
Kemurungan Sarah tidak berhenti sampai acara makan malam selesai. Sejak Tuan Dion dan Nyonya Rima meminta anak-anaknya untuk makan malam di rumah, kedua orang tua itu juga meminta mereka untuk menginap di rumah besar ini. Sesekali untuk meramaikan rumah yang biasanya sepi sepanjang waktu.
Jadi saat ini, Sarah masih dengan wajah muramnya di atas tempat tidur. Di kamar lama Sam yang jarang sekali suaminya itu gunakan. Sarah sudah selesai membersihkan diri, kini giliran Sam yang menggunakan kamar mandi.
Sarah duduk bersandar pada kepala ranjang, sambil memainkan ponselnya. Wajahnya kelihatan tidak ada minat sama sekali pada benda pipihnya itu. Ia masih memikirkan masalah ini. Wanita itu tengah membuat otaknya bekerja keras, mencari alasan mengapa dirinya masih belum mengandung juga.
"Sayang, kau belum tidur?", Sam keluar dari kamar mandi hanya dengan celana pendek saja. Pria itu menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil. Wajahnya terlihat segar sehabis mandi barusan.
Dan setiap kali melihat hal ini, Sarah merasa memiliki keberuntungan karena telah menikah dengan pria itu. Di antara semua kekonyolannya, masih ada juga nilai positif dari pria itu. Wanita itu tertegun sesaat.
"Aku belum mengantuk!", jawabnya dengan nada murung ketika suaminya sudah mendekat. Matanya kembali menatap layar ponselnya dengan enggan.
"Kenapa kau tidak pakai baju? Nanti kau bisa masuk angin!", wanita itu mengingatkan suaminya meski saat ini tengah buruk suasana hatinya. Sarah menoleh sebentar kemudian menatap ponselnya lagi.
"Untuk apa aku pakai baju jika sebentar lagi akan aku buka kembali!", jawabnya seraya mendudukkan diri di hadapan istrinya itu. Sam mengukir senyum di bibirnya karena meskipun istrinya itu galak, selalu galak bahkan, namun Sarah juga selalu memperhatikan dirinya. Meskipun jarang dengan sikap manis wanita itu melakukannya. Tapi Sam merasa itu lebih tulus, ketimbang berpura-pura perhatian saja dengan sikap ramah.
"Jangan macam-macam!", Sarah mengangkat wajahnya untuk menunjukkan matanya yang mendelik hampir keluar. Tapi kemudian ia menurunkan wajahnya lagi untuk yang ke sekian kalinya.
"Siapa yang macam-macam, Sayang! Aku hanya ingin satu macam saja! Aku hanya menginginkan dirimu!", Sam mencondongkan tubuhnya supaya ia bisa berbisik di telinga Sarah yang sedang menunduk itu.
"Saaam!", hampir saja Sarah terjebak oleh godaan suaminya itu. Wangi segar sehabis mandi memang merupakan godaan yang tak tertahankan untuknya. Makanya, ia buru-buru mendorong tubuh suaminya itu menjauh. Sambil menundukkan kepala menyembunyikan merah di wajahnya. Sam tak menolak, seakan-akan ia lemah, ia biarkan tubuhnya terbawa dorongan Sarah sambil terkekeh gembira. Namun lagi-lagi Sarah menunduk murung kembali.
"Kau masih memikirkan hal itu, hemm?", tanya Sam tak berdaya. Ia mengangsur tubuh istrinya bergeser agak tengah, sehingga ia yang menggantikan istrinya itu duduk di pinggir ranjang. Sam mengambil ponsel Sarah untuk ia letakkan di atas nakas di sisinya. Kemudian ia rengkuh istrinya itu untuk bersandar pada dadanya yang bidang. Sam memeluk Sarah dari arah belakang seraya mengaitkan seluruh jari-jari mereka.
"Sam,,, apakah aku benar-benar tidak bisa hamil?", tanya Sarah seraya menengadahkan kepalanya, menatap suaminya itu dengan wajah sedih.
"Sayang! Dengar,,, ", Sam membalikkan tubuh istrinya sehingga mereka kini duduk saling berhadapan. Pria itu tak bosan untuk memberi semangat dan keyakinan bahwa mereka pasti akan memiliki keturunan.
"Kita sudah memeriksakan kondisi kita, bukan?!", Sarah mengangguk pelan dengan wajah polosnya. Dan saat ini kedua jemari tangannya sedang digenggam pria itu.
