Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 118


__ADS_3

Ken tak pernah kehabisan akal jika sudah menyangkut Ana. Ia selalu senang jika bisa melihat ekspresi Ana yang begitu menggemaskan saat sedang marah ataupun merajuk. Pikiran jahilnya datang saat Ana malah duduk di tepi ranjang. Meski sebagai lelaki normal ia seperti ditantang untuk segera melahap Ana saat melihat tampilannya yang sangat menggoda saat ini.


Setelan perawat dengan rok selutut dan ukuran seragam yang pas di badan, membuat Ana nampak seksi di mata Ken. Apalagi saat ini, bibirnya yang masih ranum dan lembab akibat kegiatan mereka barusan, ditambah dengan pose Ana yang sedang menyilangkan salah satu kakinya, membuatnya dapat melihat sedikit paha putih mulus itu dan tertantang untuk segera memakan Ana bulat-bulat. Namun tidak, Ken sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya sebelum mereka menikah nanti. Jadi yang bisa ia lakukan adalah dengan menggodanya saja, hal itu sudah cukup membuat hatinya puas.


Ken mendekat secara perlahan dengan seringai liciknya. Tatapan Ken pada Ana membuat wanita itu jadi semakin waspada. ia tak dapat melihat dengan jelas apa yang Ken pikirkan saat ini. Ana mencengkram pinggiran ranjang sambil menatap Ken takut-takut.


Ken semakin mendekat dan mulai memerangkap Ana agar tak dapat beranjak dari sana. Ia menghentikan langkahnya saat jarak di antara mereka hanya tinggal satu langkah saja. Pria itu membungkukkan badan agar wajahnya sejajar dengan wajah Ana.


Ana menguatkan cengkeraman tangannya pada sisi ranjang itu sambil terus memundurkan tubuhnya karena Ken melakukan hal sebaliknya dengan terus mencondongkan tubuhnya ke arah Ana.


"Kau.. kau ..apa yang mau kau lakukan, Ken?!", seru Ana terbata-bata.


"Menurutmu, sayang?!", Ken mengukir senyum menggodanya sambil terus mencondongkan tubuhnya ke arah Ana.


"ceh!", Ana berdecak kesal. Ia pun tak kalah cerdiknya, sebuah seringai muncul dari bibirnya.


"Jangan salahkan aku, jika aku pintar!", batin Ana senang.


Ana menempelkan jari telunjuknya pada bagian tangan Ken yang patah dan memberi sedikit tekanan di sana. Ia ingat jika tadi Ben melakukan hal yang sama dan Ken mendesis kesakitan. Ana tau titik kelemahan Ken saat ini.


"Aaww!", Ken menjerit kencang dan langsung memberingsut ke ranjangnya. Ia berguling ke kanan dan ke kiri sambil terus memegangi bagian tangannya yang terasa nyeri.


Sontak hal itu membuat Ana menampilkan gurat khawatir pada wajahnya.


"Ken!", seru kemudian. Namun yang disebutkan namanya masih juga tidak memberikan respon. Ken masih merintih kesakitan saat ini.


"Ken, ada apa? Di bagian mana yang sakit?", tapi Ken masih tak bergeming untuk menjawab pertanyaan yang Ana lontarkan padanya.


Sudut bibir Ana melengkung ke bawah. Ia amat sedih dan menyesal karena telah membuat Ken menjadi kesakitan. Ana bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini, ia menggigit ujung jarinya sambil mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Hal yang biasa ia lakukan jika dalam kondisi gugup seperti sekarang.


Ken memicingkan sedikit matanya untuk melihat bagaimana reaksi Ana saat ini. Kemudian ia menyunggingkan sebuah senyuman sejenak ketika melihat Ana yang benar-benar sedang khawatir terhadapnya.


"*J*angan harap kau menang dariku, sayang!", ucap Ken dalam hati.


"Ah iya, kakak! Mungkin aku bisa meminta bantuannya!", seru Ana setelah ide cemerlang itu muncul dalam benaknya.


Baru saja Ana akan melangkah, tangannya sudah ditarik hingga tubuhnya jatuh di ranjang tepat di atas tubuh Ken. Pria itu melingkarkan tangannya yang tidak cedera pada pinggang Ana supaya wanitanya itu tidak bisa kabur darinya. Dan seringai sempurna terbit pada bibir pria itu.


"Jangan coba-coba memanggil pria lain saat kau hanya sedang berdua denganku!", ucap Ken lembut namun jelas dengan penekanan di sana.


"Kau mengerjaiku lagi!", Ana membulatkan matanya dengan tatapan kesal. Ia menjadikan tangannya penyanggah tubuhnya pada dada bidang Ken. Ana mencoba melepaskan diri dari Ken yang hanya menggunakan satu tangannya. Namun itu juga sia-sia karena Ken telah mengunci kakinya dengan kaki milik Ken. Sehingga bahkan bergerak pun Ana tak bisa.


"Apa kau tidak mendengar peringatanku barusan, sayang!", ucap Ken lembut namun masih terdengar tajam.

__ADS_1


"Atau kau benar-benar ingin aku menghukummu saat ini juga?!", Ken membisikkan kalimatnya pada sisi telinga Ana. Ia menghembuskan nafas hangatnya hingga menimbulkan senyar kemerahan di sekitar sana dan membuat Ana bergidik tentunya.


