
Sarah sudah sampai di tempat kerjanya. Ia sudah tidak lagi bekerja sebagai tukang cuci piring seperti dulu. Saat ini Ana mempercayakannya sebagai asisten manajer di sana. Menjadi bawahan Manajer Toni untuk menangani keseluruhan operasional club malam tersebut.
Banyak orang yang mencibirnya lantaran mendapatkan jabatan itu karena faktor kedekatannya dengan Ana. Tapi Ana tentunya tidak sembarangan memberikan seseorang sebuah jabatan begitu saja, karena ia merasa Sarah memiliki potensi. Dan Manajer Toni sendiri pun mengakui hal itu. Ini berdasarkan penilaian objektif bukan subjektif. Sarah hanya kurang beruntung dibandingkan yang lainnya. Maka kali ini Ana memberikan kesempatan itu kepada sahabatnya.
Awalnya Sarah sempat merasa minder, apalagi banyak pegawai lain yang selalu mencibirnya. Tapi karena banyak juga yang mendukungnya, terutama Ana, maka ia akhirnya masa bodoh dengan semua ucapan kosong yang mencoba menjatuhkannya itu.
Sarah terlihat duduk di kantornya sambil memeriksa beberapa data dan dokumen yang sudah tertumpuk rapi di atas mejanya. Harusnya ini merupakan tugas Manajer Toni, karena tugas Sarah sebagian besar adalah mengecek kelancaran operasional di lapangan. Tapi karena hari ini Manajer Toni sedang izin bekerja, maka mau tak mau Sarah harus merangkap pekerjaan Manajer Toni juga.
Satu jam, dua jam, ia masih sibuk di meja kerjanya. Sebenarnya Sarah hanya sedang mengalihkan pikirannya yang kembali teringat kejadian tadi di jalan saat ia akan berangkat ke sini. Dimana ia melihat Megan Aira akan mencium Sam di mobilnya tadi. Pemandangan yang cukup menyakitkan mata dan hatinya saat itu. Pikirannya terus berkutat hingga memecah konsentrasinya saat bekerja.
Hatinya sakit saat melihat adegan itu. Tapi tunggu,,, apa ia cemburu. Hah, yang benar saja! Sarah selalu menepis perasaannya dengan sengaja. Ia selalu mengingat apa kata ibunya yang menyarankan Sarah untuk tidak berhubungan lagi dengan pria itu. Sarah hanya ingin ibunya bahagia, maka biarlah ia yang menanggung sakit ini sendiri. Karena tak dapat merengkuh pria yang sudah mulai membuka hatinya yang semula selalu tertutup rapat. Lagipula jarak mereka terlalu jauh. Derajat mereka terlalu jauh untuk disandingkan. Sarah tidak percaya diri akan hal itu. Ditambah lagi banyakan wanita yang selalu mengelilinginya. Sudahlah lebih baik Sarah menyerah sejak awal saja. Meskipun harus sesakit ini ia rasa.
Wanita itu meregangkan otot-ototnya yang kaku karena selama dua jam ia tak bergerak dari mejanya. Maka ia memutuskan untuk mengecek kondisi di dalam club. Sambil bermaksud melemaskan otot-ototnya yang tegang.
Ternyata bukan hanya ototnya yang tegang. Tapi tubuhnya juga dibuat tegang tatkala ia melihat sosok yang tadi ia lihat sewaktu di jalan. Tapi dimana sosok wanita itu, kenapa pria itu malahan sendirian. Sarah sempat bergumam dalam hatinya. Pria itu terduduk sendirian di sofa di salah satu sudut club itu. Tak ada yang berani mendekatinya karena sepertinya ia sudah mengacau sejak tadi. Terlihat dari beberapa gelas dan botol sudah berserakan di meja dan di lantai. Tak ada yang berani menegurnya karena hampir seluruh club tau siapa tamu penting yang datang itu. Untuk masalah kekacauan Sarah juga sudah melaporkannya kepada Manajer Toni. Namun anehnya Manajer Toni mengatakan untuk hanya jangan khawatir saja dulu. Semua pasti akan baik-baik saja. Lagipula siapa juga yang berani melawan sosok ini. Dia Samuel Wiratmadja, adik dari Presdir Ken yang terhormat di kota ini. Lagipula ini hanya berlebihan kepadanya. Maka kali ini ia hanya mengikuti saja perintah atasannya itu.
