
Di tengah antrian itu, datang tamu yang tak terduga bagi mereka semua. Ada Nyonya Alexander ikut seorang diri. Sesaat memang terlihat ada gurat kesedihan di wajahnya. Mungkin ada penyesalan karena ini merupakan pernikahan yang putrinya itu impikan sejak dulu.
Mempelai pria yang ia cintai sejak lama. Keluarganya yang juga sudah ia kenal dan sudah seperti keluarga sendiri baginya. Dan juga pesta meriah ini. Semua itu adalah apa yang Joice inginkan.
Tapi apa mau dikata, ia tidak dapat menutup mata atas apa yang telah dilakukan oleh putrinya itu. Terlebih lagi, terakhir kali suaminya malahan ikut membuat kesalahan dengan berusaha membahayakan nyawa keluarga rekannya itu. Mungkin ini memang takdir, dan Nyonya Alexander sudah ikhlas menerima semua ini.
"Selamat atas pernikahan kalian!", ucapnya dengan senyum tulus dan menghangatkan.
"Nyonya!", keempat mempelai itu berseru secara bersamaan. Tak menyangka jika perwakilan keluarga itu akan benar-benar hadir malam ini.
"Terima kasih atas kehadirannya, Nyonya!", Sarah dan Sam berucap bersamaan.
"Berbahagialah kalian semua! Menjadi keluarga yang selalu rukun dan penuh cinta!", wanita paruh baya itu mengedarkan pandangannya pada keempat orang di hadapannya itu.
"Maaf!", tiba-tiba Ana berseru rendah. Ia menundukkan wajahnya. Dan sepertinya ada genangan air mata di sana. Suaranya juga terdengar bergetar.
"Hey, kau menangis!", Nyonya Alexander yang melihat hal itu pun segera menghampiri Ana dan memeluknya.
"Ibu hamil tidak boleh sering-sering bersedih! Anakmu pasti juga akan ikut merasakan kesedihan ibunya! Tidak baik!", wanita paruh baya itu menepuk-nepuk bahu Ana pelan sambil menasehatinya dengan lembut.
"Maafkan aku, Nyonya!", ucap Ana sambil menegarkan batinnya.
"Maaf untuk apa? Apakah kau baru saja membuat kesalahan? Hem,,", Nyonya Alexander melepaskan pelukannya lalu memberikan senyuman yang menenangkan.
"Tapi karena aku,,,", ucap Ana meragu untuk mengutarakan rasa bersalahnya kepada ibu dari Joice itu.
Ana merasa, karena dirinyalah wanita paruh baya itu menjadi sendirian saat ini. Ia harus terpisah dari keluarganya. Ia harus terpisah dari putri dan juga suaminya.
__ADS_1
Sebab Ana yang paling tau bagaimana rasanya sendirian, kesepian, tanpa keluarga satu pun yang bersama dengan dirinya. Ibunya, lalu ayahnya, mereka semua sudah tiada hingga hanya menyisahkan Ana seorang saja di dunia ini.
Ana sangat tau bagaimana rasanya kesepian seperti itu. Maka dari itu ia makin merasa bersalah karena telah membuat orang lain merasakan apa yang telah ia rasakan selama ini. Terlepas dari keluarga baru yang ia miliki, Ana tetap merindukan sosok ibu dan juga ayahnya ada bersama dengan dirinya.
Istri dari Presdir Ken yang terhormat itu menundukkan kepalanya lagi. Ia tenggelam dalam rasa bersalah yang mulai menyelubungi hatinya lagi.
"Ana, kau tidak melakukan kesalahan sama sekali! Joice dan suamiku memang bersalah. Aku tidak membenarkan apa yang telah mereka perbuat kepada kalian. Dan sekarang, biarlah mereka berdua menebus dosa-dosa mereka. Lalu bertaubat dan pulang ke rumah kami dengan pikiran yang jernih. Semoga saja setelah itu kami dapat menemukan kebahagian kami sendiri", Nyonya Alexander menyentuh lengan Ana agaar wanita itu mau mengangkat kepalanya, menatap ke arahnya.
"Lagipula,, aku masih beruntung masih bisa bertemu dengan mereka berdua. Walau tidak bisa setiap saat, tapi paling tidak putri dan juga suamiku masih di dalam jangkauan", tambahnya sambil mengubah intonasinya menjadi lebih riang. Ada perasaan bersyukur di dalam sana.
"Aku yang harusnya tak berhenti minta maaf, Ana. Aku mewakili Joice, putriku, memohon permintaan maaf darimu, Ana. Atas semua yang telah dia lakukan dan dampak yang ia berikan. Aku benar-benar mohon maaf atas nama Joice dan juga suamiku!", tiba-tiba Nyonya Alexander mundur dua langkah. Lalu wanita paruh baya itu membungkukkan tubuhnya sebagai tanda pemohonan maaf yang mendalam.
Ia sadar betul, apa yang telah dilakukan oleh putrinya dan juga suaminya sungguh keterlaluan. Bermain-main dengan nyawa orang lain atas dasar kebahagian sendiri, itu tidak dapat dibenarkan sama sekali meskipun Nyonya Alexander adalah keluarga mereka. Yang putih harus dianggap putih, yang hitam harus dianggap hitam. Meskipun ia memiliki sifat yang lemah lembut, namun pendiriannya kuat.
"Sudah cukup, Nyonya! Aku akan makin merasa bersalah jika Anda seperti ini!", buru-buru Ana menghampiri wanita paruh baya itu kemudian membimbingnya untuk berdiri bersama.
