
"Kau ingin aku ada di sana?", tanya Ken tak percaya. Ia menggeser tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Ana.
"Kenapa memangnya? Kau tidak bisa ya? Yasudah tidak apa-apa. Aku mengerti kau sangat sibuk. Lagipula besok ada Paman Reymond yang menemaniku", Ana memposisikan dirinya menghadap ke depan sambil menunduk lesu.
Seringai tipis muncul dari bibir Ken selama beberapa saat. Lalu ia memasang wajah memelas, merasa bersalah karena tak dapat menemani wanitanya.
"Maafkan aku, sayang!", ucapnya seraya memeluk Ana dari samping.
"Kau pasti bisa! Besok kita akan mulai semuanya", tambah Ken lagi sambil menyangga dagunya pada pucuk kepala Ana. Ken sudah bergejolak untuk menguliti mereka sampai habis.
"Iya baiklah kita mulai besok. Tapi dagu mu itu menyakiti kepala ku, Ken!", Ana mengusap-usap kepalanya.
Ken segera menarik kepalanya sambil terkekeh dan memegangi dagu runcingnya. Ia pun ikut mengusap-usap pucuk kepala Ana. Ken memandangi Ana dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia alihkan pandangannya pada Tuan Danu yang terbaring dengan bantuan alat-alat medis.
"Aku akan menepati janjiku padamu, paman. Aku akan membahagiakan tuan putrimu ini", ucap Ken dalam hati.
"Kau masih ingat dengan janjimu kan, sayang?", kini Ken sudah menghadapkan Ana padanya.
"Apa?", tanya Ana polos.
"Jadi kau sudah melupakan janjimu padaku?!", Ken sedikit menaikkan intonasinya. Ia masih bisa menahan emosinya. Ken tak habis pikir bagaimana bisa Ana melupakan janji penting seperti itu.
"Ayolah, sayang! Kalau kau marah-marah terus. Kau akan terlihat lebih tua dan aku tidak mau menikah denganmu jika kau terlihat sangat tua nanti. Bukankah kita akan menikah beberapa hari lagi, sayang?!", ucap Ana sangat lembut bahkan terdengar sedikit nada seperti ia sedang menggoda Ken. Ana memainkan jarinya pada dada Ken sambil memasang wajah polosnya.
Ia sengaja berpura-pura lupa untuk mengerjai Ken balik. Karena selama ini selalu dirinya lah yang menjadi korban akibat ulah kejahilan dari kekasihnya itu.
Ken membelalakkan matanya, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. Ia sempat akan marah jika Ana benar-benar melupakan janjinya. Karena sejak awal hubungan mereka, Ken memang ingin sekali menikahi wanitanya itu. Namun dengan alasan belum terlalu mengenal, Ana meminta waktu untuk lebih mengenal dirinya. Tapi sekarang, bukan maksud Ken memanfaatkan keadaan, namun memang seperti sebuah keberuntungan datang padanya. Akhirnya tanpa perlu usaha yang berarti untuk meyakinkan Ana, situasi saat ini sangat mendukungnya bahkan mendesak mereka untuk segera menikah.
"Tentu saja aku mengingatnya!", Ana memberi Ken ciuman di pipinya secepat kilat. Dan bergegas untuk segera melangkah menuju ayahnya.
Tapi secepat itu juga Ken menariknya hingga Ana terjatuh di atas pangkuannya. Ken mengunci tubuh wanitanya dengan melingkarkan satu tangannya di pinggang Ana. Pandangan mata mereka saling bertemu. Tatapan mereka semakin intens. Dua jantung memompa lebih cepat. Dan wajah sepasang kekasih telah merona bersamaan. Tanpa sadar wajah mereka semakin mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan.
Ken memaku wajahnya sebelum menempelkan bibirnya pada bibir manis Ana. Ia menatap lekat mata wanitanya saat ini. Ana tersenyum dan memejamkan matanya. Isyarat bahwa ia sudah memberikan izin pada Ken untuk menyatukan perasaan mereka lewat perpaduan bibir yang penuh romansa.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Ana", ucap Ken dengan nafas tersengal setelah melepas pagutan bibirnya.
"Aku mencintaimu, Ken", balas Ana seraya tersenyum. Dadanya naik turun menandakan dirinya yang juga masih berburu oksigen.
"Berjanjilah jangan pernah meninggalkan aku apa pun yang terjadi kelak", ucap Ken lembut.
"Harusnya aku yang mengatakan kalimat itu, Ken", protes Ana.
"Karena setelah ayah, hanya dirimu yang aku punya. Jadi jangan coba-coba untuk meninggalkan aku, Ken. Entah bag..", Ken memotong ucapan Ana.
"sshht", desisan Ken menghentikan ucapan sedih yang tak ingin ia dengar.
"Jangan katakan apa pun! Aku sudah memiliki janjiku sendiri terkait dirimu, sayang! Justru itu, kali ini aku ingin kau memiliki janji untukku", Ken mengusap lembut jemari tangan Ana dan mengecupnya.
