
Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul dua siang. Presdir Ken yang terhormat itu sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, termasuk meeting dengan seorang klien penting yang hanya tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun, bahkan Han sekali pun.
Ana sangat mengerti dengan kesibukan suaminya itu, sehingga ia menunggu dengan tenang di ruang istirahat setelah selesai mengisi perut suami beserta dirinya dan juga calon anaknya. Ken memang memintanya untuk segera beristirahat agar lelaki itu bisa langsung menyelesaikan semua pekerjaannya yang masih menanti di atas meja. Jadi,, mereka bisa segera menuju ke rumah sakit untuk mengintip jenis kelamin calon anak mereka ini.
"Benar kau tidak ada pekerjaan lagi hari ini?", tanya Ana seraya menengadahkan kepalanya untuk bertanya kepada suaminya itu.
Ken menyusul Ana ke ruang istirahat ketika pekerjannya sudah terselesaikan semua. Saat masuk, ia mendapati istrinya itu tengah mencoret-coret beberapa kertas kosong. Lelaki itu menipiskan bibirnya saat melihat apa yang nampak pada setiap kertas yang sudah Ana hambur di hadapannya.
Ken jadi teringat momen ketika pertama kali bertemu dengan wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu di sebuah minimarket. Ia merebut sebuah sketsa cincin cantik dari tangan Ana. Dan sekarang sketsa itu sudah Ken abadikan menjadi bentuk nyata, yaitu cincin pernikahannya sendiri dengan wanita itu.
"Kenapa tidak istirahat?", tanya Ken seraya memposisikan dirinya berdiri di samping Ana. Ia mengusap kepala wanita itu dengan lembut, sehingga Ana pun menengadah ke arahnya. Lelaki itu memperhatikan setiap sketsa yang Ana buat dengan gerakan ringan bola matanya.
"Sudah! Tapi aku bosan! Makanya aku mencari kesibukan seperti ini!", jawab Ana dengan wajah polos menggemaskan. Nada bicaranya yang manja membuat Ken tidak tahan untuk mencubit pipi kenyal istrinya itu.
Ana memang sudah beristirahat tadi. Cukup lelah juga ia rasa di tubuhnya. Namun,, setelah merebahkan diri beberapa saat pada tempat tidur yang tersedia di sana, matanya tidak mau terpejam juga. Sampai akhirnya ia bosan dengan kegiatan monotonnya, maka Ana mencoba memikirkan kegiatan apa yang dapat mengusir perasaan bosannya itu.
__ADS_1
"Kau masih menggambar?", Ken meraih beberapa sketsa itu untuk ia perhatikan detail demi detailnya. Wajahnya serius ketika memperhatikan beberapa lembar kertas itu.
"Iya!", wanita itu mengangguk sambil mengelus pipinya yang memerah oleh ulah suaminya. Kemudian ia melanjutkan lagi, "Rasanya sudah lama sekali aku tidak menggambar lagi!".
"Apakah kau mau membuka sebuah toko perhiasan? Yang semuanya didesain olehmu sendiri?", pria itu mengalihkan kertas-kertas itu ke samping wajahnya ketika bertanya. Nampak serius, dan segera membangkitkan angan yang sudah lama Ana pendam.
"Tentu saja,, ", pupus sudah wajah bergelora Ana yang semula ketika dengan cepat suaminya melanjutkan kata-katanya lagi.
"Tapi sepertinya tidak perlu! Aku tidak ingin membuat istriku kelelahan. Cukup aku saja yang banting tulang bekerja untuk istri dan anak-anakku!", pria itu lalu meletakkan kembali lembar-lembar putih yang telah tergores tinta dengan indahnya. Kemudian ia tersenyum menyapa wajah istrinya yang sekarang menjadi lesu. Ken kembali mengusap kepala wanita itu lembut.
"Sudah ku duga!", gumam Ana pelan. Ia menundukkan wajahnya yang terlihat kecewa.
"Ayo kita berangkat sekarang!", ajak Ken seraya membimbing tubuh istrinya itu untuk berdiri.
"Ya!", jawab Ana singkat, kemudian ia menyambar tas kecilnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Ken di sebelahnya terus merangkul istrinya itu mulai dari mereka melangkahkan kaki. Wajah Ana masih murung mengingat hal tadi. Tapi lelaki di sebelahnya tengah tersenyum penuh misteri.
***
"Jangan lupa kembalikan kotak makannya!", sindir Ken ketika melewati meja asistennya dan mendapati kotak makan yang istrinya itu berikan sudah disapu bersih oleh Han. Dan lagi masih terbuka di atas meja. Sepertinya asistennya itu lupa membereskannya. Sehingga Han pun segera menutup kotak makan kosong itu lalu meletakkannya di bawah meja.
"Aku akan mengantar Ana ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin!", ujar Ken agak ketus dan Han menyadari hal itu. Bosnya ini memang selalu bersikap datar dan dingin. Namun kali ini jelas bosnya sedang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap dirinya. Han mencoba menerka.
"Kalau begitu saya antar, Tuan!", Han pun segera merapihkan mejanya yang tak kalah ramainya dengan meja kerja Ken. Sama-sama dipenuhi berkas penting.
"Tidak perlu! Kau selesaikan saja pekerjaan yang masih tersisa!", Ken merangkul Ana lagi kemudian berjalan ke arah lift tanpa menunggu jawaban lagi dari Han.
"Kalau begitu hati-hati, Tuan, Nona!", pria itu membungkukkan kepalanya memberi hormat setelah bos dan nyonya bosnya memasuki lift.
Kemudian ia tersenyum datar sampai tertawa sendiri. Ia tengah menghibur dirinya sendiri saat ini. Lantaran ia tahu ada maksud tersembunyi dari ucapan bosnya itu.
__ADS_1
"Pekerjaan yang tersisa? Maksudnya dia menyisakan pekerjaan untukku, kan, begitu?!", Han terduduk sambil menangis pilu sendiri. Beginilah nasib bawahan, selalu saja dikorbankan!
Sepertinya bosnya itu sedang membalas dendam karena ia telah memakan habis bekal yang dibawakan oleh istri tercintanya itu. Bosnya pasti sedang cemburu. Sayangnya, kecemburuannya itu tidak ditujukan kepada orang yang tepat. Untuk apa pula cemburu padanya! Memangnya bosnya pikir Nona Ana akan melirik kepadanya apa?! Benar-benar aneh! Dan hanya tahu menyiksa dirinya saja! Cuma karena sekotak makanan, hari ini ia harus lembur lagi. Kencannya dengan Risa harus tertunda lagi. Padahal ia juga pria yang baru mengenal cinta, sedang hangat-hangatnya hubungan yang ia jalin dengan calon istrinya itu.