Sesaat Ana memejamkan mata menikmati hangat nafas yang menerpa kulitnya. Namun pikiran jernihnya lebih menguasai dirinya saat ini. Ia tersenyum penuh arti.


Ana membelai lembut pipi Ken, mengabsen setiap jengkal wajahnya dengan lembut menggunakan jemari lentiknya. Dan, jemarinya berhenti pada tempat semula ia memulai gerakan di wajah prianya. Lagi, Ana membelai lagi pipi itu dengan lembut hingga Ken tersenyum manis padanya.


"Rasakan ini!", batin Ana.


"Aaaaa!", teriakan Ken memekikkan telinga setelah rambut halus di sekitar telinganya di tarik oleh Ana dengan begitu bersemangat. Ia mengusap-usap bagian jambangnya yang terasa nyeri dan pedas pada kulitnya.


Ana sudah duduk di atas perut Ken sambil melipat kedua tangannya di depan. Ia memasang wajah garangnya untuk menatap Ken dan menampilkan kekesalannya yang sempurna.


"Sakit?!", tanya Ana dengan nada meremehkan.


Ken menggelengkan kepala seraya memasang wajah polosnya.


"Kalau begitu aku tambahkan di sisi lainnya, bagaimana?!", Ana tersenyum ramah sambil mengajukan penawarannya.


"ceklek!", suara pintu terbuka tiba-tiba.


"Maaf Tuan, sungguh saya tidak bermaksud apa-apa! Kalau begitu saya permisi dulu!", ucap Han sambil membuang pandangannya ke arah lain. Matanya telah dinodai oleh posisi erotis antara Ana dan Ken saat ini.


"Tunggu, Han!", Ana segera bangkit dari atas tubuh Ken untuk menghentikan Han pergi dari sana.


"Tunggu, ini tidak seperti yang kau pikirkan!", pekik Ana dengan wajah kikuk.


Ken terkekeh seraya mendudukkan dirinya.


"Memangnya apa yang kau pikirkan, sayang?!", ledek Ken sambil menahan tawanya.


"Kau!", Ana mendengus kesal karena berkali-kali ia selalu terkena jebakan kekasihnya yang super jahil itu.


"Maaf, Nona! Tapi saya sungguh tidak berpikir apapun. Saya hanya merasa khawatir karena mendengar tuan berteriak tadi!", jawab Han dengan wajah polosnya.


"Astaga!", Ana memijit kecil pangkal hidungnya.


"Kurasa kau harus membersihkan pikiran kotormu, sayang!", lagi-lagi Ken meledek Ana.


"Bicara satu kalimat lagi...", ancam Ana pada Ken dengan mengisyaratkan jarinya yang menyayat leher.


"Hehe,,, sayang! Maafkan aku ya! Aku yakin kau tidak akan begitu tega padaku, kan!", Ken segera berdiri setelah mendapat ancaman mengerikan seperti itu. Ia menghampiri Ana dan merangkulkan tangannya pada bahu Ana. Dan wanita itu malah memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dengan wajah Ken karena ia masih merasa kesal.


"Sudah lama aku tidak melihat Tuan nampak ceria seperti sekarang ini. Terima kasih Nona karena telah kembali!", gumam Han dalam hati.

__ADS_1


"Eherm... ehermm!", Han berdehem untuk mengekspos kehadirannya di sana.


"Begini Nona, Tuan Ben mengatakan untuk mengingatkan Nona mengenai rencana anda kepada Tuan Ken", ucap Han setelah sepasang insan itu menoleh ke arahnya.


"Ah iya! Gara-gara kau aku hampir saja lupa!", Ana menatap sinis ke arah Ken yang masih setia merangkulnya.


"Dengar! Aku memiliki rencana untuk membalas apa yang telah wanita licik itu lakukan terhadap kita. Tapi aku membutuhkan bantuanmu, Ken", ucap Ana dengan tatapan seriusnya.


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu, sayang?", tanya Ken sambil menampilkan senyum termanis yang ia miliki.


"Ken, aku serius!", seru Ana kesal.


"Iya, aku juga serius!", sahut Ken masih tersenyum.


"Baiklah, dengar baik-baik! Aku ingin kau bersandiwara dengan menerima Joice sebagai calon istrimu!", tutur Ana sambil menggenggam jemari tangan Ken.


Hening,


Tak ada yang bersuara satu pun di antara mereka. Han bahkan ikut terkejut dengan apa yang Ana lontarkan. Ia hanya bisa bergolak dengan pikirannya sendiri saat ini.


"Bagaimana Ken, apa kau setuju?", tanya Ana sambil menggoyangkan jemari Ken yang ia genggam.


Bukannya mendapat jawaban, Ken malah menepis tangan Ana dengan kasar.


-


-


-


-


-


-


-


-


hayo teman-teman jangan lupa like, vote sama komentarnya ya πŸ˜‰


terima kasih ya semuanya karena selalu setia baca novel aku ini ☺️

__ADS_1


dan terima kasih atas semua dukungan yang sudah kalian berikan selama ini 😊


keep strong and healthy ya teman-teman 😘


__ADS_2