
Beberapa sudut villa telah diberi dekorasi hingga sedemikian rupa dan tak lupa beberapa rangkaian bunga juga menghiasi di sana. Dekorasi yang sederhana tapi masih terlihat indah. Dan yang paling mungkin adalah, masih lebih indah dekorasi pernikahan sungguhan antara Ken dan Ana tempo hari. Dan jika saat itu mereka menggunakan konsep outdoor, maka kali ini Ken memilih konsep indoor untuk menyukseskan rencananya.
Wanita itu, yang angannya menjadi istri dari Keanu Wiratmadja, kini jantungnya sedang berdegub ria di dalam sana. Akhirnya, setelah perjuangannya yang memakan waktu bertahun-tahun itu, kini tinggal hanya beberapa langkah kaki lagi dan dirinya akan benar-benar menjadi istri Ken, pikirnya.
Tangan dingin dan berkeringat, seperti ekspresi gugup pada kebanyakan orang saat mereka menjadi seorang mempelai wanita. Itu adalah yang Joice rasakan saat ini. Wanita itu sudah rapih dengan gaun pengantin dan riasannya. Ia pun sudah turun menuju tempat acara yang akan diadakan di ballroom villa ini. Senyumnya merekah membayangkan saat-saat indah nanti setelah ia menjadikan Ken suami sahnya.
Mereka sudah sampai di depan pintu ruangan itu, Joice dan papanya, Tuan Alexander. Papanya meregangkan lengannya untuk mempersilahkan Joice merangkul dan berpegangan padanya. Sampai di sini acara masih terdengar khidmat dan seperti sungguhan.
Tuan Alexander membuka pintu ruangan itu dengan satu tangannya. Dan nampaklah Ken yang begitu tampan sudah berdiri di depan altar menghadap ke arah mereka. Pria itu bagai manekin pria yang dipasangkan setelan jas putih dan nampak begitu sempurna. Wajahnya, tingginya, bentuk tubuhnya, semuanya begitu proposional. Sempurna hingga Joice tergila-gila. Meskipun begitu, pria di depan sana itu tetap menampilkan ekspresi dinginnya. Dan membuat Joice ingin sekali menggigit bibir pria itu hingga menunjukkan sebuah reaksi kecil yang menggemaskan.
Di sisi sebelah kanan, terlihat Nyonya Rima berdiri berdampingan bersama dengan Tuan Dion Wiratmadja. Mereka menggunakan gaun dan setelan senada. Lalu di belakang mereka, terdapat Sam yang sedang berdiri sendiri dengan ekspresi yang tak kalah acuhnya dengan kakaknya itu. Sedangkan di sisi sebelah kiri, hanya ada Nyonya Alexander, hanya di seorang. Karena memang Joice adalah anak tunggal, jadi dari pihak keluarganya hanya ada Joice dan kedua orangtuanya. Nyonya Alexander juga menggunakan gaun putih yang senada.
Perlahan Tuan Alexander melangkahkan kakinya untuk mengantar putrinya itu ke tangan pria yang katanya akan menjadi suaminya. Joice begitu gembira, bahkan terlalu gembira hingga ia tak menyadari tatapan penuh arti dari keluarga Wiratmadja.
***
Di halaman villa
"Kakak, kau baru datang?! Kenapa lama sekali?", gerutu Ana pada Ben yang baru saja menapakkan kakinya setelah keluar dari mobil.
"Hisshh, adikku kenapa cerewet sekali! Bukankah asisten suamimu sudah mengurusnya? Dimana mereka?", Ben berjalan mendekat ke arah Ana yang sudah berdiri bersama Sarah. Lalu ia mencubit gemas pipi adik kesayangannya itu.
"Itu di sana!", Ana mengelus-elus pipinya yang sakit. Ia menggunakan jari telunjuknya untuk memberi arahan dimana letak orang-orang yang ingin diketahui kakaknya itu berada.
Tak jauh dari mereka, Han bersama Risa sedang berbincang serius dengan beberapa orang polisi perihal apa saja langkah yang akan mereka ambil nanti. Han pun melihat kedatangan Ben dan juga Relly, ia terlihat menyelesaikan obrolannya dengan polisi-polisi tersebut lalu berpamitan untuk menemui dua pria itu.
"Apa kabar, Tuan?", sapa Han kepada Ben dan juga Relly secara bergantian.
"Bagaimana persiapannya?", tanya Ben setelah membalas sapaan asisten dari Ken itu.
"Seratus persen, dan semua siap dijalankan", jawab Han percaya diri.
"Berapa lama lagi?", tanya Ben lagi.
