
"Hey, pengantin pria! Apa kau tau sekarang sudah jam berapa?!", Nyonya Rima membentak putra bungsunya itu dengan sebuah teriakan yang sangat keras.
Di tangannya masih ada gayung yang barusan ia gunakan untuk menyiram anaknya yang sangat sulit untuk dibangunkan itu. Bahkan hampir membuat repot semua orang.
Sudah pukul tujuh pagi dan calon pengantin pria sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Dan orang yang ditugaskan untuk mengurusi penampilannya pun tidak mendapatkan jawaban setelah beberapa kali mengetuk kamar hotel milik pria itu.
Baik ibu, ayah dan kakaknya mereka semua sudah berulang kali mencoba menghubungi Sam. Sampai panas ponsel yang mereka gunakan. Tapi tetap tidak mendapatkan jawaban.
Kemana sebenarnya anak itu?! Di hari pernikahannya, mungkinkah Sam kabur?! Tapi atas dasar apa?! Padahal momen ini adalah momen yang sangat dinantikan oleh orang itu.
Masalah ini hanya diketahui oleh keluarga Wiratmadja. Dari pihak Sarah tidak ada yang mengetahuinya. Mereka tidak ingin membuat yang lainnya lebih khawatir lagi. Atau pun malahan menimbulkan masalah karena terlalu banyak yang mengetahui masalah ini.
Sampai saat terakhir mereka berpikir bersama, hanya Ana yang terlihat tenang. Berulang kali ia mengedikkan kedua bahunya dengan wajah acuh.
Bukannya tidak peduli dengan masalah yang menyangkut adik iparnya ini. Tapi ia tau, adik iparnya itu memang konyol, tapi ia tidak sebegitu bodohnya untuk meninggalkan momen berharga ini begitu saja. Pasti orang itu hanya melakukan hal konyol saja.
"Ken, kenapa kita tidak meminta seseorang untuk membuka kamarnya? Mungkin saja adikmu itu masih terlelap di dalam!", sambil memakan roti lapis di tangannya, Ana menyampaikan ide yang tiba-tiba muncul di kepalanya itu.
Mertua dan suaminya segera menoleh ke arah Ana. Mereka nampak bodoh sendiri karena tidak memikirkan hal ini sejak tadi.
Dan jadilah sekarang Sam yang sedang menikmati murkanya Nyonya Rima.
"Bunda! Ada apa? Aku ini masih mengantuk sekali!", pria itu protes pada ibunya sambil mengelap wajahnya yang basah dengan selimut di tangannya.
Sam sedang berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya menyatu. Ia lalu mengedarkan pandangannya melihat satu per satu orang-orang yang sedang menatapnya dengan ekspresi marah. Ada Tuan Dion bersama Nyonya Rima dan juga Ken di sisi lainnya. Tak ada Ana, karena saat ini wanita itu masih belum selesia dirias.
"Kepalamu itu isinya apa sebenarnya?!", Ken langsung saja memukul kepala adiknya itu agar ia cepat sadar.
__ADS_1
"Kau tau ini hari apa? Hah?!", kini giliran Tuan Dion yang bertanya dengan marah.
"Ini hari sabtu, kan?! Jadi biarkan aku tidur lagi! Sekarang kan hari libur, jadi aku bebas!", Sam masih protes sambil menyibak-nyibakkan pakaiannya yang basah.
"Baiklah kalau begitu, Bunda! Sebaiknya kita batalkan saja pernikahannya!", Tuan Dion memalingkan wajahnya acuh.
Ia mengajak istrinya itu untuk pergi dari kamar putra bungsunya. Tuan Dion merangkul bahu istrinaya itu lalu berbalik pergi. Ia lalu merebut gayung yang masih berada di tangan istrinya itu ke lantai, sehingga menimbulkan suara yang keras.
"Pernikahan siapa?!", Sam bergumam pelan.
Suara dentingan yang keras itu lalu membuat Sam benar-benar tersadar. Ini adalah hari pernikahannya. Hari yang sangat penting baginya. Hari yang ia tunggu-tunggu selama hidupnya.
"Tunggu,,, tunggu! Aku sudah ingat! Ini hari pernikahanku! Tolong jangan batalkan pernikahanku, Ayah, Bunda!", Sam berteriak pada orang tuanya yang saat ini sudah hampir mencapai pintu kamarnya. Terdengar seperti permohonan yang menyedihkan.
