
"Kk,, kau?!", Ken sedikit terperanjat hingga genggaman tangannya terlepas terhadap tangan Ana.
Ia melihat seorang pria bertopi koboy dengan gaya eksentrik khasnya sedang duduk di atas sofa panjang sambil merentangkan kedua tangannya. Dan menambah kesan acuh dan angkuhnya, orang itu menyilangkan kakinya di atas meja.
Wajahnya yang sengaja ia tutupi dengan topi itu adalah karena saat ini ia sedang memejamkan mata sambil merehatkan tubuhnya sejenak. Lalu suara kegaduhan yang Ken buat berhasil mengganggu waktu tidurnya yang aru beberapa menit saja.
Wajar jika ia kesal. Dan lagi selalu tak ada alasan bagi seorang Benny Callary untuk bersikap sopan dan baik pada pria yang telah merenggut cinta pertamanya itu. Selalu ada bau-bau persaingan saat mereka bertemu, meski sebenarnya Ben hanya ingin main-main saja dengan memprovokasi pria itu.
"Iya, ini aku! Kenapa? Kau tidak suka dengan kehadiranku? Bagaimana jika istrimu sendiri yang mengundangku ke sini?!", Ben menaikkan topinya. Membuat wajah angkuhnya makin terlihat jelas dan membuat Ken semakin kesal saja.
"Kau,,,", benar saja, Ken merapatkan giginya yang gemetar seperti ingin memakan korban. Ia mengangkat telunjuknya ke arah Ben dengan sangat geram.
Melihat usahanya berhasil, Ben tersenyum penuh kepuasan. Bahkan pria itu sengaja menunjukkan sudut bibirnya yang berkedut tanda kemenangan.
bugh
"Kakak! Kau suka sekali ya membuat suamiku kesal!", Ana melempar sebuah bantal ke arah wajah Ben.
Meskipun ia tau jika benda itu tak akan menyakiti kakaknya sama sekali. Tapi paling tidak, benda itu dapat menghentikan kakaknya yang semakin berulah dengan membuat Ken marah.
Dan dengan hal ini pula, Ken merasa dibela. Ia merasa Ana berada di pihaknya. Jadi ia membalikkan senyuman yang tadi Ben tunjukkan padanya. Karena kini giliran dirinya yang tersenyum penuh kemenangan.
"Dan kau! Berhenti bersikap seperti anak kecil! Apa pun yang dikatakan oleh kakakku, jangan didengarkan atau pun diladeni! Kalian berdua ini sama saja, apa kalian tau!", Ana menegakkan punggungnya sambil berkacak pinggang. Matanya melotot ke arah Ken dan Ben secara bergantian.
"Hahahaha,,,, kalian ini lucu sekali! Ternyata dua pria yang paling menyeramkan yang pernah ku kenal takut pada satu wanita yang sama!", Louis tertawa puas melihat Ken dan Ben yang dengan kompaknya membungkam mulutnya seketika.
__ADS_1
"Diam kau!", Ana juga memelototi temannya itu dengan tangan yang masih bertengger di pinggang.
"Kau juga kena, kan?!", Tuan Dion menepuk bahu Louis turut prihatin. Dan sedetik kemudian, pria paruh baya itu juga ikut tertawa.
"Ayah!", namun tidak bisa terlalu lama, karena istrinya itu segera menatapnya dengan bola mata yang hampir keluar.
Situasi macam apa ini?! Han sungguh ingin ikut tertawa. Namun apalah daya dia tidak punya kekuatan sama sekali untuk mengeluarkan sebagian kecil saja perasaan bahagianya. Jadilah sebuah suara kekehan lolos dari mulutnya.
"Han!".
"Han!".
Ana dan Ken menyerukan namanya dengan ekspresi yang sama. Kolaborasi keganasan dari raja singa beserta singa betinanya, jika sudah begini, siapa pula yang berani melawan mereka.
"Maaf!", saking takutnya Han bersuara dengan volume yang amat kecil lalu membungkam mulutnya dengan satu telapak tangannya.
"Ken, ada apa dengan dirimu? Kenapa penampilanmu kacau begini?!", akhirnya keheningan itu pecah saat Ana membuka suaranya.