"Sekarang sudah saatnya!", jawab Han setelah melihat ke arah jam tangannya.
"Ayo! Kita jangan membuang waktu lagi!", ajak Ben pada Han dan Risa yang berada di sebelahnya.
"Ana!", serunya memanggil adiknya itu untuk mendekat.
"Ayo!", tangannya melambai bergerak mengajak adiknya. Lalu seperti biasa, ia membenarkan posisi topi koboinya terlebih dahulu.
***
Tuan Alexander hampir sampai di depan altar. Layar besar di bagian depan ruangan itu mulai memutar beberapa foto tentang masa-masa kuliah Ken dan Joice dulu. Di sana terpampang foto-foto kebersamaan mereka karena memang Joice selalu mengekori Ken sejak dulu.
Kini ayah dan anak itu sudah benar-benar berada di hadapan Ken. Tuan Alexander mengambil tangan putrinya yang bertengger di lengannya, lalu ia berikan tangan itu kepada tangan Ken yang sudah terulur di depannya. Senyum merekah hadir di bibir Joice, dengan wajah malu-malu ia menyambut uluran tangan pria idamannya itu. Dan saat ini, tangan Ken telah menggenggam tangan Joice dengan sempurna. Lalu ayah dari anak itu berbalik dan berjalan ke arah istrinya di sisi sebelah kiri altar.
Senyuman Joice melebar, merekah bagai sekuntum bunga mawar merah saat dirinya berdiri berhadapan dengan Ken, pria idamannya. Tangannya yang masih digenggam sedikit gemetar karena rasa gugupnya. Euforia kebahagiaan benar-benar nampak di wajahnya. Tapi,, berbanding terbalik dengan Ken yang wajahnya datar tanpa ekspresi dan lebih terkesan dingin.
Tiba-tiba gambar di layar besar itu berubah menjadi gelap dan terdengar percakapan antara seorang pria dan wanita.
"*Ada apa lagi, Ken?".
"Ken? Wah, kedengarannya akrab sekali ya! Dan oh, jadi rencanamu sudah berhasil rupanya, Nona!".
__ADS_1
"Tu,,Tuan Relly! Apa kabar?".
"Jadi kau masih mengingat suaraku? Wah kau harus diberi penghargaan sepertinya!".
"Kabarku sangat baik, seperti kau dengar bagaimana suaraku! Tapi hatiku rasanya sakit karena telah dicampakkan oleh Nona Joice".
"Ap,, Apa maksud Tuan Relly? Saya tidak mengerti!".
"Setelah nona mendapatkan apa yang nona inginkan, jadi nona sudah melupakan bagaimana merangkak ke ranjangku dan memohon untuk menghabisi nyawa seseorang?! Wah, berapa penghargaan yang seharusnya kau dapatkan ya?!".
"Tentu saja aku tidak melupakan hal itu! Semuanya berkat bantuan Tuan Relly, aku sungguh berterima kasih akan hal itu".
"Bagus jika kau masih mengingatnya! Besok malam, datang ke tempatku! Atau kau ingin aku yang datang ke tempatmu?!".
"Ba,,baiklah! Aku,,aku akan ke sana!".
"Baiklah, aku sangat menantikan kehadiranmu, No,,na Joice*!".
Dan itu adalah percakapan antara Joice dan Relly yang memintanya untuk datang ke hotel waktu itu. Setelah percakapan itu usai, segera tampil foto-foto panas yang perannya adalah mereka berdua. Hanya saja wajah Relly diblur sesuai permintaan Relly sendiri.
Pucat pasi wajah Joice saat ini. Hal pertama yang ia lakukan adalah menggeleng lemah ke arah Ken, calon suaminya. Dan Ken masih memasang wajah datarnya, ia belum menunjukkan respon apapun saat ini. Hanya saja, pria itu tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Joice.
Lalu kemudian Joice menoleh ke arah kedua orangtuanya yang sedang menatap kecewa kepadanya. Terutama wajah Tuan Alexander, wajah pria paruh baya itu sudah memerah menahan amarahnya saat ini. Dengan tegas ia menggeleng dengan tatapan kecewa ke arah putrinya.
Jantungnya mula berpacu cepat, tatapannya berubah lemah dan memancarkan ekspresi kebingungan. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi seluruh keningnya.
Lagi, layar besar itu menampilkan video saat dirinya melakukan sesi foto prewedding dengan Ken.
