Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 216


__ADS_3

ting


Suara pintu lift kembali berdenting. Resepsionis kedua keluar beserta Sarah di belakangnya. Wajah sekretaris Sam menjadi panik setelah mengetahui siapa yang datang. Entah perang macam apa yang akan terjadi setelah ini. Ia sangat ingin memanggil pihak keamanan sekarang, sayangnya ponselnya pun tertinggal di meja yang sudah jauh dari jangkauannya.


Begitu melakukan beberapa langkah keluar, mata Sarah segera menangkap sosok rubah dengan bulu tipis terlihat seperti sedang dihadang oleh sekretaris Sam. Sebenarnya tangan Sarah sedikit gemetar hingga berkeringat. Ia masih ingat betul bahwa traumanya dulu kambuh karena semua ucapan wanita itu. Terlebih lagi ia juga pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wanita rubah itu berani menggoda Sam yang saat itu tak sengaja ia lihat di jalanan.


Dulu ia boleh marah dalam diam, tapi sekarang tidak. Sekarang dengan statusnya yang merupakan calon istri bos besar perusahaan ini, ia harus memiliki kekuatan. Biasanya Sam yang akan melindungi hubungan ini. Dan kali ini sepertinya adalah gilirannya sendiri untuk menghadapi wanita rubah yang sangat beracun ini.


Sarah menaikkan dagunya, berusaha terlihat setenang mungkin. Langkahnya juga tak ia hentikan, hingga ia akhirnya sampai di samping dua wanita yang kelihatan sedang bersiteru.


Si resepsionis dan sekretaris Sam saling beradu pandang. Dengan wajah panik yang sama, keduanya nampak tak dapat berbuat apa-apa. Keras kepalanya Megan Aira semua sudah mengetahuinya. Tapi bagaimana dengan Nona Sarah mereka?! Keduanya menjadi sangat merasa bersalah.


"Selamat siang, Nona Sarah! Tuan Sam sudah menunggu Anda sejak tadi", sekretaris itu membungkukkan sedikit tubuhnya memberi salam hormat kepada calon nyonya besar perusahaan ini. Tapi wanita itu juga tak dapat menyembunyikan kecanggungan yang ada dalam situasi ini.


"Ciihh!", Megan memalingkan wajahnya dengan senyum mengejek. Ia tidak pernah mendapatkan penghormatan seperti itu sejak dulu. Lalu bagaimana bisa wanita ini dengan mudahnya mendapatkan kehormatan yang begitu tinggi dari para pegawai di sini?! Yang sudah jelas mengenai statusnya sejak dulu yang merupakan seorang artis ternama. Sedangkan wanita itu bukan siapa-siapa.


"Maaf Nona Sarah! Saya sudah berusaha melarang Nona Megan untuk bertemu dengan Tuan Sam. Tapi Nona Megan tetap berusaha untuk masuk ke dalam. Padahal Tuan Sam juga sudah berpesan untuk tidak mengijinkannya menemui Tuan lagi", sekretaris Sam memberi penjelasan dengan ekspresi gugupnya takut-takut Sarah akan salah paham terhadap bosnya nanti.


Sarah mengerti, ia paham. Apa yang sekretaris itu katakan sama dengan apa yang Sam jelaskan saat itu kepadanya mengenai si rubah Megan itu. Ia juga tau kondisi sekretaris yang merasa tak enak hati kepada dirinya kini.


"Yasudah kalau begitu! Bisakah aku masuk ke dalam untuk menemui Sam?!", sembari mengulas senyum ramahnya Sarah bertanya dengan menyebutkan nama calon suaminya secara langsung. Ia menyiratkan bahwa sudah sampai sejauh itu hubungannya. Hanya dia wanita yang bisa memanggil nama bos mereka dengan namanya langsung selain keluarganya. Karana ia ingat, saat di rumah sakit dulu, ketika luka Sam basah lagi karenanya, Megan ini masih memanggil pria itu dengan sebutan Tuan. Dalam kalimatnya, Sarah ingin mengatakan bahwa dirinya dan Megan memiliki jarak yang cukup jauh dalam kasta.

__ADS_1


"Sam?! Kau seharusnya memanggil dia dengan Tuan!", tiba-tiba saja Megan menyambar. Berarti provokasi Sarah berhasil. Ia tau jika wanita ini mulai kesal.