"Kita berdua sehat! Tidak ada masalah dengan kondisi kesehatan kita apabila ingin memiliki keturunan. Dokter mengatakan kita hanya perlu lebih bersabar dan lebih berusaha saja. Semuanya sudah ditentukan oleh Tuhan, Sarah. Ketika waktunya tepat nanti, Tuhan pasti akan menghadirkan seorang malaikat kecil di antara kita. Jadi jangan memikirkan hal ini lagi, ya!", pinta Sam dengan sabar dan penuh pengertian. Apa yang dokter katakan kepada mereka, Sam juga menyetujuinya.
"Mungkin saat ini kita sedang diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua untuk saling mengenal lebih dalam lagi. Atau mungkin kita sedang diberi waktu untuk mempersiapkan mental kita untuk menjadi orang tua yang baik nantinya", Sam mengecup kedua punggung tangan Sarah lalu menerbitkan senyum yang meneduhkan.
"Kau ini tumben sekali! Biasanya yang kau ucapkan selalu membuatku kesal saja!", Sarah membalikkan tubuhnya lagi seraya menahan senyum. Menarik tangan suaminya untuk memeluknya dari belakang lagi seperti posisi mereka semula.
Muram di wajahnya kini berganti dengan semu merah lantaran sulit sekali baginya untuk memuji ucapan Sam yang memang benar adanya. Kegundahan yang ia rasakan terbang menghilang seperti asap. Semua ucapan Sam telah membuat perasaannya lebih baik saat ini.
"Aku takut kau tidak sabar menunggu, lalu,, lalu,, kau mencari wanita lain untuk mendapatkan keturunan!", ragu-ragu Sarah menyampaikan hal ini. Ia pun mengucapkan hal itu sambil memajukan bibirnya, seperti sedang protes untuk hal yang membayang-bayangi pikiran dan hatinya belakangan ini.
"Kau itu kebanyakan membaca novel dan menonton drama! Mana mungkin aku seperti itu, Sayang! Aku sudah mengatakan bahwa wanita terakhir yang ada di dalam hidupku adalah dirimu. Dan putri kecil kita nanti!", semakin erat Sam memeluk tubuh istrinya itu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Sarah dengan manja. Karena dengan pernyataan itu, Sam jadi tahu bahwa bagaimana pun galaknya wanita itu, Sarah tetap mencintainya dan takut kehilangan dirinya. Oh, hati pria itu sekarang sedang berbunga-bunga.
"Ya! Kau memang harus memegang kata-katamu itu! Karena jika tidak, aku akan meminta bantuan Ana untuk membinasakan dirimu!", Sarah menoleh ke samping dengan tatapan peringatan. Karena begitu dekat, Sam malahan berupaya untuk mencium istrinya yang selalu menggemaskan itu ketika marah. Ia memberikan ciuman singkat, sehingga Sarah dengan cepat segera menoleh ke depan lagi dengan wajah malunya. Sam terkekeh tak mengubah posisinya.
"Atau,,, bagaimana jika kita melakukan proses bayi tabung saja, Sam!", wanita itu segera melepaskan pelukan suaminya kemudian berbalik dengan begitu semangat. Sebuah ide terbesit di benaknya tiba-tiba.
__ADS_1
"Tidak mau! Aku tidak suka dengan prosesnya! Aku tidak mau kau disuntik di sana-sini! Aku tidak mau membebani dirimu, Sayang!", Sam langsung menolak karena ia tahu jika proses tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa proses yang mesti mereka lalui. Dan lelaki itu tidak mau melihat istrinya menderita. Lebih baik mereka bersabar saja, menurutnya.
"Benar juga, sih! Aku juga takut disuntik!", Sarah menutup mulutnya yang saat ini tengah terkekeh malu sendiri dengan pernyataannya barusan. IA seperti sedang membuka aibnya sendiri.
"Aku juga sama! Aku juga tidak suka disuntik!", Sam menatap istrinya itu penuh arti.
"Karena aku lebih suka menyuntik!", Sarah mengernyit mendengar kalimat itu. Hingga kemudian suaminya mendekat dan berbisik di telinganya.
"Menyuntikkan racun cinta kepadamu!", kemudian Sam menarik tubuhnya dan menatap Sarah dengan tatapan mendamba.
"Sam!", wanita itu pun mulai mengerti maksud suaminya makanya ia berseru ketika Sam makin merapatkan tubuhnya.
