Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 277


__ADS_3

Tak tahan lagi, Ken membenarkan posisi duduk Ana sehingga menghadap ke arahnya. Lalu ia tangkup wajah istrinya itu agar ia bisa dengan mudahnya menanamkan bibirnya yang seakan selalu merindu dengan bibir manis istrinya itu. Lelaki itu menarik pinggang istrinya agar merapat ke arahnya.


Dengan mata yang sudah terpejam, Ana menerima setiap arahan suaminya. Mereka sekarang saling memberi dan menerima dengan setiap pergerakan sesuatu yang lembab nan lembut itu. Bibir mereka saling bertaut, berpadu dengan suka cita perasaan cinta mereka yang begitu besar pada satu sama lainnya.


Ana mencengkeram piyama yang Ken kenakan saat perpaduan bibir mereka itu sudah semakin panas. Lidah mereka sudah bergerak ke sana-sini, mengabsen setiap inchi rongga mulut pasangan mereka masing-masing. Ciuman itu kini sudah lebih panas dan basah.


Tidak! Ini tidak bisa terus berlanjut. Ken mengetahui kemana jalur yang akan mereka ambil setelah hal ini bergulir menjadi panas seperti ini. Juniornya pasti akan meminta dengan keras untuk diberi makan malam sekarang juga.


Tapi esok hari adalah acara yang penting yang tak dapat mereka lewati. Pria itu tidak ingin membuat istrinya yang sedang hamil muda itu kelelahan dikarenakan dirinya. Ken pasti akan sangat merasa bersalah karena hal itu.


Maka dari itu, segera ia melepaskan pertautan bibirnya dengan bibir Ana. Padahal ia belum puas menikmati bibir manis itu. Tapi mau bagaimana lagi, sebelum semuanya berlanjut ke arah yang makin dalam, Ken harus menghentikannya.


"Ada apa, Ken?", tanya Ana dengan nafas yang tersengal. Saat ini ia kebingungan lantaran suaminya itu tiba-tiba menghentikan ciuman mereka. Tidak seperti biasanya.


"Aku harus berhenti, Ana! Karena jika tidak, maka aku akan membuatmu kelelahan malam ini. Sedangkan kita tidak bisa bangun terlambat esok hari", wajah Ken yang memerah itu terlihat jelas di mata Ana. Pria itu sudah mulai kepanasan rupanya.


"Tapi benar kau tidak apa-apa?", sambil berusaha menetralisir nafasnya yang masih pendek-pendek, Ana menyentuh pipi suaminya itu yang memang terasa hangat.


Ken segera memalingkan wajahnya karena malu. Tapi ia tak menolak sentuhan Ana pada wajahnya. Menahan hasrat yang sudah mulai menggembung seperti ini tidaklah mudah. Dan Ken sangat malu istrinya itu sampai melihatnya dalam kondisi seperti ini. Ia yakin wajahnya pasti sudah seperti remaja pria yang sedang jatuh cinta. Tak bisa tahan untuk tidak merona.


"Benar, tidak apa-apa! Mungkin sebaiknya aku mandi air dingin saja!", Ken sudah tak tahan.

__ADS_1


Sentuhan Ana malahan membuatnya semakin panas. Dan ia akan berubah menjadi tamak dan egois untuk memiliki tubuh istrinya itu malam ini. Ia tak ingin itu terjadi. Pria itu tak ingin mengambil resiko dengan membuat istrinya itu kelelahan malam ini.


"Tapi, Ken,,,,", melihat suaminya mulai beranjak berdiri dalam kondisi tersiksa seperti itu, membuat Ana tidak tega.


"Aku tidak apa-apa, Sayang!", Ken sempatkan mengusap lembut pipi Ana sembari tersenyum. Mengusir segala kekhawatiran yang istrinya itu miliki.


"Baiklah!", sedikit merasa tidak enak hati, Ana pun melepaskan suaminya itu untuk pergi mendinginkan diri.


"Emmhh,, Ken!", wanita itu berseru lagi saat Ken baru saja membuka pintu kamar mandi.


Oh, ayolah! Apa lagi?! Pria itu tak sanggup lagi berlama-lama bersama dengan istrinya yang membuat suhu tubuhnya meningkat itu. Ia sudah sangat ingin mendinginkan diri. Tapi tetap saja, dengan sabar pria itu menoleh dan tersenyum.


