Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 207


__ADS_3

"Ahh,, maaf Sarah! Maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja!", Sam langsung menjauh dari hadapan wanita yang sedang meringis itu.


"Iya, tidak apa-apa! Ini bukan masalah besar", sebenarnya Sarah hanya sedang berakting sekarang. Kakinya memang terinjak, tapi itu hanya sedikit saja. Bahkan hanya ujung sepatu pantofel Sam yang mengenai ujung sepatu flat milik Sarah. Wanita itu hanya ingin menghindar dari pertanyaan Sam barusan. Ia ingin mengulur waktu dan mencari alasan agar pria itu mengalihkan pikirannya sekarang.


"Benar tidak apa-apa?", wajah Sam khawatir melihat Sarah yang masih meringis saja.


"Iya, aku yakin! Begini saja tidak masalah!", Sarah mendorong tubuh Sam menjauh. Pria itu membungkukkan tubuhnya untuk mengecek kondisi kaki Sarah yang menurutnya terinjak tadi. Buru-buru Sarah menjauhkan Sam dari jangkauannya sambil berlagak yang meyakinkan. Ia tidak ingin kebohongannya diketahui sekarang.


"Baiklah! Kau masih bisa berjalan?", tanya Sam masih memiliki kekhawatiran di dalam hatinya.


"Tentu saja bisa! Itu hanya masalah kecil, bukan?!", Sarah menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras untuk membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja. Yang ia yakini adalah jika ia mengatakan bahwa kakinya masih sakit, maka sudah pasti laki-laki itu akan melakukan hal konyol seperti menggendongnya atau apalah. Hey, sekarang mereka masih berada di tempat umum dan ia masih memiliki stok malu yang banyak untuk menjadi bahan tontonan.


"Hemmn??!", wajah Sam berubah menjadi tanda tanya saat melihat kaki Sarah yang seakan tidak terjadi apa-apa.


"Ii,, ini sakit! Tapi hanya sedikit, jadi aku masih bisa menahannya", Sarah menampilkan senyum yang meyakinkan sambil sedikit mengurut betisnya yang tidak sakit.


"Baiklah! Kalau begitu kita lanjutkan rencana awal kita!", dengan penuh semangat Sam menjalin jemarinya dengan milik Sarah lalu membimbing wanita itu untuk mengikuti langkah dirinya yang sudah maju terlebih dahulu.


Di belakang Sarah tersenyum lega sambil mengelus dadanya. Sarah merasa itu belum waktu yang tepat untuk menghadiahi telinga Sam dengan kata-kata indah yang ia miliki saat ini. Sarah merasa akan ada waktunya nanti saat ia benar-benar yakin. Ia pun kembali pasrah dibawa entah kemana.


Dari sebuah sudut, muncul seorang wanita berpakaian seksi dengan kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya. Ia tersenyum sinis sambil menatap punggung Sarah dan Sam yang mulai pergi menjauh.


"Tunggu dan lihat! Jika aku tidak bisa memiliki pria itu, maka kau pun tidak akan bisa!", wanita itu melepaskan kacamatanya dengan gaya elegan hingga rambutnya sedikit bergoyang di belakang.


Dia adalah Megan Aira. Hidupnya beberapa waktu terakhir menjadi kacau. Karirnya mengalami kemunduran hanya dalam waktu singkat. Ia tidak ingin hancur sendirian, maka ia akan membawa orang-orang agar ikut hancur bersama dengan dirinya.


Wanita itu kembali memasangkan kacamatanya. Ia sebenarnya kini tengah menutupi pandangan matanya yang sedang memiliki nilai kekejaman di sana dari orang-orang di sekitarnya. Lalu wanita itu kembali berjalan, melenggak-lenggok seperti cacing kepanasan. Pria mata keranjang tentu langsung memiliki bintang dan hati besar di matanya saat melihat wanita itu melintas di hadapannya. Tapi beberapa wanita lainnya memandang jijik ke arah cacing panas itu.


