Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 25


__ADS_3

Tiga buah mobil mewah memasuki halaman luas rumah keluarga Harris. Tak lama mobil-mobil itu berhenti tepat di depan teras rumah itu. Nyonya Harris keluar pertama, lalu disusul Tuan Harris yang dibantu keluar oleh supir mereka untuk didudukkan di kursi roda. Bagaimana pun juga kondisi Tuan Harris tidak baik-baik saja saat ini. Beliau masih begitu lemah, hanya saja memaksakan diri untuk menjemput putra kesayangannya.


Di belakang, turun Krystal lalu Louis kemudian. Wajah lelaki itu masih agak pucat, namun sudah lebih baik dari ketika pertama kali ia roboh di rumahnya. Dengan telaten, Krystal memapah kekasihnya yang sebenarnya sudah kuat untuk berjalan sendiri. Lalu menyusul Ibu Asih, Sandi dan juga Adam yang berada di barisan paling belakang.


"Ayo, Sayang!", ajak Nyonya Harris kepada Krystal dan Louis sambil mendorong kursi roda suaminya. Ia juga menganggukkan kepala kepada yang lainnya, mengajak mereka masuk dengan isyarat dan sebuah senyuman.


"Aku bisa berjalan sendiri, Sayang!", Louis melepaskan rangkulan tangan Krystal di lengannya. Lalu memindahkan tangan itu untuk ia genggam.


"Tidak mau! Aku lebih suka seperti ini! Dengan begini kau jadi terlihat hanya milikku seorang!", wanita itu langsung melepaskan tangannya dan kembali ke posisi semula untuk memeluk lengan kekasihnya itu. Ia merajuk dengan suara manja khasnya. Dan malah mempererat pegangannya pada lengan Louis.


"Baiklah! Terserah kau saja!", Louis tersenyum tak berdaya sambil mengusap pucuk kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang.


Sebenarnya ia setuju dengan ucapan Krystal, karena memang dirinya hanyalah untuk wanita itu. Namun sekarang ini mereka berada di rumahnya. Lantas mau mereka tunjukkan kepada siapa isyarat kepemilikan ini?! Malahan ada dua pasangan muda yang sudah menikah terlebih dahulu ketimbang mereka. Paling-paling yang iri adalah dua pria lajang yang sedang berjalan dengan ibu mereka di belakang.


Louis tersenyum kecil saat menoleh ke arah Adam dan Sandi. Nampak dua pria itu berwajah iri dengan kemesraan yang mereka miliki.


Seorang supir berjalan mendahului rombongan itu. Ia membawa tas yang berisi pakaian kotor milik Louis. Ia juga membukakan pintu untuk majikan dan para tamunya.


Begitu masuk ke dalam rumah, situasi tegang terasa di ruangan tamu itu. Ada Ken, Ana, Sam dan juga Sarah yang terlihat sedang memasang wajah datar dengan tatapan menginterogasi. Lalu nampak sebuah pucuk kepala seorang wanita yang duduk di sofa tunggal membelakangi mereka semua.


"Kakak!", wanita itu berseru kemudian setelah mendengar rombongan orang masuk. Ia memutar kepalanya ke belakang hingga nampaklah wajahnya secara nyata.


"Alleta!", yang membalas seruan itu adalah Nyonya Harris dengan nada tidak suka. Bahkan Tuan Harris pun langsung berwajah masam setelah menyadari siapa yang menyebutkan nama putranya.


"Kak Louis! Kakak sudah pulang?!", wanita berparas cantik yang memiliki rambut cokelat sebahu itu langsung menghambur ke arah Louis tanpa mempedulikan Krystal yang saat ini tengah melekat pada lengaan pria itu.


Krystal memandangi pegangan tangannya yang terlepas begitu saja akibat ulah wanita itu. Seperti wanita yang bernama Alleta itu sengaja melakukannya. Krystal memandangi Louis yang sedang dipeluk oleh wanita berambut pendek itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Terdengar jka wanita itu mengerang kecil untuk menahan kesal.


