Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 134


__ADS_3

"Kak, aku sudah dalam perjalanan sekarang!", ucap Ana pada sambungan teleponnya.


"Baiklah, aku sudah menyiapkan semuanya!", jawab Risa pada Ana di ujung saluran sana.


"Oke, jemput aku di area parkir basement", ucap Ana sebelum menutup percakapannya dengan Risa.


"Oke! Aku tutup dulu ya!", kemudian Ana memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempang kesayangannya.


Saat ini ia tengah diantar oleh supir pribadi yang telah disiapkan oleh Ken, suaminya. Ken juga sudah memerintahkan beberapa orangnya untuk menjaga Ana dari jauh. Karena ia merasa tugas kali ini akan cukup beresiko. Mereka tidak tau seperti apa Bramantyo Winata saat ini dengan kekuasaan yang telah dikantonginya. Maka mereka hanya bisa semakin waspada.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, saat Ana sampai di area perkantoran Winata Group. Ia segera memerintahkan supirnya untuk menuju area parkir basement karena di sana merupakan tempat yang cukup sepi. Jadi membuat Ana sedikit lebih leluasa bergerak di sana. Mobil itu berhenti tepat di depan lift khusus yang menghubungkan lantai basement dengan lantai dimana ruangan mendiang ayahnya berada yang sebelumnya sudah Ana tempati. Dan Risa terlihat sudah menunggu di sana.


"Kakak!", Ana menghambur ke dalam pelukan Risa.


"Kau ini sudah menikah, tapi masih tetap saja manja begini!", Risa menggeleng pelan namun tetap mengelus rambut Ana dengan sayang.


"Aku bisa manja dengan siapa lagi kak selain dirimu,, dan Ken tentunya!", Ana melebarkan senyumnya hingga barisan gigi putihnya nampak berbaris di sana.


"Dasar kau! Ayo, kita ke atas. Dia masih mengadakan meeting saat ini, mungkin sebentar lagi akan selesai. Pas sekali waktunya, kan!", tangan Risa menghela Ana untuk masuk ke dalam lift bersama.


"Yohan juga sudah membantuku menyiapkan segala sesuatunya. Ia juga akan berusaha menahan Tuan Bram di kantornya sampai pihak polisi datang!", tambah Risa menjelaskan apa saja yang sudah mereka rencanakan. Ya sejak kejadian kecelakaan yang menimpa mendiang Tuan Danu dan Risa , Yohan bersedia menjadi mata-mata bagi Ken. Sejujurnya ia juga sudah enggan bekerja dengan rubah tua licik dan kejam. Dengan jerat ini, Yohan berharap keluarganya yang ditahan oleh Bram dapat segera dilepaskan dan mereka dapat berkumpul bersama lagi.


"Oke, kita bisa mulai dari sana!", wajah Ana yang penuh semangat lantas menghilang dengan pintu lift yang mulai menutup.

__ADS_1


***


"Baiklah, meeting kali ini kita tutup!", ucap Tuan Bram mengakhiri pertemuan itu.


Semua karyawan mulai pergi meninggalkan ruangan itu dan menyisakan Tuan Bram dan juga Yohan di sana. Yohan bersikap tenang membereskan berkas-berkas yang baru saja mereka bahas selama meeting tadi. Sedangkan Tuan Bram sibuk berbangga diri karena saat ini tak ada lagi penghalang untuknya menguasai perusahaan ini.


blub


Tiba-tiba lampu ruangan itu mati. Tuan Bram nampak ketakutan hingga ia melonjak naik ke atas meja sambil terus memanggil-manggil nama asistennya itu.


"Yohan, Yohan! Dimana kau? Kenapa bisa mati lampu begini?!", jeritnya ketakutan.


"Saya di sini, Tuan!", Yohan menyalakan lampu senter pada ponselnya dan menyoroti tepat di wajahnya. Persis seperti hantu dalam kegelapan.


"Astaga!", Tuan Bram begitu terkejut hingga menjauhkan tubuhnya dari Yohan karena ia pikir itu adalah hantu sungguhan.


"Yohan! Yohan! Hey, apa kau mendengarku?! Yohan, kembali!".


Sunyi senyap berpadu dengan gelap gulita, membuat nyali Tuan Bram menciut. Ditambah lagi dengan hawa dingin yang menerpanya makin menjadi akibat sugesti dari ketakutannya. Tangannya memeluk dirinya sendiri, melindungi dirinya dari perasaan tidak nyaman yang menggerogoti seluruh keberanian yang biasa ia tampilkan di hadapan orang lain.


Sekelebat bayangan muncul tiba-tiba, terus lagi dan lagi. Siluet wanita samar-samar nampak di ujung ruangan itu dari remangnya pantulan cahaya dari luar ruangan. Posturnya, rambutnya, semuanya nampak mirip sekali dengan Ana. Hanya wajahnya saja yang belum terlihat karena saat ini posisi wajahnya sedang tertunduk. Gemetar hebat tubuh pria paruh baya itu, sekujur tubuhnya bahkan tak tertinggal barang seujung kuku pun seluruhnya gemetar.