Ia prihatin dengan penampilan suaminya yang berantakan ini. Tidak biasanya Ken seperti ini. Lalu ia menyentuhkan telapak tangannya ke pipi suaminya itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Aku sangat mengkhawatirkan dirimu dan juga anak kita, sayang!", Ken mengambil tangan Ana lalu menyentuhkan telapak tangan itu ke bibirnya. Ia mencium tangan istrinya itu sambil memejamkan mata, dengan perasaan tulus dan mendalam.
Lalu semua orang di dalam ruangan itu dibuat jengah dengan adegan romantis barusan. Terutama Ben yang ingin sekali memuntahkan bekas makan malamnya tadi. Hisshh,,, sungguh membosankan! Pria itu pun membuang mukanya malas melihat ke arah mereka lagi.
"Kami baik-baik saja, Sayang!", melihat Ana yang tersenyum manis nan menawan membuat Ken tak tahan ingin menyentuh bibir istrinya itu dengan bibirnya.
__ADS_1
Namun sebelum itu terjadi, satu potongan buah yang sangat besar sudah dimasukkan secara paksa ke dalam mulutnya. Dan tentu saja, pelakunya adalah ibunya sendiri, Nyonya Rima.
"Apa kau tidak menganggap kami masih ada di sini, hah!", dengan ketus Nyonya Rima mengomel pada putranya itu.
Sungguh tidak tau tempat dan waktu yang tepat! Memangnya putranya pikir mereka semua itu apa, hah?! Hanya patung sajakah?! Mereka semua masih mempunyai hati dan pikiran untuk memiliki rasa iri?! Apa mereka tidak tau, jika sering-sering melihat adegan romantis seperti itu kan, ia jadi ingin muda lagi! Dengan sembunyi-sembunyi, wanita paruh baya itu tersenyum sendiri.
"Apa maksudnya dengan baik-baik saja?", meskipun sedikit kesal karena acaranya di ganggu oleh ibunya, tapi rasa penasaran yang ia miliki lebih besar saat ini.
"Bukankah tadi temanmu itu berkata jika kau pingsan dan mengeluarkan banyak darah?!", Ken menunjuk ke arah Louis yang sedang bersandar pada salah satu dinding dengan santainya.
"Ya, memang benar tadi dia itu berdarah! Sangat banyak darah yang mengalir di kakinya. Dan darahnya bahkan memiliki aroma yang harum dan manis!", jelas saat ini Louis sedang melayangkan sebuah sindiran pada temannya itu.
"Benar! Sangat banyak sehingga Ana meminta Bunda untuk berteriak sekencang mungkin, lalu berpura-pura panik saat melihatnya!", kali ini Nyonya Rima yang mencibir di belakang tubuh putranya. Sambil mengingat-ingat hal yang menggelikan tadi.
"Dan Ayah yang tidak tau apa-apa, harus ikut panik karena kau menyuruh Ayah datang ke rumahmu juga!", tambah lagi satu orang yang ikut menyampaikan keluhannya.
"Ana, apa maksudnya ini semua?!", kerutan pada kening dan alis pria itu sangat dalam saat menatap istrinya yang sedang tersenyum dengan kakunya.
"Bunda tidak akan membantumu menjelaskan, Ana!", Nyonya Rima mengangkat kedua bahunya sambil berjalan dengan sepiring potongan buah di tangannya. Ia berjalan menuju Tuan Dion yang sudah duduk rapih di samping Ben di sofa.
"Tenang saja, Bunda! Ana akan menjelaskan ini semua kepada Ken. Hanya saja Ana harap Ken mau bersabar mendengarkan penjelasan Ana ini! Lalu Ken harus berjanji untuk tidak marah setelah mendengarkan ini semua nanti!", wanita itu berbicara pada ibu mertuanya, namun sesekali ia akan menatap suaminya itu denagn penuh harap.
"Dengar, Ken! Kau bisa menjanjikan hal itu?!", Nyonya Rima bertanya pada putranya dengan acuh sambil memakan potongan buah yang masih berada di tangannya.
"Ya, itu mudah!", tanpa ragu Ken mengucapkan janjinya.
__ADS_1
Ia tak tersenyum, namun ekspresinya masih ramah. Pria itu hanya tidak sabar untuk mendengar kisah yang sebenarnya.