
Kecupan panas itu menimbulkan sengatan yang begitu menggoda hingga membuat bulu kuduk di seluruh tubuhnya berdiri. Wajah Ana telah benar-benar memerah, menahan malu karena Ken kembali memberi sentuhan itu di area sensitifnya. Ana meremas gaunnya di pinggir sambil menahan geli yang menjalar.
"Bagaimana bisa dia tiba-tiba ada di belakang ku?! Apakah ini saatnya?! Astaga aku malu sekali! Aku tidak punya pengalaman apa-apa", gumam Ana dalam hatinya.
"Boleh aku membantumu membukanya?", tanya Ken setengah memeluknya dari belakang.
"Kenapa harus bertanya?! Kau sudah bisa melakukan apapun keinginan mu, kan!", ucap Ana malu-malu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu ia merutuki kebodohan mulutnya sendiri yang telah berani memancing raja singa yang tengah kelaparan.
Sejenak Ken menipiskan bibirnya mendengar apa yang Ana ucapkan. Terlebih lagi tingkah Ana saat ini yang begitu menggemaskan membuatnya makin tak sabar untuk segera melahapnya.
"Kau harus bertanggung jawab atas setiap ucapanmu sejak tadi, sayang!", ucap Ken lalu mengecup lembut bahu Ana yang memang sudah terbuka.
Tubuh Ana menegang, ia makin keras meremas pinggiran gaunnya.
"Ah, aku sungguh takut!", ucap Ana dalam hati lagi.
"Tapi Ken, kita sangat berkeringat. Bagaimana kalau kita,, kalau kita mandi dulu!", Ana mencoba mengulur waktu sambil mempersiapkan dirinya sendiri.
"Oh, jadi kau ingin memulainya di kamar mandi?", Ken meletakkan dagunya pada bahu Ana.
"Tidak!", seru Ana tiba-tiba.
"Emmhh?", gumam Ken seakan bertanya.
"Bu,, bukan begitu maksudku!", ucap Ana seraya berbalik untuk menjelaskan maksudnya kepada prianya itu.
Namun setelah berbalik, gaun yang ia kenakan malah melorot hingga terpampang jelas tubuh bagian atasnya. Menyadari hal itu, Ana langsung membulatkan matanya ke arah Ken. Namun belum juga bergerak karena begitu kagetnya. Ditambah lagi begitu ia berbalik, matanya langsung disajikan pemandangan indah tubuh Ken. Hingga kesadarannya pulih, ia langsung menarik gaunnya ke atas hingga ke lehernya. Tadi tanpa Ana sadari, Ken telah menurunkan resleting gaun itu hingga ke bawah.
Awalnya Ken dengan susah payah menelan salivanya setelah disuguhkan pemandangan indah yang baru pertama kali dilihatnya. Namun segera ia menahan tawanya karena lagi-lagi Ana selalu bertingkah menggemaskan di hadapannya. Segera ia menarik pinggang Ana dengan satu tangannya yang tak cedera. Ia mengeratkan pegangannya di sana hingga tubuh mereka menempel pada satu sama lain.
"Aku juga gugup, sayang!", ucap Ken seraya menatap dalam ke arah mata Ana. Tangannya yang masih memakai gips menyelipkan beberapa anak rambut Ana ke belakang telinganya dengan sangat lembut hingga menimbulkan senyar di sekujur tubuh Ana.
__ADS_1
"Tapi Ken, tanganmu!", raut wajah Ana menjadi khawatir setelah menyadari bahwa tangan Ken belum sepenuhnya pulih.
"Tidak apa-apa! Aku masih bisa menahannya. Bagian tubuhku yang lain yang akan sakit jika kita tidak melakukannya sekarang", ucap Ken dengan raut wajah serius.
"Emmhh,, tapi itu,, itu akan menyakitkan untuk pertama kali, kan?!", ucap Ana begitu malu hingga ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik Ken.
"Aku akan perlahan, oke!", Ken mengulas senyumnya dan berucap dengan nada yang begitu menenangkan.
Beberapa detik Ana menatap Ken dalam. Lalu ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya, isyarat bahwa kini ia setuju untuk menjadi milik Ken seutuhnya. Lagipula memang ini adalah kewajiban dirinya setelah sah menjadi istri dari pria yang sangat ia cintai.
Tanpa basa-basi, Ken segera mengecup bibir merah muda itu. Lalu ia menyesapnya lembut dan mencercapnya, merasai bibir manis yang amat menggoda. Gaun pengantin itu kemudian jatuh ke bawah karena tangan yang tadinya digunakan untuk memeganginya kini sudah melingkar pada leher Ken. Ana membalas setiap gerakan pria itu pada bibirnya. Ciuman itu sudah sangat bergairah, Ken menekan tengkuk leher Ana untuk memperdalam kegiatannya. Ia merasai setiap sudut mulut Ana dengan rakusnya.
Kegiatan panas itu sejenak berhenti akibat nafas mereka yang hampir habis. Dengan nafas tersengal, mereka saling melempar senyuman.
"Aku akan memulainya!", lalu mengecup singkat bibir Ana.