"Tidak! Tidak mungkin! Itu bukan Ana. Dia sudah mati", Tuan Bram meracau ditengah ketakutannya.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa merebut tempat ini dariku! Tidak akan ada! Ini semua adalah milikku. Milikku!", teriaknya pada sosok yang mulai mendekat ke arahnya.


"Kau serakah sekali, Paman!", suara wanita itu terdengar halus nan lembut. Namun pada barisan nada menyenangkan itu ia menyelipkan sisi kejamnya lewat sorot mata dan penekanan kalimatnya.


"Siapa kau? Kau bukan Ana! Ana sudah meninggal. Dia dan ayahnya sudah tidak ada. Aku sudah berusaha keras menyingkirkan mereka semua dan aku melihat sendiri mereka sudah dimakamkan, jadi tidak mungkin jika kau adalah Ana. Rival terberatku untuk menguasai perusahaan ini sudah mati. Sudah mati!", Tuan Bram berbicara keras seolah melindungi dirinya. Namun pada kenyataannya yang dia lakukan adalah sebuah tindakan kebodohan dengan mengakui dosa besar yang telah dia lakukan. Tubuhnya tak dapat menyembunyikan sisi dirinya yang nampak begitu ketakutan. Alam bawah sadarnya memimpin bibirnya untuk menunjukkan hal-hal yang akan membuatnya menyesal di kemudian hari.


tekk


Lampu ruangan tiba-tiba menyala lagi. Ruangan yang semula sepi, jin sudah ramai dengan banyaknya pegawai yang berkerumun. Mereka tentu saja sudah menyaksikan pengakuan dosa yang dilakukan secara langsung oleh bos mereka yang saat ini. Para pegawai saling berbisik hingga menimbulkan dengungan di seluruh penjuru ruangan. Awalnya Tuan Bram belum menyadari apa pun karena masih terjebak oleh keterkejutannya. Namun setelah pikirannya kembali bekerja, matanya lalu membulat begitu besar setelah menyadari apa yang baru saja terjadi padanya. Lalu matanya ia arahkan pada sosok wanita yang berdiri tak jauh dari dirinya. Dengan tenang wanita itu menatap ke arahnya dengan tatapan yang siap merobek-robek seluruh bagian tubuhnya. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata pun, beberapa orang polisi menerobos kerumunan dan menghampiri dirinya. Akhirnya Tuan Bram bernafas lega.


"Terima kasih Bapak-bapak sekalian karena sudah datang di waktu yang tepat. Tolong cepat bubarkan mereka, Pak. Mereka mengganggu keamanan saya!", ucap Tuan Bram dengan begitu angkuhnya.


"Kami dari kepolisian datang ke sini untuk menangkap Tuan Bram Winata atas tuduhan pembunuhan yang direncanakan kepada Tuan Danu Winata dan Nona Risa Maheswari", salah satu polisi itu menunjukkan surat penangkapan kepada Tuan Bram.


Pria itu menyambar lembaran kertas itu dengan kasar dan menyapu pandangannya ke seluruh halaman kertas itu. Matanya hampir keluar setelah tau bahwa ini memanglah kenyataan.


"Bagaimanapun mungkin?! Aku sudah menutupi dengan sempurna", ucap Tuan Bram dalam hati.


"Ini tidak mungkin, Pak! Anda pasti salah orang. Itu tidak mungkin saya!", seru Tuan Bram masih tidak bisa menerima kenyataan.


"Laporan ini benar adanya. Dan Bapak bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi bersama kami. Silahkan!", polisi yang tadi masih berusaha bersikap sopan.


"Tidak, itu bukan saya! Bukan saya, bukan!", Tuan Bram mundur beberapa langkah masih bertahan dengan sikap penolakannya.

__ADS_1


Mau tidak mau dua orang polisi maju dan langsung mencekal tangannya. Salah satunya mengunci pergelangan tangannya dengan borgol, lalu segera mereka menyeret Tuan Bram untuk keluar dari ruangan itu. Sambil terseret-seret langkahnya, pria paruh baya itu menatap Ana dengan tatapan tak percaya. Ia masih belum yakin sepenuhnya bahwa itu memang adalah keponakannya yang masih hidup. Masih diliputi keterkejutan, ia lupa bahwa Yohan asistennya berdiri di sana menatapnya dengan amat tenang.


Wanita itu yang memang merupakan Ana menyunggingkan sudut bibirnya. Ia tersenyum sinis pada pamannya. Mata Ana lalu menyapu ke seluruh ruangan itu, lalu mengangguk memberi isyarat pada seorang pria yang tak lain adalah Yohan.


__ADS_2