Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 102


__ADS_3

"Astaga!", Ana membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


Tak terasa cairan bening telah menggenang di ujung matanya. Ana melepaskan tangannya yang membekap mulutnya itu seraya mengalihkan pandangannya ke arah Ken yang kini sudah berada di sampingnya. Air matanya menetes bersamaan dengan senyumannya yang melebar dan terlihat begitu bahagia.


"Kenn!", seru Ana lemah yang masih diliputi rasa takjub yang membahagiakan hatinya.


Pasalnya saat ini Ana dan Ken tengah berdiri di tengah pantai dengan nuansa temaram yang hanya dikelilingi cahaya obor beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Dan di hadapan mereka sudah ada sepasang kursi dan meja makan yang telah di set begitu indah untuk makan malam mereka berdua. Suara deburan ombak menjadi musik latar bagi suasana romantis yang ditujukan untuk mereka berdua.


"Ana!", Ken menggenggam jemari Ana dengan sangat lembut dan perlahan menghela tubuh Ana untuk menghadap ke arahnya.


"Maaf aku tidak bisa melakukan hal romantis lainnya. Bahkan hal ini pun aku minta saran dari Sam!", Ana dan Ken terkekeh bersamaan mendengar ucapan itu.


"Kau mungkin bosan mendengar hal ini. Tapi aku sangat mencintaimu, Ana. Aku sangat yakin bahwa kau adalah wanita yang paling tepat untuk bersanding denganku. Maka dari itu aku tak ragu memutuskan untuk segera menikah denganmu meski kita baru saja menjalin hubungan ini", Ken mengambil nafasnya dalam-dalam untuk menetralisir rasa gugupnya.


Ana kembali terkekeh melihat tingkah Presdir Ken yang terhormat ini bisa menampilkan ekspresi gugup seperti ini. Jarang bahkan hampir tak pernah orang lain tau sisi lemahnya yang satu ini. Jujur saja, jantung Ana di dalam sana sedang berlomba memacu kecepatannya hingga membuat si empunya gelisah tak karuan. Ana tak dapat menurunkan lengkungan senyum di bibirnya.


"Emmhh,,, apa lagi yang harus aku ucapkan ya?!", gumam Ken pelan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


Hal itu tertangkap dengar oleh Ana dan tentu saja membuat Ana makin melebarkan senyumnya. Ia masih diliputi rasa haru, namun juga merasa lucu dengan tingkah Ken saat ini.


"Tunggu sebentar ya!", ucap Ken dengan senyum canggungnya. Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya dan membacanya secepat kilat.


"Baiklah, aku ingat sekarang!", lalu menggenggam tangan Ana lagi sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya. Segera ia memasang wajah serius lagi kepada Ana.


"Ana, aku ingin selamanya kau berada di sisiku. Aku tak bisa menjanjikan apa pun. Tapi aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia bila kau hidup denganku nanti".


"Ingat kalimat ini?! Aku pernah jatuh cinta sekali dan itu adalah dengan dirimu, Ana. Kau adalah wanita pertama dalam hidupku, maka kau pula akan menjadi yang terakhir".


Tiba-tiba sebuah lampu sorot menyala dan menerangi salah satu sudut tak jauh dari mereka berdiri. Di sana telah berdiri Han memegangi sebuah papan bertuliskan kata "Will". Ana membungkam mulutnya, ia terkejut dan terpana oleh kejutan yang Ken berikan untuknya.


Lampu sorot kembali menyala dan menerangi sosok dengan kursi roda, dia adalah Risa yang memegang papan bertuliskan "You" . Ana meneteskan air matanya melihat orang yang selama ini ia rindukan.


"Kak Risa?", Ana mengeratkan genggaman tangannya pada Ken. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat Ken yang sedang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Lagi, lampu sorot berikutnya menerangi sosok pria bertubuh tinggi, Sam menyeringai dengan barisan gigi putihnya. Ia memegang papan bertuliskan "Marry". Ana menggelengkan kepalanya dengan air mata bahagia yang terus berderai di pipinya. Ia tersenyum ke arah Sam dan kembali menatap Ken dengan tatapan tak percaya.


Lampu sorot terakhir menyala, benda itu menerangi sosok wanita, ia tak lain adalah Sarah yang sedang tersenyum sambil menahan air matanya yang juga ikut terharu dengan kejutan yang didapat oleh sahabatnya itu. Sarah memegang papan bertuliskan "Me?".


"Will You Marry Me!"


Ana tak kuasa menahan perasaannya yang begitu emosional saat ini. Ia membungkam mulutnya erat-erat, masih menatap kalimat indah itu dengan tatapan tak percaya. Seumur hidupnya baru sekali ini, baru pertama kali ia mendapatkan kejutan yang begitu romantis dari seseorang yang begitu ia cintai. Air matanya terus mengalir tanpa izin darinya.


Ana memandangi keempat orang itu dengan tangis haru. Karena tangisnya ini adalah karena selain momen yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya, saat ini juga berdiri orang-orang yang begitu penting dalam hidupnya menjadi saksi dari penyatuan cinta dirinya dan juga Ken.


"Ana!", sebuah suara memanggilnya dari arah sampingnya. Yang ternyata itu adalah Ken yang sedang berlutut dengan memegang sebuah kotak cincin di tangannya. Ia menjulurkan kotak itu ke arah Ana.


Ana menghadapkan dirinya ke arah Ken. Ia berusaha menenangkan diri dengan menghirup nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ditatapnya lekat cincin itu, seperti ia pernah melihat desain cincin cantik yang berdiri kokoh di dalam kotak hitam itu.