"Aku yakin kau akan suka dengan suntikanku yang satu ini!", bisik Sam lagi seraya menggiring Sarah ke bawah tubuhnya.
"Sam!", tak ada yang mampu ia serukan lagi selain nama suaminya itu. Sarah kini sudah dipenjara dalam nikmatnya sebuah suntikan beracun. Dimana hanya Sam saja yang memiliki penawarnya. Penawar yang membuatnya ketagihan dan terus kecanduan oleh sentuhan demi sentuhan yang merayap dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya.
***
Kedua orang yang tengah terjerat mabuknya asmara itu tidak mengetahui jika dibalik pintu kamar mereka ada dua orang tua yang sedang menempelkan daun telinganya ke daun pintu dengan begitu erat. Tuan Dion dan Nyonya Rima sedang menguping di depan kamar Sam dan Sarah.
"Ayah, mereka tidak bertengkar, kan?!", tanya Nyonya Rima memastikan seraya menoleh sedikit ke arah suaminya. Kemudian ia melanjutkan aksinya lagi.
"Sepertinya tidak!", Tuan Dion menjawab dengan wajah serius sambil terus berusaha mendengarkan.
Tak lama mulai terdengar sayup-sayup melodi indah dari dalam kamar itu. Erangan Sarah yang sedang digoda oleh suaminya di dalam sana, sampai ke telinga kedua orang tua itu. Sehingga wajah mereka kini memerah, namun tak jua mereka melepaskan diri dari daun pintu yang sepertinya lengket itu.
"Sepertinya memang terjadi sesuatu pada Sarah!", kedua orang tua itu mengangguk setuju dengan wajah merah mereka.
"Benar! Sepertinya sudah terjadi sesuatu pada mereka berdua!", sebuah suara merdu datang dari balik punggung Tuan Dion dan Nyonya Rima.
"Ahh!", kedua orang tua itu terperanjat kaget sampai mundur beberapa langkah.
Ternyata sudah ada Ana berdiri di belakang mereka mengikuti apa yang sedang mereka lakukan. Dan putra sulung mereka tengah berdiri acuh di sampingnya. Saat ini kedua orang tua itu sibuk mengusap dada mereka yang masih berdegub kencang.
"Se,, sejak kapan kalian berada di situ?", tanya Tuan Dion gugup.
"Belum lama!", jawab Ken singkat sambil merangkul istrinya yang kini sedang menahan tawa. Ia baru tahu jika seseorang seperti ibu dan ayah mertuanya yang terkenal itu, ternyata memiliki sisi konyol seperti ini juga. Sungguh Ana ingin berkelakar sekarang ini. Namun ia masih harus menahannya sebab tidak sopan. Karena bagaimana pun yang akan ia tertawai adalah orang tua.
"Ayo jalan!", ajaknya kemudian seraya membimbing Ana yang masih berusaha untuk tidak mengeluarkan tawanya sekarang juga. Sambil berjalan Ken melirik kedua orang tuanya itu seraya menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan tingkah laku kedua orang tuanya itu.
"Apakah sampai punya anak nanti tatapannya masih akan seperti itu?!", protes Tuan Dion sendiri setelah putra sulungnya itu menjauh.
"Ini semua gara-gara Ayah! Coba saja Bunda tidak mendengarkan sarah Ayah untuk menguping Sam dan Sarah! Pasti tidak akan terjadi hal memalukan seperti ini!", Nyonya Rima malahan menatap suaminya dengan sedikit perasaan kesal.
"Lalu kenapa Bunda setuju?!", Tuan Dion tak ingin disalahkan sendiri. Karena seandainya saja istrinya itu tidak setuju dan melarangnya, pasti mereka juga tidak akan melakukan hal ini.
__ADS_1
"Sudahlah! Bunda lelah! Ayo kita pergi tidur!", ajak Nyonya Rima sambil lalu. Ia tak ingin pembahasan ini berlanjut lagi karena ia pun membenarkan hal itu.Kenapa pula ia harus setuju?! Sudah jelas ide itu terdengar konyol dan beresiko tinggi!
"Baiklah! Ayo, kita tidur!", Tuan Dion buru-buru menyusul istrinya itu. Kemudian ia merangkulnya seraya tersenyum misterius.
"Ayah pasti sedang berpikir macam-macam!", Nyonya Rima menunjuk suaminya itu dengan tatapan curiga.