Louis bingung harus bagaimana ketika ditatap seperti itu oleh kekasihnya. Dan Alleta juga memeluknya dengan sangat erat. Pria itu tidak membalasnya, namun berusaha melepaskan lem yang menempel dan mengganggunya ini. Yang pasti ia tahu jika saat ini Krystal sudah mulai kesal dan membutuhkan sebuah penjelasan.


"Kak Louis sudah baik-baik saja? Apa Kakak tahu? Aku sangat mengkhawatirkan Kakak! Kemarin aku datang ke rumah sakit, tapi Tante malah menyuruhku untuk pulang!", wanita itu melepaskan pelukannya lalu dengan sengaja menggeser Krystal dan memeluk lengan Louis dengan begitu manja.


"Lepaskan!", ucap Louis pelan sambil melepaskan tangan yang seperti memiliki perekat terhebat di dunia itu. Ia memandangi Nyonya Harris dengan tatapan bertanya. Dan ibunya itu membalasnya dengan suatu isyarat gelengan kepala. Maksud Nyonya Harris ia tidak ingin membiarkan Alleta sampai menemui Krystal lebih dulu.


Krystal merasa dipandangi oleh semua orang. Namun semua keluarganya itu nampak geram dengan hal yang sedang terjadi di depan mata mereka. Terutama Ana dan Sarah yang memprovokasi dirinya dengan gerakan di mulut dan matanya untuk melawan wanita itu.

__ADS_1


Ia melirik dari samping penampilan wanita yang bernama Alleta itu dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya. Krystal memindai barang apa saja yang melekat di tubu wanita itu. Dan ia bisa menyimpulkan jika wanita itu bukanlah wanita sembarangan, karena apa yang ia pakai saat ini saja sudah bernilai ratusan juta. Pasti wanita ini berasal dari kalangan berpengaruh.


Namun hal itu tidak membuatnya merasa minder. Karena bagaimana pun juga dirinya saat ini berpredikat sebagai seorang aktris nomor satu di negaranya. Lagipula keluarga yang ia miliki juga bukan keluarga sembarangan. Terlebih lagi setelah sepupunya, Ana, menikah dengan Presdir Ken yang terhormat itu. Ia tentu memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan wanita yang belum ia ketahui identitasnya itu.


eherm,,


Krystal membasahi tenggorokannya terlebih dahulu sebelum mengeluarkan suaranya yang indah namun beracun. Wanita itu mendapatkan dukungan dari dua sahabat sekaligus saudaranya. Ana dan Sarah memukul udara dengan kepalan tangan mereka, untuk memberikan semangat kepada Krystal. Lagipula mereka juga tahu jika Krystal itu sudah sangat lihai dalam berkompetisi. Yang merupakan pengalaman pribadi Ana sendiri. Apalagi ini menyangkut pria yang dicintainya. Pasti Krystal akan melawan habis-habisan.


"Sayang! Bisakah kau jelaskan siapa dia?", Krystal menyerobot masuk di antara Louis dan Alleta. Membalas perlakuan wanita itu dengan hal yang sama. Dan ia langsung menggantikan posisi Alleta untuk memeluk lengan kekasihnya itu. Lagipula ia yang sejak awal melakukan hal ini. Dan dengan panggilan itu, seharusnya wanita itu segera menyadari status apa yang ia miliki terhadap Louis. Krystal berharap wanita itu lebih tahu diri.


Lalu tatapan penuh permusuhan pun terjadi di antara mereka berdua. Krystal dan Alleta seperti memiliki serangan listrik melalui tatapan mata keduanya. Kemudian Alleta menaikkan salah satu sudut bibirnya, mengejek ke arah Krystal dengan lengkungan bibirnya. Ia tidak akan bisa dikalahkan! Kak Louis adalah miliknya!