Ken membawa Ana ke arah ranjang. Dengan perlahan ia merebahkan tubuh Ana di sana. Lalu ia kembali mengecup bibir wanitanya sambil tangannya yang mulai bergerilya. Ini juga adalah kali pertama untuknya. Ken hanya mengikuti instingnya yang mana ia harus menuntaskan hasratnya sebagai lelaki juga harus berusaha supaya tak menyakiti Ana. Dengan lihai, tangannya menyentuh bagian-bagian sensitif Ana hingga wanitanya itu mengerang dan menggelinjang hebat. Sore itu, setelah sekian lama Ken menahan keinginannya untuk menyentuh wanitanya, akhirnya kini mereka telah menyatukan cinta mereka dengan perpaduan indah irama cinta di atas ranjang pengantin yang telah bertabur kelopak mawar merah.
***
"Sedikit!", jawab Ana sambil meringis menahan sakit.
Setelah dua jam mereka akhirnya menuntaskan penyatuan cinta kasih keduanya. Kini mereka berbaring saling berhadapan tanpa mengenakan sehelai benang yang menutupi tubuh mereka, hanya selembar selimut putih yang menutupinya hingga ke dada. Keringat tadi setelah selesai acara, ditambah lagi kegiatan mereka barusan, membuat tubuh mereka terasa amat lengket.
"Kau ingin mandi?", tanya Ken seakan tau apa yang ada di pikiran Ana.
"Emhh,, kau saja duluan!", jawab Ana malu-malu. Sebenarnya ia sangat ingin mandi, tapi rasa nyeri ini membuatnya sulit untuk bangun dari tempat tidur ini. Dan ia sangat malu untuk mengungkapkan hal ini, jadi Ana memilih untuk meminta Ken mandi lebih dulu supaya ia bisa berusaha bangkit tanpa Ken mengetahuinya.
"Ayo mandi bersama!" ajak Ken yang sudah merubah posisinya dengan duduk lalu memasang wajah penuh harap.
"Kau saja duluan, Ken!", kilah Ana masih tak ingin mengungkapkan alasannya.
__ADS_1
"Baiklah! Aku tidak akan mandi jika kau tidak mau mandi bersamaku!", ancam Ken seraya melipat tangannya di depan. Ia berusaha menahan senyumnya. Ken bukannya tidak tau jika Ana tengah malu untuk menyebutkan perihal apa yang dirasakannya saat ini. Hanya saja, ia menunggu Ana menyebutkannya langsung supaya Ken bisa menikmati ekspresi Ana yang menggemaskan itu.
"Keeenn! Ini,, ini masih sakit!", ucap Ana terbata sambil menahan malu.
"Baiklah, tunggu sebentar!", Ken masuk ke dalam kamar mandi lalu tak lama ia keluar lagi menuju Ana tanpa mengenakan pakaiannya.
"Ken, apa kau tak punya malu!", seru Ana saat melihat Ken ke sana ke mari dengan santainya tanpa mengenakan sehelai benangpun. Ana menutup wajahnya dengan kedua tangannya, namun menyisakan sedikit sela untuknya mengintip.
"Kau harus terbiasa, sayang!", Ken mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan wajah tak berdosa.
"Berhubung tanganku belum pulih benar, jadi maafkan aku ya karena tak bisa menggendong mu ke sana. Tapi aku bisa memapahmu, bagaimana?", tanya Ken dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Ken! Aku akan berjalan pelan-pelan", ucap Ana seraya mengusap wajah Ken dengan lembut. Ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi tangan Ken yang belum juga pulih.
Dengan sangat perlahan, Ana berusaha berdiri dengan bantuan dari Ken. Setelah berhasil berdiri, dengan penuh perhatian Ken membimbing Ana, merangkul pundaknya dan membawa Ana ke masuk ke dalam kamar mandi. Ken telah menyiapkan air hangat pada bathtub sebelumnya.
"Masuklah, kau akan merasa nyaman setelah berendam sebentar di sana", Ken menghela Ana supaya masuk ke dalam bak mandi itu.
"Kau mau kemana?", Ana menahan tangan Ken saat mengetahui pria itu malah akan melangkah ke arah luar.
"Aku akan keluar sebentar!", ucap Ken seraya mengulas senyumnya.
"Jangan lama-lama!", Ana melepaskan pegangan tangannya pada tangan Ken.
"Sepertinya kau tidak tahan terlalu lama berjauhan denganku!", goda Ken seraya menyambar sebuah handuk dan melilitkannya hingga ke pinggang.
"Keenn!", Ana menggeleng selalu tak habis pikir dengan prianya yang amat cerdik dalam mengolah kata-kata.
Ken keluar kamar mandi, lalu ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia terlihat melakukan sebuah panggilan.
"Han, setengah jam lagi bawa makan malam untukku dan Ana. Kami akan makan malam di kamar. Kalian bisa duluan jika sudah lapar!", sahut Ken setelah panggilan itu terhubung.
__ADS_1
"Dan perintahkan seseorang untuk mengganti sprei di kamarku, segera!", tambahnya lagi dengan cepat.
Segera ia menutup panggilannya tanpa mau tau jawaban dari orang di seberang saluran sana. Matanya menatap lurus ke depan ke arah ranjang tempat dirinya dan Ana melakukan penyatuan cinta. Senyumnya terukir lebar saat ia melihat ke arah noda merah terang di sana. Ken begitu bangga bahwa dirinya adalah lelaki pertama bagi Ana. Ia memerintahkan seseorang untuk mengganti sprei itu karena Ana pasti akan malu jika melihat masih ada noda merah itu di sana. Dan pasti Ana akan menampilkan wajah menggemaskan lagi setelahnya. Hingga akhirnya ia pasti akan menginginkan untuk melahapnya lagi dan lagi.