***


Sepasang kekasih itu kini sudah duduk pada kabin jet pribadi milik keluarga Wiratmadja. Yah, Ken sebagai bos besar memang memilikinya sendiri. Tapi dia tidak mengizinkan adiknya ini untuk mempunyai satu, terlalu boros katanya. Ken bilang, Sam bisa memakai miliknya atau milik keluarganya kapanpun. Asal tidak meminta satu yang seperti miliknya. Huh, ingin sekali Sam mengumpat kepada kakaknya yang sedikit pelit itu.


Sam dan Sarah sudah duduk tenang di dalam kabin pesawat itu. Mereka sudah melewati drama kepanikan dan kegugupan Sarah saat akan menaiki pesawat ini. Terserah orang mau mengatakan dirinya ini kampungan atau apa, ia tak peduli. Ia hanya menjadi dirinya sendiri, karena memang di dunia ini tidak semua orang bisa memiliki keberuntungan yang sama dalam hidupnya. Ada juga yang kurang beruntung seperti Sarah.


Keduanya kini duduk berhadapan pada kursi super empuk dan nyaman dengan sebuah meja di hadapan mereka. Di samping mereka merupakan jendela pesawat tersebut. Mata Sarah begitu takjub saat melihat pemandangan indah di bawah sana. Dan saat pesawat mulai naik lagi ia begitu senang karena akhirnya bisa melihat bentangan langit secara langsung dengan kedua matanya. Tangannya sampai dingin karena saking bahagianya.


Sam berpindah posisi duduknya dengan sangat perlahan hingga wanita itu tidak mengetahuinya. Wajahnya mengguratkan senyuman puas saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari mata wanita yang ia cintai itu.


"Sam, sebenarnya kau ingin membawaku kemana?", Sarah menoleh ke tempat semula pria itu duduk. Tapi sayangnya dia tidak ada di sana. Sedikit kepanikan mampir di wajah Sarah saat ia tak berhasil menemukan pria itu di depan wajahnya. Hingga sebuah tangan hangat menyentuh dan menggenggam tangannya. Sarah pun menoleh.


"Sam,,,", ada kelegaan di matanya saat ia berhasil menemukan pria itu di matanya.Ia membuang nafasnya untuk memenuhi kelegaan di dalam hatinya.


"Tanganmu dingin! Apa karena terlalu bahagia?", tanya Sam lembut. Kini kedua tangannya menggenggam kedua tangan Sarah lalu menggosok-gosoknya untuk mengurangi dinginnya tangan wanita itu.


Sarah mengangguk pelan, ia juga malu untuk mengetahui hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, matanya tak dapat berbohong bahwa kini ia sedang sangat bahagia. Apalagi wajahnya kian memerah saat Sam menghembuskan nafas hangat dari mulutnya ke arah kepalan tangan Sarah yang masih agak dingin itu.

__ADS_1


Ia ingin menarik tangannya karena tidak tahan dengan rasa malu yang kini telah menderanya begitu hebat. Tapi Sam tidak membiarkannya begitu saja. Ia menahan kedua tangan Sarah di udara dengan satu tangannya. Lalu tangan yang satunya merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya.


"Lihat!", Sam menunjuk ke arah luar jendela dengan dagunya tanpa melepaskan tangan Sarah sedikitpun.


Wanita itupun menggerakkan kepalanya ke arah yang dituju. Dan,,, matanya segera berbinar melihat pemandangan yang disuguhkan. Pesawat itu telah terbang lebih rendah lagi sekarang. Itu agar Sam bisa menyajikan sebuah pemandangan pulau kecil. Di tengahnya terdapat sebuah bentangan spanduk yang dikaitkan ke beberapa pepohonan di sana. Kain panjang dan lebar itu bertuliskan I love you Sarah ❀️


Mata Sarah dibuat berkaca-kaca saat ini. Ia menarik satu tangannya untuk menyeka cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Betapa bahagianya seorang wanita mendapatkan sebuah kejutan romantis seperti sekarang ini. Belum lagi rasa harunya hilang, satu buah pulau kecil nampak lagi di bawah mereka. Kali ini juga ada kain panjang membentang yang bertuliskan Will you marry me.


