Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 226


__ADS_3

"Sudah sore, sebaiknya kita pulang sekarang!", Tuan Dion menghela nafasnya berulang kali sebelum mengajukan pendapat ini. Lagipula para wanita itu terlihat sudah puas dengan banyaknya hasil foto yang mereka ambil barusan.


"Ide bagus!", Ken dan Adam saling lirik juga bersama dengan Louis yang paling sabar di antara lelaki yang lainnya. Mereka mengangguk setuju dengan kelegaan yang begitu besar di hati.


"Benar apa yang Ayah katakan! Ayo semuanya kita pulang!", seru Sam begitu bersemangat sambil menaikkan satu tangannya yang terkepal ke atas. Ia melemparkan senyumannya yang mengajak kepada semua orang di sekelilingnya. Tapi ia melupakan satu hal, bahwa para wartawan itu masih setia menanti mereka di luar.


Mendengar ajakan Sam tiba-tiba suasana menjadi hening. Akhirnya semua orang tersadar dengan apa yang harus mereka hadapi di depan sana. Semuanya saling lirik, saling melemparkan pandangan dengan mata berbentuk tanda tanya besar. Siapa yang keluar lebih dulu?! Siapa yang akan menghadapi orang-orang di luar sana terlebih dahulu?! Mereka tidak ingin Sarah menjadi begitu terkejut nanti. Meksi bagaimana pun juga wanita itu harus menghadapinya.


"Kenapa semuanya jadi diam?! Yasudah, aku duluan!", mendapati suasana yang begitu hening secara mendadak itu membuat Sarah mengambil keputusan pertama. Ia membawa langkahnya mendekati pintu.


"Tuan Sam!", Krystal yang sadar pertama kali pun segera berteriak ke arah Sam yang masih larut dalam kebingungan bersamaan dengan yang lainnya.


"Ya!", jawabnya tanpa sadar. Namun sedetik kemudian ia segera sadar apa yang Sarah lakukan saat ini. Dengan wajah super panik, ia mengejar langkah Sarah.


"Sarah!", entah panggilan Sam yang bernada khawatir itu terdengar oleh Sarah atau tidak.

__ADS_1


Terlambat, Sarah sudah membuka pintu butik itu. Dan beberapa saat kemudian, beberapa wartawan mulai datang menyerbu ke arahnya. Beruntung orang-orang suruhan Tuan Dion segera menghadang mereka semua sehingga memberi jarak di antara Sarah yang sedang terkejut dan para wartawan itu.


Satu persatu wartawan mulai memberondong pertanyaan kepada wanita itu. Dan Sarah masih terdiam, shock seperti hilang kesadaran. Ia tidak bisa merespon pertanyaan-pertanyaan itu karena rasa terkejutnya masih membelenggu dirinya saat ini. Matanya bergerak dari kiri ke kanan menatapi setiap orang-orang di hadapannya yang seakan tengah berbicara tanpa suara. Juga lampu-lampu yang menyorot ke wajahnya hingga membuat matanya menjadi silau.


"Sarah!", wajah pria itu sepenuhnya khawatir. Ia langsung menarik Sarah ke dalam pelukannya. Membenamkan kepala wanita itu ke dadanya supaya terhindar dari sengatan cahaya lampu yang menyilaukan.


Lalu semua keluarga nampak muncul di belakang Sam dan Sarah kemudian mensejajarkan diri dengan pasangan itu. Adapun Nyonya Rima dan Tuan Dion mengambil posisi di samping putra bungsunya, sedangkan Ana dan Ken berdiri di sisi yang satunya. Dan yang lainnya menyesuaikan diri di belakang.


Ibu Asih berdiri tepat di belakang Sam. Ia tak dapat melihat wajah putrinya. Namun wajahnya jelas menunjukkan jejak kekhawatiran yang besar. Tak tahan, ia menggenggam tangan Sarah yang menggantung di samping tubuh Sam. Berharap banyak sebagai ibunya, ia bisa menyalurkan energi apapun untuk membuat putrinya kuat. Dan wanita yang digenggam tangannya itu, sedikit tersenyum merasakan kehangatan yang membungkus salah satu tangannya. Yang ia yakini bahwa itu adalah tangan ibunya.


