Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 66


__ADS_3

Ken menyadari pergerakan pada genggaman tangannya pun langsung menoleh ke arah Ana yang kini sudah memalingkan wajahnya. Ana memberi isyarat bahwa ia sudah tak tahan dengan bungkamnya mulut Ken saat ini. Ken menatap Ana sendu, lidahnya kelu, masih tak mampu untuk menjabarkan segalanya. Tangannya mengambang di udara, berusaha menggapai tangan Ana. Namun ia mengurungkan niatnya, Ken menarik kembali tangannya dan menatap ke arah luar, lagi.


***


Sudah 30 menit dan pesawat mereka telah mendarat sempurna di bandara kota K. Ken, Ana, Sarah dan Sam keluar dari pesawat secata bergantian. Mereka telah disambut sebuah mobil hitam mewah. Sam dan Sarah sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Kini Ken mengulurkan tangannya pada Ana untuk membantunya menuruni tangga terakhir dan masuk ke mobil.


Tangan Ana menggantung di atas telapak tangan Ken yang menyambutnya. Ana masih kesal dengan sikap Ken yang masih bungkam, ia urungkan dan menarik tangannya ke bawah dengan cepat. Ia langsung berjalan melewati Ken begitu saja. Tapi saat akan memasuki mobil, Ken menarik lengannya hingga Ana pun masuk dalam dekapan Ken.


"Maafkan aku, Ana!", ucap Ken lemah seraya mencium pucuk kepala Ana.


"Maaf karena aku tak sanggup berbicara", lanjutnya saat merasa Ana masih terdiam.


Ken mengendurkan dekapannya supaya ia dapat melihat wajah Ana dengan jelas.


"Ana!", yang dipanggil mendongakkan kepalanya ke arah Ken dengan ekspresi tak terbaca.


"Dengarkan aku! Kelak apa pun yang terjadi, kau harus ingat bahwa akan selalu ada aku yang sangat mencintaimu. Aku tak akan membiarkanmu terluka. Aku akan selalu menjaga dan melindungimu dengan segenap kekuatan yang kumiliki. Kelak, akan selalu ada aku yang selalu menemanimu. Aku sudah berjanji akan membuatmu bahagia, Ana", tutur Ken kemudian mengecup kening Ana dalam-dalam hingga matanya terpejam.

__ADS_1


Ken menyalurkan cinta kasih yang ia miliki untuk wanitanya itu. Kali ini ia masih mengumpulkan tenaga dan upaya untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di sini, di kota ini. Ia menangkupkan kedua tangannya pada pipi Ana dan menatapnya lekat. Ken mengecup bibir Ana lembut, menyesapnya kemudian melumatnya dengan perlahan. Ana membalas ciumannya, ia pun membuka mulutnya saat Ken mendesaknya. Mereka saling merasai bibir mereka masing-masing. Ciuman penuh perasaan sudah berubah kepada ciuman penuh hasrat.


Sejenak Ana terlena oleh perpaduan bibir mereka yang lumayan panas. Tapi kemudian otaknya bekerja, ia masih dilanda penasaran yang belum terobati sejak tadi. Ana menghentikan pagutan bibirnya pada bibir Ken dan kening mereka pun saling berpautan. Dada mereka naik turun dengan ritme yang lumayan cepat. Mereka masih berebut oksigen untuk mengisi rongga dada mereka. Mata Ana mulai berubah sendu, lagi.


"Tolong, Ken! Katakanlah! Aku tau kau sangat mencintaiku, hingga kau tak ingin melihatku sakit. Tapi kumohon, jangan membuatku seperti ini. Sikapmu menjelaskan sesuatu yang buruk telah terjadi. Aku berjanji, aku akan jadi wanita yang kuat", ucap Ana bersunguh-sungguh sambil terus mendekap Ken.


"Haaahh!", Ken menghembuskan nafasnya panjang berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara pada Ana.


"Kita akan ke rumah sakit sekarang, hanya itu yang bisa kukatakan saat ini. Sisanya kita akan mengetahui setelah sampai di sana. Dan kumohon jangan menangis, okeh. Aku tak sanggup melihatmu menitikkan satu tetes pun air mata", ucap Ken dengan tenang dan nada yang begitu lembut. Ucapannya menghanyutkan namun tetap tersirat teka-teki yang mulai Ana susun sedikit demi sedikit. Kedua tangannya masih setia mendekap tubuh Ana menjadi pondasi bagi wanitanya agar tak terjatuh ketika wanitanya yang cerdas ini menemukan sesuatu dari ucapannya.


"Ayah?", tanya Ana lemah seraya memegangi tangan Ken yang merangkul tubuhnya. Ia menyentuhnya, memegangnya supaya Ken mau mengatakan kepadanya. Ia serius dengan pertanyaannya kali ini.