Cukup, akhirnya tangis Sarah pecah juga setelah tadi ia berusaha keras untuk menahan ledakan kebahagiaan yang ia miliki saat ini. Ia menutup mulutnya dengan satu tangannya yang bebas agar isak tangisnya tidak terlalu terdengar keluar. Tapi memang percuma, karena hanya ada Sam di sana yang otomatis mendengarnya.


"Sarah!", Sam tiba-tiba sudah berlutut di hadapannya dengan sebuah kotak kecil berwarna merah dan cincin berlian di tengahnya.


"Maafkan aku atas semua penderitaan yang kau alami selama ini. Maafkan aku atas air mata yang telah begitu banyak tumpah akhir-akhir ini. Maafkan aku atas kebodohan dan tingkah konyol yang ku miliki hingga harus memakan waktu yang begitu lama untukku menemukan wanita yang benar-benar ku cintai", Sam mengambil nafas dulu.


"Dan terimakasih karena telah hadir dengan segala bentuk emosi yang kau miliki. Kau membuatku mengerti perasaan jatuh cinta. Dengan rasa bahagia dan sakit yang begitu menyiksa. Kau adalah wanita pertama yang ku kejar. Karena selama ini mereka yang mengejar-ngejar ketampanan ku, bukan!", Sam mengangkat kedua bahunya sambil sedikit menyombongkan diri. Hal itu membuat Sarah tertawa di tengah tangis harunya. Ia bahkan sampai memukul pelan bahu pria itu dengan wajah gemasnya.


"Sarah, aku sekarang lebih menghargai wanita dan apa itu arti cinta. Aku juga jadi tau bagaimana rasanya takut kehilangan setelah bertemu denganmu. Tolong jangan ragukan perasaanku lagi padamu, Sarah. Karena bahkan aku rela mengorbankan apapun demi dirimu", pria itu sedikit mengguncang genggaman tangannya pada tangan Sarah. Hey, pria ini juga sedang gugup ternyata. Lagipula ia bukan batu karang yang tak memiliki perasaan, kan. Matanya juga terlihat mulai basah mengingat bagaimana sulitnya ia untuk mendapatkan Sarah selama ini. Rindu dan penyesalan yang menyakiti hatinya, masih Sam ingat betul bagaimana perasaan itu.


"Sarah, aku sangat mencintaimu! Aku hanya bisa menjanjikan satu hal,,, bahwa aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia".


"Sarah, maukah kau menjadi pendamping ku? Menjadi teman hidup pria bodoh ini?", Sam mencoba mempertahankan wajahnya untuk tetap menatap ke arah Sarah. Meski sebenarnya ia sudah sangat ingin menundukkan kepala lantaran belum siap mendengar jawaban apapun dari mulut wanita itu.


"Maaf Sam,,, tapi aku mau!", jawabnya pelan lalu menutup mulutnya sambil berlinang air mata. Tangis haru dan bahagia yang kini tengah Sarah rasakan.


"Baiklah, kalau begitu!", Sam lemas karena berpikir bahwa Sarah kini menolaknya. Tidak,,, tunggu sebentar!! Ada yang salah dengan pendengarannya. Pria itu kini mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Sarah.


"Dengar baik-baik karena aku tak akan mengulanginya lagi!", Sarah menatap lurus wajah pria itu.


"Aku mencintaimu, tentu saja aku mau! Maaf karena aku baru mengucapkannya sekarang", Sarah menggigit bibir bawahnya untuk menahan malu karena ini pertama kalinya ia mengungkapkan perasaannya kepada pria itu. Ia juga merendahkan sedikit pandangannya untuk menghindari pandangan mata Sam yang menuntut.


"Ma,, mau?", Sam memastikan lagi meski sedikit ragu.


"Iya", Sarah mengangguk cepat seraya menangis dan tersenyum secara bersamaan.


"Mau?", Sam belum puas jadi dia memastikan lagi.


"Iya!", Sarah meninggikan suaranya dan langsung menutup mulutnya karena malu.


Sam segera menarik Sarah ke dalam pelukannya. Ia memeluk wanita itu begitu erat seakan tak rela untuk melepaskannya lagi. Tiba-tiba muncul dua orang pramugari memberikan tepuk tangan mereka karena merasa ikut berbahagia dengan momen tuannya itu.