"*Nona Joice Alexander!", sapa Ana yang berada di dalam bayangan cermin itu, lebih tepatnya berada di hadapannya. Suara Ana mengalun lembut namun alunannya bisa membuat bulu kuduk Joice berdiri semua. Apalagi saat Joice memberanikan diri untuk menaikkan wajahnya dan pandangan mereka sempat bertemu, Ana menampilkan seringainya dengan mata membulat besar.
"Tidak,,, Ken adalah milikku! Sejak lama adalah milikku! Kau yang merebutnya dariku!", sahut Joice mulai terpancing emosionalnya.
"Kau sudah mati,,, aku sudah membunuhmu dengan tanganku sendiri! Kini Ken hanya akan menjadi milikku seorang! Ken milikku! Milik Joice Alexander! Sedangkan kau, kau sudah mati,,, sudah mati,,, Hahahaha,,,,,,", sambungnya lalu terbahak puas dengan kenyataan bahwa Ana telah mati ditangannya.
"Kalau begitu kau adalah pembunuh! Seorang pembunuh harus menerima balasannya!", wajah Ana tetap sama. Ia tetap menjaga seringai seramnya. Kedua tangan Ana yang awalnya memegangi sebuah buket bunga, tiba-tiba salah satunya mengayun ke atas sambil memegang sebuah pisau yang ujungnya terlihat sangat tajam hingga berkilau.
Mata Joice membulat besar hingga hampir keluar. Lalu tubuhnya kembali bergetar sangat ketakutan.
"Ti,, tidak! Jangan mendekat! Jangan mendekat! Ampun Ana,, ampuni aku! Aku salah,,, aku salah!", Joice menggunakan kedua tangannya untuk dijadikan tameng bagi dirinya. Tubuhnya yang menggigil ketakutan meringkuk di balik tangannya yang menyilang di depan wajahnya*.
Mempelai wanita itu berucap lemah, "Tidak! Itu tidak mungkin!".
Ia terus merapalkan kata itu sambil menggeleng lemah ke arah Ken pria yang akan disandingnya. Yang semula hanya tangannya yang gemetar, kini seluruh tubuhnya telah bergetar hebat. Jiwa raganya tak dapat menerima ini semua. Kini dunia Joice serasa di jungkir balikkan. Harusnya hari ini adalah hari bahagianya, harusnya hari ini Ken menjadi miliknya. Tapi tak dinyana, semua fakta tiba-tiba terungkap keluar.
Ken masih setia mempertahankan ekspresi dinginnya. Namun ada yang berubah, genggaman tangannya pada Joice makin kencang, bahkan mungkin saja jemari wanita itu akan remuk dibuatnya. Mata Joice melebar mulai mendapati perubahan pada diri Ken.
"Ken, aku tidak,,,. Percayalah padaku, Ken! Percayalah!", pinta Joice dengan nada yang begitu menyedihkan sambil memegang tangan Ken yang masih menggenggam kuat jemarinya.
"Percaya?", tanya Ken dingin.
"Iya, Ken. Kumohon percayalah kepadaku!", pinta Joice lagi penuh harap.
Ken tersenyum sinis ke arah wanita itu. Ia menatap wanita itu dengan tatapan paling mematikan yang ia miliki. Tak ada belas kasihan sedikitpun dari tatapannya kepada Joice, wanita yang kini lututnya mulai lemas.
Tuan Dion dan Nyonya Rima hanya bisa menghela nafasnya. Kali ini tugas mereka adalah menjadi penonton dan pendampingan kepada putranya. Tentu saja bagi Tuan Dion tak ada pembenaran dengan apa yang Joice lakukan. Apalagi wanita itu sempat bermain-main dengan nyawa putranya. Dia membesarkan putra sulungnya itu dengan susah payah, tapi hanya seorang gadis mudah dan ia berani membuat nyawa putranya dalam bahaya. Tak ada, tak ada pengampunan untuk apa yang telah dia lakukan.
__ADS_1
Sedangkan Sam, tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. Ia geram melihat tingkah Joice yang malahan seakan menyangkal perbuatannya itu. Pikir Sam jika itu adalah dirinya yang bersangkutan dengan wanita itu, mungkin ia sudah akan menghabisi nyawa wanita itu sejak awal.
brakk
Pintu ruangan itu dibuka dari arah luar secara tiba-tiba. Dari silaunya sinar mentari yang masuk ke dalam ruangan itu, muncul beberapa orang secara bergantian. Pertama rombongan polisi yang sudah menodongkan pistol ke arah depan. Lalu disusul Han dan Risa dibelakang mereka. Dan terakhir adalah yang membuat mata Joice benar-benar melebar tak percaya. Ana dan Sarah memasuki ruangan bersamaan dengan Relly.