"Kak Louis! Siapa wanita ini? Kenapa sejak tadi dia selalu menempel kepadamu!", Alleta langsung bergegas ke sisi Louis yang lainnya untuk memeluk lengan pria itu lagi.


"Alleta!", tegur Nyonya Harris dan juga suaminya secara bersamaan. Mereka merasa jika sikap Alleta sudah melewati batas.


Heh! Krystal sangat ingin menarik rambut pendek wanita itu hingga terlepas dari kepalanya! Dia ini kekasihnya, dan bahkan calon istri lelaki yang tengah sembarangan ia peluk lengannya itu! Jadi ia memiliki hak untuk melakukan apa pun!


Hey! Berkacalah! Sebenarnya siapa di sini yang sejak tadi menempel dengan tidak tahu malunya. Bahkan meskipun Alleta itu adalah saudara atau kerabatnya, seharusnya dia bisa bersikap lebih sopan sedikit. Dan lagi sejak awal ia sudah sedekat ini dengan Louis. Seharusnya wanita itu sudah tahu hubungan apa yang mereka miliki! Keduanya pun saling serang dengan sinar laser dari mata mereka masing-masing.


Seakan mengerti maksud dari tatapan memelas putranya, Nyonya Harris mengganggukkan kepalannya ringan sambil memejamkan mata. Pasti akan ada hari dimana hal seperti ini memang akan terjadi, ia tahu itu. Dan baik dirinya dan suaminya sendiri tidak dapat menghindari hal itu. Mereka hanya bisa menghadapinya bersama.


"Krystal! Bisa kau ikut Mama sebentar!", pinta Nyonya Harris dengan wajah tegas dan yakin.


Mesipun begitu, tetap tersirat rasa tidak enak hati di matanya. Dan hanya Ibu Asih yang dapat menangkap hal itu, karena kebetulan posisi mereka saling berhadapan. Entah karena sebagai sesama orang tua, atau mungkin ia sedikit menangkap situasinya. Yang jelas Ibu Asih mengharapkan yanng terbaik untuk Krystal yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


"Aku?", Krystal mengulangi untuk meyakinkan diri.


Otomatis ia melepaskan lengan kekasihnya itu dengan wajah kebingungan. Di tatapnya Louis, namun pria itu hanya menganggukkan kepala sambil memperlihatkan sebuah senyuman. Pria itu tak berbicara apa pun saat ini. Kemudian ia sangat kesal karena wanita berambut pendek itu semakin mengejek ke arah dirinya. Seakan wanita itu menang karena bisa menguasai Louis sekarang. Lantas tatapan kecewa langsung ia jatuhkan ke bola mata pria itu. Bicaralah! Kalbunya berteriak marah!


"Aku pasti akan menjelaskannya kepadamu, nanti!", Louis menahan tangan kekasihnya itu. Ketika Krystal sudah akan melewati dirinya. Pria itu menipiskan bibirnya seraya menggenggam jemari tangan Krystal.


"Harus!", jawabnya tegas sambil menghempaskan tangan Louis dengan keras. Matanya membulat dibalut dengan sebuah kemarahan. Ia layangkan tatapannya yang berkilat-kilat, kepada Louis dan Alleta secara bergantian.


Dengan konyolnya Alleta malahan melambaikan tangannya kepada Krystal sambil tersenyum menang. Wanita itu benar-benar memprovokasi dirinya. Padahal dirinya sudah sangat siap untuk berperang. Jika bukan karena Nyonya Harris memanggil dirinya, pasti ia akan meladeni wanita bernama Alleta itu.

__ADS_1


Tak ingin terpancing, Krystal hanya mendengus seperti kerbau betina yang sedang kesal. Kemudian ia berbalik untuk melanjutkan pijakan kakinya menuju Nyonya Harris. Di dalam hatinya, ia jadi berspekulasi, mungkinkah kedua orang tua Louis telah menutupi sesuatu darinya?!