"Ya, aku berjanji tidak akan meninggalkan dirimu. Dan kau juga tidak akan meninggalkan aku. Karena jika hal itu terjadi maka rambutmu akan langsung berubah putih semua", Ana mengucapkan kalimat konyolnya dengan tenang.
"Heiii, mengapa kau bebankan semua janjimu padaku. Dan janji apa itu! Rambut putih, kau sama saja sedang menyumpahi aku, sayang!", Ken menatap Ana dengan gemasnya. Ia sudah siap untuk menghukum wanitanya itu.
Ana menarik Ken ke dalam pelukannya. Ana harus menghentikan Ken menghukumnya. Dan ia memilih memeluk Ken untuk membatasi pergerakan Ken padanya. Bukannya memberontak, Ken malah tampak sangat menikmati kenyamanan yang Ana berikan padanya.
"Ken, lepas!", Ana masih berusaha melepaskan diri. Pipinya sudah merah seperti tomat yang sudah matang di pohonnya.
"Tidak mau!", sahutnya cepat.
"Wah nyaman sekali!", tambahnya lagi sambil kepalanya terus bergerak ke sana kemari.
"Ken, geli!", Ana masih berusaha mendorong Ken supaya menjauh.
Ken mendongakkan kepalanya ke atas untuk menatap wajah Ana, tapi letak kepalanya tak ia rubah. Kepalanya masih bersandar di tengah dua bola empuk milik Ana. Mereka saling bersitatap agak lama. Gejolak dalam tubuh Ken sudah hampir tak dapat dibendung lagi. Ia berusaha untuk tidak termakan hawa nafsunya. Nanti, beberapa hari lagi, dan ia akan memiliki Ana seutuhnya. Ia menggigit kecil bola empuk itu kemudian bangkit dan berjalan meninggalkan Ana yang dibuat terheran-heran. Ia melangkah menuju ranjang Tuan Danu.
Ken menyentuh jemari Tuan Danu.
"*Paman aku meminta restumu saat ini. Beberapa hari lagi izinkan aku menikahi putri kesayanganmu, putri tercintamu. Aku sudah berjanji padamu bukan, bahwa aku akan berusaha untuk membuatnya bahagia. Kau bisa memegang kata-kataku", ucap Ken dalam hatinya.
__ADS_1
"Dan kumohon sadarlah, paman. Bangun dan saksikanlah saat putrimu menikah nanti. Kau adalah sumber kebahagiaannya saat ini", tambahnya lagi dalam batinnya*.
"Ken, ada apa?", panggilan Ana yang mendekat ke arahnya membuatnya refleks menjauhkan tangannya dari jemari Tuan Danu.
"Tidak ada, sayang! Aku hanya sedang meminta restu dari ayahmu", mereka pun tersenyum bersama.
***
Sang fajar telah terbit di ufuk timur. Remang-remang kegelapan mulai sirna perlahan. Sinar mentari telah menggantikan redupnya dunia. Sinar yang membawa kehangatan untuk menembus dinginnya suasana pagi hari.
Ana telah rapi dengan dress berwarna dusty peach selutut dan dipasangkan dengan blazer coklat susu. Warna kalem yang membuatnya tetap terlihat cantik walaupun tak mencolok. Dan tak lupa rambut panjangnya ia biarkan terurai dengan cantiknya.
Ia menuruni tangga dengan riangnya. Sepatu heels dengan warna senada masih terombang-ambing di tangannya.
"Nona, kenapa sepatunya tidak dipakai?", tanya Bi Rani heran.
"Supaya aku lebih cepat sampai meja makan, Bi. Aku sangat lapar", ucap Ana terkekeh kemudian.
"Baiklah, silahkan sarapan dulu Nona. Tuan sudah memasakkan nasi goreng untuk Nona", Bi Rani menarik sebuah kursi untuk Ana duduk.
"Tuan?", sambil mendudukkan diri Ana tak melepas pandangan herannya pada Bi Rani.
Bukannya menjawab, Bi Rani malah tersenyum.
"Tuan?", tanya Ana lagi. Alisnya sudah berkerut dalam.
"Ehermm!", suara seseorang berdehem dari balik koran. Orang itu melipat korannya kemudian menampilkan seringai lebarnya.
"Paman!" ucap Ana begitu kaget.
"Paman, bagaimana paman bisa ada di sini? Sepagi ini?", tuntut Ana cepat.
"Seseorang memerintahkan diriku tadi malam, untuk datang sepagi mungkin dan mengurus dirimu sampai di kantor nanti. Dia bilang aku harus mewakili dirinya menjagamu untuk hari ini", jelas Tuan Reymond setelah menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Ken?", Ana membuat kesimpulan.
"Tentu saja! Siapa lagi! Setelah ayahmu, ternyata masih ada Ken yang begitu cerewet jika mengenai dirimu", jelas Tuan Reymond malas.