Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 70


__ADS_3

Di mansion mewah dimana Tuan Bram dan Krystal tinggal, riuh keceriaan terasa bahkan sampai ke setiap penjuru rumah. Dari arah kamarnya terdengar Krystal yang sedang bersenandung riang sambil merias wajahnya agar terlihat sempurna saat ia keluar nanti. Sedangkan si Tuan Besar rumah ini tengah menghisap cerutunya dengan santai di halaman belakang. Sambil menikmati matahari yang berada hampir di atas kepalanya, ia memejamkan matanya sambil mengurai senyuman.


"Sampai saat ini mereka belum mengetahui bahwa kejadian itu merupakan murni sebuah kecelakaan, ditambah lagi supir mobil box yang merupakan salah satu orang kita juga tewas di sana. Jadi mereka tak akan mencium keberadaan kita di balik semua ini, Tuan", jelas asisten Tuan Bram yang bernama Yohan.


"Baiklah, aku puas dengan hasil kerjamu. Kau harus tetap waspada, karena di belakang mereka ada Presdir Ken yang melindunginya. Jangan sampai mereka mengetahui ini semua", ucap Tuan Bram mengubah senyumnya dengan wajah serius penuh kewaspadaan.


"Papa!", seru Krystal dari arah tangga. Ia setengah berlari ke arah Tuan Bram yang sedang berada di ruang kerjanya dengan Yohan yang berdiri di hadapannya. Krystal begitu semangat setelah mendengat kabar bahwa pamannya, Tuan Danu mengalami kecelakaan dan Ana dalam kondisi terpuruk saat ini.


"Papa!", serunya lagi seraya menghambur ke arah Tuan Bram. Krystal bergelayut manja pada lengan ayahnya.


"Jadi kapan papa mulai mengambil alih perusahaan itu?", tanya Krystal yang kini sudah berdiri di samping Tuan Bram.


"Sebentar lagi, sayang! Sebentar lagi kita akan memiliki segalanya", ucap Tuan Bram dengan senyum penuh kemenangan.


"Baiklah! Aku sudah tidak sabar", ucap Krystal sambil memandang lurus ke depan dan memasang senyum liciknya.


***


Dingin dan hening menyelimuti ruang rawat Tuan Danu yang belum juga sadarkan diri. Ana duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu didampingi oleh kekasihnya, Ken. Matanya terlihat bengkak dan basah akibat menangis terlalu lama. Ken memangku sebuah kotak tisu untuk digunakan Ana menghapus air mata dan membersihkan cairan kental di hidungnya.


"Sudah?", tanya Ken lembut.


"Emmh,, emmh", Ana mengangguk sambil membersihkan hidungnya. Ya, dia sudah puas menangis sekarang. Ia sudah siap dengan dirinya yang tegar. Ana memang harus tegar untuk melawan mereka yang sudah membuat orang-orang yang disayanginya menjadi seperti ini.


"Apakah aku bisa membalas mereka untukmu?", tanya Ken hati-hati. Sebenarnya bisa saja Ken langsung bertindak untuk membalas tindakan Tuan Bram yang culas pada ayah kekasihnya itu. Namun Ken lebih memilih menghormati Ana sebagai putrinya yang memiliki kewenangan paling tinggi untuk mengambil keputusan. Ken menunggu respon dari Ana sebelum bertindak.


"Emmm", Ana terlihat meragu. Dia bimbang bagaimana harus mengambil tindakan kali ini.


"Baiklah, serahkan saja semuanya padaku",ucap Ken penuh percaya diri.


"Tapi Ken, tinggal hanya mereka keluarga ku", ucap Ana lemah. Bagaimana pun juga, menurut Ana mereka tetaplah keluarganya. Selain ayahnya yang sangat ia cintai, masih ada Tuan Bram selaku paman dan juga Krystal sepupunya yang merupakan orang terdekatnya. Meskipun selalu diliputi rasa iri dan dengki pada mereka. Ana tetap tak ingin kehilangan mereka, bagaimana pun buruknya orang-orang itu.


"Ana! Bahkan mereka hampir mengambil nyawa ayahmu", Ken menggeram tak sabar. Ia tak habis pikir dengan pola pikir Ana.

__ADS_1


"Jika mereka benar-benar menganggapmu dan paman sebagai keluarga, mereka tak akan berusaha menyingkirkan paman dengan cara picik seperti ini. Berusaha menghabisi nyawa kakaknya sendiri, apakah itu masih dimaksudkan dengan keluarga?!", ucap Ken menahan amarah nya.


"Jangan berbaik hati lagi Ana, pada mereka! Satu kali kau memberi mereka kesempatan, maka selamanya mereka akan terus berusaha menyingkirkan dirimu dan paman untuk selamanya. Kau pikir aku bisa diam saja melihat keadaan yang seperti ini?! Sebelum aku mengenal dirimu, paman sudah ku anggap seperti keluarga ku sendiri. Dan,,, ditambah lagi aku sungguh sangat mencintaimu, Ana. Juga,,, aku sudah berjanji untuk membuat mu selalu bahagia", ucap Ken dengan intonasi tinggi. Ia bersungut-sungut mengucapkan setiap kalimatnya.