Rasanya ia sangat marah saat ini! Siapa juga yang akan menerima dengan begitu saja jika harus meninggalkan kekasihnya bersama wanita lain! Krystal hanya berharap Nyonya Harris akan menjelaskan sesuatu yang membuat hatinya merasa lega.


Kakinya pun terus bergerak mengikuti Tuan dan Nyonya Harris yang sudah berjalan terlebih dahulu. Wanita itu sedang dimakan oleh kemarahannya saat ini. Sampai tidak menoleh sedikit pun kepada kakaknya, Adam, atau bahkan kepada kedua sahabatnya sekali pun. Hal itu membuat semua orang di ruangan itu semakin khawatir, terkecuali Alleta tentunya. Saat ia ia masih bergelayut maja di lengan Louis seraya memamerkan senyum kemenangannya.


"Ayo ikut denganku!", tanpa basa-basi Louis langsung menarik tangan Alleta begitu saja.


"Kakak, tunggu!", dan karena tidak siap, wanita itu jadi terseret-seret langkahnya. Bahkan hampir terjatuh karena langkah yang Louis buat semakin panjang dan memiliki kecepatan yang tinggi. Wajah Alleta pun jadi kebingungan diperlakukan kasar seperti ini.


Louis menarik Alleta ke arah halaman belakang. Dimana di sana terdapat kolam renang dan juga ada gazebo panjang yang akan ia gunakan untuk berbicara dengan wanita itu.


***


"Sarah, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa wanita itu?", tanya Ibu Asih seraya menghampiri putrinya. Wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Ana, siapa dia?", sekarang Adam yang membuat langkahnya mendekat ke arah sepupunya itu.


"Kalau begitu biarkan aku minum dulu! Baru setelah itu akan menjelaskannya!", sahut Sam tiba-tiba setelah selesai menjadi patung manusia sejak tadi, sekarang ia menjadi kehausan.


uhukk,, uhukk,,


"Mereka tidak bertanya padamu, bodoh!", Ken langsung memukul kepala belakang adiknya yang saat ini sedang menyeruput teh dari cangkirnya. Sehingga adiknya itu terbatuk keras.


"Memangnya kenapa jika aku yang menjawab?! Dalam hal ini, aku juga berperan sebagai saksi, kan?! Sama seperti Sarah dan Kakak ipar! Karena kita yang sudah menghadapi wanita tidak tahu malu itu sejak tadi!", serunya dengan nada kesal setelah mengelap mulutnya yang basah. Kakaknya itu selalu tega kepada dirinya.


Ana dan Sarah memandangi pria itu dengan tatapan malas. Seperti mereka sudah lelah dan tak berdaya untuk meladeni manusia konyol itu. Ana pun mendudukkan dirinya lagi di sofa sambil menjawab pertanyaan dari semua orang.


"Dia bilang namanya adalah Alleta Sanchez!", Ana mengambil sebuah anggur dari piring yang tersaji di meja itu.


"Dia bilang, dia adalah wanita paling cantik di negara ini", kemudian Ana mengambil tisu untuk memuntahkan kembali anggur yang baru saja di lahapnya.


"Dan dia bilang, dia adalah kekasih masa kecil Louis. Dan mereka sudah dijodohkan sejak dulu!", wanita hamil itu langsung membungkus bekas anggur itu dengan beberapa tisu lagi, membuatnya seperti bola berukuran kecil, lalu melemparkannya ke dalam tong sampah yang berada tak jauh dari kakinya berada.


"Apa?", Adam langsung berseru keras. Sedangkan Ibu Asih dan Sandi terdiam dengan pemikiran yang mendalam.

__ADS_1


Adam tidak terima adiknya dipermainkan seperti ini. Ia pasti akan meminta keadilan untuk adiknya. Atau bahkan mengajak Krystal kembali pulang, meskipun adiknya itu tidak mau. Harga diri mereka mau diletakkan dimana. Adam merasa sudah dipermainkan oleh keluarga Harris ini.


__ADS_2