Mereka semua memasang wajah tanpa ekspresi, dan hanya ada kemarahan di mata mereka. Tapi,, Ana masih sempat menampilkan seringainya secara samar sambil berlalu berdiri berdampingan dengan yang lainnya. Lalu saat ia melihat tangan Ken yang masih menggenggam tangan Joice, ia mulai kehabisan kesabarannya.
"Eherm! Eherm!", Ana berdehem keras sambil melirik ke arah tangan mereka.
Sebenarnya Ken bermaksud menahan Joice agar tidak kabur dengan menggenggam erat tangannya. Dan genggaman tangan itu terasa begitu menyakiti sebenarnya, hanya saja orang tak dapat melihat hal itu secara kasat mata.
"Tidak mungkin! Tidak,, ini tidak mungkin!", ucap Joice lirih hingga akhirnya ia tersungkur jatuh ke lantai karena lututnya yang lemas tak mampu lagi menopang berat tubuhnya.
"Nona Joice Alexander! Kami akan menangkap Anda atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Nona Keana Winata", ucap salah satu polisi yang berangsur menyerahkan surat penangkapan kepada Tuan Alexander yang entah sejak kapan sudah berdiri dan sebelah putrinya.
"Silahkan, Pak!", ucap Tuan Alexander seraya menyerahkan surat penangkapan yang baru saja ia baca. Pria paruh baya ini sudah tak mampu berkata-kata lagi atas tindakan yang putrinya ambil dan telah mencoreng nama baik keluarganya. Hancur sudah harapan satu-satunya untuk membuat nama Keluarga Alexander lebih berjaya dengan menikahkan putrinya dan juga Ken sebagai orang yang sangat berpengaruh. Pupus semua harapan itu dan berganti dengan rasa kecewa yang mendera hebat pada dirinya. Tapi meskipun begitu, bagi Tuan Alexander, kesalahan putrinya haruslah ditebus oleh dirinya sendiri. Dan jangan harap sedikitpun bantuan dari dirinya saat ini, karena Joice telah membuat dirinya terlampau kecewa.
"Tidak! Aku tidak mau, Papa! Aku tidak bersalah! Aku tidak bersalah, Papa!", Joice menangis histeris masih bersimpuh di lantai.
Tiba-tiba sebuah tangan datang menyambutnya, mengulur memberi bantuan untuknya bangkit dari sana. Joice menerima uluran tangan itu tanpa tau siapa yang membantunya. Dan betapa matanya akan keluar saat ternyata Ana yang menyambutnya untuk berdiri. Dengan seringai lebarnya ia menatap Joice tajam.
"Nona Joice Alexander, anda harus menyerahkan diri sekarang! Lagipula kau tak akan bisa memiliki Ken, karena Ken dan aku sudah menikah sejak lama. Dan Ken hanya menjadi milikku, selamanya!", Ana merapihkan gaun yang Joice kenakan lalu dengan senyum kemenangan ia tunjukkan jari manisnya yang telah melingkar sebuah cincin yang sama dengan yang Ken pakai saat ini.
Tuan Dion dan Nyonya Rima berjalan mendekat bersama dengan Sam di belakang mereka. Orang tuan dari Ken itu menatap iba kepadanya. Ia tak menyangka jika wanita secerdas Joice bisa berpikiran pendek dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Jadi kalian menjebakku! Ya, kalian menjebakku, kan!", Joice berteriak lagi saat dua orang polisi mulai memasangkan borgol di tangannya. Perasaan hancur sudah membuat wanita itu terus berteriak seperti orang gila. Lalu dengan cepat ia menyambar pistol yang dipegang salah satu polisi disebelahnya. Dan,,,,
dduaarr
Seseorang terkena tembakannya, lalu darah mengalir deras di lantai villa itu.
-
-
-
-
-
-
**maaf,, maaf,, ya baru bisa update sekarang karena author habis liburan kemarin 🤭
buat nebus kesalahan karena 2 hari ga update, author usahain update 1 episode lagi tapi ga janji kapan ya,, bisa jadi nanti tengah malam
dan ya untuk menjawab pertanyaan seputar kelangsungan cerita ini,, sekali lagi author mau nanya ya sama teman-teman,,
"untuk cerita Sam dan Sarah akan diteruskan di novel baru atau di sini aja ya?"
yaudah kalo gitu jangan lupa buat ngasih like, vote sama komentar kalian ya,, author suka sedih deh liat rating novel ini yang makin turun aja 😁
love u teman-teman 😘
__ADS_1
keep strong and healthy ya 🥰**