil menunjukkan tangannya yang bergerak-gerak halus.
"Aku sangat gugup, Ana! Sangat gugup!", tambahnya.
Lalu tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menangkap tangannya yang gemetar, agar tangannya yang terus bergerak itu berhenti.
"Kau gugup untuk hari pernikahanmu atau ini tentang,,,, kau gugup karena malam pertamamu, kan?!", telunjuk Krystal berada di depan wajah Sarah dengan wajah yang sangat meledek.
"Yang benar saja, Krystal! Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu saat ini!", Sarah membela diri tidak terima dengan suara agak nyaring.
Ia tangkap jari telunjuk itu untuk ia gigit saking gemasnya. Bisa-bisanya ia diberi pertanyaan yang itu?! Pertanyaan yang akan membuatnya sangat malu. Meskipun bukan karena hal itu ia merasakan kegugupan ini, tapi memang sempat terbesit juga dalam pikirannya, bagaimana nanti mereka akan melewati malam pertama mereka. Karena membayangkannya saja sudah membuatnya malu, maka buru-buru ia lenyapkan pikiran itu saat itu juga.
__ADS_1
"Sarah!", mata Krystal mendelik sambil menarik jari telunjuknya yang sudah hampir masuk ke dalam mulut Sarah. Apa ia tidak tau jika jari telunjuknya ini bahkan adalah sebuah aset baginya yang seorang aktris?! Setiap bagian tubuh mereka tidak boleh ada celah sedikit pun.
"Kau sembarangan bicara! Memangnya kau sudah pernah merasakannya?!", kali ini giliran Krsytal yang kena pukul dengan bantal oleh Ana. Makin hari, wanita hamil ini makin semena-mena.
Ditanya seperti itu oleh Ana, langsung membuat pipi sepupunya itu memerah. Bukan hanya Krystal saja sebenarnya, tapi Sarah juga. Wanita lajang pasti akan langsugn memerah mendengar pertanyaan tabu seperti itu.
"Tentu saja belum!", Krystal menjawab dengan penuh keyakinan juga dengan suara yang keras.
"Jika belum, lalu kenapa kau menggoda Sarah?! Atau jangan-jangan kau sudah pernah melakukannya, ya!", tuduh Ana dengan mata menyipit. Menatap Krystal dengan penuh ledekan tentunya.
"Kau,, pertanyaan macam apa itu, Ana! Tentu saja aku belum pernah melakukannya! Paling-paling hanya adegan bohongan saat aku membintangi sebuah film!", wajah Krystal sangat merah sekarang.
Wanita itu tau, jika saat ini sebenarnya itu Ana sedang mengorek informasi darinya. Meskipun pada kenyataannya memang benar belum pernah, tapi membayangkannya saja tidak termasuk, kan.
"Baiklah, baiklah! Aku percaya!", jawab Ana seraya menipiskan bibirnya. Tapi sinar di matanya membuat Krystal masih tidak terima.
"Iya,, iya,, aku percaya!", senyuman Ana memang terlihat meledek bagi Krystal.
Tapi memang Ana tak tahan melihat wajah canggung Krystal dan jawaban yang meledak-ledak tadi. Apalagi melihat wajahnya yang memerah, sungguh Ana sangat gemas melihatnya. Akhirnya ia pun menepuk-nepuk bahu sepupunya itu agar berhenti kesal lagi padanya.
"Kau ini benar-benar,,,,", Krystal pun akhirnya kehabisan kata-kata untuk memarahi ibu hamil itu.
Tidak ada gunanya. Karena sekali pun Ana harus tau jika ia kesal, lalu apa yang akan terjadi?! Bukankah ia juga tau jika wanita hamil itu selalu menang?! Huh, menyebalkan sekali rasanya!
"Memangnya menurutmu, lebih gugup mana, menghadapi hari pernikahan atau menghadapi malam pertamanya?", tiba-tiba suara Sarah mencelos bersamaan wajah polos yang ia tujukan pada Ana.
__ADS_1
Pertanyaan itu pun menghentikan perdebatan di antara dua saudara yang tak kunjung selesai. Tapi setelah menyadari apa yang keluar dari mulutnya, wanita itu pun segera tersadar. Sarah segera menutup mulutnya dengan mata terbuka lebar.
Setelah saling menatap untuk beberapa detik, akhirnya Ana dan Krystal pun terbahak bersama. Pertanyaan beserta raut wajah Sarah sungguh sangat menghibur mereka. Air mata sampai menggenang di ujung mata mereka. Dan hal itu membuat Sarah menjadi kesal. Bisa-bisanya ia dijadikan bahan tertawaan?!
"Sudah! Lebih baik kau kembali ke suamimu saja! Tidak ada faedahnya kau berlama-lama di sini!", Sarah kesal. Ia memalingkan wajahnya.
"Lihat, Krystal! Dia benar-benar menggemaskan! Pasti Sam tidak tahan untuk segera menerkamnya besok malam!", mengiringi tawanya yang ia usahakan berakhir, Ana masih berusaha menggoda sahabatnya itu.
"Ana!", kini mata Sarah mendelik. Melotot sambil berkacak pinggang.
Wajah Sarah sudah bertambah merah sekarang. Sudah salah mengeluarkan pertanyaan, sekarang Ana malah menambahkan bumbu-bumbu yang membuatnya semakin malu. Dan lebih kesalnya lagi saat melihat Krystal yang sama geli tertawanya.
"Sayangku, sepertinya ibu harus mengucapkan banyak terima kasih pada bibimu, karena telah membuat ibu puas tertawa malam ini!", Ana mengusap perutnya sambil tersenyum konyol tentunya.
"Ana, berhenti!", Sarah berseru agak kencang.
Takut akan diterkam oleh Sarah, Ana segera melarikan diri ke arah pintu kamar. Memang sebaiknya ia kembali saja ke kamarnya. Daripada ia diamuk oleh sahabatnya itu.
"Krystal, tolong kau ajarkan pengalaman malam pertama dari film-film yang pernah kau bintangi!", ucap Ana setelah menutup pintu kamar para wanita itu.
"Hey, apa-apaan dia itu! Seharusnya kan yang mengajarimu itu dia yang sudah berpengalaman, bukannya aku!", Krystal menggelengkan kepala tidak setuju. Kedua wanita itu masih sempat-sempatnya mengantar Ana sampai pintu.
"Ya,, paling tidak kan kau sudah berpengalaman meskipun itu tidak sungguhan!", sahutan nyinyir Sarah membuat Krystal kesal.
Ternyata sahabatnya yang satu ini memiliki pemikiran yang sama dengan Ana. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan! Tadi Ana sudah puas menggodanya. Sekarang giliran Krystal yang akan menggoda Sarah habis-habisan.
__ADS_1
"Jadi,, kau mau aku ajari?!", Krystal mempercepat langkahnya lalu menghadang Sarah.