"Untuk apa? Aku ini calon istrinya, bukan bawahannya seperti kau!", Sarah tegaskan bahwa Megan tidak lebih dari karyawan yang bekerja untuk Sam sama seperti resepsionis dan sekretaris di samping mereka. Jarak mereka jauh, jadi jangan harap menjangkau calon suaminya itu.


"Kalau begitu, aku masuk dulu!", Sarah tersenyum pada resepsionis yang mengantarnya juga kepada sekretaris Sam bergantian.


"Tunggu dulu! Tapi aku yang lebih dulu sampai!", Megan segera mencekal tangan Sarah menghentikan wanita itu untuk maju satu langkah.


"Heh!", Sarah menghempas tangan rubah beracun itu dengan kasar. Seperti kotoran yang tiba-tiba jatuh di tangannya. Ia melepaskan cekalan itu dengan lemparan.


"Sepertinya Nona Megan ini sudah tidak punya urat malu, ya! Bukankah jelas dikatakan bahwa Anda sudah tidak diijinkan lagi untuk bertemu dengannya?! Bahkan hal itu disampaikan langsung oleh calon suamiku sendiri, lho", wajah Sarah begitu tenang. Ia melipat kedua tangannya di depan dada menatap wanita rubah itu dengan ejekan.


"Kau,,, kita lihat saja apakah Tuan Sam masih mau menemuiku secara langsung atau tidak!", Megan menggeram sambil mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Sarah.


"Tunggu, hei! Tunggu aku, hei! Aku yakin Tuan Sam pasti masih mau bertemu denganku!", Megan hanya mampu berteriak karena saat ini dua pegawai wanita itu tengah mencekal kedua pergelangan tangannya.


Sebelum membuka pintu ruangan Sam, Sarah sempatkan menoleh ke arah Megan sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Sayaang!", bahkan Sarah sengaja mengencangkan panggilannya kepada pria yang sedang duduk di dalam sana.


***

__ADS_1


"Sarah! Kau sudah datang!", Sam bangkit dari kursi kebesarannya untuk menyambut calon istrinya yang baru saja datang. Ia memberikan pelukan pada wanita yang ketika masuk saja wajahnya sudah berubah masam.


"Harusnya aku sampai sejak tadi jika tidak ada gangguan!", Sarah melepaskan pelukan Sam seraya mengerucutkan bibirnya. Ia menyampaikan kekesalannya tentang kedatangan Megan di depan. Pria itu berubah marah, sangat marah bahkan. Ia sudah mengangkat teleponnya untuk memecat semua karyawan yang teledor karena membiarkan Megan sampai di depan kantornya. Untungnya Sarah segera mencegahnya, hal itu tidak adil bagi para karyawan itu menurutnya. Lagipula wanita itu memiliki caranya sendiri untuk menghadapi wanita rubah sialan itu.


"Kau ingin melawannya? Apakah kau yakin?", tanya Sam memastikan lagi keyakinan di wajah wanita yang dicintainya itu.


"Ya tentu saja! Dan aku yakin dalam hitungan ketiga, wanita itu pasti akan masuk ke dalam sini!", jawab Sarah tegas.


"Satu!", Sarah mulai menghitung.


"Sebenarnya aku sangat sibuk hari ini! Banyak berkas yang harus aku tanda tangani. Tapi karena wanitaku akan membuat pertunjukkan, maka aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!", Sam tersenyum sambil mengelus kepala Sarah dengan penuh kasih sayang.


"Dua!", ia menghitung lagi.


"Tidak! Kau lanjutkan saja pekerjaanmu! Kau bahkan dilarang untuk mengangkat kepalamu! Kau dilarang melihat wanita lain selain aku!", lanjut Sarah memberi ultimatum pada Sam sambil berkacak pinggang.


"Baiklah! Priamu ini akan menurut!", Sam mencubit gemas hidung wanita itu sebelum kembali ke tempat duduknya.


"Tiga!", Sarah selesai menghitung.


"Tuan Sam!", terdengar seruan dengan nada manja dari balik pintu ruangan itu. Sarah tersenyum mengejek lurus ke depan. Lalu ia memutar tubuhnya untuk menghadap Megan setelah memastikan Sam tetap melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Tuan Sam!", Megan sudah berhasil masuk ke dalam. Lalu memanggil Sam dengan panggilan khasnya yang manja dan menjijikan jika didengar orang.


__ADS_2