"Aku sudah menahan diri sejak kemarin untuk tidak langsung membalas mereka karena aku masih ingin meminta pendapat darimu. Tapi,, jika kau ingin aku untuk terus menahan diri,, maaf Ana aku tidak bisa!", ucap Ken lemah kemudian pergi begitu saja meninggalkan Ana yang tertunduk dengan berurai air mata.


Ken berjalan lurus tanpa menoleh lagi ke belakang. Saat ini emosi tengah menyelimuti dirinya. Ia takut amarahnya saat ini malah akan menyakiti Ana. Maka ia memilih untuk meredakan emosinya sendiri.


Sedangkan Ana, ia yang ditinggalkan sendirian pun hanya bisa menatap punggung laki-laki yang dicintainya itu menjauh. Air mata tetap meluncur bebas tanpa bisa dihentikan.


Sejujurnya ia juga setuju dengan penuturan Ken. Benar bahwa kali ini kelakuan pamannya sudah kelewat batas. Namun ia juga tak bisa memungkiri bahwa memang hanya tinggal mereka sanak saudara yang Ana punya. Ana memang sangat membenci mereka saat ini, karena ulah mereka ayahnya juga kak Risanya menjadi seperti ini. Tapi ia juga tak ingin menjadi bejat seperti mereka jika ia membalasnya dengan cara yang sama.


Masih berusaha menghentikan tangisnya, Ana berpikir keras bagaimana ia harus menangani hal ini. Ia paham kemarahan Ken kali ini juga karena betapa Ken ingin melindungi dirinya. Ana juga jadi tau betapa Ken begitu mencintainya.


***


Sampai menjelang petang Ken tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Ana begitu khawatir dan menyesal karena telah membuatnya pergi dengan kemarahan. Perasaan tak karuan itu mendera Ana hingga ia tak bisa menutupinya dari Sarah.


Setelah Ken pergi, Sarah datang dan menemaninya hingga saat ini. Sarah paham apa yang Ana rasakan sekarang. Tadi saat Sarah datang, ia langsung melihat sisa-sisa air mata masih basah di pipi Ana. Otomatis Sarah langsung memberondong pertanyaan bertubi-tubi pada Ana. Dan Ana langsung menceritakan semuanya.


"Ana!", seseorang menyentuh bahu Ana yang tengah menunduk lesu.


Sarah lebih dulu menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan dari asal suara itu. Mulutnya menganga seketika saat ia sudah melihat dengan jelas sosok yang sedang berdiri di hadapannya.


"Lou!", Ana bangkit dan berusaha untuk tersenyum pada Louis yang baru saja tiba.


Dengan cepat Louis memeluk Ana erat. Ia merasa iba dengan musibah yang baru saja menerpa temannya itu.


"Tidak usah tersenyum, jika memang tidak bisa!", ucap Louis seraya melepas pelukannya.


Ana memukul bahu Louis pelan. Ia malah sedikit melebarkan senyumannya.


"Kau! Darimana kau tau aku ada di sini?", kini Ana sudah mengernyitkan kedua alisnya. Ana yakin tak ada lagi yang mengetahui hal ini. Karena Ken sudah menutup berita tentang kejadian ayahnya agar tak di ekspos keluar.

__ADS_1


"Hey! Kau lupa siapa aku ini ya?! Aku adalah Louis Harris, aktor nomor satu di negara ini. Tak ada yang terlewatkan olehku. Apalagi ini menyangkut,, Krystal", Louis mengakhiri ucapannya dengan lemah saat menyebut nama wanita yang ia cintai sejak dulu.


"*Whaaatt!", Sarah menjerit dalam hatinya.


"Jadi benar! Dia adalah sosok yang selalu ada ku pandangi setiap malam di dinding kamarku. Astaga! Aku tidak bermimpi kan?!", lagi-lagi Sarah berteriak histeris dalam hatinya sendiri*.


""Auuww!", Sarah menjerit tiba-tiba. Ia mencubit lengannya sendiri dengan gemas untuk memastikan dirinya saat ini berada di dalam mimpi atau ini memang kenyataan.


Ana dan Louis menoleh ke arah Sarah bersamaan. Mereka berdua menatap Sarah aneh karena bukannya sedang meringis kesakitan. Yang nampak di wajahnya malah rona bahagia.


"Kau,, kau adalah Louis Harris?", tanya Sarah bersemangat.


"Emmhh,, ya tentu saja! Memangnya ada berapa Louis Harris di sini?!", ucap Louis dengan senyumannya. Ia melupakan sejenak perihal Krystal yang membuatnya begitu kecewa.


"Aku,, aku,, aku adalah fans beratmu Louis!", ucap Sarah penuh semangat sambil menggoyang-goyangkan lengan Louis.


Dan, bertepatan itu pula Ken dan Sam mendekat. Ken melangkah dengan wajah datarnya yang tak terbaca. Sedangkan Sam maju ke arah Louis dan Sarah dengan wajah memerah.


-


-


-


-


-


-


-


jangan lupa untuk like, vote dan komentarnya ya ๐Ÿ˜‰

__ADS_1


dan terima kasih untuk semua dukungannya selama iniโ˜บ๏ธ๐Ÿ˜˜


__ADS_2