Sarah sungguh merasa malu sekarang. Mimpi apa ia semalam hingga bisa mendapatkan kejutan paling indah semasa hidupnya ini. Ia yang hanya seorang wanita biasa tak menyangka akan memiliki pengalaman luar biasa seperti sekarang ini. Tapi masih ada yang kurang sepertinya. Ia segera melepaskan pelukannya dari pria itu.


"Sam??", Sarah enggan berterus terang dan hanya memilih menggunakan isyarat matanya yang bergerak menunjuk ke arah cincin berlian yang ternyata masih nyaman di dalam kotaknya.


"Apa?", Sam mengernyitkan dahinya karena memang ia tak mengerti maksud dari gelagat wanitanya itu. Ia hanya memperhatikan mata Sarah yang terus bergerak ke sana kemari. Jadi ia pun ikut memutar pandangannya ke sekitar tubuhnya. Apakah ada yang salah?!

__ADS_1


Sarah masih tak bergeming dengan ekspresinya. Rasanya malu sekali jika ia duluan yang harus mengatakan mengenai cincin itu. Bukan gengsi juga, hanya Sarah merasa lebih kepada etika dimana itu harusnya menjadi inisiatif seorang pria.


"Cincinnya belum dipasang, Tuan!", seru salah satu pramugari itu dari arah belakang Sam. Dan pria itupun mengurai senyumnya saat matanya melirik ke arah tangan yang masih memegang sesuatu di sana.


"Ah ya, maaf aku lupa!", Sam pun mengambil cincin berlian itu untuk ia pasangkan pada jari manis pada tangan Sarah.


Oh, sungguh! Air mata kebahagiaan jatuh pada pipi keduanya. Usaha, kerja keras dan pengorbanan yang mereka alami beberapa waktu belakangan ini terasa terbayar sudah dengan momen indah penyatuan cinta mereka. Dan lagi betapa bahagianya Sam saat tadi ia mendengar Sarah akhirnya mengucapkan kalimat indah yang akan terngiang selalu di telinganya.


Aku mencintaimu


Sam mulai memajukan tubuhnya. Lalu mencondongkan wajahnya. Makin dekat dan makin dekat lagi ke wajah Sarah. Wanita itu tentu tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi ia terlalu malu karena masih ada beberapa orang di sana selain mereka.


Sarah memegangi bahu Sam lalu ikut mencondongkan wajahnya. Bukan bermaksud menerima sentuhan bibir pria itu. Tapi wajahnya ia condongkan ke samping wajah Sam untuk melihat situasi yang ada. Sam menghela nafasnya dengan wajah jelek karena usahanya gagal untuk menyalurkan rasa cintanya. Lalu ia membelalakkan matanya saat ternyata Sarah yang pertama kali menempatkan bibir lembutnya pada bibirnya sendiri. Mereka pun saling menikmati perasaan cinta dan kasih sayang yang mereka miliki untuk satu sama lainnya. Dan berhenti ketika Sarah mulai kehabisan nafas.


"Terimakasih, sayang!", Sam tak henti mengucapkan rasa syukurnya karena rencananya berjalan dengan lancar. Bahkan Sarah mau mengungkapkan perasaanya pada Sam. Sungguh pria itu pun tak akan melupakan momen yang begitu indah ini. Ia menghadiahi satu kecupan lagi pada kening Sarah sebelum menarik diri dan kembali duduk di sebelah wanita itu.


"Sam! Apakah aku boleh bertanya?", kini keduanya sudah santai sambil menunggu menu makan siang yang akan diantarkan kepada mereka.


"Ya, tanyakan saja!", ia akan memberikan jawaban apapun yang Sarah minta.


"Itu,,, tadi! Eemmhh,, itu tadi spanduk yang terbentang di pulau kecil kira-kira berapa ukurannya?", Sarah tersenyum polos setelah menyampaikan pertanyaannya.


"Hemn?", Sam memaku wajahnya sebentar. Ia mengernyitkan dahinya lalu menoleh dengan wajah penasarannya yang amat jelek.


-


-


-


-


-


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰


love you semuanya 😘

__ADS_1


keep strong and healthy ya


__ADS_2