"Aku hanya sedang iri saja dengan putra kita!", Tuan Dion mengangkat kedua alisnya ketika menyeringai. Dan Nyonya Rima sudah tahu apa yang suaminya itu pikirkan.
"Ayah sudah tua, tapi masih saja memikirkan hal itu!", lantas Nyonya Rima memukul bahu suaminya itu pelan seraya tersenyum malu-malu.
***
"Kennn! Apa yang sebenarnya kau lakukan, sih?", Ana kesal karena sejak memasuki kamar suaminya itu terus saja membuntutinya kemana pun ia pergi. Hingga ia merasa gerah dan risih.
"Aku ingin seperti Sam dan Sarah!", pria itu tersenyum dalam seraya membuka kancing-kancing kemejanya.
"Ken, kita belum mandi!", seru Ana sambil menahan tubuh terbuka suaminya yang semakin merapat itu.
"Kita bisa mandi setelah ini, Sayang!", pria itu tersenyum miring lalu menggendong tubuh Ana yang semakin berisi namun seperti tak terasa berat sama sekali.
Malam yang hembusan anginnya sepoi menyapa ini, tengah diterangi sinar rembulan. Dan memayungi ketiga pasangan Wiratmadja yang saat ini sedang dimabuk kepayang. Ketiga pasangan itu selalu kompak, bahkan kompak dalam urusan dalam kamar. Sayangnya suara-suara indah itu tidak saling bersautan, lantaran letak kamar mereka saling berjauhan. Indahnya malam ini, begitu indah dirasakan oleh ketiga pasangan itu.
***
"Siang nanti aku akan makan siang dengan Sarah dan Krystal! Sudah beberapa hari ini Krystal cerewet sekali gara-gara Louis tidak ada kabar!", Ana mengantarkan Ken yang akan berangkat untuk bekerja sampai di depan mobil.
"Ini bekal yang sudah aku buatkan!",kemudian ia menyerahkan sebuah kotak makanan berwarna biru kepada suaminya itu. Ana tak dapat mengantarkan makan siang nanti, maka dari itu ia bertanggung jawab untuk menyiapkannya pagi ini.
"Kau tidak perlu repot-repot, Sayang!", pria itu menerima kotak makan itu kemudian memberi istrinya itu sebuah kecupan sayang di keningnya.
"Ini sudah merupakan kewajibanku!", Ana tersenyum menerima perlakuan manis itu.
"Jangan sampai terlalu lelah nanti! Telepon aku jika kau akan berangkat!", suaminya itu memeluknya untuk beberapa saat, kemudian mengusap kepalanya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang.
"Baik, Tuan!", keduanya terkekeh bersama. Ken lantas menjauhkan tangannya dari tubuh istrinya untuk membuka pintu mobil. Ia berhenti sesaat, kemudian dengan wajah ragu Ken menoleh lagi ke arah Ana seperti hendak mengatakan sesuatu.
"Katakan saja pada Krystal, bahwa apapun yang terjadi nanti, dia harus mempercayai Louis. Pria itu sedang berjuang sekarang di sana. Jadi katakan pada Krystal untuk tetap bersabar dan percaya pada Louis meski berat rasanya!", kata-kata Ken terlalu misterius sehingga Ana hanya diam sambil mengernyitkan alisnya.
"Jika sudah saatnya nanti, aku akan memberitahukannya kepadamu! Ini permintaan Louis supaya kami tetap diam!", tambah pria itu lagi sambil kembali mengusap rambut panjang istrinya itu. Sebenarnya ia juga tak ingin disalahpahami, namun Ken juga merupakan orang yang berpegang teguh kepada janji yang telah dai ucapkan. Sehingga saat ini ia hanya bisa memberi istrinya itu pengertian saja.
"Baiklah! Aku mengerti!", Ana mengangguk meskipun ia tak mendapatkan ide apapun saat ini. Ia percaya kepada Ken, jika sudah tepat waktunya, suaminya itu pasti akan mengatakannya.
"Aku berangkat, ya! Jangan lupa minum obat dan vitaminnya!", lelaki itu lantas menghilang di balik pintu mobil setelah mengurai senyumannya yang indah.
"Baiklah! Hati-hati!", Ana melambai pada mobil mewah yang mulai menjauh dari hadapannya. Alisnya masih berkerut saat ini, sambil berusaha menerka apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1