Ada apa? Mengapa? Semua pertanyaan itu menyelimuti benaknya. Matanya berkabut, ia menahan semua emosinya sekuat mungkin hingga tak ada setitik air mata pun jatuh di sana.


Ken menyadari pakaiannya yang tetap kering pun mengendurkan pelukannya untuk mengawasi ekspresi Ana saat ini. Di lihatnya Ana hanya terdiam tanpa emosi nampak di wajahnya. Ken memegangi kedua pundak Ana dengan erat bahkan meremasnya. Ia malah mengkhawatirkan keadaan Ana yang seperti ini.


Ken kembali mengeratkan pelukannya pada Ana. Ia membenamkan seluruh wajah Ana pada dadanya. Ia menghujani kepala Ana dengan ciuman. Hati Ken sakit melihat Ana yang seperti ini. Apalagi nanti jika mereka sudah sampai di rumah sakit. Akan seperti apa lagi rasa sakit yang harus ia terima. Ken mengajak Ana masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan lapangan luas dimana banyak pesawat terparkir di sana. Sarah memperhatikan Ana yang masih diam dengan tatapan kosong. Sarah hendak bertanya, tapi urung ia lakukan karena Ken sudah terlebih dulu memberinya isyarat untuk diam dengan menggeleng pelan. Akhirnya Sarah hanya bisa menggenggam tangan Ana erat, menyalurkan energi positif padanya. Karena Sarah bahkan Sam pun tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hanya hening melingkupi ruang terbatas mobil itu.


***


Petang menjelang, semburat jingga menyembur pada permukaan awan. Menampakkan keindahan sore yang tak selalu sama indahnya dengan nasib beberapa insan.


Begitu pula dengan Ana yang tengah menyentuh kaca bening pembatas ruangan dimana ayahnya dirawat. Ia sedang memandang ayahnya dengan tatapan kosong. Namun di tenggorokannya seperti terdapat batu besar yang menahannya untuk histeris, Ana hanya bisa menangis dalam diam dengan tangan gemetar.


Hidupnya penuh ironi, di saat ia tengah berbahagia karena baru saja mendapatkan cintanya kemudian ibu dari lelakinya tak merestuinya. Dan di saat ia sudah yakin akan bangkit dari keterpurukan itu untuk menjadi pantas berdiri di samping lelakinya, dimana saat ini ia membutuhkan dukungan dari ayahnya. Nyatanya kini ayahnya malah tengah berbaring di ranjang dingin rumah sakit. Dengan berbagai peralatan yang membantu menjaganya untuk tetap hidup. Berteriak, menangis, menjerit bahkan rasanya ia sudah tak sanggup. Ana memilih diam, sambil merasakan sakit dalam batinnya.


Ken yang berdiri di belakangnya pun tak dapat menahan diri untuk memeluknya. Ia membalikkan tubuh Ana hingga menghadap ke arahnya dan langsung mendekapnya erat.


"Menangislah sayang, jangan kau tahan! Masih ada kami yang akan selalu bersamamu!", ucap Ken lembut. Sarah dan Sam yang duduk di belakang mereka pun ikut mengangguk meskipun Ana tak melihatnya.


Akhirnya tangis itu pecah, tangis yang sudah ia tahan berjam-jam. Perasaan yang sudah ia tahan agar tak meledak, akhirnya sampai pada titik lemahnya. Ia menangis sekencang-kencangnya. Beruntung kini mereka berada di ruang vvip dimana hanya ada mereka di lantai itu. Ken mengusap lembut kepala Ana, namun matanya memerah diliputi amarah.


"Kalian harus membayar semua ini!", sumpah Ken dalam hati.

__ADS_1


Sarah mendengar sahabatnya menangis pun tak sadar ikut meneteskan air mata. Tangis pilu yang ia dengar juga menyeruak ke dalam hatinya. Bagaimana pun juga, Ana adalah sosok kuat dan baik hati yang selama ini selalu membantunya. Tak pernah terpikirkan olehnya melihat Ana dalam keadaan seperti ini. Dari setetes air mata, tangis Sarah pun pecah. Namun sebisa mungkin ia tak membuat suara, agar Ana tak mendengarnya. Ia juga tak ingin Ana melihat dirinya lemah. Karena seharusnya tugas Sarah saat ini adalah menguatkan Ana.


Sam memperhatikan gerak-gerik wanita di sebelahnya. Bagaimana pun juga, ia mengikuti perkembangan hubungan kakak dan calon kakak iparnya itu. Halang rintang menghiasi hubungan mereka. Ia pun menatap iba pada kedua orang yang sedang berpelukan itu. Dan untuk meredakan tangis Sarah, ia berinisiatif memeluk Sarah dan mengusap kepala Sarah lembut.


__ADS_2