Sarah memilih untuk duduk di meja bar tak jauh dari sofa itu. Ia mengamati pria yang kelihatannya tengah mabuk itu. Sam, pria itu terlihat sangat lesu dan berantakan. Bahkan setiap mulutnya meracau, hanya keluhan demi keluhan yang ia keluarkan.
Hati Sarah menjerit ingin sekali mendekap pria itu dan menuntaskan rasa rindunya. Namun segala ego dan pikiran rasionalnya menahan dirinya untuk bergerak dari tempat duduknya. Sarah sungguh sangat ingin tau hal apa yang membuat pria itu memilih datang ke sini hanya untuk mabuk-mabukan saja. Dan bukannya bersenang-senang seperti pria yang lainnya. Hal sulit apa yang pria itu lalui sehingga jadi berantakan begini keadaannya. Sarah sungguh ingin mengetahui hal itu saat ini.
"Sejak kapan pria itu datang?", tanya Sarah pada barista yang sedang meracik minuman di depannya. Ia melirikkan matanya ke arah Sam yang sedang duduk dengan segelas minuman di tangannya.
"Sejak kita baru buka!", jawab si barista singkat.
Sejak buka? Sarah menjadi bertanya-tanya. Bukankah berarti itu waktu yang hampir sama ketika dirinya sampai di tempat ini. Berarti tadi Sam langsung ke sini saat di perjalanan tadi. Lalu,,, dimana wanita itu. Wanita yang terlihat oleh Sarah sedang mencium si pria. Sarah sungguh ingin bertanya agar tak harus menerka-nerka. Hingga tiba-tiba ia harus terdiam sambil mengamati ke arah pria yang sudah mulai mabuk itu.
Seorang pelayan wanita dengan seragam yang super ketat dan rok yang begitu pendek datang menghampiri Sam. Dia adalah Sisil. Wanita itu sengaja mendekati Sam untuk mendapatkan perhatiannya. Sisil berpura-pura merapihkan meja yang sudah berantakan akibat kelakuan tamunya ini.
__ADS_1
Saat sedang mengambil gelas yang jaraknya tak jauh dari Sam, ia berpura-pura terpeleset hingga akhirnya ia jatuh tepat di atas tubuh Sam yang sedang bersandar di sofa. Wajah Sisil merona karena berada pada jarak yang sangat dekat dengan wajah pria tampan yang cukup berpengaruh itu. Pandangan Sam yang buram, membuatnya hanya bisa diam sejenak. Wajah Sisil tiba-tiba berubah menjadi wajah Sarah dalam pandangan matanya yang berbayang. Ia sudah memegangi tengkuk leher Sisil, bermaksud untuk memperjelas penglihatannya barusan.
Dan yang paling jelas melihat di sini adalah Sarah. Dari sudut pandangnya, yang terlihat adalah Sam tengah berciuman dengan Sisil. Wajah Sarah memerah, sambil menahan geram yang tak akan bisa tersampaikan ia memilih untuk angkat kaki dari sana.
"Dasar laki-laki murahan!", umpat Sarah kesal sambil berjalan.
Wanita itu memutuskan untuk pergi ke toilet untuk mencuci mukanya. Ia ingin mendinginkan perasaannya yang sedang sangat kesal saat ini. Pria itu dengan mudahnya mencium semua wanita, sungguh membuat Sarah naik pitam saja. Tadi di mobil sudah, sekarang lagi ia harus melihat adegan yang amat memuakkan baginya.