"Ana!", panggilan Ken mengalihkan perhatiannya ke arah wajah Ken yang terlihat serius namun juga tak menghilangkan ekspresi gugupnya saat ini.


"Maukah kau menikah denganku?", ucap Ken cepat dan segera menundukkan kepalanya tak ingin mendengar apa pun yang akan mengecewakan hatinya nanti.


Ana menatap lekat wajah pria yang begitu dicintainya itu. Ia menangkup kedua pipi Ken dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ken. Ia menempelkan bibirnya pada bibir Ken dan berbicara di sana.


"Ya, jawabanku adalah ya! Aku mau menikah denganmu!", Ana memberi Ken kecupan singkat dan melepaskan tangannya dari wajah pria itu.


"Lalu bagaimana dengan ini? Kenapa kau menolak untuk memakainya?!", Ken masih bingung dengan sikap Ana. Ia mengarahkan kotak itu ke hadapan Ana.


"Simpan ini untuk cincin pernikahan kita nanti, Ken! Aku tau, ini cincin yang ku buat saat di minimarket tempo hari kan?!", Ken menggaruk alisnya sambil tersenyum canggung mendengar dugaan Ana yang memang benar adanya.


"Ya memang benar. Tapi kau yang bilang ingin menjadikan desain ini menjadi cincin pernikahan mu, bukan?!", tanya Ken yang masih heran.


"Tentu saja! Maka dari itu, simpan ini untuk menjadi cincin pernikahan kita nanti, okeh!", Ana mengambil alih kotak itu dan memasukkannya ke dalam kantong jas milik Ken.


"Tapi,,, lamaranku tetap diterima bukan meski tanpa cincin?!", tanya Ken hati-hati sambil tersenyum canggung.


"Tentu saja, tentu saja aku menerimanya, Ken".

__ADS_1


Mendengar jawaban Ana, Ken langsung mendekap kaki Ana dan menggendongnya. Ia berputar bahagia dengan Ana yang berada di atasnya. Mereka tersenyum hingga tertawa untuk melampiaskan rasa bahagia mereka saat ini.


Ken berhenti berputar dan menautkan keningnya pada kening Ana yang lebih tinggi. Mereka saling menatap dengan begitu intens dengan nafas yang sedikit tersengal. Mereka saling menempelkan bibir mereka, saling mengecup sambil terus tersenyum. Hingga akhirnya gejolak itu tak dapat ditahan. Pertemuan bibir mereka yang awalnya merupakan gerakan-gerakan lembut, kini telah menjadi lumatan panas.


Dua pasangan yang menjadi penonton pun memilih untuk mengalihkan pandangan mereka dari sana. Han dan Risa saling berpegangan tangan dengan sorot mata rindu yang tak terhindarkan, mereka saling melempar senyum. Dua hari yang lalu Risa siuman, namun ia sengaja tak ingin memberi kabat kepada Ana karena ingin memberinya sebuah kejutan.


Sedangkan Sam dan Sarah saling melempar pandangan sengit. Seperti kedua orang musuh yang baru saja bertemu kembali. Sarah lalu membuang mukanya ke arah Ana dan Ken yang membuat wajahnya memerah melihat adegan romantis itu untuk yang ke sekian kalinya. Sam terkekeh melihat perubahan wajah Sarah.


"Jika kau mau, aku bisa melakukannya untukmu!", ucap Sam dengan nada menggoda.


Sarah menoleh ke arah Sam yang sedang memberi isyarat dengan menempatkan jari telunjuknya pada bibirnya kini. Wajah Sarah berubah makin garang. Ia menggeram marah, tak melepas tatapan sengit itu. Dengan cepat Sam mengecup bibir Sarah yang sudah ia nantikan sejak lama. Menumpang pada suasana romantis kakaknya, Sam akhirnya menuntaskan keinginannya sejak lama untuk menautkan bibirnya di sana.


Mata Sarah membelalak lebar, tubuhnya mematung seketika. Serangan dadakan itu membuatnya tak bisa banyak berpikir. Tapi, wajahnya malah bertambah merah dan terasa panas karenanya. Dan Sam malahan terbahak melihat ekspresi lucu Sarah itu. Sarah akhirnya tersadar dan segera berlari ke arah Han untuk menjadi tameng bagi dirinya yang akan terkena pukulan dari Sarah.


"Hey semuanya!", sapa Ana dan Ken yang sedang berjalan mendekat.


"Ada permainan apa? Sepertinya seru sekali!", tegur Ana melihat ke arah Sam yang tengah bersembunyi di balik tubuh Han.


"Sam, apa yang kau lakukan?", tegur Ken dengan ekspresi datarnya.


"Tuan Sam sepertinya membuat Nona Sarah kesal!", ucap Han membuat laporan.


"Hey kau kenapa jadi pintar mengadu?!", bentak Sam seraya melangkah ke hadapan Han.


"Hentikan omong kosongmu! Jika tidak, aku bisa mati oleh kakak ipar!", Sam berbicara pelan sambil merapatkan giginya agar yang lain tak dapat mendengarnya.


"Itu bukan urusanku!", ucap Han acuh.


"Saya permisi dulu, Tuan!", Han pamit untuk lebih dulu berjalan ke arah mobil mereka.


"Ayo Risa!", ajak Han yang kemudian mulai mendorong kursi roda Risa.


"Hentikan!", perintah Ana tegas hingga menimbulkan aura dingin yang biasa Ken keluarkan.

__ADS_1


__ADS_2