"Waktumu tidak sampai satu jam lagi untuk sampai di aula tempat kau dan Sarah akan mengadakan akad nikah!", Ken berbalik untuk mewakili orang tuanya untuk menjawab.
"Ya ampun!", Sam mengerang panik setelah mendengar penuturan kakaknya itu.
Semua orang hampir pergi dari sana ketika mendengar suara benturan keras di lantai kamar itu. Mereka akhirnya mau tak mau menoleh. Dan kenyataannya adalah, Sam sudah jatuh lantai dengan selimut yang menggulung setengah badannya.
"Tidak apa-apa! Tidak apa-apa! Aku akan segera mandi sekarang!", tangan pria itu melambai pada semua orang.
Meskipun wajahnya meringis kesakitan, tapi ia berusaha berbicara seakan dia baik-baik saja. Tak ingin membuat orang tua dan kakaknya menjadi khawatir padanya.
"Memangnya siapa yang mengkhawatirkanmu!", ucap Ken acuh seraya menutup pintu kamar itu.
Tak memedulikan lagi dengan tanggapan kakaknya yang sebenarnya terdengar kejam, Sam langsung bergegas menuju kamar mandi sambil memegangi pinggangnya yang terasa terbelah dua.
__ADS_1
***
Pagi ini akan diadakan akad nikah untuk Sam dan Sarah di aula itu. Acara itu hanya dihadiri oleh pihak keluarga dan kerabat yang dekat saja. Tidak banyak, agar suasananya terasa lebih khidmat dan sakral. Lalu barulah pada malam harinya, acara resepsi pernikahan kedua kakak beradik itu dilakukan secara bersamaan.
Saat ini ibu hamil itu sudah selesai dirias. Pagi ini bukan dirinya yang akan menjadi sorotan. Tapi penampilannya memang sudah sangat cantik dari sananya. Ana hanya menggunakan kebaya modern berwarna kuning gading. Dengan rok batik panjang yang menjadi pasangannya. Itu merupakan seragam yang sama yang akan dipakai oleh para wanita di dalam keluarga mereka.
Sedangkan Ken, ia memakai kemeja batik senada dengan bawahan yang coraknya sama dengan yang Ana pakai. Itu juga seragam yang sama yang akan dikenakan oleh para pria dari dua keluarga.
Presdir Ken yang terhormat itu tetap terlihat tampan luar biasa meski tidak mengenakan jas seperti biasanya. Sungguh perpaduan yang sempurna dari sepasangan suami istri itu.
"Kenapa aku jadi ikut merasa gugup juga ya, Ken?!", Ana menolehkan kepalanya ke belakang. Menatap suaminya yang sedang memeluknya itu.
"Kau mau menikah lagi, hemh?!", Ken mengecup kepala istrinya itu dari belakang. Mempererat pelukannya dan memberikan ciuman yang dalam.
"Jadi boleh?!", wanita itu agak senang jadi malahan menggoda suaminya yang jelas sangat cemburuan.
"Ayo kita menikah lagi!", seru Ken tenang, tak melepaskan pelukannya pada Ana.
"Maksudnya?", Ana langsung berbalik tapi masih di dalam pelukan suaminya.
"Jadi kau mau menambah istrimu satu lagi? Heh!", ia pun menarik kedua kerah baju suaminya dengan wajah galak.
"Tadi kau yang berusaha menggodaku. Tapi sekarang kau yang jadi kesal sendiri. Dasar ibu hamil! Mana mungkin aku memiliki istri lagi! Sedangkan wanita yang ingin aku miliki hanyalah dirimu seorang, Sayang!", pria itu tetap tersenyum elegan, lalu mencubit gemas hidung istrinya.
"Kau,,, dilarang macam-macam! Mengerti!", Ana menarik kerah suaminya itu untuk memberikan sebuah kecupan. Setelah itu ia tak lupa untuk memberikan peringatannya.
"Ayo kita ke sana! Sepertinya semua orang sudah mulai berkumpul", ajak pria itu. Dan mendapat anggukkan dari istrinya.
__ADS_1
Ken melepaskan kurungannya pada Ana. Menangkup kedua sisi wajahnya, lalu membalas saat ciuman yang tadi Ana berikan. Lalu mereka pun saling bergandengan tangan meninggalkan kamar mewah yang saat ini mereka tempati itu.