Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 92


__ADS_3

Beberapa pria berjas hitam nampak berbaris di kanan dan kiri menuju pintu masuk lobby club malam. Seakan sedang menanti seseorang yang amat penting datang. Suasana di sekitar club begitu hening karena seluruh area club sudah di sterilkan dari pengunjung.


Di lantai atas, Ana, Sarah beserta Manajer Toni berjalan keluar dari kantornya. Dari arah berlawanan seorang pelayan wanita mendekat ke arah mereka dengan seragamnya yang super ketat, ia adalah Sisil.


"Manajer Toni!", serunya setengah berlari. Ia langsung bergelayut manja pada lengan Manajer Toni. Kemudian ia memasang wajah sinisnya pada Ana maupun Sarah.


Sarah geram dengan sikap Sisil yang kurang ajar. Ia hampir saja menghujat wanita itu jika saja Ana tidak menahannya. Sedangkan Manajer Toni nampak kikuk dengan sikap Sisil yang notabene saat ini mereka sedang berada di hadapan putri dari pemilik tempat ini. Pria itu melempar pandangan permohonan maaf kepada Ana. Dan Ana yang memahami situasi saat ini pun menjawabnya dengan mengangguk pelan, sebuah isyarat bahwa ia tidak apa-apa.


"Manajer Toni, kudengar akan ada tamu penting datang malam ini. Bahkan ia sudah menyewa semua club ini, bukan. Izinkan aku untuk mengantar minuman kepada mereka ya", ucap Sisil manja tanpa mempedulikan kehadiran Ana dan Sarah.


"Tapi..", Manajer Toni baru saja akan menyarankan agar Ana saja yang menemui mereka untuk memperkenalkan Ana sebagai putri dari Tuan Danu. Ia tak bisa membuat keputusan kali ini, masih ada Ana sebagai atasannya. Ia kembali memandang Ana meminta jawaban darinya.


"Jangan katakan jika Manajer sudah memberikan tugas itu kepada dua wanita cupu ini?!", Sisil mencibir ke arah Ana dan Sarah.


Sarah bertambah geram, wajahnya sudah memerah menahan amarah. Ia tidak masalah jika orang lain berlaku kurang ajar kepadanya. Tapi ia tak bisa memberi toleransi jika ada yang bersikap tidak benar kepada Ana, apalagi ia merupakan pemilik tempat dimana mereka bekerja.


"Hey wanita! Tau kah kau siapa An...", Ana buru-buru membekap mulut Sarah supaya tak meneruskan ucapannya. Kemudian ia mengangguk lagi ke arah Manajer Toni. Ia ingin Manajer Toni mengiyakan saja apapun yang Sisil ucapkan agar wanita itu cepat pergi dari hadapannya.


"Baiklah!", Manajer Toni menghela nafas panjang sebelum menjawab.


"Terima kasih, Manajer Toni!", dengan inisiatif Sisil mengecup singkat pipi pria itu. Sebelum beranjak tak lupa ia melemparkan senyuman mengejek ke arah Ana dan Sarah.


"Heh, kalian bukan apa-apa untukku!", batin Sisil dengan congkaknya.


Kemudian ia berjalan menjauh dengan tubuh yang berlenggak lenggok, membuat Sarah makin kesal dibuatnya.


"Ana! Bagaimana bisa kau membiarkan dia berlaku seperti itu kepadamu!", tegur Sarah masih menahan emosinya.


"Sarah! Jaga bicaramu dengan Nona Ana!", tegur Manajer Toni. Belum lagi ia menyesal karena Sisil telah berperilaku tidak sopan terhadap Ana, kali ini ia makin tak enak hati karena Sarah yang merupakan salah satu pegawainya malah membentak Ana.


"Maaf, Nona Ana. Sekali lagi saya mohon maaf!", pria itu sungguh tak enak hati.


"Jangan sungkan, manajer. Lagipula dia ini adalah sahabatku. Hanya dia yang bisa membentakku seperti itu. Lagipula dia ini melakukan hal itu karena dia begitu menyayangiku. Benar begitu kan, sayang?!", Ana merangkul Sarah yang masih geram. Ia berusaha meredakan emosi Sarah dengan menggodanya. Ana mencondongkan wajahnya seperti akan mencium Sarah.


"Hentikan, Ana! Bisa habis aku jika Tuan Ken melihatmu akan menciumku seperti ini?!", Sarah berusaha melepaskan diri dari Ana.