Sebenarnya hati wanita itu begitu perih. Ia sangat menyayangkan dengan langkah putrinya itu yang sangat melenceng dari jalan yang benar. Harapannya hanya satu, ia hanya berharap ke depannya, Joice dapat benar-benar berubah menjadi lebih baik. Bahkan ia ingin putrinya itu memiliki sifat baik Ana.
"Joice hanya belum membuka mata dan hatinya. Mungkin saja saat itu mata dan hatinya masih tertutup kabut yang tebal. Sehingga pandangannya tak jelas mengenai jalan mana yang harus ia ambil. Aku percaya Nyonya, bahwa orang jahat tidak dilahirkan untuk jahat, pasti masih ada sisi baik yang ia miliki untuk dikembangkan. Dan orang baik pun tidak selamanya ia tidak memiliki kesalahan. Pasti sekali waktu ia pernah melakukannya. Kita bukan Tuhan yang Maha Sempurna, kita hanyalah manusia biasa. jadi masih bisa dimaklumi jika sesekali melakukan kesalahan. Asalkan orang itu mau bertaubat setelahnya", sekarang giliran Ana yang menenangkan hati ibu yang rapuh itu.
Ana menggenggam erat kedua telapak tangan Nyonya Alexander. Tersenyum yang sama, seperti yang tadi Nyonya Alexander lakukan padanya. Teduh sekali memayungi hatinya yang luka.
Oh, sungguh! Semua orang tersekat di tenggorokan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ana. Tak terkecuali Ken yang menatap istrinya itu dengan penuh kebanggaan. Istrinya itu benar-benar bijak dalam menyikapi kesalahan seseorang.
Ana akui jika ia memang sempat menelan kemarahan yang nyata atas apa yang telah Joice lakukan terhadapnya. Terlebihi lagi hal itu sampai merenggut nyawa ayah tercintanya. Lalu juga dengan niat jahat Tuan Alexander yang berusaha mencelakai dia dan calon anaknya. Memang Ana tak bisa tinggal diam dengan hal itu semua. Dan orang-orang itu harus mendapatkan balasannya. Tapi setelah itu semua berlalu, Ana mencoba untuk mengikhlaskan apa yang telah terjadi pada dirinya.
Ana sadar, ia hanyalah seorang manusia biasa yang juga tak luput dari banyaknya kesalahan yang telah ia perbuat baik yang sengaja maupun yang tidak disengaja. Jadi baginya, berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi adalah yang utama.
__ADS_1
"Terima kasih, Ana! Terima kasih!", Nyonya Alexander langsung menyerbunya dengan sebuah pelukan. Tangis haru pun ia lakukan. Sangat bersyukur bisa bertemu orang sebaik Ana. Ia jadi benar-benar berharap Joice bisa belajar banyak dari wanita yang sedang berada di dalam pelukannya ini.
"Berjanjilah,, kalian akan selalu bersama dan bahagia!", Nyonya Alexander merentangkan tangannya, menanti datangnya keempat pengantin itu.
"Kami berjanji, Nyonya!", yang lain hening dalam doa dan harapan masing-masing. Dan Sam yang menjawab ucapan wanita paruh baya itu.
Nyonya Alexander turun dari panggung megah itu sambil menyeka air mata yang sudah bersembunyi sejak tadi di sudut matanya. Ia tersenyum penuh ironi. Beginilah kehidupan seseorang, takdir mereka sudah ditentukan. Ia jadi berandai-andai jika Joice memiliki sifat seperti Ana. Oh, hatinya sebagai ibu pasti sangat nyaman dan tentram.
"Kakak ipar, kau keren!", dua ibu jari langsung Sam ajukan ke hadapan kakak iparnya itu dengan seringai yang amat lebar.
Ana tak menggubris adik iparnya itu sedikit pun. Wajah acuhnya sudah ditulari oleh Ken, begitu yang Sam rasa. Kakak iparnya malahan mengabaikan dirinya yang sedang memujinya dengan sepenuh hati. Kakak iparnya itu memiilh untuk mendudukkan diri dengan santainya. Dan dua ibu jari itu masih bertahan di udara.
"Kapan bodohmu hilang, Sam!", Sarah di sebelahnya langsung menurunkan tangan suaminya itu dengan paksa. Menggertakkan giginya tidak sabar.
Jadi,, sebenarnya itu ia harus kesal pada siapa sebenarnya?! Pada suaminya yang kelewat konyolkah? Atau pada sahabatnya yang memang sama kejamnya dengan suaminya?! Jadilah Sarah hanya bisa mendesah pasrah.
-
sekedar info teman-teman,,
mohon maaf kalo aku libur nulis dalam waktu yang sangat lama,, aku bukannya mau minta simpati, tapi aku cuma mau kalian mengerti aja kok,,
sejak bulan desember kesehatan orang rumah menurun secara bergantian,, jadi sebagai ibu, istri dan juga anak pertama yang harus bisa diandalkan, sangat minim waktuku untuk berpikir lebih banyak dan menuangkan ide untuk menyelesaikan novel ini,,
jadilah aku putuskan untuk menyelesaikan urusanku di kehidupan nyata, membuat kami sekeluarga sehat semua terlebih dahulu, barulah aku akan mulai menulis lagi,,
karena kita semua pasti sadar, di masa yang seperti ini, kesehatan itu sangatlah penting dan utama,,
__ADS_1
sekali lagi aku mohon maaf ya teman-teman karena sudah membuat novel ini jadi molor dari waktu yang seharusnya 🙏🙏