Setelah meraup wajahnya dengan segenap air yang ia tangkup dengan kedua telapak tangannya, Sarah kemudian menggosok bibirnya kuat-kuat saat mengingat adegan Sam berciuman dengan dirinya sendiri saat di rumah sakit kala itu. Bisa-bisanya ia memberikan bibirnya yang suci ini kepada pria kurang ajar seperti itu. Sepanjang waktu Sarah di toilet ia mengumpat tiada henti. Mencurahkan kekesalannya saat ini. Untung saja waktu itu toilet sedang sepi, hanya ada dirinya seorang diri. Jadi Sarah bebas mengumpat dan mengata-ngatai pria gila yang telah membuka hatinya kini.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang wanita di luar dinding toilet ini. Sarah penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk segera keluar dari sana. Tapi sebelum itu, ia sedikit mengeringkan wajahnya yang masih basa dengan tisu. Kini wajahnya lebih fresh ditambah dengan rasa penasaran, wajah Sarah terlihat seperti memiliki emosi dan ambisi.
Sarah menolehkan kepalanya ke arah kanan, itu tepat saat ia melihat Sisil sedang menangis tersedu-sedu sambil memegangi lengannya yang biru di bagian dekat siku. Sarah mengernyitkan alisnya dalam sambil memutuskan untuk melangkah keluar ikut bergabung dengan yang lainnya menonton Sisil yang sedang menangis sambil mencari perhatian. Itu nampak sangat jelas di mata Sarah.
Tapi ada yang salah di sini, tadi bukankah wanita ini tengah bersama dengan Sam. Bahkan setelah melihat kejadian tadi harusnya mungkin mereka saat ini sedang bersenang-senang, bukan. Tapi ini malahan Sisil menangis bahkan dengan tangan yang biru seperti itu. Sarah memasang indera pendengarannya untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Salah dia sendiri malahan menghampiri Tuan Sam. Jelas-jelas semenjak datang Tua Sam terlihat begitu kesal dan sesekali berteriak marah".
Okeh, sampai di sini Sarah masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara Sam dan Sisil hingga membuat wanita itu terluka. Maka Sarah makin mendekatkan langkahnya ke arah kerumunan itu.
"Kakak, lihat tangan Sisil! Tadi Tuan Sam tiba-tiba mendorong Sisil hingga jatuh ke bawah. Sudah begitu , tangan Sisil sempat terkena ujung meja hingga biru begini. Sakit sekali, ka!", terdengar wanita itu tengah mencari-cari perhatian dari para pegawai lelaki yang memang biasanya mendukung segala keluh kesahnya meski ternyata hal itu hanyalah kebohongan semata.
"Wah kasihan sekali Sisil!", ucap salah satu pegawai lelaki yang melihat terdapat luka di dekat sikunya.
"Maukah kakak membalas perbuatan Tuan Sam untuk diriku?!", ucap Sisil sambil memanaskan amarah pria yang selalu membelanya itu.
Bukan bermaksud menolak, tapi siapa dulu yang harus mereka hadapi. Mereka semua tau siapa Tuan Sam itu yang menjadi tamu penting mereka malam ini. Tak ada yang mau mencari masalah dengannya, apalagi sosok itu telah memperlihatkan jiwanya yang sedang kacau dan marah. Meskipun mereka merasa kasihan pada Sisil, tapi mereka lebih kasihan lagi dengan diri mereka sendiri. Jadi, satu persatu mereka mundur lalu menghilang sekejab mata.
__ADS_1
"Berharap ingin dicium. Tidak tau, malahan didorong sekuat tenaga. Heh, dasar memalukan!", umpat para wanita yang mulai berangsur membubarkan diri.
"Diam kau!", Sisil menuding wajah rekannya dengan satu jari. Ia tak suka jika aibnya dibongkar di depan khalayak ramai. Padahal harusnya tadi ia sudah bisa bersenang-senang dengan pria tampan itu. Sisil mendesah marah.
"Jadi tadi mereka tidak berciuman? Jadi tadi aku salah mengira? Jadi aku hanya salah paham dengannya? Atau jangan-jangan tadi saat di mobil aku juga menjadi salah paham dengannya!", gumam Sarah sendiri.
-
-
-
-
-
maaf ya teman-teman, author udah ga kuat buat melek. Author ngantuk berat nih. Besok kita sambung lagi ya π€ππ
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
__ADS_1
love you semuanya π
keep strong and healthy ya π₯°