"Lihatkan, manajer! Dia selalu peduli dengan diriku!", ucap Ana seraya melepaskan rengkuhannya pada Sarah sambil tersenyum manis.


***


Di rumah sakit


Ken berjalan menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang dingin dan sunyi. Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Tuan Danu. Sorot matanya yang tajam saat ini sedikit diliputi keraguan.


"tok! tok! tok!", ia mengetuk pintu sebelum melangkah masuk.


"Paman!", sapanya pada Tuan Danu yang masih terjaga.


"Ken! Kau sendirian? Ah iya aku lupa! Dia sudah bilang padamu kan, akan pergi ke Dragon Night. Ada beberapa hal yang harus ia pelajari dengan Manajer Toni", ucap Tuan Danu seraya meletakkan benda pipih yang ia pegang di atas nakas.


"Ya, dia sudah mengatakannya padaku. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Ana", Ken mendudukan dirinya di kursi di samping ranjang.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu ada apa kau datang ke sini sendirian?", tanya Tuan Danu tenang.


"Ada yang ingin aku lakukan, tapi sebelumnya aku harus meminta restu dan persetujuan dari Paman dulu", ucap Ken dengan ekspresi yang tak dapat terbaca.


"Emmh!", Tuan Danu menautkan kedua alisnya seakan bertanya ada apa.


"Beberapa waktu lalu saat Paman belum sadarkan diri, kami berjanji akan menikah di sini jika Paman belum siuman juga. Karena sekarang Paman sudah membaik, aku ingin meminta restu Paman untuk menikahi Ana secepatnya. Aku sangat mencintai Ana, Paman. Aku ingin memenuhi janjiku untuk melindunginya dan membuatnya bahagia seumur hidupku", ucap Ken sedikit gugup. Walau sehebat apapun seorang pria, jika dihadapkan dengan situasi seperti ini pasti akan ada timbul rasa gugup dalam dirinya. Dan Ken mengalihkan pandangannya lurus ke depan untuk menahannya.


"Nak!", Tuan Danu menepuk pelan bahu Ken hingga pria itu melihat ke arahnya.


"Kau gugup ya!", ledek Tuan Danu padanya.


Ken meraup wajahnya dan menghela nafas panjang. Benar-benar tingkah calon mertuanya ini, di saat serius seperti ini bisa-bisanya Tuan Danu malah meledek dirinya.


"Astaga, Paman! Seharusnya kita dalam situasi yang serius, bukan?!", Ken melempar senyum sambil menggeleng pelan.


"Hey anak muda! Aku sudah mengalami hal ini jauh sebelum dirimu. Jadi aku tau bagaimana perasaanmu saat ini. Santai saja, oke!", saran Tuan Danu terdengar mengendurkan ketegangan pada diri Ken saat ini.


"Baiklah!", Ken menghela nafasnya panjang lagi. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi dan mencoba merilekskan diri.


"Jadi bagaimana, Paman?", tanya Ken hati-hati.


"Apanya yang bagaimana?", ucap Tuan Danu datar.


"Astaga, Paman?!", ucap Ken mulai jengkel.


"Oke, baiklah! Baiklah!", Tuan Danu tersenyum tanpa rasa bersalah. Ia selalu suka menggoda anak-anak muda itu.


Memang sedari awal ia telah menyerahkan putrinya untuk Ken jaga. Ia telah merestui hubungan mereka sejak awal Tuan Danu sendiri menyadari bahwa mereka seperti dipertemukan oleh takdir.


"Setidaknya aku melakukan tahapan yang harus aku lakukan, Paman!".


"Tapi,, sekali lagi terima kasih Paman", tambah Ken lagi.


"Mulailah untuk memanggilku ayah!", perintah Tuan Danu terdengar lembut namun terasa harus dilakukan.


"Baiklah, Ayah!", dan mereka saling melempar senyuman.


Ken sangat berterima kasih karena Tuan Danu telah memberikan putrinya yang amat berharga itu untuk mengisi hari-harinya yang semula terasa kaku. Sedangkan Tuan Danu merasa berterima kasih kepada Ken karena pria itu telah bersedia menjaga dan membuat putrinya bahagia.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebuah mobil hitam memasuki area parkir Dragon Night. Pria berjas yang sedang berbaris menegakkan diri di tempatnya. Mobil itu berhenti tepat saat Ana, Sarah dan Manajer Toni sampai di lobby.