Sarah menaikkan sedikit kepalanya untuk mengintip. Wajah yang Sam tampilkan saat ini adalah wajah serius yang tak pernah Sarah lihat. Ia tertegun melihat wajah tampan yang sedang memuji dirinya itu dengan ekspresi seserius itu. Isi ucapannya terdengar seperti gurauan hingga membuat beberapa wartawan tak tahan untuk tidak tertawa kecil. Namun melihat mimik wajah pria di hadapan mereka. Jelas Sam tak main-main dengan ucapannya.


"Tapi Tuan, belum lama ini bukankah beredar kabar jika Anda adalah kekasih Nona Megan Aira?! Lalu apakah mungkin Nona Sarah ini merebut Tuan Samuel dari Nona Megan Aira?", satu pertanyaan tiba-tiba muncul di tengah-tengah kerumunan wartawan itu.


Suasana menjadi makin riuh. Semua orang menjadi berspekulasi terhadap kehadiran Sarah yang tiba-tiba menjadi calon istri orang penting dalam industri dunia hiburan itu. Masingmasing jadi merasa benar dengan pertanyaan yang baru saja terlontar itu. Bahkan ada juga yang jadi mempertanyakan latar belakang Sarah. Ada juga yang mengatakan bahwa Sarah berasal dari kalangan biasa. Dan hal itu makin menambah spekulasi negatif mengenai Sarah.

__ADS_1


Sebuah mobil hitam terparkir di seberang halaman Butik Aslan. Jendela kaca mobil itu diturunkan. Seorang wanita dengan make up mencolok dan kaca mata hitamnya langsung terlihat. Itu Megan Aira yang sedang menyunggingkan senyum jahatnya. Di telinganya terdapat sebuah earphone yang membuatnya dapat mendengar dengan jelas pertanyaan yang tadi dikeluarkan untuk Sarah. Dan kericuhan apa yang terjadi setelahnya.


"Kerja bagus!", wanita itu tersenyum bangga dengan ekspresi liciknya.


# FLASHBACK ON


Tadi, setelah keluar dari gedung Glory Entertainment dan mengendarai mobilnya dengan rasa kesal yang begitu besar, Megan juga melihat bagaimana opini publik segera menyerangnya. Sangat kesal, wajah tanpa make up itu menjadi tambah jelek karena bertabur kemarahan. Ia memukuli stirnya untuk melampiaskan hal itu.


Berpikir tentang opini publik, Megan memiliki ide untuk membalas wanita yang tadi sudah membuatnya kesal. Ia segera menghubungi salah satu wartawan yang dikenalnya. Mendengar ide wanita itu, sang wartawan cukup takut untuk menyinggung keluarga paling ternama di kota itu. Ia masih sayang akan nyawa dan karirnya. Tapi setelah diiming-imingi tubuh molek wanita itu, sang wartawan menjadi lupa konsekuensi apa yang harus ia terima nanti setelah berurusan dengan keluarga yang bukannya hanya ternama tapi juga berbahaya.


# FLASHBACK OFF


Megan Aira, wanita yang sekarang sudah full dengan make up-nya itu kini tengah memandangi kerumunan itu dengan senyum penuh kemenangan. Siapa suruh membuat dirinya kesal. Meskipun ia sudah tidak memiliki banyak uang, tapi ia masih bisa mengandalkan tubuhnya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Apalagi jika hal itu menyangkut dengan Tuan Samnya. Ia harus mendapatkan sponsornya itu lagi. Harus!


Wanita itu sudah tidak tahan dengan uang yang minim ini. Hanya tinggal tabungannya saja yang ia punya. Sedangkan untuk membayar cicilan kartu kreditnya saja ia harus menjual tubuhnya pada beberapa pengusaha yang dikenalnya. Itu juga harus dirinya dulu yang datang dan merayu pria-pria gendut itu. Megan sungguh membenci hal ini. Dulu, semua orang memujinya dan berharap bisa mendatangkan dirinya. Dia begitu diagung-agungkan. Tapi kini, harus ia sendiri yang merangkak di bawah kaki orang-orang itu.

__ADS_1


"Aku harus menang!", ucapnya penuh tekad.


__ADS_2