"Bolehkah aku pergi ke kamar Sarah dan Krystal?! Hanya sebentar saja, aku janji!", tersenyum kaku wanita itu meminta izin suaminya.


Ana kegirangan setelah mendapat perizinan itu. Lalu ia segera memakai sweaternya untuk menutupi baju tidurnya yang tipis itu. Lagipula kamar Sarah dan Krystal berada tak jauh dari kamarnya. Senyumnya masih terkembang meski suaminya itu sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Kau!", dan tiba-tiba mata Ana terbelalak saat melihat seseorang tepat di depan pintu kamarnya.


***


"Sayang, kau sudah tidur?!", Ken menghampiri sebuah gundukan di dalam selimut. Berpikir bahwa Ana telah berangkat lebih dulu ke alam mimpinya lantaran menunggunya yang terlalu lama di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Ken sempat tidak tega mengganngu waktu istirahat istrinya itu. Tapi dirinya juga tidak bisa tidur jika tidak memeluk hangat istri dan anak yang masih berada di dalam perutnya.


Gundukan itu tertutup rapat dan hanya menyisahkan gumpalan hitam rambut kepala bagian atas yang terlihat saja. Ken sungguh berpikir jika Ana benar-benar sudah terlelap karena ia tak bergerak, karena tak merespon ranjang yang bergerak lantaran Ken menaikinya.


"Baiklah! Selamat tidur, Sayang! Aku mencintaimu!", mengusap pucuk kepala yang menyembul itu, Ken lalu memberi satu hadiah kecupan yang dalam di sana.


"Aaggkhh,, Kakak! Aku masih normal, kau tau!", tiba-tiba gundukan itu bangkit dan menampakkan sosok Sam yang sedang menggosok kepalanya yang baru saja dicium oleh kakaknya itu.


Ada ekspresi jijik di wajah pria itu saat menggosok dengan keras puncak kepalanya. Dan hal itu membuat Ken menggeram marah. Bukan hanya kesal karena telah mencium orang yang salah. Tapi bagaimana bisa adiknya itu tiba-tiba berada di sana, di tempat dimana seharusnya ia dan istrinya merebahkan tubuh mereka. Beruntung tadi Ken belum sempat memeluk adiknya itu.


"Turun!", perintah Ken dengan suara rendah, dingin dan menakutkan. Satu tangannya menunjuk ke arah lain tempat seharusnya adiknya itu berada, tidak di ranjangnya.


Apa? Normal?! Jadi dia berpikir bahwa kakaknya ini tidak normal?! Justru karena kakaknya ini terlalu normal, maka ia tidak bisa tidur tanpa memeluk istri tercintanya itu. Sepertinya Sam memang ditakdirkan untuk membuat orang kesal!


"Uugghh,,, Kakak! Jangan kejam seperti ini padaku! Apakah kau tau betapa gugup dan frustasinya aku menghadapi hari pernikahanku besok?! Kau kan sudah pernah menikah lebih dulu, seharusnya kau mengerti bagaimana perasaanku saat ini!", sambil melempar selimut yang tadi menutupi tubuhnya, Sam mau tak mau beranjak dari ranjang kakaknya itu.


Pria itu meletakkan bokongnya di atas sofa tak jauh dari ranjang. Dengan wajah kesal, Sam menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Bagaimana kau bisa masuk ke sini?", tanya Ken dingin.


Kakak dari Sam itu kini sudah duduk nyaman sambil bersandar ke kepala ranjang. Namun tatapannya tajam seakan sedang menguliti.

__ADS_1


"Kakak ipar! Kakak ipar yang mengizinkan aku masuk!", ucapannya acuh. Tapi jelas Sam merasa menang karena hal ini. Jika sudah memakai nama kakak iparnya itu pasti kakaknya yang seram ini tidak akan bisa menolaknya lagi.


Mendengar jawaban adiknya itu, Ken langsung memijit tengah pelipisnya. Kepalanya terasa pening tiba-tiba. Bagaimana bisa istrinya itu membiarkan keledai berisik ini masuk ke dalam kamar mereka?! Sedikit kesal, Ken sekarang. Bukan pada Ana, tentu saja pada adiknya yang bodoh ini.


__ADS_2