Seorang pria tinggi nan kekar keluar dari sana. Ia menggunakan jas maroon senada dengan celana yang ia pakai, juga ia memakai kemeja bercorak bunga sebagai pelengkapnya. Ia menyisir rambutnya yang klimis itu ke belakang hingga tertata rapi. Di lehernya melingkar kalung emas besar, sedangkan di pergelangan tangannya terdapat gelang emas yang berbentuk seperti rantai yang cukup besar pula. Namun wajahnya yang tampan tak mengurangi nilainya di mata para wanita.


Dandanan eksentrik nya membuat mata Ana langsung tertuju padanya. Ana memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencoba menelisik siapa gerangan pria yang sedang berada di hadapannya. Ana membungkam mulutnya yang menganga seketika saat menyadari siapa orang yang baru saja datang itu.


"K,, Kak,, Ken!!", bertepatan itu pula Ken turun dari mobilnya.


"Ken!", Ana berlari kecil ke arah Ken sambil tersenyum senang karena kekasihnya datang.

__ADS_1


Ken ikut tersenyum setelah sebelumnya ia menatap tajam pada pria eksentrik yang sedang berdiri menatap Ana dengan tatapan yang berbeda. Ia merentangkan tangannya agar Ana masuk ke dalam pelukannya.


Ana langsung masuk ke dalam dekapan Ken. Wanita itu menghirup aroma pria yang dicintainya itu dalam-dalam. Kemudian ia mendongakkan kepalanya menatap Ken seraya tersenyum.


"Emmh, rindunya aku!", Ana menggesekkan kepalanya pada dada bidang Ken. Ucapan itu membuat Ken tersenyum menang ke arah pria itu.


"Eherm!", pria itu berdehem untuk menyatakan kehadiran dirinya.


"Apakah kau juga tidak ingin memelukku kakakmu ini,,, Ana!", pria itu berbicara dengan penekanan saat mengucapkan nama Ana.


Sontak Ana langsung menoleh ke arah suara. Ia melepaskan diri dari Ken dan beranjak ke arah pria eksentrik itu. Ken terlihat tidak senang dan menahan geramannya.


Pria itu sudah merentangkan tangannya seperti yang Ken lakukan, Ana hampir saja masuk ke dalam pelukannya. Tapi dari arah belakang Ken sudah menarik hoodie yang dipakainya hingga Ana harus melangkah mundur. Ia menoleh pada Ken yang sedang menatapnya tajam. Ana sadar bahwa saat ini raja singanya sedang cemburu. Lalu ia segera merangkul satu lengan Ken agar prianya itu tidak salah paham.


Sedangkan pria itu mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil. Sungguh tidak sesuai dengan perawakannya yang menyeramkan.


Ana yang melihatnya pun hanya bisa menutup mulutnya yang sedang tertawa pelan.


"Hai, kakak! Maaf aku tak bisa memelukmu!", sapa Ana seraya melambaikan tangannya dengan senyum gembira.


"Cihh!", pria itu berdecak pelan namun ia tetap menguarkan senyumnya.


Ken masih menatap mereka dengan wajah datarnya. Pandangannya menyelidik pada pria itu dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia merasa pria itu terlihat mirip dengan seseorang sedangkan pria-pria berjas hitam itu, Ken seperti mengenali mereka.


"Jangan tersenyum seperti itu kepadaku! Aku sedang tak ingin berperang dengan seseorang", ucap pria itu acuh.


"Ahh iya aku lupa mengenalkan kalian?", Ana menarik lengan Ken agar terulur ke depan.


"Kenalkan kakak, dia ini adalah kekasihku, Ken!", lalu Ana menarik lengan pria eksentrik itu untuk menjabat tangan kekasihnya.


Dan Ken, kenalkan pria ini adalah pengganti ayah di geng harimau putih, Benny Callary!".


"Keanu Wiratdmaja!", ucap Ken datar.


"Benny Callary!", pria itu mengeratkan jabatan tangan mereka.


Dua pria itu saling melempar pandangan sengit.


-


-


-


-


-


-


teman-teman readers sekalian yang selalu setia membaca karyaku ini jangan lupa untuk like, vote dan komentarnya ya ☺️

__ADS_1


dan terima kasih untuk dukungan kalian selama ini 😘


__ADS_2